
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Rencana PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) untuk melakukan pemisahan atau spin off unit bisnis infrastruktur fiber optiknya kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau Infranexia disambut sebagai sentimen positif di pasar. Langkah strategis ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan aset fiber optik Telkom yang selama ini masif namun belum sepenuhnya dimonetisasi.
Grup Telkom diketahui memiliki jaringan fiber optik sepanjang sekitar 180.000 kilometer, sebuah skala yang setara dengan empat kali keliling bumi. Namun, selama ini aset berharga tersebut mayoritas hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal Grup Telkom, sehingga potensi monetisasi asetnya masih sangat besar.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra, menjelaskan bahwa nantinya Infranexia akan berdiri sendiri sebagai entitas perusahaan baru, bukan lagi unit bisnis di bawah Telkom. “Saat ini 99% pendapatan FiberCo masih berasal dari Telkom. Namun, kami menargetkan 15% revenue atas entitas spin off itu akan berasal dari pihak ketiga,” ungkap Angelo pada Senin (11/8/2025).
Dengan aset yang begitu luas, Infranexia berpotensi melayani kebutuhan sekitar 1.300 penyedia internet (ISP) dan pemain teknologi besar lainnya, termasuk raksasa seperti Google dan Microsoft. Proses transfer aset senilai Rp 150 triliun ini akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, yang diharapkan rampung pada akhir 2025, akan mentransfer sekitar 50%–54% dari total aset. Seluruh proses transfer diperkirakan selesai sepenuhnya dalam waktu enam bulan berikutnya. Angelo menegaskan, spin off unit bisnis infrastruktur fiber optik ini akan menjadi yang terbesar di Grup Telkom, menyusul langkah sukses PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel yang berfokus pada aset menara telekomunikasi.
Perspektif positif juga datang dari analis pasar. Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai bahwa rencana spin off unit bisnis fiber ini adalah katalis positif yang membuka peluang monetisasi aset yang sangat besar. Menurutnya, model spin-off semacam ini memungkinkan TLKM untuk memperoleh one-off gain dari penjualan kepemilikan, sekaligus potensi recurring income melalui skema sewa atau penggunaan fiber oleh entitas baru. “Langkah ini bisa memperbaiki neraca keuangan dan mendukung pendanaan ekspansi di segmen berpertumbuhan tinggi seperti cloud, data center, dan business to business digital services,” jelas Wafi kepada Kontan, Selasa (12/8/2025).
Lebih lanjut, Wafi berpendapat bahwa dari segi prospek, spin-off ini akan memberikan fleksibilitas bagi TLKM untuk membuka value dan mempercepat ekspansi fiber optik. Hal ini pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan ARPU (Average Revenue Per User) dan kualitas layanan Telkom secara keseluruhan. Senada, Equity Research Associate Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin, melihat rencana spin off ini sebagai upaya positif dari Telkom untuk meningkatkan utilisasi asetnya, menjadikannya sumber pendapatan baru yang menjanjikan.
Namun, Arifin juga menambahkan catatan penting. “Telkom perlu memastikan tambahan pendapatan ini tetap dapat dilakukan tanpa merusak daya saing dari bisnis yang bergerak di bidang yang sama dengan pengguna asetnya itu,” pungkasnya. Hal ini menekankan perlunya strategi yang matang agar monetisasi aset tidak menimbulkan konflik kepentingan atau persaingan internal di masa depan.