Saham blue chip ini turun 24% YTD, saatnya koleksi? Cek prospek & target harga 2026

Ussindonesia.co.id Jakarta. Harga saham PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) masih berada dalam tren pelemahan hingga akhir Maret 2026 sejak penutupan tahun 2025. Meski demikian, analis menilai kondisi ini justru menjadi momentum menarik untuk mulai mengoleksi saham berkarakteristik blue chip.

Pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026), saham EXCL berada di level 2.850, naik tipis 20 poin atau 0,71% dibandingkan hari sebelumnya. Namun secara year to date (YTD), saham ini telah terkoreksi sekitar 900 poin atau turun 24%.

Di balik tekanan tersebut, prospek EXCL dinilai tetap cerah. Analis memperkirakan kinerja perusahaan akan membaik pada tahun 2026, seiring strategi ekspansi dan efisiensi yang mulai menunjukkan hasil.

Salah satu katalis utama adalah pengembangan jaringan 5G. EXCL telah memperluas layanan 5G secara komersial di 33 kota dengan kecepatan hingga 500 Mbps. Saat ini, jaringan masih menggunakan teknologi Non-Standalone (NSA) pada spektrum 2300 MHz untuk meminimalkan risiko implementasi.

Manajemen memperkirakan penetrasi perangkat 5G telah mencapai sekitar 20% di kota peluncuran. Angka ini diproyeksikan terus meningkat seiring siklus pergantian perangkat dan semakin terjangkaunya harga handset 5G di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta.

Asing Net Sell Jumbo Rp 686 Miliar, Cermati Saham yang Banyak Dijual di Awal Pekan

Analis OCBC Sekuritas, Gani, menilai EXCL memiliki posisi yang kuat untuk mempercepat adopsi dan monetisasi layanan 5G. Hal ini didukung ketersediaan spektrum serta ekosistem perangkat yang semakin matang.

Senada, analis Maybank Sekuritas Etta Rusdiana Putra melihat paket Ultra 5G EXCL lebih kompetitif dibandingkan layanan 4G maupun fixed broadband. Keunggulan ini diperkuat oleh kapasitas spektrum, bandwidth backbone Axiata-Sinar Mas, serta efisiensi integrasi jaringan.

Transformasi jaringan ini diyakini akan mendorong pertumbuhan trafik data dan pendapatan perusahaan ke depan.

Dari sisi kinerja, EXCL menargetkan pertumbuhan pendapatan yang sejalan dengan industri pada 2026. Sementara itu, EBITDA diproyeksikan tumbuh dua kali lebih cepat dari pendapatan, mencerminkan leverage operasional pasca integrasi.

Tonton: Intervensi Danantara Berhasil? Garuda Tunjukkan Sinyal Pemulihan

Belanja modal (capex) disiapkan sekitar Rp 15 triliun untuk memperkuat jaringan dan meningkatkan kualitas layanan. Selain itu, potensi sinergi merger diperkirakan mencapai US$ 250 juta hingga US$ 300 juta, terutama dari efisiensi jaringan dan biaya sewa menara.

Meski demikian, proses integrasi masih menjadi tantangan jangka pendek. Biaya integrasi diperkirakan mencapai Rp 1 triliun sepanjang 2026, yang berpotensi menekan kinerja sementara.

Namun progres integrasi dinilai cukup cepat. Hingga kuartal IV 2025, sekitar 70% situs telah berhasil dikonsolidasikan atau setara dengan 34.500 situs. Integrasi penuh ditargetkan selesai pada semester I 2026.

Dampak positif mulai terlihat dari peningkatan kualitas layanan, termasuk kecepatan unduhan yang lebih tinggi bagi pengguna.

Dari sisi monetisasi, Average Revenue Per User (ARPU) menunjukkan tren positif, naik dari Rp 38.900 pada kuartal III 2025 menjadi Rp 44.800 pada kuartal IV 2025. Peningkatan ini didorong oleh pergeseran pelanggan ke segmen dengan daya beli lebih tinggi.

Trimitra Trans (BLOG) Raup Pendapatan Rp1,33 Triliun pada 2025, Laba Bersih Naik 29%

Selain itu, pendapatan data juga meningkat dari Rp 2,64/MB menjadi Rp 2,71/MB, menandakan efisiensi monetisasi trafik yang semakin baik.

Untuk tahun 2026, pendapatan EXCL diproyeksikan mencapai Rp 46,46 triliun, meskipun perusahaan masih berpotensi mencatatkan rugi sekitar Rp 2,14 triliun. Sebagai perbandingan, pada 2025 EXCL membukukan pendapatan Rp 42,44 triliun dengan rugi Rp 4,42 triliun.

Dari sisi rekomendasi, analis memberikan pandangan positif. OCBC Sekuritas dan Maybank Sekuritas merekomendasikan Buy dengan target harga masing-masing Rp 3.300 dan Rp 4.100 per saham. Sementara Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi Hold dengan target harga Rp 3.100.

Dengan berbagai katalis positif tersebut, pelemahan harga saham EXCL saat ini dinilai sebagai peluang akumulasi bagi investor jangka menengah hingga panjang.