Dihantam MSCI dan perang, nasib IHSG dari cetak rekor tertinggi sampai kini amblas

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA – Pasar modal Indonesia pada awal 2026 mengalami gonjang-ganjing, tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak sangat volatil. Padahal, IHSG sempat mencapai all time high (ATH) di level 9.134 pada 20 Januari 2026. Namun hingga awal Maret 2026, indeks tersebut ambles ke level 7.000-an.

“Kita tahu bahwa khususnya pada awal hingga pertengahan Januari, indeks kita masih mengalami peningkatan. Bahkan IHSG mencapai all time high yang ke-9 pada tahun ini di angka 9.134,7 pada 20 Januari 2026. Itu puncaknya sebelum akhirnya turun secara signifikan karena berbagai faktor,” ungkap Economist Analyst Indonesian Stock Exchange Anita Kesia Zonebia dalam acara Edukasi Wartawan mengenai IDX Market Update yang digelar secara daring, Kamis (12/3/2026).

Anita menerangkan sederet faktor yang menyebabkan IHSG bergerak sangat volatil pada awal tahun ini. Penyebabnya bermula dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing saham-saham di Indonesia pada akhir Januari 2026.

“Mulai dari situ (pengumuman MSCI) indeks mulai mengalami penurunan,” tuturnya.

IHSG terus bergerak melemah sejak pengumuman MSCI hingga akhirnya anjlok sekitar delapan persen menjadi 8.321 pada 28 Januari 2026. Pelemahan berlanjut pada Februari hingga Maret. Tercatat per 12 Maret 2026, IHSG berada di level 7.362.

Tak hanya MSCI, lembaga-lembaga lainnya seperti Goldman Sachs, UBS, dan Nomura turut menurunkan atau downgrade rekomendasi perdagangan saham Indonesia dari sebelumnya positif menjadi netral, atau dari buy menjadi sell atau hold.

“Kemudian kita lihat juga bahwa ada pemberhentian sejumlah pejabat dari regulator yang somehow memengaruhi penurunan pasar,” terangnya.

Disusul pula, Moody’s menurunkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan peringkat tetap di level Baa2, setelah adanya aksi jual besar-besaran di indeks saham Indonesia.

Anita menyebut sebenarnya peringkat dari Moody’s masih tetap berada di level Baa2 atau masih berstatus investment grade, yang artinya masih layak untuk investasi. Namun, karena adanya risiko fiskal Indonesia, Moody’s akhirnya menurunkan outlook menjadi negatif.

“Mungkin salah satu dampak dari penurunan outlook ini antara lain terkait kepercayaan investor, juga kemungkinan terjadinya penurunan peringkat ke depan. Karena kalau outlook-nya negatif, berarti akan ada potensi penurunan rating. Ini yang sebenarnya tidak kita inginkan,” jelasnya.

“Hal ini juga bisa memengaruhi kenaikan yield. Jika yield naik, otomatis pembayaran utang oleh pemerintah juga bisa meningkat dan semakin membebani fiskal kita,” lanjutnya.

Tak sampai di situ, pada 4 Maret 2026, Fitch juga menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif. Peringkat tetap sama—mirip dengan Moody’s—namun outlook berubah dari stabil menjadi negatif dengan isu yang sama, yakni tekanan fiskal.

“Defisit APBN dinilai mungkin saja akan lebih lebar daripada yang ditargetkan pada 2026 karena berbagai program atau kebijakan yang dianggap tidak efisien oleh lembaga-lembaga tersebut,” terangnya.

 Tensi Geopolitik di Timur Tengah

Faktor lain yang membuat IHSG semakin tertekan adalah tensi geopolitik yang memanas di Timur Tengah saat Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran. Serangan tersebut membuat pasar saham di berbagai negara goyah, termasuk Indonesia.

“Pada 28 Februari kita melihat ada serangan AS–Israel terhadap Iran yang kemudian membuat indeks, bukan hanya kita, tetapi bursa-bursa global turun sangat signifikan. Dampak dari serangan itu menyebabkan indeks kita semakin turun,” jelasnya.

Salah satu kekhawatiran utama berkaitan dengan potensi penutupan Selat Hormuz. Sekitar 20 persen suplai minyak dunia melewati selat tersebut, sehingga ketika jalur itu terganggu, muncul kekhawatiran terjadinya krisis energi.

Bahkan polemik geopolitik di Timur Tengah saat ini makin melebar dan melibatkan berbagai negara di kawasan tersebut. Dampak dari serangan itu pun masih berlanjut hingga sekarang dengan jumlah korban yang mencapai ribuan dan terus bertambah.

“Faktor yang paling menonjol adalah oil price shock. Kenaikan harga minyak saat itu sempat mencapai 113 hingga 114 dolar AS per barel. Hal ini menjadi kekhawatiran berbagai negara, terutama negara-negara Asia yang memiliki ketergantungan cukup besar terhadap cadangan minyak dari Timur Tengah,” jelasnya.

Indonesia sendiri diketahui sekitar 20 persen kebutuhan minyaknya berasal dari Timur Tengah. Tidak hanya suplai yang dikhawatirkan, tetapi juga kenaikan harga minyak yang berpotensi memperlebar defisit fiskal atau APBN Indonesia.

“Jadi itulah kira-kira yang menyebabkan volatilitas IHSG, mulai dari yang paling terlihat pada akhir Januari hingga sekarang di awal Maret,” ujar Anita.