Airlangga respons IHSG anjlok: Akan dirapatkan, investor tak perlu panik

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi pada perdagangan Rabu (28/1). Pemerintah memastikan akan memantau pergerakan pasar dan segera melakukan koordinasi dengan otoritas terkait untuk mengevaluasi kondisi tersebut.

IHSG diketahui terjun bebas hingga 718,441 poin atau melemah sekitar 8 persen ke level 8.261,78. Pelemahan tajam ini bahkan memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt, sesuai aturan terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menetapkan penghentian transaksi jika penurunan indeks melebihi 8 persen.

Menanggapi kondisi itu, Airlangga menyebut pemerintah tidak tinggal diam. Ia mengatakan pergerakan IHSG akan dimonitor secara serius dan dibahas bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta pemangku kepentingan lain dalam waktu dekat.

“IHSG nanti kami monitor dan akan dirapatkan mungkin dengan OJK dan yang lain, besok lah kita jadwalkan,” ujar Airlangga kepada wartawan di Istana Negara, Rabu (28/1).

Terkait penyebab anjloknya IHSG, Airlangga menyampaikan bahwa ada lebih dari satu faktor yang perlu dicermati. Salah satunya adalah faktor teknik yang berkaitan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Selain itu, evaluasi juga perlu dilakukan oleh BEI sebagai pengelola bursa.

“Pertama ada teknikal MSCI, kedua tentu dari BEI bursa itu perlu untuk melakukan evaluasi,” katanya.

Evaluasi tersebut, lanjut Airlangga, berkaitan dengan sejumlah hal yang menjadi perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Salah satu isu yang mencuat adalah soal transparansi.

“Iya tentu kalau transparansi itu persyaratan bagi seluruh penyelenggara pasar modal jadi itu bisa dilakukan improvement dengan mekanisme yang sudah banyak dipraktikkan banyak negara,” jelasnya.

Di tengah gejolak pasar, Airlangga juga mengimbau investor agar tidak panik menghadapi fluktuasi IHSG. Menurutnya, naik turunnya harga saham merupakan risiko yang melekat dalam aktivitas pasar modal.

“Ya, nggak perlu panik, kalau saham, kan, risikonya tiap hari ada yang naik, ada yang turun,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan keluarnya investor asing dari pasar saham Indonesia, Airlangga menepis anggapan tersebut. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada indikasi kuat terjadinya arus keluar modal asing secara besar-besaran.

Ia juga membantah adanya keterkaitan antara anjloknya IHSG dengan isu atau faktor lain di luar pasar modal, termasuk masuknya Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia.

“Nggak ada (kaitannya dengan Thomas Djiwandono jadi Deputi Gubernur BI),” tegasnya.