
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Minat investor asing terhadap saham-saham emiten asal Indonesia, termasuk sektor minyak dan gas (migas), kembali diuji seiring dengan keputusan FTSE Russell yang mengumumkan pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia periode Maret 2026.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan investor domestik kemungkinan akan bersikap defensif di tengah sentimen MSCI dan FTSE.
Fokus akan beralih dari emiten murni minyak ke emiten yang memiliki diversifikasi di sektor gas karena harga gas seringkali memiliki kontrak jangka panjang yang lebih stabil, atau emiten distribusi energi yang justru diuntungkan oleh penurunan biaya bahan baku.
“Sementara bagi investor asing dan efek MSCI/FTSE, kejatuhan harga minyak menjadi sentimen negatif tambahan,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (10/2/2026).
Menurut David, saat ini investor asing sedang menaruh perhatian besar pada transparansi emiten menyusul isu pembekuan rebalancing oleh MSCI. Di sisi lain, saham sektor migas di Indonesia sering kali memiliki struktur kepemilikan yang kompleks. Maka, ketika harga komoditas seperti minyak jatuh, fundamental emiten juga berisiko melemah.
“Jika ditambah dengan isu transparansi (UBO/Ultimate Beneficial Owner) dan pembekuan indeks global, investor asing cenderung melakukan de-risking atau menarik modal dari sektor ini karena risiko ketidakpastiannya dianggap terlalu tinggi,” ujarnya.
Berbicara ihwal aliran dana, David menjelaskan bahwa penurunan harga minyak akan membuat emiten migas kehilangan daya tariknya sebagai inflation hedge. Akibatnya, arus keluar modal asing (net sell) di sektor migas diperkirakan akan berlanjut, memperparah tekanan pada IHSG yang saat ini sedang berjuang di level 8.000.
: FTSE Tunda Review Indeks jadi Lampu Kuning Kredibilitas Pasar Modal RI
Sementara itu, analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menjelaskan proyeksi pasar minyak yang oversupply pada 2026 ini membuat ekspektasi harga minyak cenderung lebih rendah dibanding 2025. Dampaknya paling cepat terasa ke emiten migas yang eksposurnya besar ke minyak, terutama emiten di sektor hulu atau upstream karena pendapatan mereka sangat bergantung pada realized price.
“Jadi untuk kuartal I/2026, peluang top line turun secara YoY cukup terbuka, apalagi basis pembanding tahun lalu masih relatif tinggi. Namun besar-kecilnya penurunan tetap tergantung beberapa faktor, apakah volume lifting bisa naik, komposisi minyak vs gas, serta struktur biaya dan kurs,” jelas Ekky.
Di beberapa kasus, sambungnya, rupiah yang melemah bisa sedikit membantu margin karena sebagian biaya masih rupiah. Namun, menurutnya akan tetap saja kalau harga minyak turun signifikan, karena sentimen ke pendapatan biasanya lebih dominan.
Dari sisi investor, Ekky melihat saham migas tahun ini cenderung dipandang lebih selektif. Pasar akan lebih menghargai emiten yang biaya produksinya efisien, neraca kuat, dan punya visibilitas produksi atau kontrak yang jelas.
Untuk investor asing, harga minyak yang melemah menurutnya memang bisa menambah sentimen negatif, karena mereka sedang mempertimbangkan risk premium Indonesia pasca sorotan MSCI dan FTSE.
“Jadi kombinasi risiko pasar dan siklus komoditas bisa bikin asing makin wait and see. Walau begitu, minyak tetap komoditas yang cepat berubah karena faktor geopolitik, jadi volatilitas masih besar dan bisa saja ada rebound jangka pendek kalau tensi global naik,” pungkasnya.
Medco Energi Internasional Tbk. – TradingView
Sebelumnya, FTSE Russell mengumumkan menunda peninjauan indeks Indonesia untuk periode rebalancing Maret 2026. Dengan demikian, penyedia indeks tersebut untuk sementara tidak akan menambah atau menghapus saham Indonesia di dalam indeks, termasuk perubahan segmen kapitalisasi besar, menengah dan kecil.
Alasan penghentian sementara rebalancing saham Indonesia periode Maret 2026 adalah karena mempertimbangkan reformasi pasar modal yang kini sedang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Reformasi tersebut di antaranya seperti penyesuaian batas free float sampai transparansi data investor.
“Menindaklanjuti masukan dari External Advisory Committees FTSE Russell, serta dengan mempertimbangkan potensi dampak negatif terhadap turnover dan ketidakpastian dalam menentukan persentase free float yang akurat atas sekuritas Indonesia seiring dengan berlangsungnya rencana reformasi tersebut, FTSE Russell akan menunda peninjauan indeks Indonesia yang dijadwalkan pada Maret 2026,” tulis FTSE Russell.
Pada penutupan pasar Selasa (10/2/2026), tercatat net sell investor asing sebesar Rp708,01 miliar. Sejumlah saham emiten migas masuk jajaran saham dengan net sell asing terbesar, seperti ENRG dengan net sell asing di pasar reguler mencapai Rp65,21 miliar, RAJA dengan net sell Rp70,32 miliar, sampai RATU dengan nilai Rp21,43 miliar. Meski begitu, MEDC justru masuk di daftar net buy asing terbesar, dengan nilai Rp72,10 miliar di pasar reguler.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.