Kinerja keuangan 2025 menurun, harga saham ASII dan UNTR terkoreksi

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pengumuman hasil kinerja keuangan tahun 2025 tampak cukup mempengaruhi pergerakan harga saham PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) pada perdagangan Jumat (27/2/2026). 

Terpantau harga saham ASII terkoreksi 1,49% ke level Rp 6.625 per saham pada Jumat (27/2) pukul 10.52 WIB. Pada saat yang sama, harga saham UNTR merosot 3,78% ke level Rp 29.250 per saham. 

Sebagaimana diketahui, kinerja ASII dan UNTR sama-sama mengalami tekanan pada 2025 lalu. Pendapatan ASII berkurang 1,54% year on year (yoy) menjadi Rp 323,39 triliun pada 2025.

Begitu pula dengan laba bersih ASII yang terkoreksi 3,33% yoy menjadi Rp 32,76 triliun.

United Tractors (UNTR) Cetak Pendapatan Bersih Rp 131,3 Triliun pada 2025

Secara rinci, pendapatan ASII dari segmen otomotif dan mobilitas tercatat sebesar Rp 125,65 triliun, jasa keuangan Rp 33,44 triliun, alat berat pertambangan, konstruksi dan energi Rp 131,3 triliun, agribisnis Rp 28,65 triliun, infrastruktur Rp 3,16 triliun, teknologi informasi Rp 2,99 triliun, properti Rp 1,13 triliun.

Total pendapatan dari tujuh segmen tersebut kemudian dikurangi jumlah eliminasi Rp 2,95 triliun.

Presiden Direktur ASII Djony Bunarto Tjondro menyampaikan, penurunan laba Grup Astra pada 2025 disebabkan oleh harga batubara yang lebih rendah dan melemahnya pasar mobil baru.

  UNTR Chart by TradingView  

Namun, kinerja bisnis Grup Astra tetap resilien berkat dukungan kontribusi positif dari bisnis-bisnis lainnya. 

Sementara itu, pendapatan bersih UNTR menyusut 2% yoy menjadi Rp 131,3 triliun pada akhir 2025. Bila ditelusuri, pendapatan dari segmen kontraktor penambangan berkurang 7% yoy menjadi Rp 54,1 triliun, kemudian pendapatan dari segmen mesin konstruksi juga turun 2% yoy menjadi Rp 36,6 triliun. 

Catat! Astra International (ASII) Akan Tebar Dividen Final, Segini Besarannya

Penurunan juga terjadi pada pendapatan segmen pertambangan batubara termal dan metalurgi sebesar 7% yoy menjadi Rp 24,2 triliun. Sebaliknya, pendapatan dari segmen pertambangan emas dan mineral lainnya tumbuh 41% yoy menjadi Rp 14 triliun. 

Hingga akhir 2025, laba bersih UNTR turun 24% yoy menjadi Rp 14,8 triliun. Hal ini disebabkan oleh penurunan kontribusi dari segmen kontraktor penambangan yang terkendala curah hujan tinggi dan segmen pertambangan batubara termal dan metalurgi karena harga jual batubara yang lebih rendah, walau sebagian dapat diimbangi oleh penguatan harga emas.