
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gejolak geopolitik di Timur Tengah mendorong peningkatan aktivitas lindung nilai di pasar komoditas domestik.
Hal ini tercermin dari lonjakan transaksi kontrak berjangka komoditas minyak mentah di Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX).
Sepanjang Maret 2026, transaksi kontrak berjangka minyak mentah kode COFU10 tercatat mencapai 648 lot. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan Februari yang hanya 12 lot dan Januari sebanyak 4 lot.
Kontrak COFU10 merepresentasikan 10 barel minyak mentah per lot, dengan acuan jenis West Texas Intermediate (WTI), salah satu benchmark utama harga minyak global.
Prospek SBN Masih Tertekan, Yield 10 Tahun Diperkirakan Tertahan di Level 6,5%–6,7%
Direktur ICDX, Nursalam menyebut, peningkatan transaksi tersebut mencerminkan tingginya minat pelaku usaha untuk mengelola risiko di tengah volatilitas harga energi.
“Dalam situasi seperti ini, hedging atau lindung nilai dapat mengatasi risiko yang terjadi atas perubahan harga pada pasar fisik (spot),” tulis Nursalam dalam keterangan resmi, Rabu (22/4/2026).
Selain minyak mentah, ICDX juga memfasilitasi transaksi multilateral untuk kebutuhan lindung nilai pada komoditas lain seperti mata uang dan emas.
Dari sisi harga, minyak mentah dunia diperkirakan masih bergerak dalam tren menguat dalam jangka pendek seiring belum meredanya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Commodity Analyst ICDX, Girta Yoga mengatakan, ketegangan di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan energi global.
“Melihat dari situasi pasar saat ini, harga minyak mentah dalam jangka pendek masih cukup kuat untuk bergerak pada tren bullish karena efek dari risiko geopolitik Timur Tengah yang saat ini menjadi katalis penggerak utama belum menunjukkan tanda-tanda mereda,” kata Girta.
Ia menambahkan, potensi gangguan pasokan terutama berasal dari jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 20% pasokan energi global.
Kantongi Restu Go Private, Indointernet (EDGE) Patok Harga Tender Offer Rp 11.500
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati sejumlah faktor lain, mulai dari perkembangan negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, konflik Israel–Lebanon, kebijakan produksi OPEC+, hingga permintaan dari negara importir utama seperti China dan India.
Dalam jangka pendek, Girta memperkirakan harga minyak bergerak pada kisaran resistance US$ 95–US$ 100 per barel. Namun, jika muncul sentimen negatif, harga berpotensi turun ke level support US$ 75–US$ 80 per barel.