
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan angkat suara ihwal penjualan SBN Ritel perdana 2026, ORI029 yang lesu di pasaran.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Suminto menerangkan bahwa sedikitnya terdapat dua faktor yang menyebabkan penjualan ORI029 jauh panggang dari api. Salah satunya adalah tidak adanya instrumen SBN Ritel yang jatuh tempo pada periode penerbitan ORI029.
Dengan tidak adanya instrumen jatuh tempo, Suminto menerangkan bahwa realisasi penjualan ORI029 mencapai Rp14,4 triliun merupakan fresh money.
”Hasil penjualan ORI029 dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, tidak adanya SBN Ritel yang jatuh tempo selama masa penawaran menyebabkan tidak terjadi reinvestment oleh existing investor,” katanya kepada Bisnis, Jumat (20/2/2026) malam.
Menilik data historis, penjualan ORI pada awal tahun sebetulnya cukup berkorelasi dengan aksi reinvestasi investor pada instrumen surat utang tersebut. Pada ORI027, misalnya, yang diterbitkan pada periode 27 Januari—20 Februari 2025, masih mampu diserap pasar lantaran penerbitannya bersamaan dengan jatuh tempo dua produk SBN Ritel, yaitu SBR012T2 dan ORI021.
Data Bareksa menunjukkan bahwa kedua produk ini memiliki nilai penjualan total senilai Rp41,79 triliun.
: Obligasi Ritel ORI029 Tidak Terserap Pasar, Pemerintah Perlu Kasih Kupon Menarik?
Hal serupa terjadi pada penerbitan ORI025 pada awal 2024 lalu, yang mampu membukukan penjualan Rp23,92 triliun. Bersamaan dengan penerbitan ORI025 pada 29 Januari—22 Februari 2024, ORI019 dengan nilai penjualan Rp26 triliun mengalami jatuh tempo pada 15 Februari 2024.
Kondisinya cukup berbeda saat penerbitan ORI029. Kendati BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa sedikitnya terdapat empat SUN yang jatuh tempo pada Februari 2026, dengan total Rp46,85 triliun, tetapi hal itu tidak serta merta membuat ORI029 digandrungi pasar.
Berdasarkan data mitra distribusi ORI029, PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit), penjualan ORI029 hingga Kamis (19/2/2026) pukul 09.50 WIB masih tersisa sekitar Rp10,51 triliun. Angka itu menunjukkan bahwa 10 menit jelang penutupan penjualan, produk ini baru laris terjual Rp14,49 triliun.
Diperinci, ORI029-T3 menyisakan Rp4,05 triliun atau 27,00% dari target, sementara ORI029-T6 tersisa Rp6,51 triliun atau 65,1% dari target penjualan produk tersebut. Secara total, penjualan ORI029 baru memenuhi 57,96% dari target dana terhimpun.
Selain itu, Suminto menilai bahwa minat pemesanan ORI029 sejalan dengan kebutuhan dana untuk mempersiapkan sejumlah hari raya besar di Tanah Air. Faktor itu turut membuat produk ini tidak menjadi pilihan utama investor lantaran kebutuhan likuiditas yang tinggi jelang hari raya.
”Kedua, faktor musiman turut berpengaruh karena periode penawaran bertepatan dengan long weekend serta mendekati Ramadan dan Imlek, yang meningkatkan likuiditas rumah tangga,” katanya.
Ke depan, DJPPR disebut masih pede soal penjualan SBN Ritel pada tahun ini. Terlebih, SBN Ritel akan ditawarkan dengan cukup variatif, mulai dari tenor, kupon, hingga waktu penerbitan yang dinilai dapat disesuaikan dengan preferensi investor.
Pemerintah, katanya, masih memiliki ruang untuk menyesuaikan struktur kupon, tenor, maupun tanggal penerbitan SBN Ritel padai 2026, dengan mempertimbangkan kondisi di pasar keuangan, likuiditas domestik, hingga perkembangan suku bunga.
”Ke depan, prospek SBN Ritel masih cukup baik, selain emberikan return yang menarik, juga menawarkan alternatif investasi yang aman dan mudah, terutama untuk generasi muda yang mulai meningkatkan portfolio investasinya,” tutupnya.