September Effect Bayangi IHSG, Investor Asing Lepas Saham Big Banks BBCA BMRI Cs

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) berisiko menghadapi tekanan pada  September, yang secara historis menjadi bulan dengan penurunan tertajam di pasar saham. Fenomena ini dikenal dengan istilah September Effect.

Melansir Investopedia, September Effect atau Black September menunjukkan bahwa secara historis kinerja saham cenderung melemah pada bulan September. Fenomena ini terjadi tanpa hubungan sebab-akibat yang jelas, sehingga masuk kategori anomali pasar. 

Data indeks S&P 500 sejak 1928 hingga 2023, misalnya, mencatatkan rata-rata penurunan pada September sekitar 1%, menjadikannya bulan dengan performa terburuk dibandingkan bulan lain. Meski demikian, tidak setiap September negatif, dan median imbal hasil beberapa tahun terakhir justru menunjukkan angka positif.

Di Indonesia, Mirae Asset Sekuritas mencatat bahwa dalam 10 tahun terakhir, IHSG hanya dua kali menguat dan delapan kali melemah sepanjang September. Secara rerata, penurunan indeks pada bulan ini mencapai 1,8% atau tertinggi dari bulan-bulan lain.

“Pada September memang rawan sekali koreksi,” ujar Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina, Senin (1/9/2025). 

Terlepas dari tren historis yang terjadi, Martha menyampaikan bahwa pelaku pasar saat ini tengah berfokus pada keputusan The Fed terkait suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) yang akan diumumkan pada 17 September 2025.  

Selain pengumuman The Fed, pasar turut mencermati sejumlah data ekonomi penting, antara lain Non-Farm Payroll AS pada 5 September, data inflasi AS pada 11 September, serta pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada 17 September.

Sementara itu, perkembangan sosial-politik dalam negeri dan kondisi geopolitik global juga menjadi sentimen negatif bagi pergerakan IHSG ke depan. 

IDX COMPOSITE INDEX – TradingView

Dengan sederet sentimen yang ada, Martha memperkirakan indeks komposit berisiko melemah pada September 2025. Salah satu faktornya karena pemangkasan suku bunga AS sudah diperhitungkan oleh pasar, sehingga membuka ruang aksi ambil untung. 

“September ini akan ditopang oleh pemangkasan Fed Rate, yang memang sebenarnya sudah price-in di pasar. Jadi, kalau ada berita terkait ketidakstabilan politik, keamanan, dan sosial, itu berpotensi menimbulkan aksi profit taking,” ucap Martha. 

IHSG tercatat ditutup melemah sebesar 1,21% ke level 7.736,06 pada Senin (1/9/2025). Tercatat, hanya 171 saham yang menguat, 539 saham terkoreksi, dan 99 saham stagnan. Adapun, kapitalisasi pasar saat ini berada di angka Rp14.054 triliun.  

Penurunan indeks komposit terjadi seiring aksi jual investor asing di saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Di urutan pertama, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi yang paling banyak dilepas dengan nilai net sell Rp1,6 triliun.  

Berikutnya ada saham bank pelat merah, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan nilai jual bersih asing mencapai Rp734 miliar dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan net sell senilai Rp110 miliar.

Investor asing juga membukukan jual bersih Rp70 miliar di saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mencapai Rp70 miliar. 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.