Struktur pasar terkonsentrasi, analis bedah koleksi saham Anthoni Salim Cs

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI), yang membuka data kepemilikan saham di atas 1%, menjadi babak baru bagi transparansi pasar modal dalam negeri. Hal tersebut dinilai mampu menyingkap tingkat konsentrasi kepemilikan oleh kelompok usaha besar yang selama ini tidak terdeteksi publik.  

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 27 Februari 2026, sejumlah konglomerat terpantau mendekap kepemilikan saham secara signifikan di berbagai perusahaan tercatat, mulai dari AADI hingga RAJA. 

Garibaldi Thohir, misalnya, menggenggam saham AADI (5,83%) dan ADRO (6,73%), Prajogo Pangestu di BRPT (71,37%) dan CUAN (84,10%), Anthoni Salim di BBCA (1,15%) dan DNET (25,30%), hingga Happy Hapsoro yang mengoleksi saham RAJA (27,52%) serta emiten lainnya dengan porsi yang bervariasi. 

: BEI Pastikan Tidak Ada Sanksi untuk Saham di Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi

Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, mengatakan bahwa setelah melihat komposisi kepemilikan di beberapa emiten, struktur pasar saham Indonesia memang relatif terkonsentrasi. Kelompok usaha atau pemegang saham pengendali (PSP) sering kali memiliki posisi material di berbagai emiten.

“Dengan keterbukaan data pemegang saham di atas 1% seperti sekarang, investor mendapat informasi baru yang lebih jelas mengenai tingkat konsentrasi kepemilikan suatu perusahaan, hal yang sebelumnya tidak terlalu terlihat secara transparan,” ujarnya, Kamis (5/3/2026). 

: : BEI Buka Kepemilikan Saham, Terungkap Daftar 13 Saham Koleksi Lo Kheng Hong

Sementara itu, terkait pola kepemilikan sejumlah konglomerat yang masuk di porsi minoritas, Ekky menilai tujuannya bisa beragam. Strategi yang digunakan juga sangat bergantung pada tujuan masing-masing investor besar.

Dia melihat ada kecenderungan investor masuk sebagai strategic stake untuk kepentingan jangka panjang dan sinergi bisnis. Namun, tidak menutup kemungkinan posisi diambil sebagai bagian dari investasi portofolio.

: : KSEI Buka Data Kepemilikan Saham di Atas 1%, Cek Kepemilikan ASII dan Telkomsel di GOTO

Dari sisi pendalaman pasar, keterbukaan ini dinilai berdampak sehat karena mampu meningkatkan kualitas transparansi. Pelaku pasar juga dapat menilai siapa pemilik material di balik sebuah emiten yang tengah dipantau.

“Investor bisa melihat seberapa terkonsentrasi struktur kepemilikannya dan apakah ada potensi konflik kepentingan. Ini juga sejalan dengan praktik terbaik global dan kebutuhan peningkatan kualitas data pasar,” ujar Ekky.

Perihal dampak terhadap pasar sekunder, kepemilikan di atas 1% oleh figur atau grup besar memang berpotensi memengaruhi likuiditas. Namun, dampaknya tidak selalu negatif karena bergantung pada karakter kepemilikannya.

Menurut Ekky, jika saham dipegang sebagai strategi jangka panjang dan jarang diperdagangkan, maka free float efektif bisa mengecil. Akibatnya, likuiditas harian cenderung lebih “kering” dan volatilitas bisa menjadi lebih tinggi. 

Sebaliknya, pada saham yang dasarnya sudah likuid dan kepemilikannya tetap beredar, dia menyatakan bahwa dampak ke likuiditas cenderung lebih terbatas. 

“Dengan keterbukaan data 1% ini, investor bisa mengukur risiko konsentrasi lebih dini termasuk potensi pergerakan harga yang lebih sensitif karena pasokan saham yang benar-benar beredar tidak sebesar yang terlihat,” kata Ekky.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.