MSCI sorot saham terkonsentrasi tinggi, BREN, DSSA hingga LUCY masuk daftar HSC

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Penyedia indeks global MSCI berencana menghapus sejumlah saham Indonesia yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), seiring evaluasi reformasi transparansi pasar modal yang tengah berlangsung.

Langkah ini berpotensi berdampak pada sejumlah saham yang sebelumnya telah diidentifikasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi.

Dalam pengumuman terbarunya, MSCI menegaskan kebijakan tersebut akan diterapkan dalam perlakuan sementara terhadap sekuritas Indonesia.

: MSCI Bakal Hapus Saham RI dengan Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi (HSC)

“MSCI akan menghapus sekuritas yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC),” tulis MSCI dalam pengumumannya, Selasa (21/4/2026).

Adapun berdasarkan data BEI, ada 9 saham yang masuk kategori HSC antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dengan konsentrasi kepemilikan mencapai 97,31%, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) sebesar 95,76%.

: : MSCI Bakal Putuskan Nasib Reformasi Pasar Modal RI pada Juni 2026

Selain itu, saham lain yang juga masuk daftar HSC yakni RLCO (95,35%), ROCK (99,85%), MGLV (95,94%), IFSH (99,77%), SOTS (98,35%), AGII (97,75%), dan LUCY (95,74%).

BEI menegaskan bahwa status HSC tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran di pasar modal, melainkan sebagai bentuk transparansi kepada investor terkait struktur kepemilikan saham.

: : MSCI Tahan Rebalancing Saham Indonesia, Evaluasi Free Float Masih Berjalan

“Pengumuman HSC ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal,” ujar Direktur BEI Kristian Manullang dan Direktur KSEI Eqy Essiqy dalam pengumuman resmi, Kamis (2/4/2026).

Sejalan dengan itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut data HSC dapat dimanfaatkan sebagai peringatan dini bagi investor.

“Jadi bukan karena pelanggaran tertentu, tetapi akan terbuka informasi untuk daftar saham-saham yang memang terkonfirmasi mengalami konsentrasi yang tinggi atau kepemilikan yang terbatas oleh hanya sedikit pihak,” tuturnya.

Daftar 9 Emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi (HSC): No Kode Saham Emiten Kepemilikan Terkonsentrasi 1 ROCK PT Rockfields Properti Indonesia Tbk. 99,85% 2 IFSH PT Ifishdeco Tbk. 99,77% 3 SOTS PT Satria Mega Kencana Tbk. 98,35% 4 AGII PT Samator Indo Gas Tbk. 97,75% 5 BREN PT Barito Renewables Energy Tbk. 97,31% 6 MGLV PT Panca Anugrah Wisesa Tbk. 95,94% 7 DSSA PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. 95,76% 8 LUCY PT Lima Dua Lima Tiga Tbk. 95,47% 9 RLCO PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. 95,35%

Di sisi lain, MSCI juga membuka peluang untuk menyesuaikan estimasi free float berdasarkan data terbaru keterbukaan pemegang saham.

“MSCI dapat menggunakan data keterbukaan pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float jika diperlukan.”

Kebijakan penghapusan saham HSC ini melengkapi langkah MSCI yang sebelumnya telah membekukan sejumlah penyesuaian terhadap saham Indonesia dalam tinjauan indeks Mei 2026, termasuk pembekuan peningkatan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta penghentian penambahan saham ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).

MSCI menegaskan belum akan menggunakan data baru dalam perhitungan indeks hingga proses evaluasi rampung.

“MSCI juga menegaskan tidak akan memasukkan data dari sumber dan keterbukaan baru tersebut ke dalam penilaian free float maupun perhitungan indeks hingga proses peninjauan selesai dan masukan dari pelaku pasar telah diterima serta dievaluasi.”

Menurut MSCI, pendekatan ini bertujuan menjaga stabilitas pasar sekaligus meminimalkan risiko bagi investor.

“Pendekatan ini bertujuan untuk membatasi perputaran indeks (index turnover) dan risiko investabilitas, sembari memberikan waktu untuk evaluasi lebih lanjut terhadap reformasi yang baru diumumkan.”

Ke depan, MSCI akan menyampaikan keputusan lanjutan dalam Market Accessibility Review yang dijadwalkan pada Juni 2026.

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.