
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Langkah pemerintah melakukan pengalihan sebagian saham dari PT Danantara Asset Management (Persero) kepada BP BUMN dinilai tidak akan berdampak langsung terhadap fundamental perusahaan.
Langkah tersebut disebut sebagai upaya strategis dalam mematuhi mandat Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025. Restrukturisasi ini bertujuan untuk memenuhi kewajiban kepemilikan minimal 1% saham negara pada BUMN.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menjelaskan langkah ini pada dasarnya bersifat administratif dan berkaitan dengan tata kelola.
Oleh karena itu, dampak langsung terhadap fundamental keuangan emiten diperkirakan masih relatif terbatas. Kendati demikian, kehadiran BP BUMN diyakini akan memperkuat tata kelola perusahaan pelat merah.
“Keberadaan BP BUMN sebagai pemegang saham resmi berpotensi memperkuat fungsi pengawasan, koordinasi, dan arah strategis antar-BUMN, khususnya dalam hal sinergi proyek, efisiensi belanja modal, serta perbaikan tata kelola,” ungkap David saat dihubungi Kamis (8/1/2026).
: Danantara Alihkan Sebagian Saham Himbara BRI, BNI, Bank Mandiri, BTN ke BP BUMN
Terkait dengan prospek kinerja 2026, David memandang bahwa terdapat sejumlah peluang bagi emiten pelat merah di sektor berbasis komoditas, seperti PT Timah Tbk. (TINS) dan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA).
Kinerja kedua emiten tersebut diproyeksikan bakal lebih solid seiring dengan kebijakan pemerintah yang membatasi produksi komoditas. Hal ini dinilai mampu menopang harga jual dan margin usaha perseroan.
Sebaliknya, tantangan berat membayangi BUMN sektor konstruksi seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), dan PT PP (Persero) Tbk. (PTPP).
Menurut David, faktor penghambat BUMN Karya meliputi tekanan rasio utang yang tinggi, keterbatasan arus kas operasional, sensitivitas yang tinggi terhadap fluktuasi suku bunga, dan risiko keterlambatan dalam realisasi proyek besar.
“Ke depan, konsolidasi dan sinergi BUMN berpeluang menjadi katalis positif apabila diiringi dengan restrukturisasi utang yang efektif, fokus pada proyek yang lebih selektif dan berprofitabilitas tinggi,” ucap David.
Selain itu, peningkatan efisiensi operasional juga diperkirakan memperbaiki kinerja keuangan secara bertahap dan meningkatkan kepercayaan investor.
Seperti diketahui, Danantara mengalihkan sejumlah saham dari 12 emiten BUMN kepada BP BUMN. Hal ini dilakukan agar kepemilikan BP BUMN genap 1%, sesuai UU 16/2025. Emiten yang dialihkan sahamnya adalah WSKT, WIKA, ADHI, PTPP, JSMR, GIAA, KRAS, BMRI, BBRI, BBNI, TLKM, dan SMGR.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.