
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Emiten Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berpeluang meraih kinerja keuangan yang lebih baik pada 2026. Hal ini seiring permintaan batubara yang berpotensi tumbuh di tengah ancaman krisis pasokan energi global hingga langkah diversifikasi bisnis yang dilakukan emiten tersebut.
Sebagaimana diketahui, DSSA mengalami penurunan pendapatan usaha 7,62% year on year (yoy) menjadi US$ 2,79 miliar pada 2025. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk DSSA juga tergerus 25,41% yoy menjadi US$ 230,54 juta.
Terlepas dari itu, manajemen DSSA menganggap hasil kinerja pada 2025 sebagai penegasan ketahanan dan fleksibilitas model bisnis DSSA dalam menjaga stabilitas keuangan di tengah volatilitas pasar, sekaligus memperkuat fondasi untuk percepatan transformasi jangka panjang menuju bisnis energi bersih dan energi terbarukan serta diversifikasi usaha ke sektor teknologi.
Harga Kripto Berbalik Turun, Investor Ritel Masih Jadi Penggerak
Salah satu lompatan strategis DSSA terlihat pada lini bisnis teknologi dan infrastruktur digital. Pendapatan DSSA dari segmen TV kabel, internet, dan layanan digital tumbuh signifikan menjadi US$ 211,79 juta pada 2025, naik dari US$ 144,08 juta pada 2024.
Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi layanan internet melalui anak usaha PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia) dan mulai beroperasinya pusat data komersial melalui anak usaha, PT SMPlus Sentra Data Persada (SM+) yang kini menjadi pilar strategis baru dalam portofolio teknologi perusahaan.
Di sektor energi, DSSA mengakselerasi pengembangan energi surya dan panas bumi. Selain mengoperasikan pabrik panel surya terintegrasi 1 gigawatt (GW) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, DSSA mengembangkan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti dengan total potensi 440 megawatt (MW) yang diproyeksikan menjadi sumber baseload listrik hijau untuk mendukung keandalan sistem ketenagalistrikan nasional.
Eksplorasi panas bumi sedang berlangsung di enam wilayah strategis, dari Jawa Barat (Cisolok dan Cipanas), Sumatera, hingga Flores dan Sulawesi Tengah sebagai bagian dari upaya menggeser ketergantungan pada energi fosil menuju bauran energi bersih.
Presiden Direktur DSSA, L. Krisnan Cahya menyampaikan, di tengah dinamika industri dan kondisi geopolitik global yang penuh tantangan pada tahun 2025, DSSA dapat mempertahankan kinerja operasional yang solid dan mempercepat penetrasi di sektor infrastruktur digital serta langkah transisi yang terdiversifikasi ke energi baru dan terbarukan.
“Ke depan, DSSA akan terus memperkuat portofolio bisnis yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan tuntutan energi berkelanjutan,” ujar dia dalam keterangan resmi, Kamis (26/3).
Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, ancaman krisis energi global di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis positif untuk mendorong volume ekspor batubara DSSA, terutama ke kawasan Asia. Peningkatan ekspor ini untuk mengompensasi normalisasi harga batubara dan memulihkan margin pendapatan usai penurunan yang terjadi pada 2025.
Kripto Sempat Menguat, Kini Berbalik Melemah, Pasar Masih Konsolidasi
Di samping itu, kontribusi segmen lain seperti panas bumi, manufaktur panel surya, dan infrastruktur digital diperkirakan akan meningkat secara bertahap sebagai motor pertumbuhan utama DSSA.
“DSSA berpeluang besar melanjutkan ekspansi di sektor-sektor ini sejalan dengan agenda transisi energi dan konsolidasi aset teknologi Grup Sinar Mas,” kata dia, Kamis (26/3).
Untuk memaksimalkan kinerja pada 2026, DSSA harus aktif melakukan efisiensi cash cost dan optimalisasi kontrak penjualan batubara secara jangka panjang dengan pembeli utama. Sedangkan di segmen non-batubara, DSSA perlu meningkatkan agresivitas penetrasi pasar fixed broadband paska konsolidasi MyRepublic serta percepatan konstruksi atau komersialisasi aset panas bumi.
Wafi merekomendasikan hold saham DSSA mengingat fundamental bisnis yang solid dan terdiversifikasi dengan baik. “Namun, tingkat likuiditas saham yang rendah di pasar reguler memerlukan kehati-hatian ekstra bagi investor jangka pendek,” tandas dia.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, potensi perbaikan kinerja masih terbatas jika DSSA hanya mengandalkan segmen batubara. Oleh karena itu, DSSA perlu meneruskan ekspansi ke segmen-segmen lain seperti infrastruktur digital, panas bumi, dan manufaktur panel surya.
“Sejauh ini kontribusi segmen non-batubara DSSA belum besar karena masih dalam tahap awal pengembangan,” imbuh dia, Kamis (26/3/2026). Nafan pun menyarankan investor untuk wait and see saham DSSA.