Saham EMAS, AADI, hingga BUMI jadi incaran investor asing

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Saham-saham emiten komoditas seperti EMAS, AADI, sampai PTBA menjadi sasaran utama, sejalan dengan aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar Indonesia dan menorehkan nilai beli bersih.

Melansir statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), net sell asing dalam sepekan yang lalu tercatat sebesar Rp1,56 triliun. Setelah itu, pasar membukukan net buy asing Rp1,02 triliun hanya dalam satu perdagangan Senin (16/3/2026).

Adapun, saham dengan net buy asing terbesar adalah PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) yakni sebesar Rp564,60 miliar, disusul PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dengan nilai beli bersih asing Rp160,02 miliar, dan PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) dengan nilai Rp82,42 miliar.

Berikutnya, ada saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang mencatat net buy Rp53,25 miliar, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dengan nilai Rp41,12 miliar, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI) Rp40,58 miliar, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) Rp40,35 miliar, dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) dengan net buy asing Rp38,02 miliar.

Di sisi lain, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) menjadi satu-satunya emiten migas yang ada di 10 besar saham dengan net buy terbesar, dengan capaian Rp21,55 miliar. Terakhir, kesepuluh adalah PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) dengan nilai Rp21,27 miliar.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Senin (16/3/2026) ditutup koreksi 1,61% ke 7.022 meskipun terdapat aliran asing masuk. Sementara itu, pada perdagangan hari ini, Selasa (17/3/2026) indeks komposit pada sesi I perdagangan menguat 1,14% ke 7.102.

: Prospek Anyar Saham MDKA dan EMAS Usai Kontrak Jual Beli Emas dengan ANTM

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjelaskan bahwa dari perspektif investor asing saat ini melihat sektor komoditas menjadi menarik karena memiliki korelasi langsung dengan harga global seperti batu bara dan energi yang saat ini masih ditopang oleh dinamika geopolitik serta kebutuhan energi global. Selain itu, investor global juga mencari emiten yang menawarkan dividend yield tinggi, terlebih ketika pasar berada dalam kondisi risk-off.

“Meski demikian, foreign flow tidak selalu langsung mendorong kenaikan harga saham karena faktor lain seperti profit taking domestik, tekanan indeks, atau valuasi jangka pendek masih dapat menyebabkan koreksi harga,” ujarnya.

Menurut dia, dalam kondisi volatilitas pasar, investor institusi biasanya mencari sektor yang memiliki earnings visibility tinggi dan relatif defensif terhadap siklus ekonomi, sehingga saham berbasis komoditas dan energi menjadi tujuan utama.