
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pertumbuhan kredit perbankan mulai membaik pada April 2026. Namun, keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% diperkirakan bakal menahan laju penyaluran kredit sepanjang tahun ini.
Berdasarkan data BI, kredit perbankan pada April 2026 tumbuh 9,98% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang tumbuh 9,49%. Kenaikan kredit terutama ditopang pembiayaan investasi yang tumbuh 19,48%.
Sementara itu, kredit modal kerja hanya tumbuh 6,04% dan kredit konsumsi naik 6,13%.
BI Rate 5,25% Jadi Senjata Stabilkan Rupiah, Ekonom Ingatkan Risiko Ini
Kepala Pusat Makroekonomi INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai, pertumbuhan kredit saat ini masih banyak ditopang bank-bank BUMN dan pembiayaan ke sektor prioritas pemerintah seperti hilirisasi, pangan, energi, dan proyek strategis nasional.
Namun, ia memperkirakan kenaikan BI Rate akan membuat pertumbuhan kredit melambat, terutama pada sektor properti, otomotif, dan kredit konsumsi.
“Dalam situasi global yang masih penuh tekanan dan rupiah melemah, bank diprediksi lebih selektif menyalurkan kredit ke sektor berisiko rendah,” ujar Rizal, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan berpotensi mendorong bunga kredit ikut naik karena biaya dana atau cost of fund perbankan meningkat.
Kondisi ini diperkirakan lebih menguntungkan bank besar yang memiliki dana murah tinggi, sementara bank kecil berisiko mengalami tekanan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM).
BI Rate Naik Tinggi, Bank Indonesia Yakin Nilai Tukar Rupiah Membaik
Global Markets Economist Maybank Myrdal Gunarto melihat, kenaikan BI Rate justru bisa mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).
Ia menilai masyarakat akan cenderung menyimpan dana di bank karena dianggap lebih aman, apalagi bunga simpanan ikut meningkat.
Myrdal memperkirakan pertumbuhan DPK tahun ini bisa mencapai 14,2%. Di sisi lain, pertumbuhan kredit diproyeksikan melambat ke level 8,94%, meskipun ekonomi nasional masih diperkirakan tumbuh di atas 5%.
“Pertumbuhan kredit kemungkinan tetap ditopang bank-bank besar,” katanya.
Di tengah potensi perlambatan kredit, BI tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit tahun ini di kisaran 8%-12%.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan BI akan menjaga likuiditas pasar uang dan perbankan agar penyaluran kredit tetap terjaga serta dampak kenaikan suku bunga terhadap bunga kredit dapat diminimalkan.
Untuk mendukung likuiditas, BI meningkatkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan tambahan insentif maksimal 0,5% dari DPK yang berlaku efektif mulai 1 Agustus 2026.
Transmisi BI Rate Tersendat, Bunga Kredit Baru Turun 40 Bps
Perry mengatakan, pelonggaran itu bertujuan meningkatkan fleksibilitas pengelolaan likuiditas dan mendorong intermediasi perbankan, baik melalui pembiayaan non-kredit maupun pendanaan non-DPK, tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Tambahan insentif tersebut diberikan kepada bank yang memenuhi Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) sesuai ketentuan BI, namun belum memanfaatkan insentif maksimum KLM sebesar 5,5%.
Hingga Mei 2026, total penyaluran KLM tercatat mencapai Rp 424,7 triliun.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Bank Tabungan Negara Ramon Armando menyebut perseroan telah menyiapkan berbagai skenario menghadapi kenaikan BI Rate, termasuk memperkuat manajemen risiko dan melakukan stress test rutin guna mengantisipasi kenaikan biaya dana.