
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Gejolak yang melanda pasar saham turut mempengaruhi kinerja saham-saham lapis kedua. Namun demikian, kelompok saham ini tetap memiliki daya tarik bagi para investor pada 2026.
Mengutip situs Google Finance, kinerja IDX Small-Mid Cap (SMC) Composite tercatat mengalami koreksi 5,54% sejak awal tahun atau year to date (ytd), menurun ke level 485,76 hingga Rabu (18/2/2026). Sementara itu, IDX Small-Mid Cap (SMC) Liquid masih mampu mencatat pertumbuhan tipis 0,55% ytd ke level 367,18.
Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 5,01% ytd ke level 8.310,23 hingga Rabu (18/2), menandai tekanan yang cukup signifikan di pasar saham Indonesia.
Faktor Tekanan Saham Lapis Kedua
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menjelaskan, tekanan pada saham lapis kedua berkaitan erat dengan beberapa faktor sistemik. Pertama, koreksi tajam pada saham-saham konglomerasi besar berdampak psikologis terhadap investor ritel yang biasanya aktif di saham lapis kedua.
IHSG Berpeluang Menguat pada Perdagangan Kamis (18/2), Cek Saham Rekomendasi Analis
“Ketika saham big caps goyang, likuiditas di pasar cenderung mengetat karena investor melakukan aksi cut loss atau menahan diri untuk masuk ke saham yang lebih berisiko seperti small-mid cap,” ungkap dia, Rabu (18/2/2026).
Faktor kedua adalah efek outflow dana asing seiring penundaan rebalancing Februari 2026 oleh indeks global seperti MSCI dan FTSE.
Meski dana asing lebih banyak di saham-saham blue chip, outflow tetap menciptakan tekanan jual umum, sehingga investor domestik memilih bermain aman di saham likuid dibanding saham lapis kedua yang volatilitasnya lebih tinggi.
Senada, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, mengatakan tren koreksi saham konglomerasi turut memengaruhi indeks saham lapis kedua.
“Makanya, pasar cenderung wait and see untuk melihat daya tahan mereka,” kata Wafi, Rabu (18/2/2026), terkait dampak sentimen suku bunga acuan yang masih tinggi bagi biaya modal emiten kelas menengah.
Peluang dan Prospek Saham Lapis Kedua
Meski mengalami tekanan, daya tarik saham lapis kedua tidak redup. Wafi menekankan bahwa indeks saham lapis kedua akan tetap mengalami volatilitas tinggi dalam jangka pendek.
Nasib saham ini ke depan sangat bergantung pada rilis kinerja keuangan emiten 2025 dan kuartal I-2026. Jika fundamental terbukti solid, arus modal diprediksi akan kembali.
David menambahkan, bila suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) benar-benar turun pada semester II-2026, saham lapis kedua diperkirakan akan menjadi yang pertama melaju karena beban bunga mereka berkurang signifikan.
Sebaliknya, rendahnya likuiditas tetap menjadi sentimen negatif karena saham lapis kedua sulit diperdagangkan dalam jumlah besar tanpa menggerakkan harga secara ekstrem.
IHSG Diproyeksi Konsolidasi Sehat Awal Tahun, Ini Kata Analis
Dari sisi sektor, David menilai saham lapis kedua dari ritel, konsumer, dan sektor pendukung hilirisasi berpotensi menjadi unggulan di pasar pada 2026. Investor disarankan tetap selektif dengan fokus pada perusahaan yang memiliki rasio utang terhadap modal (DER) rendah dan arus kas operasional positif.
Wafi menambahkan, masih banyak saham lapis kedua potensial, terutama dari sektor konsumer, ritel, properti, dan infrastruktur. Strategi cherry-picking disarankan, yaitu memilih emiten dengan valuasi di bawah rata-rata historis namun memiliki proyek atau kontrak baru yang jelas.
Rekomendasi Saham Lapis Kedua 2026
Beberapa saham lapis kedua yang direkomendasikan antara lain:
-
AMRT – Target harga Rp 2.200 per saham
-
SAME – Target harga Rp 450 per saham
-
ADHI – Target harga Rp 550 per saham
Sementara itu, David menyoroti saham berikut:
-
ERAA – Diuntungkan momentum Ramadan dan Lebaran, ekspansi gerai agresif
-
ULTJ – Saham defensif dengan posisi kas kuat, aman di tengah volatilitas tinggi
-
NCKL – Manfaatkan kenaikan harga nikel global karena pembatasan kuota produksi dalam negeri
Investor tetap diingatkan untuk tetap selektif dan fokus pada fundamental perusahaan, memanfaatkan peluang di sektor yang memiliki prospek pertumbuhan, serta memperhatikan risiko volatilitas pasar.