
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga logam industri global bergerak fluktuatif selama konflik geopolitik Timur Tengah.
Melansir data Trading Economics pada Selasa (10/3) pukul 16.42 WIB, harga aluminium turun 1,50% dibandingkan hari sebelumnya ke US$ 3.334 per ton, nikel naik 0,33% dalam sehari ke US$ 17.510 per ton. Sementara itu, harga timah US$ 50.685 per ton pada Senin (09/03), naik 1,24% dibanding hari sebelumnya.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai beberapa sentimen yang akan menggerakkan logam industri ke depan adalah stabilitas geopolitik, kebijakan kuota produksi, dan siklus suku bunga global.
Rupiah Menguat ke Rp 16.863 Per Dolar AS, Ini Proyeksinya untuk Rabu (11/3/2026)
“Sentimen risk off yang dipicu eskalasi konflik di Teluk membuat investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti emas, namun di sisi lain, terbatasnya stok di gudang LME dan COMEX memberikan lantai dukungan yang kuat bagi harga logam dasar,” ujar Sutopo saat dihubungi Kontan pada Selasa (10/3/2026).
Senada dengan Sutopo, analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menambahkan kebijakan produsen seperti China dan Indonesia dalam menjaga keseimbangan pasokan dan mencegah kelebihan kapasitas (over supply) akan terus menjadi penentu lantai harga.
Kemudian, Wahyu mengatakan logam industri masih menarik untuk bagian dari diversifikasi portofolio investasi karena memiliki narasi kebutuhan transisi energi seperti kendaraan listrik dan energi hijau.
Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) Catat Produksi CPO 333.092 Ton Sepanjang 2025
“Volatilitas tinggi. Jika konflik mereda tiba-tiba, harga bisa berubah dengan cepat, bisa membaik,” kata Wahyu.
Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong berpendapat investasi logam industri masih menarik, tetapi lebih cocok untuk investor tertentu yang memahami siklus ekonomi.
“Prospek didukung oleh transisi energi global, kebutuhan infrastruktur listrik dan teknologi, potensi gangguan pasokan. Namun risikonya juga besar, terutama dari perlambatan ekonomi global, oversupply pada beberapa logam (nikel), volatilitas akibat kebijakan perdagangan,” ujar Lukman.