Rekomendasi saham Astra (ASII) menuju Rp8.100 yang bertahan jadi ‘raja otomotif nasional’

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — PT Astra International Tbk. (ASII) masih mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar otomotif nasional sepanjang 2025. Meskipun pangsa pasar otomotif mengalami penyusutan, kinerja keuangan Astra secara group dinilai masih cukup tangguh.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengungkapkan bahwa pendapatan bersih ASII pada periode sembilan bulan pertama 2025 sebesar Rp243,6 triliun. Angka ini hanya turun tipis 1% year on year (YoY).

Namun, dari sisi profitabilitas, laba bersih ASII melemah 5% YoY menjadi Rp24,5 triliun. Penurunan ini dipicu oleh proses normalisasi marjin yang masih berlangsung, terutama pada lini bisnis alat berat dan sektor pertambangan.

“Penurunan laba tersebut terutama disebabkan oleh tekanan marjin serta kontribusi yang lebih lemah dari bisnis alat berat dan sektor terkait pertambangan,” ucap Miftahul dalam risetnya. 

: Tekanan Daya Beli Menguji Dominasi Astra (ASII) di Pasar Otomotif Nasional

Secara operasional, marjin laba operasi grup ASII sampai dengan kuartal III/2025 mencatatkan penurunan menjadi 11,7%. Marjin kotor juga terkoreksi menjadi 21,4% yang mencerminkan intensitas biaya yang lebih tinggi. 

Di tengah tekanan pada sektor komoditas, segmen otomotif dan jasa keuangan muncul sebagai penyelamat kinerja perseroan. Pendapatan segmen otomotif tumbuh moderat 1% YoY menjadi Rp8,8 triliun. Bahkan pada kuartal III/2025, segmen ini mencatatkan pemulihan kuartalan yang kuat sebesar 41%.

“Segmen jasa keuangan tetap menjadi penopang utama kinerja dengan pertumbuhan pendapatan 8% secara tahunan menjadi Rp6,7 triliun dan marjin solid di level 57,2%,” pungkas Miftahul.

Sebaliknya, segmen alat berat dan pertambangan menjadi penekan utama dengan pendapatan yang merosot 26% YoY menjadi Rp7,0 triliun. 

Di sisi lain, diversifikasi bisnis pada segmen agribisnis serta infrastruktur dan logistik masih mencatatkan pertumbuhan dua digit yang kuat, sementara sektor properti mampu menjaga laba melalui ekspansi marjin hingga 58,7%.

Melihat tanda-tanda awal stabilisasi kinerja laba pada kuartal terakhir, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold untuk saham ASII.

Analis Phillip Sekuritas Helen menilai bahwa meski laba tertekan, saham ASII masih memiliki prospek positif. Faktor pendorongnya antara lain kekuatan merek, ekspansi berkelanjutan, serta portofolio bisnis yang terdiversifikasi. 

Meski demikian, dia menyoroti sejumlah risiko, seperti volatilitas harga komoditas, permintaan yang lebih lemah, serta persaingan yang semakin ketat. 

Analis Maybank Sekuritas Paulina Margareta menambahkan ASII memperoleh dukungan dari sejumlah lini bisnis. Di sektor otomotif, Toyota dinilai semakin agresif meluncurkan model baru, khususnya kendaraan listrik berbasis baterai. 

Di samping itu, pemulihan harga batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan memiliki dampak positif terhadap permintaan alat berat dan kinerja divisi perkebunan Grup Astra ke depan. 

“Penurunan suku bunga yang menyebabkan suku bunga pembiayaan otomotif lebih rendah, dan akan mendorong permintaan,” tulis Paulina dalam risetnya. 

Diversifikasi ke sektor infrastruktur dan properti juga dinilai mampu mengimbangi potensi penurunan kontribusi pendapatan dari bisnis alat berat dan perkebunan. Namun, sejumlah tantangan masih membayangi, antara lain permintaan otomotif yang lebih lemah dari perkiraan, potensi penurunan tajam harga komoditas, serta peningkatan risiko kredit bermasalah (NPL).

Astra International Tbk. – TradingView

Dari meja konsensus, sebanyak 26 dari 35 analis memberikan rekomendasi beli untuk saham ASII. Adapun Target harga rata-rata saham perseroan mencapai Rp6.986, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp8.100 per saham.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ASII kini berada di level Rp7.050 per saham hingga penutupan perdagangan Kamis (15/1). Harga ini mencerminkan penguatan sebesar 5,22% sepanjang tahun berjalan. 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.