
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil nasional secara wholesales sepanjang 2025 mencapai 803.687 unit.
Angka ini turun 7,2% dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sebesar 865.723 unit. Meski mengalami penurunan, realisasi tersebut masih berada di atas target Gaikindo yang ditetapkan sebanyak 780.000 unit.
Melihat kinerja otomotif di tahun 2025, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menilai saham emiten otomotif di 2026 diperkirakan bergerak positif dan berpeluang melanjutkan penguatan.
“Hal ini didukung oleh perbaikan ekonomi dan stabilitas penghasilan masyarakat,” kata Ike kepada Kontan, Senin (19/1/2026).
Cermati Rekomendasi Saham Medikaloka Hermina (HEAL) yang Tatap 2026 dengan Ekspansi
Meski demikian, Ike juga mencermati potensi keterbatasan kelanjutan insentif pemerintah, bahkan adanya pergeseran skema insentif.
Pemberian insentif yang sebelumnya lebih berfokus pada diskon pembelian kendaraan dinilai berpeluang dialihkan ke insentif investasi, seperti pembangunan pabrik dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Terbatasnya insentif tersebut berisiko menurunkan minat konsumen dalam membeli kendaraan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kepercayaan investor. Kondisi ini berpotensi menjadi faktor pembatas bagi pergerakan harga saham emiten otomotif.
Dihubungi terpisah, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory Ekky Topan menyampaikan dengan penjualan mobil nasional yang lesu tahun lalu, prospek saham otomotif pada tahun 2026 cenderung mengarah pada fase pemulihan bertahap, bukan langsung kembali agresif.
Menurut Ekky, katalis utama sektor ini tetap berasal dari faktor makroekonomi, terutama potensi arah suku bunga yang lebih longgar, yang dapat menopang penyaluran kredit kendaraan serta daya beli masyarakat. Selain itu, normalisasi strategi diskon dinilai dapat membuat persaingan industri menjadi lebih rasional.
Meski demikian, Ekky mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu dicermati. “Risikonya jelas yaitu pelemahan rupiah bisa mengerek biaya komponen impor dan kompetisi merek tetap ketat,” kata Ekky kepada Kontan, Senin (19/1/2026).
Adapun terkait wacana penghentian insentif fiskal kendaraan listrik (electric vehicle/EV), Ekky menilai sentimen ini berpotensi menjadi faktor penahan pertumbuhan pada segmen tertentu, khususnya EV yang harga jualnya sangat sensitif terhadap subsidi dan insentif pajak. Jika insentif benar-benar dihentikan, harga on-the-road EV berpeluang naik sehingga laju pertumbuhan penjualan dapat melambat.
Dampak ini diperkirakan akan lebih terasa pada merek yang masih sangat bergantung pada insentif, sementara pemain dengan basis produksi lokal serta portofolio hybrid atau mesin pembakaran internal (ICE) yang kuat dinilai relatif lebih resilien.
“Sentimen tersebut bukan berarti prospek EV berakhir, melainkan pasar akan menjadi lebih selektif dan fokus pada emiten dengan produk yang tepat serta jaringan distribusi yang kuat,” ujar Ekky.
Rekomendasi Saham
Ike berpandangan saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) berpotensi menguat di tahun 2026. Menurutnya, AUTO adalah pemain terbesar di Indonesia yang memproduksi berbagai komponen seperti aki GS Astra, rantai, filter, hingga piston untuk kendaraan roda dua dan roda empat.
Sementara, DRMA fokus pada komponen struktur kendaraan, sistem suspensi, dan kini ekspansi besar ke komponen kendaraan listrik (EV) seperti charging station dan kabel.
Ike menuturkan bahwa saham AUTO berpeluang mengarah ke target harga di kisaran Rp 3.300 per saham, sementara saham DRMA diperkirakan berpotensi menuju area target Rp 1.270 per saham.
Disisi lain, Ekky menyebut PT Astra International Tbk (ASII) masih kerap menjadi pilihan utama berkat diversifikasi usaha dan posisinya dalam transisi industri kendaraan, dengan rekomendasi beli dengan target harga di kisaran Rp 7.700–Rp 8.000 per saham. Saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) juga dinilai layak untuk dicermati sebagai penunjang sektor otomotif.
SBN Ritel Diproyeksi Tetap Jadi Pilihan Investasi pada Tahun 2026, Ini Alasannya