
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Tantangan masih membayangi kinerja emiten baja pada tahun 2026. Salah satu faktor utama yang menjadi pemberat adalah volatilitas harga baja global yang berdampak langsung terhadap margin dan pendapatan pelaku industri, baik di sektor hulu maupun hilir.
Berdasarkan data Trading Economics per Rabu (15/4/2026), harga Hot Rolled Coil (HRC) steel berada di level US$ 1.085,05 per ton. Angka ini naik 3,24% dalam sebulan dan melonjak 16,05% sejak awal tahun atau year to date (YTD).
Sementara itu, harga steel di pasar China berada di level CNY 3.080 per ton. Harga tersebut turun sekitar 1% dalam sebulan dan terkoreksi 0,39% secara YTD.
Pergerakan harga baja yang fluktuatif ini tercermin pada kinerja emiten baja sepanjang 2025 yang masih beragam.
PT Gunung Raja Paksi Tbk mencatatkan penurunan penjualan bersih sebesar 46,74% secara tahunan atau year on year (yoy) dari US$ 351,80 juta menjadi US$ 187,35 juta sepanjang tahun 2025. Perseroan juga membukukan rugi bersih sebesar US$ 36,83 juta, berbanding terbalik dari laba bersih US$ 122,27 juta pada 2024.
Biaya Utang Masih Murah, Pefindo Catat Kupon Obligasi Mulai Naik Tipis
Di sisi lain, PT Krakatau Steel Tbk menunjukkan perbaikan kinerja. Emiten baja pelat merah ini berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 339,64 juta sepanjang 2025, dengan pendapatan mencapai US$ 959,84 juta.
Sementara itu, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk atau Spindo juga mencatatkan laba bersih sebesar Rp 534,24 miliar pada 2025, tumbuh tipis 0,78% yoy. Namun, penjualan dan pendapatan jasa ISSP turun 2,94% yoy dari Rp 6,11 triliun menjadi Rp 5,93 triliun.
Penurunan pendapatan ISSP terjadi akibat melemahnya harga acuan HRC global. Sepanjang tahun lalu, rata-rata harga HRC tercatat turun sekitar 13%.
Corporate Secretary & Investor Relations Chief Strategy & Business Development Officer Spindo, Johanes W. Edward, mengatakan bahwa perseroan masih menargetkan pertumbuhan laba bersih hingga 10% pada tahun 2026.
Menurutnya, target tersebut didukung oleh tren kenaikan harga baja global yang menjadi acuan average selling price (ASP) ISSP. Perseroan menggunakan harga LME steel HRC China yang masih menunjukkan tren kenaikan secara YTD.
Selain itu, permintaan baja pada awal 2026 dinilai masih stabil dan kondisi industri juga relatif baik.
“Sehingga saat ini belum ada perubahan target, yaitu kenaikan 10% dari laba bersih (tahun 2025),” ujarnya kepada Kontan, Selasa (14/4).
Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai bahwa kinerja KRAS sepanjang 2025 memang terlihat positif. Namun, menurut dia, laba bersih tersebut tidak sepenuhnya ditopang oleh perbaikan operasional.
IHSG Melemah 0,68% ke 7.623 pada Rabu (15/4), BUMI, BBCA, BRPT Jadi Top Losers LQ45
Di sisi lain, ISSP dinilai masih mampu menjaga profitabilitas meski pendapatan turun.
“Meski demikian, laba bersih meningkat tipis didorong oleh efisiensi operasional yang lebih baik,” katanya kepada Kontan, Rabu (15/4).
Adrian menjelaskan, volatilitas harga baja memberikan dampak yang berbeda bagi emiten di sektor ini. Ketika harga baja turun, produsen hilir seperti ISSP berpotensi memperoleh keuntungan karena biaya bahan baku lebih rendah sehingga margin dapat meningkat.
Sebaliknya, emiten yang bergerak di sektor hulu menghadapi risiko penurunan harga jual yang dapat menekan margin keuntungan.
“Sebaliknya, emiten yang berada di sektor hulu bisa menghadapi tekanan pada harga jual yang berpotensi menekan margin keuntungan,” ungkapnya.
Secara global, industri baja diperkirakan mengalami pemulihan moderat pada 2026. Permintaan baja dunia diproyeksikan meningkat 1,3% menjadi sekitar 1,77 miliar ton setelah stagnan pada 2025.
Di dalam negeri, pemerintah juga tengah mendalami penerapan bea masuk anti dumping guna melindungi industri baja nasional dari serbuan impor.
Meski demikian, Adrian memperkirakan laba bersih KRAS pada 2026 berpotensi turun karena tidak lagi ditopang oleh keuntungan restrukturisasi yang bersifat one-off seperti pada tahun sebelumnya.
AS Blokade Selat Hormuz, Rupiah Melemah ke Rp 17.143 per Dolar AS
“Khusus untuk KRAS, laba bersih akan mengalami penurunan tahun ini karena tidak adanya lagi keuntungan restrukturisasi yang bersifat one-off seperti yang terjadi pada tahun 2025,” paparnya.
Dari sisi valuasi, Adrian menilai saham KRAS saat ini diperdagangkan pada kisaran rata-rata price to earning ratio (PER) dalam tiga tahun terakhir. Secara teknikal, saham KRAS memiliki target harga terdekat di level Rp 330 per saham, dengan area support di Rp 300 per saham.
Sementara itu, ISSP diperdagangkan di atas rata-rata PER tiga tahun terakhir. “Target harga terdekat di Rp 505 per saham dan area support di Rp 476 per saham,” tuturnya.