
Ussindonesia.co.id Jakarta. Musim dividen jumbo mulai tersaji di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Maret 2026. Berikut daftar emiten saham yang diprediksi bagi dividen jumbo dalam waktu dekat.
Memasuki bulan ketiga tahun ini, perusahaan-perusahaan terbuka dari sektor perbankan mulai bersiap meminta restu pemegang saham untuk pembagian dividen tahun buku 2025 melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi pembuka musim RUPST tahun ini. Bank pelat merah tersebut telah menyelenggarakan RUPST pada 9 Maret 2026 dan memperoleh persetujuan pemegang saham untuk membagikan dividen final sebesar Rp 349,41 per saham.
Pada perdagangan Kamis 12 Maret 2026, harga saham BBNI di level 4.280 turun 10 poin atau 23% dibandingkan sehari sebelumnya. Dengan harga tersebut, yield dividen saham BBNI sebesar 8,16% atau sekitar 3 kali lipat dari bunga deposito rupiah di BNI.
Empat Emiten Bersiap Rights Issue di 2026, Ini Saran untuk Investor
Total dividen yang dibagikan BBNI mencapai Rp 13,03 triliun atau setara dengan 65% dari laba bersih konsolidasian perseroan yang sebesar Rp 20,04 triliun.
Rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR) BBNI pada periode ini sama dengan tahun sebelumnya. Namun karena laba bersih perseroan turun 6,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), nilai dividen yang dibagikan juga lebih kecil dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 13,95 triliun.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga telah merampungkan RUPST pada Kamis (12/3/2026). Bank swasta terbesar di Indonesia ini memperoleh persetujuan pemegang saham untuk membagikan dividen sebesar Rp 336 per saham.
Total dividen yang dibagikan BBCA mencapai Rp 41,4 triliun atau setara dengan 72% dari laba bersih tahun buku 2025. Angka tersebut menjadi dividend payout ratio tertinggi yang pernah dibagikan oleh BCA.
Secara historis, BBCA biasanya membagikan dividen dengan DPR di kisaran 67% hingga 70%. Sebagai perbandingan, pada tahun buku 2024 perseroan membagikan dividen Rp 36,98 triliun dengan DPR sebesar 67,4%.
Tak hanya meningkatkan DPR, BBCA juga berencana membagikan dividen interim hingga tiga kali dalam setahun mulai tahun buku 2026, yang akan dibagikan setiap kuartal.
Tonton: Pinjaman Konsumen GOTO Tembus Rp 8,8 Triliun di Tahun 2025, Melejit 68%
Dividen BBRI dan BMRI Menyusul
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dijadwalkan menggelar RUPST tahun buku 2025 pada 10 April 2026.
Direktur Utama BRI Herry Gunardi sebelumnya membuka peluang untuk meningkatkan dividend payout ratio dari level historis sebagai bentuk komitmen memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham.
“Kalau dividen yang diberikan lebih besar, maka return on equity (ROE) juga akan meningkat,” kata Herry dalam paparan kinerja bulan lalu.
Sepanjang 2025, BBRI mencatatkan laba bersih Rp 57,13 triliun atau turun 5,26% secara tahunan. Pada tahun buku 2024, BRI membagikan dividen dengan DPR sebesar 86%.
Jika DPR tahun ini meningkat dari level tersebut, total dividen yang berpotensi dibagikan BBRI dapat melampaui Rp 49,14 triliun.
Di sisi lain, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) hingga kini belum mengumumkan jadwal RUPST tahun buku 2025. Meski demikian, Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyebut DPR untuk periode ini kemungkinan tidak akan jauh berbeda dari tahun sebelumnya yang berada di level 78%.
Pada tahun buku 2025, laba bersih Bank Mandiri tumbuh tipis 0,93% secara tahunan menjadi Rp 56,3 triliun.
Apabila DPR tetap berada di kisaran 78%, maka total dividen yang berpotensi dibagikan BMRI mencapai sekitar Rp 43,9 triliun. Artinya, setiap pemegang saham berpeluang menerima dividen sekitar Rp 472 per saham.
Dividen BTN dan Permata Bank
Dari kelompok bank bermodal inti (KBMI) III, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga belum mengumumkan jadwal RUPST. Namun manajemen membuka peluang untuk meningkatkan dividend payout ratio.
Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyebut perseroan ingin menjaga rasio return on equity (ROE) di atas 12% bahkan menargetkan hingga 14%.
Untuk itu, BBTN mempertimbangkan meningkatkan DPR dari level tahun sebelumnya.
“Kami mungkin akan memberikan DPR sedikit lebih besar, di kisaran 25% hingga 30%,” ujar Nixon.
Sepanjang tahun buku 2025, BTN mencatatkan laba bersih Rp 3,5 triliun atau tumbuh 16,4% secara tahunan. Dengan asumsi DPR di kisaran 25% hingga 30%, total dividen yang berpotensi dibagikan BTN berkisar antara Rp 875 miliar hingga Rp 1,05 triliun.
Sementara itu, PT Bank Permata Tbk (BNLI) dijadwalkan menggelar RUPST pada 7 April 2026 dengan salah satu agenda penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025.
Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank Rudy Basyir Ahmad menyebut perseroan akan menjaga dividend payout ratio tetap stabil seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun buku 2024, BNLI membagikan dividen sebesar Rp 1,08 triliun atau Rp 30 per saham, setara dengan DPR 30,26%.
Adapun pada tahun buku 2025, laba bersih BNLI tumbuh tipis 0,59% secara tahunan menjadi Rp 3,59 triliun. Dengan asumsi DPR sekitar 30%, total dividen yang berpotensi dibagikan bank relatif stabil di kisaran Rp 1,08 triliun.
Tonton: Satu Tahun Berjalan, Danantara Investment Management Kantongi Komitmen Rp 346 Triliun
Katalis Dividend Play
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai konsistensi dividend payout ratio yang tinggi tetap menjadi daya tarik utama bagi investor, meskipun beberapa bank mencatatkan penurunan laba.
Menurutnya, konsistensi tersebut mencerminkan struktur permodalan yang solid serta komitmen kuat perusahaan terhadap pemegang saham.
“Itu menunjukkan struktur modal yang solid dan komitmen kuat terhadap pemegang saham, meskipun nominal dividen menyesuaikan fluktuasi laba,” jelas Wafi.
Kondisi tersebut dapat menjadi katalis bagi strategi akumulasi jangka pendek atau dividend play.
Ia menilai konsistensi pembagian dividen menjadi daya tarik bagi investor ritel yang mencari kepastian imbal hasil di tengah volatilitas pasar.
Meski demikian, Wafi menegaskan bahwa prospek kinerja masing-masing emiten tetap menjadi faktor penting bagi investor dalam mempertimbangkan investasi jangka panjang.