
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Aliran modal investor asing terpantau kembali masuk ke pasar saham Indonesia usai mengucur keluar (outflow) usai pemerintah mengumumkan angka defisit APBN 2025 yang melebar dekati ambang batas 3%.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat 0,13% menjadi 8.936 pada Jumat (9/1/2026) atau sehari setelah pemerintah mengumumkan defisit APBN 2025 sebesar 2,92%.
Pada saat bersamaan, nilai net buy investor asing di lantai bursa tercatat Rp256,88 miliar atau berkurang dibandingkan net buy pada perdagangan sebelumnya Rp948,87 miliar.
: IHSG Sesi I Naik 0,89% Tembus 9.028,22, Saham Konglomerat Rebound
Net buy asing kemudian makin berkurang pada perdagangan Senin (12/1/2026),menjadi sebesar Rp107,21 miliar, sedangkan IHSG terjun 0,58% ke 8.884. Sehari berselang, aliran besar modal asing masuk RI dengan torehan net buy Rp1,98 triliun, mendorong indeks komposit ke level all time high (ATH) penutupan baru di 8.948 pada perdagangan Selasa (13/1/2026).
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai defisit APBN 2025 masih dipandang investor asing sebagai alarm kehati-hatian, bukan krisis, selama tetap berada di bawah batas 3% dan kredibilitas fiskal terjaga.
“Pengecilan net buy asing lebih mencerminkan sikap wait and see untuk menilai apakah pelebaran defisit bersifat sementara atau mulai struktural. Risiko capital outflow besar dapat ditekan selama stabilitas rupiah terjaga, Bank Indonesia tetap kredibel, dan prospek penurunan suku bunga global menjaga daya tarik pasar negara berkembang,” kata Liza kepada Bisnis, dikutip Rabu (14/1/2026).
Liza menjabarkan, sektor yang paling sensitif terhadap pelebaran defisit adalah konstruksi dan infrastruktur, diikuti bank BUMN besar yang berpotensi terdampak meningkatnya penerbitan SBN. Sebaliknya, consumer staples relatif defensif karena ditopang konsumsi domestik, sementara sektor komoditas ekspor seperti emas, batu bara, dan CPO lebih ditentukan oleh harga global dibanding kondisi fiskal.
“Dalam situasi ini, pasar cenderung melakukan rotasi sektor ketimbang keluar total dari pasar saham Indonesia,” tandasnya.
Pada penutupan pasar Selasa (13/1) lalu, saham sektoral yang tumbuh paling besar adalah basic materials (+2,67%), diikuti industrials (+2,12%), serta sektor properti dan real estate (+1,77%). Sebaliknya, sektor paling tergerus adalah consumer cyclicals (-1,85%), diikuti transportasi dan logisti (-0,91%), serta sektor teknologi (-0,73%).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.