Saham-saham Asia rebound seiring ketegangan konflik Timur Tengah mereda

Saham-saham Asia bangkit kembali (rebound) setelah mengalami penurunan terbesar sejak Maret, seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah dan berkurangnya aksi jual pada saham-saham sektor kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, harga minyak mentah mengalami penurunan.

Mengutip Bloomberg, indikator saham Asia Pasifik MSCI naik 1,3 persen, memutus tren penurunan selama tiga hari berturut-turut.

Indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari 3 persen seiring kembalinya para pembeli yang memanfaatkan penurunan harga (dip buyers) ke perdagangan saham AI, di mana raksasa produsen chip SK Hynix Inc. melonjak 7 persen.

“Optimisme terhadap sektor teknologi tetap kuat karena investor menemukan alasan baru untuk bertaruh pada tema AI,” tulis laporan Bloomberg, Selasa (9/6).

Penawaran umum perdana (IPO) SpaceX mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed), Nvidia Corp. dan SK Hynix menyepakati kerja sama untuk mengembangkan chip, serta pembaruan berbasis AI dari Apple Inc. membuka jalan bagi peluncuran perangkat-perangkat baru.

Kontrak berjangka Indeks Nasdaq 100 juga bergerak sedikit lebih tinggi.

Minyak mentah Brent turun 0,7 persen hingga diperdagangkan di bawah USD 94 per barel setelah Iran and Israel berjanji untuk mengurangi serangan yang sempat mengancam pembicaraan damai di Timur Tengah. Indikator nilai tukar dolar versi Bloomberg juga bergerak sedikit lebih rendah.

Setelah gangguan singkat pada reli yang mendorong pasar ke rekor tertinggi, para investor kembali masuk secara berhati-hati ke pasar saham dengan ekspektasi bahwa pasar bullish (bull market) masih memiliki ruang untuk tumbuh yang didorong oleh laba perusahaan.

Sentimen juga membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik, sehingga mengurangi kekhawatiran atas inflasi yang dipicu harga minyak serta prospek kenaikan suku bunga bank sentral.

“Koreksi tidak terhindarkan dan pada akhirnya sehat jika pasar bullish ini ingin berlanjut hingga akhir tahun,” kata Mike Wilson, kepala strategi saham AS di Morgan Stanley.

Wilson mempertahankan pandangan konstruktifnya, yang didukung oleh pendapatan korporasi serta data ekonomi yang kuat.