BI wanti-wanti warga Cirebon waspadai uang palsu jelang Lebaran

Ussindonesia.co.id , CIREBON – Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peredaran uang palsu yang kerap meningkat seiring melonjaknya transaksi tunai selama Ramadan. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Cirebon mengimbau warga menukarkan uang hanya di lembaga resmi yang telah ditunjuk guna memastikan keaslian rupiah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan peningkatan aktivitas ekonomi selama Ramadan hingga Lebaran membuat kebutuhan uang tunai di masyarakat melonjak. Kondisi tersebut kerap dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan uang palsu melalui berbagai transaksi sehari-hari.

“Untuk mengantisipasi potensi tersebut, kami mengimbau masyarakat melakukan penukaran uang di Bank Indonesia maupun di lembaga atau bank yang telah ditunjuk secara resmi. Dengan begitu, masyarakat dapat memastikan uang yang diterima adalah uang rupiah yang asli,” kata Wihujeng Ayu, Senin (9/3/2026).

: BI Cirebon Siapkan Rp3,89 Triliun Uang Tunai untuk Ramadan dan Lebaran 2026

Menurut dia, BI telah bekerja sama dengan berbagai bank di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) untuk memperluas layanan penukaran uang menjelang Lebaran. 

Kolaborasi tersebut bertujuan membuka lebih banyak titik layanan, sehingga masyarakat tidak perlu menukarkan uang melalui pihak tidak resmi yang berpotensi menimbulkan risiko peredaran uang palsu.

Wihujeng Ayu menjelaskan akses layanan penukaran uang di perbankan akan memudahkan masyarakat memperoleh uang dengan pecahan sesuai kebutuhan, terutama untuk tradisi berbagi uang baru saat Lebaran. Selain itu, jalur resmi tersebut juga memastikan uang yang beredar di masyarakat dalam kondisi layak edar.

Meski demikian, dia mengakui potensi penyebaran uang palsu tetap ada, terutama pada transaksi tunai di sektor informal seperti pasar tradisional atau warung kecil. Kerawanan biasanya terjadi ketika transaksi berlangsung cepat atau pada waktu menjelang sore hingga malam hari, ketika pedagang kurang teliti memeriksa uang yang diterima.

“Biasanya potensi itu muncul di tempat-tempat dengan transaksi cepat, misalnya di pasar atau warung. Apalagi kalau sudah menjelang sore, pedagang kadang tidak sempat memeriksa secara detail uang yang diterima,” ujarnya.

: : BI: Uang Primer Tumbuh 18,3%, Tembus Rp2.228 Triliun

Untuk itu, BI terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar mampu mengenali ciri-ciri keaslian uang rupiah secara sederhana. Edukasi tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan sosialisasi maupun kampanye literasi keuangan.

Wihujeng Ayu menuturkan masyarakat dapat menggunakan metode sederhana yang dikenal dengan istilah 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang. Melalui cara tersebut, masyarakat dapat mengenali ciri keaslian uang rupiah dengan lebih mudah.

Uang dapat dilihat dari warna, gambar pahlawan nasional, serta ornamen pengaman yang tercetak pada desainnya. Kemudian uang dapat diraba untuk merasakan tekstur kasar pada bagian tertentu yang dicetak menggunakan teknik khusus. 

Sementara itu, uang juga dapat diterawang untuk melihat tanda air atau watermark serta benang pengaman yang tertanam pada kertas uang.

“Dengan metode 3D itu masyarakat sebenarnya sudah bisa mendeteksi secara sederhana apakah uang yang diterima asli atau tidak,” kata dia.

Selain mengedukasi soal keaslian uang, BI juga mengingatkan masyarakat agar memperlakukan uang rupiah dengan baik agar masa edarnya lebih panjang. Kebiasaan merusak uang, seperti melipat berlebihan, membasahi, atau menstaples uang, sebaiknya dihindari.

Menurutnya, perawatan uang yang baik akan menjaga kualitas uang, sehingga masyarakat dapat menggunakan uang dalam kondisi layak edar lebih lama.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk memperlakukan uang dengan baik. Jangan dilipat, jangan dibasahi, dan jangan distaples. Dengan begitu uang bisa digunakan lebih lama dan tetap dalam kondisi layak edar,” ujarnya.