Rupiah melemah ke Rp 17.677 per dolar AS, IHSG berpotensi bergerak volatil

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi bergerak melemah 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp 17.677 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.667 per dolar AS. Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak volatil dipicu kombinasi sentimen domestik dan global.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian kebijakan domestik. “Rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS, dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan domestik,” katanya di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Investor disebut mulai mengantisipasi kebijakan baru terkait proses tata kelola ekspor yang akan memusatkan transaksi ekspor untuk beberapa komoditas di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selain itu, investor turut beralih ke aset lain menjelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Juni mendatang. Josua menyampaikan penguatan dolar AS terjadi menyusul rilis sejumlah indikator ekonomi AS yang positif.

Dari sisi pasar tenaga kerja, klaim pengangguran awal AS untuk pekan yang berakhir pada 16 Mei 2026 turun menjadi 209 ribu dari sebelumnya 212 ribu. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 210 ribu, yang mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih ketat.

Sementara itu, dari sektor riil, data Preliminary S&P Global PMI Manufacturing secara tak terduga naik menjadi 55,3 pada Mei 2026 dari sebelumnya 54,5. Angka tersebut melampaui ekspektasi 53,8 dan menandakan ketahanan sektor manufaktur AS di tengah ketidakpastian global.

Rilis data tersebut menunjukkan ekonomi AS tetap tangguh sehingga mengurangi ekspektasi pelonggaran moneter oleh The Fed.

“Namun, kemudian pada sesi tersebut, penguatan dolar AS tertahan karena optimisme mengenai potensi kesepakatan perdamaian muncul kembali setelah pemerintah Iran menyatakan proposal terbaru dari AS telah mulai menjembatani kesenjangan antara kedua pihak,” ujar Josua.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.600-Rp 17.725 per dolar AS.

IHSG Melemah pada Jumat Pagi

IHSG dibuka melemah 29,31 poin atau 0,48 persen ke posisi 6.065,63. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,42 poin atau 0,39 persen ke posisi 613,98.

“Untuk perdagangan hari ini, IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan volatil,” ujar analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor Hendra Wardana saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Hendra menjelaskan sentimen pasar masih akan dipengaruhi pergerakan kurs rupiah, arus dana asing, perkembangan konflik geopolitik Amerika Serikat (AS) dengan Iran, serta respons pasar terhadap kebijakan ekonomi domestik.

“Jika rupiah kembali melemah dan tekanan jual asing berlanjut, maka IHSG berpotensi kembali menguji area support 6.000,” ujar Hendra.

Di sisi lain, lanjut dia, setelah koreksi yang sangat dalam dalam beberapa hari terakhir, peluang technical rebound jangka pendek mulai terbuka, terutama apabila muncul bargain hunting pada saham-saham big caps yang sudah mengalami oversold. “Pasar juga akan mencermati stabilitas harga minyak dunia serta arah yield obligasi AS yang masih menjadi indikator penting bagi aliran dana global ke emerging market,” ujar Hendra.

Dalam jangka pendek, Hendra menjelaskan pelaku pasar sebaiknya mulai fokus pada saham-saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat yang relatif tahan terhadap tekanan eksternal.

Secara teknikal, Hendra menjelaskan posisi IHSG saat ini masih berada dalam tren bearish kuat dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang solid. Penurunan tajam hingga menembus area support penting 6.200 dan 6.100 menunjukkan dominasi tekanan jual masih sangat tinggi.

“Saat ini area 6.000 menjadi support psikologis yang sangat krusial. Jika level tersebut ditembus, maka IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 5.880-5.900 sebagai support berikutnya,” ujar Hendra.

Sementara itu, lanjutnya, resistance jangka pendek berada di kisaran 6.120 hingga 6.250. IHSG baru akan memiliki peluang technical rebound yang lebih meyakinkan apabila mampu kembali bertahan di atas area 6.200 dengan volume beli yang meningkat.

“Namun untuk sementara, pergerakan indeks masih cenderung berada dalam fase panic selling dan high volatility sehingga investor perlu lebih selektif dan disiplin dalam mengelola risiko,” ujar Hendra.

Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), Hendra menjelaskan pelemahan IHSG menunjukkan tekanan pasar yang masih sangat besar, bahkan ketika mayoritas bursa Asia justru bergerak positif.

Dari dalam negeri, ia menjelaskan pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam yang dinilai dapat memperpanjang birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor nasional.

“Kekhawatiran tersebut diperparah oleh pelemahan rupiah yang masih berada di kisaran Rp 17.600 per dolar AS, serta derasnya arus keluar dana asing yang sejak awal tahun sudah mencapai lebih dari Rp 51 triliun,” ujar Hendra.

Sementara dari mancanegara, pasar masih dibayangi sikap hawkish The Fed setelah risalah FOMC menunjukkan kekhawatiran inflasi AS yang berpotensi membuat suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

“Akibatnya, sektor berbasis komoditas dan energi mengalami tekanan paling besar, sementara investor cenderung menghindari aset berisiko di emerging market, termasuk Indonesia,” jelas Hendra.

Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), bursa saham Eropa bergerak variatif. Indeks Euro Stoxx 50 melemah 0,20 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,11 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,53 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,39 persen.

Sementara itu, bursa AS Wall Street kompak menguat pada Kamis (21/5/2026). Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,55 persen, indeks S&P 500 menguat 0,17 persen, dan indeks Nasdaq Composite menguat 0,20 persen.

Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain indeks Nikkei menguat 1.445,86 poin atau 2,34 persen ke 63.130,00, indeks Shanghai menguat 4,90 poin atau 0,12 persen ke 4.082,18, indeks Hang Seng menguat 174,48 poin atau 0,69 persen ke 25.561,00, dan indeks Strait Times menguat 8,57 poin atau 0,17 persen ke 5.054,28.