
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Para trader mulai bersikap positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya tahun ini. Sebab perang di Timur Tengah mendorong biaya energi lebih tinggi dan mendukung status mata uang tersebut sebagai aset aman.
Menurut data Bloomberg, para hedge fund, manajer aset, dan spekulator lainnya telah memasang taruhan senilai US$ 6,2 miliar bahwa dolar AS akan menguat pada tanggal 17 Maret 2026, menurut data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) yang dirilis pada Jumat (20/3).
Ini menandai pergeseran sentimen di pasar valuta asing senilai US$ 9,5 triliun per hari dalam tiga minggu sejak AS menyerang Iran. Bersamaan dengan harga minyak yang lebih tinggi, indeks Bloomberg untuk dolar telah naik sekitar 2% pada bulan Maret, dengan laju kenaikan bulanan terbesar sejak Juli.
Para pedagang spekulatif telah menarik diri dari taruhan negatif mereka terhadap dolar AS, menurut data CFTC, setelah mengumpulkan sekitar US$ 22 miliar taruhan pada pertengahan Februari yang terkait dengan dolar AS yang lebih lemah.
Sejak saat itu, dolar AS telah menunjukkan sensitivitas yang kuat terhadap minyak, seringkali naik seiring dengan kenaikan harga komoditas tersebut.
“Peristiwa yang mengejutkan akan membuat investor mengurangi risiko pada tahap awal. Dalam hal ini, artinya melepaskan posisi short dolar AS. Ada daya tarik tambahan berupa likuiditas dan status sebagai aset aman yang seharusnya membantu pengutan dolar AS,” kata Bipan Rai dari BMO Asset Management seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (21/3).