
Tiga perusahaan tekstil terintegrasi menanamkan modal hingga US$ 60 juta atau setra Rp 1 triliun (kurs Rp17.210) untuk membangun fasilitas manufaktur di kawasan Subang Smartpolitan untuk memperkuat basis produksi ekspor.
Tiga perusahaan yang memulai pembangunan fasilitas produksi tersebut yakni PT Serendipity Fashion Indonesia, PT Binkova Textiles Indonesia, dan PT Dafei Textile Indonesia. Ketiganya disebut menjadi bagian penting dalam rantai pasok global merek fesyen asal Swedia, H&M (Hennes & Mauritz), salah satu pemain besar industri fast fashion dunia.
Chief Commercial Officer Suryacipta Swadaya, Abednego Purnomo, mengatakan Subang Smartpolitan kini menjadi rumah strategis bagi tiga perusahaan tekstil tersebut.
Menurut dia, hadirnya ketiga investor itu menjadi pencapaian penting karena seluruh tahapan produksi, mulai dari bahan baku hingga produk jadi, ditempatkan dalam satu kawasan industri terintegrasi.
“Cluster ini mengoptimalkan logistik dan mengurangi waktu tunggu sambil memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat kompetitif untuk pasar global,” kata Abednego dalam keterangan resminya, dikutip Senin (27/4).
PT Dafei Textile Indonesia bergerak di lini produksi kain melalui proses weaving (tenun) dan knitting (rajut). Perusahaan ini memperkuat pasokan bahan kain untuk industri hilir.
PT Binkova Textiles Indonesia bergerak pada segmen dyeing and finishing atau pencelupan dan penyempurnaan kain. Dalam rantai industri tekstil, sektor ini masuk kategori tier 2 yang berfungsi meningkatkan kualitas akhir kain sebelum dipasarkan atau diproses lebih lanjut menjadi produk garmen. Proses ini biasanya meliputi pewarnaan, pelapisan, penghalusan bahan, hingga pemberian karakter khusus pada kain.
Sementara itu, PT Serendipity Fashion Indonesia difokuskan pada sektor manufaktur pakaian jadi atau garmen. Perusahaan ini masuk kategori tier 1, yakni tahap akhir produksi yang menghasilkan pakaian siap jual untuk pasar domestik maupun ekspor.
Berdasarkan laman Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum, ketiga perusahaan itu telah terdaftar sebagai perseroan terbatas alias PT di Indonesia. Namun, belum ada informasi spesifik terkait kapasitas produksi, struktur pemegang saham, ataupun profil manajemen yang masih terbatas.