
Ussindonesia.co.id NEW YORK. Harga minyak dunia melonjak sekitar 3% pada Rabu (4/2/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap rencana perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi gagal.
Ketegangan geopolitik kembali menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga.
Harga minyak Brent ditutup naik US$ 2,13 atau 3,16% ke level US$ 69,46 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 1,93 atau 3,05% ke US$ 65,14 per barel.
Kenaikan harga terjadi setelah laporan media menyebutkan bahwa pembicaraan AS–Iran yang dijadwalkan berlangsung Jumat ini terancam batal.
Harga Minyak Naik Seiring Meningkatnya Tindakan AS Terhadap Kapal Tanker Venezuela
Pemerintah AS menolak permintaan Iran untuk memindahkan lokasi perundingan, menurut laporan Axios yang mengutip dua pejabat AS.
Sepanjang pekan ini, harga minyak bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan isu de-eskalasi hubungan AS–Iran dan kekhawatiran terganggunya pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Jalur ini menjadi urat nadi perdagangan energi global karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melewatinya.
“Jika konflik terbuka terjadi di Iran, sekitar 3,4 juta barel per hari pasokan minyak berisiko terganggu. Namun yang lebih krusial adalah kontrol Iran atas Selat Hormuz,” kata Direktur Energi dan Kilang ICIS, Ajay Parmar.
Menurutnya, premi risiko geopolitik masih tertanam kuat di pasar sehingga harga bertahan lebih tinggi dibandingkan kondisi fundamental.
Ketegangan kian meningkat setelah militer AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk AS di Laut Arab.
Harga Minyak Naik Tipis Menjelang Perundingan AS-Rusia
Di sisi lain, sejumlah kapal cepat Iran juga dilaporkan mendekati kapal tanker berbendera AS di utara Oman. Rencananya, perundingan AS dan Iran akan digelar di Oman.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur utama ekspor minyak negara-negara OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, terutama menuju pasar Asia.
Di saat bersamaan, impor minyak Rusia oleh India tercatat menurun pada Januari, melanjutkan tren penurunan sejak Desember. Penurunan ini dipicu tekanan sanksi Barat serta negosiasi dagang yang tengah berlangsung antara AS dan India.
Dari sisi pasokan, data terbaru menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun.
Harga Minyak Dunia Menguat, Ancaman Trump ke Iran Jadi Pemicu
Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat stok minyak mentah turun 3,5 juta barel menjadi 420,3 juta barel pada pekan lalu, di tengah badai musim dingin yang melanda sejumlah wilayah AS. Produksi minyak AS juga turun ke level terendah sejak November 2024.
Penurunan ini berbanding terbalik dengan perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan kenaikan stok sekitar 489.000 barel.
Meski demikian, analis Price Futures Group Phil Flynn menilai dampak positif dari penurunan stok ini terbatas karena tidak sebesar estimasi American Petroleum Institute (API) yang sebelumnya memperkirakan penurunan lebih dari 11 juta barel.