
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Aksi jualan pada pasar saham belum tuntas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah bergerak di kisaran 5.000. Pada Kamis (4/6/2026), IHSG ditutup melemah 1,70% ke level 5.839,78.
Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 1,27 triliun di seluruh pasar pada Kamis (4/6/2026). Sepanjang tahun berjalan ini, net sell investor asing telah mencapai Rp 57,63 triliun atau US$ 3,19 miliar.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan koreksi pada pasar keuangan disebabkan oleh krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan dan tata kelola kepada negara.
“Untuk itu, pemerintah perlu membereskan banyak hal sesuai dengan best practice dan demi kepentingan bangsa yang lebih besar,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (4/6).
GOTO Dilanda Sentimen Negatif Usai Cetak Laba Pertama, Begini Saran Analis
Direktur Infovesta Utama Parto Kawito menambahkan akar permasalahan dari tekanan di pasar keuangan baik saham dan nilai tukar rupiah adalah kepercayaan kepada pemerintah, SRO dan beberapa institusi pemerintah.
“Justru Intervensi pemerintah yang menyebabkan berkurang atau hilangnya kepercayaan investor karena tidak berorientasi pada pembinaan dan pengembangan dunia usaha dalam jangka panjang,” ucapnya.
Menurutnya, alih-alih fokus pada orientasi jangka panjang intervensi pemerintah belakangan ini lebih fokus pada cara cepat memperoleh dana untuk menutup defisit dan kebutuhan anggaran lainnya.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia PAEI David Sutyanto menambahkan tekanan pada pasar keuangan ini sudah seharusnya direspons dengan langkah yang lebih tegas dan terkoordinasi.
“Namun intervensi pemerintah sebaiknya bukan sekadar menahan indeks secara artifisial, tetapi mengembalikan kepercayaan dan yang paling dibutuhkan kepastian arah kebijakan hingga komunikasi solid antarotorias,” tuturnya.
IHSG Berpotensi Stabil Usai Rebalancing MSCI, Ini Kata Analis
Selain itu, kata David, pemerintah juga bisa mendorong peran investor institusi domestik seperti dana pensiun, asuransi, BUMN dan sovereign fund untuk masuk secara terukur pada saham-saham fundamental kuat dan sudah undervalued.
Strategi Investor
David menyarankan bagi investor yang sedang terjebak sebaiknya jangan panik dan jangan hanya mengambil keputusan karena tekanan harian. Menurutnya, cut loss bisa dipertimbangkan jika saham yang dimiliki secara fundamental mengalami penurunan.
“Kuncinya adalah selektif. Pasar memang sedang tertekan, tetapi tekanan seperti ini juga sering membuka peluang pada saham berkualitas. Investor perlu cek fundamental, valuasi, likuiditas, risiko kurs,” tuturnya.
Parto menyarankan bagi investor yang membutuhkan likuiditas dalam bentuk kas, cut loss merupakan pilihan. Namun kalau tidak memiliki keperluan mendesak, hold bisa dilakukan untuk saham-saham yang prospektif.
Senada, Budi bilang bagi investor yang tidak memiliki kebutuhan likuiditas dalam satu sampai dua tahun ke depan, membeli bisa menjadi pilihan. Kalau tidak, sebaiknya, pasang posisi wait and see.
IHSG Anjlok ke Level Terendah 5 Tahun, Revisi Outlook dari S&P Jadi Pemicu
Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menimpali isitilah yang tepat untuk menggambarkan situasi saat ini adalah penurunan kepercayaan yang cukup signifikan mengarah ke distrust terhadap pemerintah.
Dia menjelaskan secara teori, ada peluang bagi IHSG untuk turun ke level 4.000. Pasalnya, pasar saham tidak memiliki batas bawah psikologis untuk mencapai 4.000 biasanya diperlukan kombinasi sentimen.
“Yakni, pelemahan rupiah yang lebih parah, perlambatan ekonomi tajam, arus keluar asing besar, krisis fiskal atau guncangan global besar. Dengan kondisi saat ini, skenario 4.000 lebih merupakan skenario ekstrem daripada skenario dasar,” ucap Edwin.
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan IHSG hampir tidak pernah mengalami lebih dari 6 candle merah bulanan berturut-turut sejak 2020. Periode koreksi besar pada 2015, 2018, dan 2020 hanya mencatatkan 3–4 bulan penurunan beruntun sebelum akhirnya pulih.
Saat ini, IHSG telah memasuki fase 6 bulan penurunan beruntun, menyamai salah satu periode pelemahan terpanjang dalam sejarah. Secara historis, kondisi tersebut sering terjadi ketika pasar memasuki fase akhir koreksi atau proses pembentukan bottom.
“Namun, belum ada jaminan bahwa bottom sudah terbentuk karena arah pasar masih dipengaruhi sentimen global, arus dana asing, dan kondisi ekonomi domestik,” tulis Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas, Kamis (4/6).
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut secara statistik historis berada di area yang relatif ekstrim dan berpotensi memasuki fase bottoming. Namun, konfirmasi pembalikan tren tetap membutuhkan perbaikan sentimen dan munculnya tekanan beli yang lebih kuat.