
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (30/3/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 0,13% secara harian ke Rp 17.002 per dolar AS.
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,21% secara harian ke Rp 16.993 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong memproyeksikan pergerakan rupiah besok (31/3/2026) masih akan didikte oleh sentimen eksternal merepson perkembangan di Timur Tengah terutama harga minyak mentah dunia. Walau cenderung masih risk off, terkadang sentimen bisa sedikit membaik dan mendukung rupiah.
“Kalau melihat sentimen terakhir hingga sore ini, terlihat mulai membaik/tidak memburuk, rupiah berpotensi menguat terbatas besok di rentang Rp 16.950 – Rp 17.050 per dolar AS,” ucap Lukman kepada Kontan, Senin (30/3/2026).
Rupiah Tembus Rp 17.002 per Senin (30/3), Efek Perang dan Tekanan Fiskal
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen perang di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa negosiasi dengan Iran berjalan dengan baik dan kesepakatan mungkin akan segera tercapai. Namun, ia tidak menyebutkan tenggat waktu yang jelas, sambil juga memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut terhadap Teheran.
“Di satu sisi, Iran mengatakan siap menghadapi invasi darat oleh AS, terutama setelah laporan akhir pekan lalu menunjukkan Washington mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah,” ujar Ibrahim, Senin (30/3/2026).
Dari dalam negeri, Ibrahim melihat bahwa rupiah dibayangi sentimen efisiensi anggaran. Rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran perlu didukung oleh kombinasi kebijakan lain agar efektif menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tekanan fiskal yang terjadi saat ini bersifat struktural, yang berasal dari subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang, dan kebutuhan belanja prioritas.
Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Bisakah Instrumen BI SVBI dan SUVBI Jaga Stabilitas?
“Maka dari itu, kebijakan efisiensi anggaran tidak bisa berdiri tunggal untuk menjaga defisit tetap terkendali, sehingga diperlukan kombinasi kebijakan,” kata Ibrahim.
Adapun untuk besok (31/3/2026), Ibrahim menilai dinamika eskalasi masih turut mempengaruhi pergerakan rupiah. Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah.
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Selasa (31/3/2026) bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.000 – Rp 17.040 per dolar AS.
Rekor Terburuk! Rupiah Ditutup Melemah, Tembus ke Rp 17.002 Per Dolar AS Senin (30/3)