Prospek Kalbe Farma (KLBF) masih cerah, ini proyeksi dan target harganya

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Prospek PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada 2026 dinilai tetap konstruktif meski harga sahamnya sempat tertekan sepanjang 2025.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai koreksi saham KLBF tidak mencerminkan kondisi fundamental perseroan yang masih solid.

Abida memproyeksikan laba bersih KLBF pada 2026 tetap tumbuh sekitar 6,3% year-on-year (YoY), didorong pemulihan pendapatan lintas segmen serta kontribusi bisnis obat resep yang bersifat defensif.

Menurutnya, KLBF masih layak dipandang sebagai saham blue chip defensif dengan risiko penurunan yang relatif terbatas.

Peluang Menarik Saham Kalbe Farma (KLBF) di Tengah Penurunan Harga

“Prospek KLBF pada 2026 tetap positif. Koreksi harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental yang masih kuat dan stabil,” ujar Abida kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).

Dari sisi penjualan, Abida menilai target pertumbuhan 6%–8% yang dipasang manajemen tergolong realistis. Kinerja perseroan hingga sembilan bulan 2025 telah mencatatkan pertumbuhan sekitar 7% YoY, didukung pemulihan hampir di seluruh lini usaha.

Selain itu, tren konsumsi produk kesehatan domestik yang relatif stabil serta faktor musiman pada kuartal IV turut menopang peluang tercapainya target tersebut. “Dengan seasonality akhir tahun yang kuat, target manajemen berpeluang tercapai,” jelasnya.

Terkait fluktuasi nilai tukar rupiah yang berpotensi menekan biaya bahan baku impor, Abida menilai strategi mitigasi KLBF masih cukup efektif. Perseroan mengandalkan diversifikasi produk, penyesuaian harga secara selektif, serta bauran bisnis defensif untuk menjaga margin.

Meski tekanan biaya masih terasa, terutama di segmen nutrisi, dampaknya dinilai dapat diimbangi oleh pertumbuhan volume penjualan dan efisiensi operasional. “Secara keseluruhan, risiko margin dan valuasi masih manageable,” ujarnya.

  KLBF Chart by TradingView  

Dari sisi musiman, peningkatan permintaan produk kesehatan menjelang Ramadan juga berpotensi menjadi katalis jangka pendek bagi kinerja penjualan, khususnya di segmen consumer health dan nutrisi. Namun, Abida menilai dampaknya terhadap pergerakan harga saham cenderung terbatas.

“Ramadan biasanya memberi kontribusi positif pada pendapatan, tapi pengaruhnya ke harga saham lebih bersifat taktis. Fundamental jangka menengah tetap menjadi penentu utama valuasi KLBF,” tambahnya.

Untuk proyeksi 2026, Abida memperkirakan KLBF mampu membukukan pendapatan sekitar Rp36,9 triliun dengan laba bersih mencapai Rp3,78 triliun.

Dengan pertumbuhan laba sekitar 6,3% YoY, saham KLBF masih direkomendasikan buy dengan target harga berbasis discounted cash flow (DCF) di level Rp1.710 per saham.