Produksi tembaga dan emas melonjak, Amman Mineral (AMMN) diproyeksi cetak laba

Ussindonesia.co.id  JAKARTA. Maybank Sekuritas Indonesia memulai cakupan (initiate coverage) terhadap saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 11.000 per saham berbasis metode Sum of the Parts (SOTP).

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Hasan Barakwan dalam riset 6 Maret 2026 menyebutkan AMMN merupakan proxy terintegrasi tembaga dan emas utama di Indonesia dengan potensi pertumbuhan jangka panjang yang kuat.

Menurut Hasan, perusahaan diperkirakan mencatat rugi bersih sekitar US$ 54 juta pada tahun buku 2025, kinerja AMMN diproyeksikan berbalik kuat pada 2026 dengan laba bersih mencapai sekitar US$ 1,4 miliar.

Jelang Libur Lebaran, Analis Sebut Tekanan Profit Taking di IHSG Berpotensi Meningkat

“Perbaikan ini didorong oleh peningkatan produksi dari ramp-up Phase 8 yang akan meningkatkan output tembaga sekitar 113% secara tahunan dan emas sekitar 543% secara tahunan, di tengah tren kenaikan harga komoditas secara struktural,” kata Hasan.

AMMN merupakan produsen tembaga dan emas terintegrasi terbesar kedua di Indonesia, didukung oleh tambang Batu Hijau yang berkelas dunia serta deposit Elang yang sangat besar.

Deposit Elang bahkan termasuk cadangan porfiri yang belum dikembangkan terbesar di dunia, dengan estimasi sumber daya mencapai 2,5 miliar ton.

Secara posisi industri, AMMN berada tepat di belakang Freeport Indonesia dalam hal volume produksi tembaga dan emas di Indonesia.

Perusahaan ini memiliki integrasi rantai nilai melalui smelter baru yang telah mulai beroperasi. Fasilitas ini mampu memproses sekitar 900.000 ton konsentrat per tahun menjadi sekitar 220.000 ton katoda tembaga dan 579.000 ons emas batangan.

AMMN saat ini memasuki fase penting dengan ramp-up Phase 8 di tambang Batu Hijau, yang diproyeksikan menjadi pendorong utama pemulihan kinerja.

Produksi konsentrat tembaga diperkirakan melonjak dua kali lipat pada 2026 menjadi sekitar 900.000 dry metric ton (dmt). Dari jumlah tersebut diperkirakan terkandung sekitar 485 juta pon tembaga naik 113% secara tahunan dan 579.000 ons emas tumbuh 543% secara tahunan.

Lonjakan produksi ini terjadi bersamaan dengan potensi reli harga tembaga dan emas, yang menurut berbagai penyedia data industri diperkirakan memasuki siklus bullish multi-tahun.

IHSG Tertekan Jelang Libur Lebaran, Analis: Aksi Profit Taking Lebih Masif

Pada 2025, AMMN diproyeksikan mencatat rugi bersih sekitar US$ 54 juta, yang menjadi kerugian pertama sejak masa pra-produksi.

Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan volume produksi ketika tambang Batu Hijau menjalani transisi antar fase penambangan.

Namun mulai 2026, kinerja perusahaan diperkirakan pulih signifikan seiring peningkatan volume produksi, kenaikan harga jual rata-rata (ASP), serta efisiensi biaya yang membaik seiring meningkatnya throughput bijih.

“Laba bersih AMMN diperkirakan akan pulih cepat dan mencapai sekitar US$ 1,4 miliar pada 2026,” ujar Hasan.

Meski prospeknya dinilai kuat, Maybank Sekuritas menyoroti beberapa risiko utama terhadap rekomendasi ini, antara lain potensi keterlambatan ramp-up produksi, penurunan harga tembaga dan emas, serta ketergantungan pada satu tambang utama.

Pada tahun 2025, AMMN diperkirakan bisa mengantongi pendapatan sebesar US$ 1,29 miliar dengan rugi bersih US$ 54 juta. Sementara tahun 2026, pendapatan AMMN diproyeksi mencapai US$ 4,58 miliar dengan laba bersih US$ 1,41 miliar.