
Aliran modal asing kembali mengalir ke pasar keuangan domestik sejak awal 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat investor nonresiden membukukan beli bersih atau net buy sebesar Rp 7,34 triliun hingga 8 Januari 2026, mencerminkan masih terjaganya kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan berdasarkan data setelmen sepanjang 2026 hingga 8 Januari, dana asing masuk terbesar mengalir ke pasar saham dengan nilai beli neto Rp 3,85 triliun. Selain itu, investor global juga mencatatkan beli bersih Rp 3,23 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) serta Rp 0,26 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujar Rambdan seperti dikutip Minggu (11/1).
Pada pekan pertama Januari 2026, arus modal asing juga tercatat positif meski terjadi pergeseran instrumen. Mengacu pada data transaksi 5–8 Januari 2026, nonresiden membukukan beli neto Rp 1,44 triliun.
Aliran dana tersebut berasal dari beli bersih Rp 1,78 triliun di pasar saham dan Rp 1,04 triliun di SRBI. Meski demikian, di saat yang sama investor asing mencatatkan jual neto Rp 1,38 triliun di pasar SBN.
Sementara itu, indikator stabilitas keuangan menunjukkan pergerakan yang beragam. Pada penutupan perdagangan Kamis (8/1/2026), nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp 16.785 per dolar AS dan kembali dibuka melemah tipis ke Rp 16.815 per dolar AS pada Jumat pagi (9/1/2026). Yield SBN tenor 10 tahun tercatat naik dari 6,05% menjadi 6,15%.
Di pasar global, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 98,93, sementara yield US Treasury Note tenor 10 tahun turun ke 4,167%. Di sisi lain, premi credit default swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 8 Januari 2026 naik menjadi 69,57 basis poin, dibandingkan posisi 2 Januari 2026 sebesar 67,62 basis poin.