
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Harga emas diproyeksikan masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek dengan kecenderungan melemah. Meskipun sempat menguat, prospek logam mulia ke depan dibayangi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan volatilitas harga komoditas global.
Melansir Bloomberg, harga emas spot terpantau berada di level US$5.094,97 atau terkoreksi 1,48%, Senin (9/3). Adapun emas harga emas Comex juga mencatat penurunan sebesar 0,88% menjadi US$5.113,20 per troy ons.
Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menuturkan bahwa secara teknikal, pergerakan emas masih menunjukkan kecenderungan bearish. Berdasarkan pola candlestick dan indikator moving average, pasar dinilai masih berada dalam koreksi turun dan potensi penurunan cukup terbuka.
“Pelemahan harga terbuka jika tidak ada katalis positif yang mampu mendorong penguatan signifikan dalam waktu dekat,” ucap Andy, Senin (9/3/2026).
Secara fundamental, lanjutnya, prospek emas ke depan bergantung pada rilis data consumer price index (CPI) AS yang akan dirilis pertengahan pekan ini.
Andy menyebutkan bahwa data tersebut menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed. Adapun, mayoritas ekonom memperkirakan bank sentral AS tersebut akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level saat ini yakni 3,50% – 3,75% dalam pertemuan 17-18 Maret mendatang.
: Bersiap Harga Emas Tembus di Rp3,15 Juta per Gram Efek Perang Iran
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia yang memicu kekhawatiran inflasi di AS berpotensi membuat The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Sejumlah analis bahkan menilai peluang penurunan suku bunga baru terbuka pada pertengahan 2026, sekitar Juni atau Juli.
“Suku bunga yang tinggi umumnya memberikan tekanan terhadap harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi berbasis bunga, sehingga investor cenderung beralih,” ucap Andy.
Di sisi lain, ruang penguatan jangka pendek terbuka dari data pasar tenaga kerja yang melandai. Laporan nonfarm payrolls (NFP) Februari memperlihatkan penurunan 92.000 lapangan kerja dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,4%, sehingga berisiko menekan dolar AS dan membuka ruang bagi harga emas.
Secara teknikal, Andy memproyeksikan jika tekanan bearish berlanjut, harga emas berpotensi ke support US$4.960. Namun, jika terjadi pembalikan arah, penguatan terdekat berada di sekitar level resistance US$5.139 per troy ons.
“Dengan mempertimbangkan berbagai faktor teknikal dan fundamental yang memengaruhi pasar saat ini, pergerakan emas diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek dengan kecenderungan melemah,” tuturnya.
Pelaku pasar juga diminta untuk mencermati perkembangan data ekonomi AS, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta dinamika geopolitik global yang dapat memicu perubahan sentimen di pasar keuangan dan komoditas.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.