Harga minyak tembus US$100 per barel, tiga saham energi ini berpotensi diuntungkan

Ussindonesia.co.id Jakarta. Harga minyak dunia kembali melonjak dan menembus level US$100 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2022. Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bergerak di sektor minyak dan gas (migas) diprediksi menjadi serbuan investor.

Kenaikan harga energi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serbuan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Lonjakan harga minyak tersebut dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi sejumlah emiten energi di pasar saham.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan bahwa kenaikan harga minyak biasanya memberikan dorongan positif bagi saham-saham yang memiliki eksposur langsung terhadap komoditas energi.

Namun pada perdagangan terbaru, dampaknya terhadap pasar saham domestik tidak sepenuhnya positif karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami tekanan akibat meningkatnya sentimen global risk-off.

“Kenaikan harga minyak memang menjadi sentimen kuat, tetapi investor global cenderung mengurangi risiko di emerging markets, termasuk Indonesia, di tengah meningkatnya konflik geopolitik,” kata Hendra kepada Kontan, Senin (9/3/2026).

Bani Maulana Tambah Kepemilikan Saham SMDR, Saat Harga Anjlok

Saham Energi Dinilai Lebih Defensif

Meski IHSG tertekan, dari sisi sektoral saham energi dinilai relatif lebih defensif dibandingkan sektor lainnya.

Menurut Hendra, emiten yang bergerak di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) maupun perusahaan jasa penunjang migas cenderung mendapat sentimen positif ketika harga minyak meningkat.

Beberapa saham yang berpotensi menarik perhatian investor antara lain:

– PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)  

– PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)  

– PT Elnusa Tbk (ELSA)  

“Ketika harga komoditas energi melonjak, saham-saham energi biasanya menjadi salah satu sektor yang paling cepat mendapatkan perhatian investor karena dianggap sebagai hedging sector,” jelasnya.

  ELSA Chart by TradingView  

Pergerakan Harga Saham Energi

Pada perdagangan Senin (9/3/2026), beberapa saham energi mengalami koreksi harian meskipun masih mencatatkan kenaikan dalam sebulan terakhir.

Saham MEDC ditutup di level 1.690 atau turun 75 poin (4,25%) dibandingkan sehari sebelumnya. Namun dalam sebulan terakhir saham ini masih menguat sekitar 14,58%.

Sementara itu saham ELSA berada di level 840, turun 10 poin (1,18%) secara harian, tetapi masih mencatat kenaikan sekitar 16,67% dalam satu bulan terakhir.

Harga Batubara Tembus US$ 130 per Ton, Pemerintah Kendalikan Produksi Lewat RKAB

Produsen Migas Paling Diuntungkan

Hendra menilai emiten produsen minyak dan gas menjadi kelompok yang paling diuntungkan ketika harga minyak meningkat.

Perusahaan seperti MEDC berpotensi menikmati peningkatan margin karena harga jual minyak yang lebih tinggi.

Selain itu, perusahaan jasa penunjang migas juga berpeluang mendapatkan manfaat dari meningkatnya aktivitas eksplorasi dan produksi energi ketika harga minyak berada pada level tinggi.

Sebaliknya, perusahaan yang bergerak di distribusi atau perdagangan bahan bakar minyak (BBM) tidak selalu memperoleh keuntungan signifikan karena kinerjanya lebih dipengaruhi kebijakan harga domestik serta regulasi pemerintah.

“Dalam kondisi seperti sekarang, investor biasanya lebih fokus pada perusahaan yang memiliki eksposur langsung terhadap produksi energi atau aktivitas hulu migas,” tambahnya.

Tonton: Prabowo Gelar 5 Rapat Strategis: Dari Konflik Timur Tengah Hingga Persiapan Mudik!

Prospek Harga Minyak

Ke depan, pergerakan harga minyak masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah.

Ketegangan tersebut berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global, termasuk Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia.

Dalam jangka pendek, harga minyak diperkirakan berpotensi bertahan di atas US$100 per barel selama ketegangan geopolitik masih berlangsung dan pasokan global menghadapi risiko gangguan.

Namun untuk menembus level US$150 per barel, dibutuhkan gangguan pasokan yang jauh lebih besar, misalnya penutupan jalur distribusi utama atau penurunan produksi signifikan dari negara produsen utama.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga membawa tantangan bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara net importer minyak, lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah serta menambah tekanan inflasi domestik.