
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat pasar surat utang atau obligasi korporasi mengalami lonjakan signifikan di tahun 2025.
Penerbitan obligasi korporasi sepanjang 2025 telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high. Pefindo melaporkan total penerbitan surat utang korporasi sepanjang Januari – Desember 2025 mencapai Rp 284,3 triliun, tumbuh 89,87% dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar Rp 149,7 triliun.
Chief Economist Pefindo Suhindarto menyampaikan, lonjakan penerbitan ini sendiri didorong oleh tingginya kebutuhan refinancing, biaya dana yang lebih murah, pendanaan perbankan yang cenderung relatif lebih mahal, serta peningkatan modal kerja dan investasi, dan juga strategi mengamankan pendanaan jangka panjang.
“Selain itu, (faktor pendorong) yang terakhir mungkin adalah one-off factor dari Patriot Bond Danantara itu sendiri,” ujar Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (11/2/2026).
AUM Reksa Dana Melonjak Awal 2026, Pinnacle Bidik Tumbuh Dua Digit
Dari sisi instrumen, penerbitan obligasi korporasi dan sukuk tercatat sebesar Rp 219,1 triliun atau naik 48,39% secara tahunan (year on year/YoY) dari Rp 147,7 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, segmen medium term notes (MTN) menunjukkan lonjakan paling tajam. Penerbitan MTN pada 2025 mencapai Rp 62,7 triliun, melonjak drastis dibandingkan Rp 1,5 triliun pada 2024 atau tumbuh 4.008,46% YoY.
Sementara itu, penerbitan efek utang lainnya seperti sekuritisasi dan surat berharga komersial (SBK) mencapai Rp 2,5 triliun, naik 359,65% dibandingkan Rp 0,5 triliun pada tahun sebelumnya.
Secara outstanding, nilai obligasi dan sukuk korporasi juga terus meningkat. Pada 2025, posisi outstanding tercatat sekitar Rp 555,7 triliun, melanjutkan tren kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi MTN, outstanding mencapai Rp 87,4 triliun pada akhir 2025.
Dari sisi kelompok penerbit, emiten swasta cenderung lebih mendominasi penerbitan surat utang korporasi dibandingkan BUMN, tetapi masih cukup berimbang. “Kalau dilihat dari komposisi jenis perusahaannya, yang banyak menerbitkan di tahun lalu 2025 ini agak relatif berimbang ya setelah sebelumnya memang sangat timpang antara swasta dengan grup BUMN,” lanjutnya.
BI Beri Izin kepada ICDX Sebagai Bursa Pasar Uang dan Valas
Sepanjang 2025, penerbitan dari kelompok swasta mencapai Rp 146,8 triliun, lebih tinggi dibandingkan BUMN group sebesar Rp 137,5 triliun.
Ada pun berdasarkan tujuan penggunaan dana, penerbitan surat utang pada 2025 mayoritas dialokasikan untuk modal kerja, investasi, dan refinancing.
Nilai penerbitan untuk kebutuhan modal kerja melonjak dari Rp 95,41 triliun pada 2024 menjadi Rp 135,76 triliun pada 2025. Untuk kebutuhan investasi naik dari Rp 11,19 triliun menjadi Rp 83,48 triliun. Kemudian untuk refinancing meningkat dari sekitar Rp 39,49 triliun menjadi Rp 64,85 triliun