
Pemangkasan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif dari lembaga internasional Moody’s Investors Service pada Kamis (5/2), cukup memukul ekonomi Indonesia.
Meskipun Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade, pada hari ini, Jumat (6/2), pasar modal terkoreksi cukup dalam. Rupiah melemah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan sesi I anjlok 2,83 persen persen ke level 7.874,41. Sementara nilai tukar rupiah melemah 44 poin atau 0,26 persen menjadi Rp 16.886 per dolar AS. Padahal sebelumnya rupiah perlahan sempat menguat.
Mengutip Bloomberg, imbal hasil obligasi 10 tahun melonjak 11 basis poin ke level tertinggi empat bulan. Biaya asuransi utang negara Indonesia naik sekitar 4,3 basis poin menjadi sekitar 80 basis poin, yang disebut Bloomberg menjadi kenaikan terbesar di antara negara-negara Asia.
“Saya memperkirakan para pembuat kebijakan Indonesia akan peka terhadap persepsi asing mengenai situasi domestik dan bereaksi sesuai dengan itu,” kata Rajeev De Mello, manajer portofolio makro global di Gama Asset Management SA, seperti dikutip dari Bloomberg.
“Namun, tekanan pasar dapat berlanjut hingga investor melihat langkah-langkah konkret. Investor global akan mencari pernyataan dan langkah-langkah kebijakan yang mendukung sebelum kembali ke pasar obligasi dan ekuitas Indonesia,” kata dia menambahkan.

Respons Pemerintah
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai outlook negatif tersebut muncul karena perbedaan pemahaman lembaga pemeringkat dan pasar keuangan global terhadap strategi pembiayaan berbagai program unggulan pemerintah. Di sisi lain, pemerintah tetap konsisten bahwa defisit APBN dipatok di 3 persen dan utang di bawah 40 persen.
“APBN kita tahun ini memang berbeda karena banyak digunakan untuk mendanai program prioritas Presiden, seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan berbagai layanan publik,” ujar Airlangga dalam paparannya di Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) Tahun 2026 Otoritas Jasa Keuangan di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (5/2) malam.
Namun, ia menegaskan strategi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada belanja negara. Pemerintah kini mengandalkan Danantara sebagai motor penggerak investasi.
“Untuk mendorong pertumbuhan melalui investasi, kita sudah punya Danantara. Ini yang membedakan dengan sebelumnya. Kalau dulu investasi dilakukan lewat anggaran APBN, sekarang tidak lagi,” jelasnya.
Airlangga menilai pergeseran strategi ini belum sepenuhnya dipahami oleh lembaga pemeringkat dan pelaku pasar keuangan global. Oleh karena itu, pemerintah perlu memberikan penjelasan lebih mendalam mengenai peran Danantara dalam perekonomian nasional.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia menilai penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia. Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kata dia, kinerja ekonomi domestik tetap solid.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat 5,39 persen, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,11 persen. Inflasi tetap terjaga pada 2,92 persen, berada dalam kisaran sasaran, dan stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat Bank Indonesia.
“Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran yang tetap terjaga ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry dikutip dari keterangan resmi BI, Jumat (6/2).
Adapun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menduga penilaian Moody’s dilakukan sebelum Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data pertumbuhan ekonomi terbaru. Purbaya optimistis sentimen negatif tersebut hanya bersifat sementara.
“Pelan-pelan nanti keraguannya akan hilang. Lembaga pemeringkat itu kan menilai apakah kita mampu dan mau membayar utang. Dua-duanya kita penuhi, jadi seharusnya tidak ada masalah. Ini saya pikir hanya jangka pendek,” jelasnya.
Menurut Purbaya, jika data pertumbuhan ekonomi sudah dirilis lebih dulu, hasil penilaian Moody’s bisa saja berbeda. Ia menekankan, dari sisi fiskal Indonesia bergerak ke arah yang benar, dengan pertumbuhan yang lebih baik dan defisit yang tetap terkendali.
“Kita berhasil membalikkan arah ekonomi dengan biaya yang relatif minimum. Defisit juga masih terjaga (di bawah 3 persen),” kata dia.