Habis manis sepah dibuang, saham royal dividen ditinggal investor jangka panjang

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Risiko volatilitas pasar dinilai menjadi salah satu sentimen yang membuat investor enggan berinvestasi secara jangka panjang di saham-saham yang royal membagikan dividen. Alhasil, kinerja IDX High Dividend 20 hanya mampu menguat jelang pembagian dividen dan kembali lesu setelahnya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks yang mengukur kinerja saham-saham royal dividen, telah terkoreksi sejak memasuki 2025. Kinerja menguatnya indeks ini hanya tampak pada periode Mei dan Oktober, saat periode pembagian dividen terlaksana pada tahun lalu.

Namun, kendati mengalami apresiasi, penguatan tersebut tidak membawa indeks melaju di jalur hijau. Alhasil, indeks yang dibuka di level 516,18 pada awal tahun, hanya mampu tercatat fluktuatif dan ditutup melemah di level 509,88.

: Menanti Titik Balik Saham Royal Dividen, Ini Resep dari Analis

“Keengganan investasi jangka panjang bukan disebabkan oleh hilangnya daya tarik dividen, melainkan karena pelaku pasar sedang menunggu konfirmasi pemulihan laba akhir tahun 2025 untuk meminimalisir risiko volatilitas,” kata Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand kepada Bisnis, dikutip Selasa (6/1/2026).

Secara fundamental, analis menilai bahwa kinerja 20 saham yang tercatat di indeks tersebut, cenderung solid. Hal itu terutama didukung oleh arus kas bebas yang kuat dan tingkat pengembalian aset (RoA) yang terjaga dalam mendorong kebijakan pembagian dividen.

: : Pinago Utama (PNGO) Tebar Dividen Interim Rp70,31 Miliar, Cair Akhir Januari 2026

Adapun sepanjang 2025, kinerja pasar saham memang sempat mengalami fluktuasi. Pada April 2025 misalnya, saat tarif Trump diumumkan oleh AS, indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat terkoreksi ke level terendahnya sepanjang 2025 di 5.967,99. Meskipun begitu, IHSG tercatat telah membukukan 24 kali rekor baru sepanjang tahun yang sama.

“Rendahnya minat investasi sementara ini lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan perlambatan pertumbuhan relatif di beberapa sektor. Sementara emiten perbankan besar tetap mencatatkan NIM yang stabil dan pertumbuhan kredit yang sehat sebesar 10%,” katanya.

: : Kalah Pamor dari SRBI, Kinerja Indeks Saham Royal Dividen Tertekan Sepanjang 2025

Sebaliknya, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati, menilai lesunya minat investor untuk berinvestasi secara jangka panjang di saham-saham royal dividen, lebih disebabkan oleh proyeksi kinerja fundamental emiten yang cenderung lesu.

Beberapa saham seperti PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), PT H.M. Sampoerna Tbk. (HMSP), PT Astra International Tbk. (ASII), atau sejumlah perbankan, disebut tengah tertekan dan memiliki proyeksi kinerja keuangan yang kurang memuaskan.

“Hal ini yang menyebabkan investor ragu untuk melakukan aksi beli pada saham tersebut. Mengingat waktu investasi yang panjang, tetapi dividen yang diperoleh kurang sebanding,” katanya, Selasa (6/1/2026).

Menurutnya, untuk dapat menjaga daya tarik secara jangka panjang, emiten mesti terlebih dahulu memastikan pemulihan kinerja keuangan, dengan laba yang tumbuh dan dividen yang sepadan dengan waktu yang dicurahkan investor untuk berinvestasi.

Ike membandingkan risiko dan besaran dividen yang berpotensi diberikan oleh emiten tersebut. Menurutnya, terdapat beberapa saham yang memberikan dividen, tetapi tidak sepadan dengan risiko saham itu sendiri.

Beberapa saham perbankan seperti BMRI, BBRI, BBCA, atau BBNI dinilai kurang optimal dalam membagikan dividen lantaran kinerja pertumbuhan yang melambat. Begitu juga kinerja saham di sektor energi, seperti PTBA, ITMG, atau ADRO yang masih dibayangi tantangan penurunan kinerja.

“Secara keseluruhan, kinerja keuangan emiten yang masuk di indeks ini cenderung masih melambat sehingga potensi dividen per share yang dibagikan diperkirakan kurang optimal,” katanya.

________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.