Ekspansi data center jadi mesin pertumbuhan TLKM, cek rekomendasinya

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Prospek kinerja PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) pada 2026 dinilai masih menarik seiring langkah ekspansi perseroan di bisnis data center. 

Manajemen TLKM menyampaikan, Telkom akan melanjutkan ekspansi data center dilakukan secara selektif, baik melalui peningkatan kapasitas di lokasi eksisting maupun pengembangan lokasi baru yang memiliki potensi permintaan tinggi dan konektivitas strategis.

Untuk menangkap peluang tersebut, Telkom melalui anak usahanya, NeutraDC, tengah mengembangkan Hyperscale Data Center Batam yang AI-ready dan berlokasi strategis di kawasan SIJORI (Singapura, Johor, dan Riau).

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, ekspansi ini memiliki nilai strategis tinggi, terutama untuk menangkap limpahan permintaan (spillover) dari Singapura yang mengalami keterbatasan lahan dan energi untuk pengembangan data center.

Indeks Dolar AS Menguat Terseret Sentimen Geopolitik

“Status AI-ready juga menjanjikan margin yang lebih tinggi dibandingkan konektivitas tradisional dan bisa menjadi mesin pertumbuhan baru jangka panjang di tengah stagnasi bisnis legacy-nya,” ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (13/2/2026).

Sebagai informasi, fasilitas Hyperscale Data Center Batam ini memiliki kapasitas awal sebesar 18 MW dan dapat ditingkatkan hingga 54 MW. Hyperscale Data Center Batam juga telah memperoleh Uptime Institute Tier III Certification of Design Documents dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2026.

Selain pengembangan hyperscale data center, Telkom juga mengoptimalkan jaringan data center lokal melalui neuCentrIX untuk memperluas jangkauan layanan hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dari sisi katalis, Wafi menyoroti realisasi efisiensi biaya dari sinergi fixed mobile convergence (FMC) antara IndiHome dan Telkomsel sebagai pendorong utama profitabilitas tahun ini. 

Integrasi tersebut dinilai mulai memberikan dampak positif terhadap struktur biaya dan margin perseroan.

Namun, ia juga mengingatkan adanya sejumlah sentimen negatif yang perlu dicermati. Salah satunya adalah risiko persaingan tarif data yang berpotensi meningkat pasca konsolidasi operator lain. 

Selain itu, penetrasi layanan satelit orbit rendah seperti Starlink juga dinilai dapat menggerus pangsa pasar, khususnya di wilayah terpencil.

Dengan mempertimbangkan berbagai katalis dan risiko tersebut, Wafi merekomendasikan Buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.900 per saham.

Soal Rencana Utang Whoosh Dibayar Menggunakan Dana APBN, Ini Respons WIKA