
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Lagi-lagi pasar kripto mencatatkan salah satu penurunan harga paling tajam dalam sejarah modern.
Pada Jumat (6/2/2026) pukul 15.40 WIB, Bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 9% dalam satu hari dan 30% secara bulanan ke level US$ 64.505.
Dengan pergerakan tersebut, Bitcoin kini telah kehilangan hampir 50% nilainya dari rekor tertinggi (ATH) di US$ 126.000 yang tercapai pada Oktober 2025 lalu.
Tak hanya itu saja, Ethereum (ETH) juga sama-sama jatuh hingga 11% sehari dan 43,3% sebulan terakhir menjadi US$ 1.878,9.
Tekanan jual terjadi di tengah kondisi likuiditas pasar yang sangat tipis, di mana minimnya pesanan beli membuat setiap tekanan jual memicu efek domino likuidasi besar-besaran.
COIN Dukung CFX Turunkan Biaya Transaksi Bursa Kripto
Sejumlah level support kunci seperti US$ 75.000 dan US$ 70.000 ditembus secara beruntun, mempercepat kejatuhan harga.
Di pasar kripto, altcoin mengalami tekanan yang lebih dalam. XRP memimpin penurunan dengan kejatuhan sekitar 10% dalam sehari dan 43,6% dalam sebilan terakhir ke level US$ 1,287.
Menanggapi kondisi tersebut, Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai pergerakan pasar saat ini telah memasuki fase kapitulasi.
“Situasi saat ini sudah bukan lagi sekadar koreksi sehat, melainkan fase kapitulasi total. Turunnya Bitcoin hingga di bawah puncak harga tahun 2021 menunjukkan bahwa seluruh keuntungan dari reli Trump Trade telah terhapus sepenuhnya,” ujar Fahmi dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).
Fahmi menambahkan, sinyal yang paling mengkhawatirkan adalah ikut dijualnya aset-aset safe haven seperti emas dan perak.
Bitcoin vs Emas: Analis Ragukan Rotasi Dana ke Kripto dalam Waktu Dekat
“Ketika emas dan perak ikut dilepas secara agresif, ini mengindikasikan investor berada dalam mode panik likuiditas. Level US$ 60.000 untuk BTC menjadi area harga yang sangat krusial saat ini untuk memungkinkan terjadinya fase konsolidasi dan stabilisasi pasar,” tambahnya.
Ke depan, pelaku pasar diimbau untuk mencermati perkembangan volatilitas global serta manajemen risiko secara ketat, mengingat tekanan likuiditas dan sentimen masih berpotensi mendominasi pergerakan aset berisiko dalam waktu dekat.