Dolar AS perkasa didorong spekulasi The Fed tahan pemangkasan suku bunga

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Indeks dolar AS pelan-pelan menanjak seiring dengan pelaku pasar memperkirakan Bank Sentral AS (The Fed) tidak akan mampu merealisasikan pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia menguat 0,4% pada Selasa (17/2/2026). Kenaikan ini menjadi yang kedua kalinya berturut-turut.

Adapun, dolar AS berada dalam tekanan sejak Presiden AS Donald Trump kembali duduk di Gedung Putih. Survei terbaru dari Bank of America Corp. menunjukkan eksposur investor terhadap dolar AS telah berada di level terendah setidaknya sejak 2012.

: Rupiah Tertunduk Usai Imlek Mata Uang Asia Variatif Won & Ringgit Melaju

Namun, belakangan ini lembaga lindung nilai mengurangi posisi bearish mereka terhadap greenback karena para analis menyangsikan data ekonomi akan membuka jalan bagi pemangkasan suku bunga sebesar yang diharapkan investor. Pasar uang saat ini memperkirakan pemangkasan sekitar 60 basis poin hingga akhir tahun.

Elias Haddad, kepala strategi pasar global di Brown Brothers Harriman, menyampaikan pertaruhan pemangkasan suku bunga Fed funds terlihat berlebihan. Dia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inflasi inti yang masih membandel di atas target 2% bank sentral.

“Sehingga membuka ruang bagi penyesuaian harga yang positif bagi dolar AS dalam jangka pendek,” kata Haddad, dikutip Bloomberg pada Rabu (18/2/2026).

Analis Danske Bank A/S termasuk kepala analis valas Jens Naervig Pedersen mengatakan data ekonomi AS seperti laporan ketenagakerjaan Januari yang lebih kuat dari perkiraan melemahkan argumen untuk pemangkasan suku bunga “asuransi” pada musim semi.

Mereka memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga pada Juni dan September, lalu menahannya hingga 2027.

Namun demikian, penguatan dolar AS kali ini bisa jadi hanya sementara. Greenback telah melemah sekitar 10% sejak Januari 2025, ketika Trump memulai masa jabatan keduanya, yang membuat investor gelisah dengan kebijakan-kebijakan tak terduga termasuk perang dagang.