
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Prospek saham emiten rokok sepanjang 2026 diperkirakan tetap terbatas di tengah tekanan daya beli dan fenomena downtrading, meskipun pemerintah menahan kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) tahun ini.
Kinerja emiten rokok pada kuartal I/2026 menunjukkan kontras, penjualan emiten besar seperti PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) masih terkontraksi, namun laba bersih justru tumbuh didorong efisiensi ketimbang perbaikan permintaan.
“Kinerja kuartal I yang menunjukkan laba tumbuh di tengah penjualan yang terkontraksi lebih mencerminkan keberhasilan efisiensi, bukan perbaikan fundamental permintaan,” kata Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita saat dihubungi, Senin (4/5/2026).
: Laba Bersih Gudang Garam (GGRM) Melejit 58% pada 2025, Raih Rp1,55 Triliun
Di tengah tekanan tersebut, pergeseran konsumsi ke segmen harga lebih murah mulai mengubah peta persaingan. Emiten seperti PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) yang bermain di segmen ekonomis justru mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba signifikan, berbanding terbalik dengan tekanan yang dialami pemain premium.
“Fenomena downtrading akan tetap dominan, di mana konsumen tidak berhenti merokok tetapi berpindah ke segmen harga yang lebih rendah. Ini membuat emiten besar seperti HM Sampoerna dan Gudang Garam menghadapi tekanan volume dan pricing power, sementara pemain yang lebih fleksibel di segmen bawah seperti Wismilak Inti Makmur cenderung lebih adaptif,” jelas Ronny.
: : Gudang Garam (GGRM) and Sampoerna (HMSP) Capitalize on Profit as Excise Rates Stagnate
Analis menilai sektor rokok kini memasuki fase defensif, dengan ruang pertumbuhan terbatas dan kinerja yang lebih ditopang efisiensi serta stabilitas arus kas.
Di pasar saham, pergerakan harga mencerminkan kondisi tersebut. GGRM dan WIIM menguat dua digit sejak awal tahun, sementara HMSP bergerak terbatas dan ITIC tertekan per penutupan pasar Senin (4/5).
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai valuasi saham GGRM dan HMSP saat ini sudah kembali ke fair value.
“Market memang memberi re-rating karena laba sempat rebound, tapi kenaikan laba lebih banyak dari efisiensi, bukan volume growth. Jadi secara fundamental, upside masih terbatas kalau tidak ada perbaikan demand,” ujar Wafi.
KISI Sekuritas memberi rating netral untuk sektor tembakau. Pertimbangannya, industri ini masih defensif dari sisi cash flow dan dividend yield, tapi memiliki growth story yang lemah. Untuk rekomendasi, Wafi menilai HMSP masih menarik untuk strategi yield play karena menawarkan stabilitas. Sementara untuk GGRM, saham ini lebih cocok untuk strategi recovery play walau punya risiko yang lebih tinggi.
Ihwal growth story yang lemah, Wafi melihat outlook industri rokok ke depan masih menantang, utamanya disebabkan oleh fenomena downtrading, peredaran rokok ilegal, serta kebijakan layer CHT baru yang bisa menekan volume penjualan emiten eksisting, ditambah faktor daya beli masyarakat yang juga belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, peluang industri ini adalah pada efisiensi berkelanjutan, stabilisasi tarif cukai, dan keberhasilan pemerintah jika berhasil menekan rokok ilegal. “Tapi overall, sektor ini lebih ke stabil, tapi tidak tumbuh tinggi,” tandasnya.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa kebijakan layer CHT baru dapat menjadi tantangan emiten rokok eksisting karena akan meningkatkan persaingan pasar.
Selain itu, wacana kebijakan dari Kementerian Kesehatan yang menerapkan standarisasi kemasan rokok atau plain packaging (kemasan polos) berisiko mendorong peredaran rokok ilegal semakin marak.
“Itu sebenarnya juga bisa menyuburkan rokok ilegal karena konsumen tidak bisa membedakan produk. Dikhawatirkan begitu. Ini juga bisa jadi tantangan bagi emiten rokok,” kata Nafan.
Di sisi lain, peluang emiten rokok datang dari keputusan pemerintah yang menahan tarif cukai tahun ini dan keseriusan pemerintah dalam pemberantasan rokok ilegal. Peluang ini, juga ditambah dengan realisasi kinerja emiten rokok kuartal I/2026, dinilai bisa menjadi harapan bagi pelaku investor.
Mirae Asset Sekuritas memberikan rekomendasi akumulasi beli saham HMSP di target harga Rp1.005, hold saham GGRM dengan target harga Rp17.200, dan rekomendasi add untuk saham WIIM dengan target harga Rp2.360.
“Sebenarnya [harga saham emiten rokok] saat ini belum overvalued. Apalagi, sentimen positif utamanya adalah keputusan pemerintah yang tidak menaikkan tarif CHT tahun ini. Ini tentunya ada kepastian beban cukai terhadap emiten,” pungkasnya.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.