Kinerja membaik, saham GOTO, BUKA, BELI masih layak dikoleksi?

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Kinerja emiten teknologi mulai menunjukkan perbaikan seiring strategi efisiensi dan penguatan lini bisnis. Namun demikian, saham-saham sektor ini dinilai masih lebih menarik untuk trading jangka pendek ketimbang investasi jangka panjang.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memandang perusahaan teknologi saat ini masih berada dalam fase optimalisasi.

“Perusahaan masih dalam fase optimalisasi, bukan ekspansi struktural,” ujar Wafi, Kamis (9/4/2026).

: Fintech, Gaming, Omnichannel Jadi Andalan Baru Emiten Teknologi GOTO, BUKA Cs

Menurutnya, kondisi tersebut membuat saham teknologi cenderung lebih cocok untuk trading dibandingkan investasi jangka panjang.

“Untuk jangka panjang, masih perlu pembuktian arus kas operasional positif dan pertumbuhan GTV yang konsisten,” tuturnya.

Wafi menilai perbaikan kinerja yang terjadi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental yang berkelanjutan, sehingga ruang kenaikan harga saham masih cenderung dipengaruhi sentimen jangka pendek.

Sejalan dengan itu, sejumlah emiten teknologi memang mulai menunjukkan perbaikan kinerja sepanjang 2025.

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) misalnya mencatatkan penyusutan rugi bersih secara signifikan. Perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp1,18 triliun, turun 77% secara tahunan dari Rp5,15 triliun pada tahun sebelumnya.

: : Target Tinggi Saham Gojek (GOTO) di Tengah Potensi Tekanan Konflik AS-Iran

Dari sisi top line, GOTO mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp18,32 triliun, naik 15,27% secara tahunan dari Rp15,89 triliun. Kinerja ini ditopang oleh pertumbuhan bisnis fintech dan on-demand services.

Hans Patuwo, Direktur Utama Grup GoTo, mengatakan GOTO mencatatkan kinerja yang kuat di kuartal IV/2025 dan selama tahun 2025, dengan GTV inti meningkat 49% secara tahunan dan EBITDA yang disesuaikan, mencapai Rp2 triliun, melampaui pedoman yang telah ditetapkan perseroan.

“Seiring berlanjutnya momentum ini, kami menetapkan pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk 2026 di kisaran Rp3,2–Rp3,4 triliun,” ujar Hans.

Dia melanjutkan pertumbuhan laba diperkirakan akan terus berlanjut di seluruh lini bisnis Financial Technology dan On-Demand Services sepanjang 2026.

Untuk unit usaha On-Demand Services, GOTO memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat pada paruh kedua tahun ini seiring peningkatan kemampuan GOTO dalam melayani segmen mass market dengan lebih baik.

GoTo Gojek Tokopedia Tbk – TradingView

Sementara itu, PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) mulai mencetak laba setelah melakukan pivot bisnis. Sepanjang 2025, BUKA membukukan laba bersih sebesar Rp1,02 triliun, berbalik dari rugi Rp1,37 triliun pada tahun sebelumnya.

Kontributor utama berasal dari segmen gaming yang kini menjadi tulang punggung pendapatan perseroan, terutama melalui platform seperti Itemku dan Lapakgaming.

Direktur Bukalapak Victor Putra Lesmana dalam keterangan resminya mengatakan BUKA kini memprioritaskan kesehatan bisnis jangka panjang.

“Tahun 2025 adalah momen penting bagi kami untuk memperkuat fondasi perusahaan dengan berfokus pada strategi yang dapat memberikan nilai jangka panjang kepada stakeholders kami” ujarnya.

Bukalapak.com Tbk. – TradingView

Di sisi lain, PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) atau Blibli masih mencatatkan rugi bersih, meski pendapatan tumbuh solid.

Blibli membukukan pendapatan sebesar Rp22,36 triliun sepanjang 2025, naik 33,77% secara tahunan. Namun, perseroan masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp1,87 triliun, meski telah menunjukkan tren perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kusumo Martanto, CEO & Co-Founder Blibli, mengatakan perseroan tetap fokus pada penguatan ekosistem omnichannel.

“Kami tetap fokus pada hal yang paling penting yakni membangun ekosistem omnichannel yang terintegrasi dan mampu bertahan untuk menciptakan nilai bagi pelanggan, mitra pemegang merek, serta pemegang saham,” kata Kusumo.

Menurutnya, integrasi ekosistem terus berkembang melalui implementasi keanggotaan terpadu dan program loyalitas yang menghubungkan seluruh platform.

“Kami meningkatkan pendapatan secara signifikan sekaligus meningkatkan kinerja profitabilitas kami. Ini kombinasi yang mencerminkan kualitas eksekusi kami, bukan sekadar pertumbuhan skala itu sendiri,” pungkasnya.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.