Rupiah melemah ke Rp 16.980, ekspektasi The Fed tekan pergerakan

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot tak mampu keluar dari tekanan hingga akhir perdagangan hari ini. 

Mengutip Bloomberg, Jumat (27/3/2026), rupiah ditutup di level Rp 16.980 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,45% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.904 per dolar AS. 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,32% secara harian ke Rp 16.957 per dolar AS, dari hari sebelumnya Rp 16.903 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, pergerakan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. 

Dari dalam negeri, momentum Hari Raya Lebaran 2026 menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi pada kuartal I-2026, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga dan arus mudik.

Meski demikian, dampak positif tersebut dinilai tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Ibrahim memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 hanya mencapai sekitar 5,4%, sedikit di bawah target pemerintah di kisaran 5,5%.

Rupiah Bergerak Loyo di Akhir Pekan, Analis Prediksi Tekanan Akan Berlanjut

“Hal ini membuat dorongan pelaksanaan Hari Raya terhadap pertumbuhan ekonomi jadi lebih terbatas,” ujar Ibrahim, Jumat (27/3/2026).

Dari eksternal, pasar saat ini dihadapkan pada ekspektasi inflasi tinggi di Amerika Serikat. 

Pada awal tahun, pelaku pasar masih memperkirakan adanya setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS The Federal Reserve.

Namun, seiring perkembangan konflik global dan hasil pertemuan bank sentral AS pada pertengahan Maret, ekspektasi tersebut berubah.

Pergerakan Rupiah Masih Berpotensi Tertekan di Tengah Meningkatnya Sentimen Risk Off

Pada Maret 2026 ini, The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5% – 3,75%.

Pelaku pasar pun mulai mengurangi taruhan dovish dan mengarah pada potensi kebijakan moneter yang lebih ketat.

“Sebaliknya, mereka memperkirakan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS, menurut Prime Market Terminal,” jelasnya.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut pada pekan depan, terutama jika ekspektasi kebijakan moneter AS tetap hawkish.

Untuk proyeksi jangka pendek, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 16.880 hingga Rp 17.100 per dolar AS dalam sepekan ke depan. 

Rupiah Ditutup Ambles ke Rp 16.980 Per Dolar AS Hari ini (27/3), Asia Melemah