Harga buyback emas Antam sudah naik 18,38% hingga hari ini Rabu (4/3)

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Harga buyback emas Antam telah mengalami kenaikan 18,38% untuk periode berjalan tahun ini.

Berdasarkan data Logam Mulia Rabu (4/3/2026), harga buyback emas Antam turun Rp107.000 ke Rp2.794.000. Posisi itu kembali menjauh dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp2.989.000 pada akhir Januari 2026.

Kendati demikian, pergerakan harga buyback emas Antam tercatat telah mengalami kenaikan 18,38% pada periode berjalan 2026 atau sejak awal tahun ini.

: Tabel Buyback Harga Emas Antam Hari Ini Rabu, 4 Maret 2026

Sebagaimana diketahui, harga buyback emas Antam merupakan acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) berdasarkan ukuran 1 gram.

Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.

: : Harga Emas Antam Hari Ini (4/3) Turun Tajam, Dibanderol Rp3,04 Juta per Gram

Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.

Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.

: : Pergerakan Harga Emas Hari Ini Rabu, 4 Maret 2026 di Pasar Spot

Adapun, pergerakan harga buyback emas Antam turut mengikuti pergerakan harga emas di pasar global.

Diberitakan Bisnis sebelumnya, harga emas menguat pada awal perdagangan Rabu (4/3/2026) setelah terpuruk lebih dari 4% pada sesi sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas menguat 0,95% atau 48,11 poin ke posisi US$5.136,94 per troy ounce pada pukul 07.47 WIB.

Sementara itu, harga emas berjangka kontrak April 2026 di Comex AS menguat 0,17% atau 8,6 poin ke US$5.133,7 per troy ounce.

Harga emas rebound usai anjlok hingga kembali ke level US$5.100 pada Selasa (3/3), didorong masuknya pemburu harga murah usai berakhirnya reli empat hari berturut-turut, saat pelaku pasar memangkas ekspektasi pelonggaran moneter akibat meningkatnya risiko inflasi dari lonjakan harga energi.

Tekanan jual di pasar saham global turut memaksa sebagian investor melikuidasi portofolio mereka untuk memenuhi kewajiban margin di sektor lain.

Kepala analis valas global Union Bancaire Privee Peter Kinsella mengatakan pasar emas sedang mengalami pergerakan standar pengurangan risiko portofolio.

“Pola ini konsisten dengan konflik-konflik sebelumnya, dan posisi long emas di pasar berjangka yang relatif moderat membatasi potensi koreksi lebih dalam,” jelasnya seperti dikutip Bloomberg, Rabu (4/3/2026).

Sepanjang tahun berjalan, harga emas telah melonjak hampir 20% dan sempat mencetak rekor di atas US$5.595 pada akhir Januari. Kenaikan ini ditopang ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, konflik dagang, serta kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS.

Kekhawatiran pasar meningkat seiring meluasnya perang AS-Israel dengan Iran. Israel kembali melancarkan gelombang serangan ke Teheran dan menghantam sebuah gedung di Qom yang dilaporkan menjadi lokasi pertemuan ulama. Kantor berita Iran menyebut bangunan tersebut tidak digunakan saat serangan terjadi.

“Saya yakin kita akan melihat pemulihan harga emas. Hasil perang yang tidak pasti justru memperbesar risiko geopolitik dalam jangka panjang,” ujar Kinsella.

Meski demikian, tekanan inflasi dari lonjakan harga energi berpotensi menahan reli emas, karena dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga lebih lama atau bahkan menaikkannya.

Suku bunga yang tinggi menjadi hambatan bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Untuk mencegah krisis energi, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memberikan pengawalan laut dan jaminan asuransi guna memastikan kelancaran pengiriman.