
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pada Kamis (5/3), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,76% ke level 7.710,53
Di tengah penguatan IHSG, Investor asing membukukan aksi jual bersih alias net sell sebesar Rp 210 miliar di seluruh pasar.
Kendati begitu sejumlahsaham ini banyak diborong asing saat IHSG menguat. Dari sepuluh besar, asing paling banyak menyerbu saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 148,24 miliar. Menyusul PT Astra International Tbk (ASII) Rp 90,82 miliar dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) Rp 81,64 miliar
Sejumlah fund manager asing raksasa terpantau mengakumulasi saham BBCA sejak awal 2026. Blackrock Inc. dan Vanguard menjadi bagian dari fund manager yang melakukan akumulasi tersebut. Dan Kamis (5/3) harga saham BBCA melesat 3,27% menjadi Rp 7.100 per saham dan mencatatkan kenaikan tertinggi dibandingkan saham big banks lainn.
Mengutip dari data Bloomberg, fund manager yang paling aktif borong BBCA sejak awal tahun adalah St. James’s Place Plc yang berbasis di Inggris dengan nilai assets under management (AUM).
St. James’s Place Plc memborong 121,5 juta saham BBCA selama 2026 sehingga kepemilikan terakhir hingga Kamis kemarin tercatat 458,23 juta saham. St. James’s Place plcmasuk 15 besar pemegang saham BBCA.
Berikutnya adalah Capital Group Cos Inc, fund manager berbasis di Amerika Serikat dengan AUM tidak kurang dari US$ 3 triliun. Capital Group memborong 112,83 juta saham BBCA selama tahun ini. Total saham BBCA Capital Group mencapai 1,07 saham atau setara dengan 0,87%
Di urutan ketiga ada Principal Financial Group yang memborong 36,79 juta saham BBCA. Saat ini Principal mengendalikan 235,47 juta saham BBCA. Berikutnya ada raksasa Vanguard dan Blackrock
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya menyatakan, meski industri perbankan menghadapi tantangan penurunan margin bunga bersih pada 2026, prospek saham BBCA tetap.
Saham Big Banks Kompak Menghijau Kamis (5/3), BBCA Catat Kenaikan Tertinggi
BRI Danareksa Sekuritas memprediksi, BBCA akan mencatatkan Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp 79,58 triliun pada 2026. Naik 5,73% dari 2025. Adapun laba bersih diprediksi menembus Rp 60 triliun, atau meningkat 5,35% dari tahun sebelumnya.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, margin bunga bersih (NIM) BCA berpotensi mendapatkan tantangan pada 2026 seiring penurunan yield kredit.
Manajemen BBCA memproyeksikan, NIM berada di kisaran 5,4%–5,6% dengan pertumbuhan kredit sekitar 8%–10% serta biaya kredit yang relatif stabil di kisaran 0,4%–0,5%.
Untuk menjaga profitabilitas, BCA diperkirakan akan mengandalkan peningkatan efisiensi operasional serta pertumbuhan pendapatan berbasis komisi dan fee. Rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) diproyeksikan membaik ke kisaran 31%–33% dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami mempertahankan rekomendasi beli untuk BBCA dengan target harga Rp11.400, yang lebiih tinggi dari sebelumnya Rp10.800,” tulis riset.
Dalam riset tanggal 10 Februari 2026, Kepala Riset Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi juga merekomendasikan beli BBCA dengan target harga Rp 8.600. Kenaikan harga BBCA akan didorong oleh pertumbuhan laba yang stabil.
Merujuk data Stockbit, dari 37 analis yang ada, sebanyak 36 analis merekomendasikan beli BBCA dan hanya satu orang yang menyarankan hold. Target harga rata-ratanya berada di Rp 10.085 dengan estimasi tertinggi Rp 11.700 dan estimasi terendah Rp 7.500.
Dalam riset tanggal 10 Februari 2026, Kepala Riset Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi juga merekomendasikan beli BBCA dengan target harga Rp 8.600. Kenaikan harga BBCA akan didorong oleh pertumbuhan laba yang stabil.