Laba Jababeka (KIJA) tumbuh 16,48% pada 2025, simak prospek kinerjanya

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Prospek kinerja PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) dilihat masih prospektif di 2026 usai mencetak kinerja positif sepanjang tahun lalu.

Penjualan dan pendapatan jasa KIJA tercatat Rp 5,14 triliun sepanjang tahun 2025. Ini naik 11,87% year on year (YoY) dari Rp 4,60 triliun di tahun 2024.

Segmen penjualan berkontribusi mayoritas ke raihan KIJA, yaitu Rp 2,10 triliun. Lalu disusul segmen pembangkit tenaga listrik Rp 1,81 triliun dan segmen jasa serta pemeliharaan Rp 521,10 miliar.

Laba kotor meningkat 3% menjadi Rp 2,03 triliun pada tahun 2025 dibandingkan Rp 1,96 triliun pada tahun sebelumnya.

Corporate Secretary KIJA, Muljadi Suganda mengatakan margin laba kotor konsolidasian menurun menjadi 39%, dari sebelumnya 43% pada tahun 2024.

IHSG Rebound Usai Koreksi Tajam, Analis Ingatkan Risiko Dead Cat Bounce

“Ini terutama disebabkan oleh meningkatnya kontribusi pendapatan dari segmen infrastruktur yang secara umum memiliki margin lebih rendah dibandingkan dengan Land Development & Property,” ujarnya dalam keterbukaan informasi 4 Maret 2026.

Laba bersih KIJA tercatat sebesar Rp 423,19 miliar sepanjang 2025, naik 16,48% YoY.

KIJA juga mengantongi penjualan pemasaran alias marketing sales real estat sebesar Rp 3,6 triliun pada tahun 2025, melampaui target tahunan sebesar Rp 3,5 triliun.

Muljadi bilang, pencapaian ini kembali menjadi rekor tertinggi bagi perseroan dan mencerminkan pertumbuhan sekitar 13% dibandingkan tahun 2024, di mana marketing sales tercatat sebesar Rp 3,2 triliun.

“Hal ini semakin menegaskan daya tarik kawasan industri KIJA yang tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global,” katanya.

Untuk tahun 2026, KIJA menetapkan target penjualan pemasaran sebesar Rp 3,75 triliun. Penetapan target itu terutama didorong oleh permintaan yang tetap tinggi terhadap lahan industri di Kendal dan Cikarang.

Dari target tersebut, Rp 1,25 triliun diharapkan berasal dari Cikarang dan lainnya, yang terdiri dari Rp 800 miliar dari penjualan tanah matang dan produk industri serta Rp 450 miliar dari produk residensial dan komersial.

Pasar Saham Tertekan, Investor Bisa Bidik Peluang Cuan di Saham LQ45

“Sisa sebesar Rp 2,5 triliun ditargetkan berasal dari Kendal, yang seluruhnya merupakan produk industri,” tuturnya.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata melihat kinerja KIJA sepanjang 2025 sangat impresif, tercermin dari pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang mencapai dua digit.

Keunggulan utama KIJA dibandingkan peers di sektor properti kawasan industri terletak pada proporsi pendapatan berulang yang kuat serta posisi kas yang cukup tebal.

“Sehingga memberikan stabilitas finansial dan daya tahan yang lebih baik terhadap fluktuasi ekonomi,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (5/3).

Menurut Liza, target marketing sales KIJA yang sebesar Rp 3,75 triliun untuk tahun 2026 dinilai cukup realistis untuk dicapai.

Prospek kinerja KIJA di tahun 2026 masih positif, didorong oleh katalis utama berupa tren diversifikasi rantai pasok global.

Hal ini terus mendorong relokasi pabrik multinasional, di mana Kawasan Industri Kendal (KIK) menjadi penerima manfaat utama dengan dominasi aliran investasi dari China, Hong Kong, dan Taiwan.

  KIJA Chart by TradingView  

Di sisi lain, sentimen negatif yang perlu dicermati adalah eskalasi ketegangan geopolitik global. “Hal itu berisiko menahan laju penurunan suku bunga acuan yang dapat berdampak pada minat ekspansi dan beban pendanaan,” ungkapnya.

Secara valuasi, saham KIJA saat ini diperdagangkan sedikit di atas rata-rata Price-to-Earnings Ratio (P/E) tiga tahun terakhir. Sementara Price-to-Book Value (PBV) bergerak lekat dengan rata-rata historis tiga tahunan.

“Mengacu pada rasio-rasio tersebut serta fundamental perusahaan yang terus bertumbuh, kami menilai pergerakan harga saham KIJA saat ini berada pada level yang relatif wajar,” ungkap Liza.

Praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project William Hartanto melihat saham KIJA bergerak dalam tren melemah, dengan target support pada Rp 168 per saham dan resistance Rp 200 per saham. William masih merekomendasikan wait and see untuk KIJA.