IHSG turun paling dalam di regional, analis lihat peluang akumulasi saham

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indeks dengan penurunan terdalam di regional sejak awal tahun 2026 atau year to date (YTD). Peluang untuk mengoleksi saham berfundamental baik terbuka bagi investor dengan penurunan ini.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan di atas kertas, IHSG memang terlihat tidak menarik saat ini.

“Selain karena Indonesia merupakan Emerging Market, situasi dan keadaan perang seperti sekarang membuat risiko mengalami kenaikan, yang membuat pelaku pasar dan investor mencari tempat yang jauh lebih aman terhadap volatilitas dan tekanan dari situasi dan kondisi pasar global,” ujar Nico, Selasa (10/3/2026).

: IHSG Ditutup Menguat 1,41% ke 7.440, Saham BBCA, ASII dan DSSA Kompak Melaju

Nico melanjutkan penurunan outlook utang Indonesia menjadi negatif oleh beberapa lembaga pemeringkat terjadi karena mereka khawatir dengan pengelolaan kebijakan fiskal karena berbagai program populis pemerintah justru mengganggu stabilitas makro ekonomi Indonesia saat ini. Hal tersebut terutama dengan kenaikan utang, yang membuat defisit menjadi melebar. 

Nico menjelaskan hal ini tidak disukai oleh asing, apalagi ketergantungan impor Indonesia terhadap migas juga besar. Karena hal tersebut, kenaikan harga minyak dan gas akibat perang memberikan tekanan kepada kesehatan fiskal Indonesia ke depannya.

: : Deretan Saham Diskon di Tengah Pelemahan IHSG, Ada AKRA sampai BMRI

“Oleh sebab itu, di saat ini seperti ini, mereka akan menghindari negara yang tidak memiliki daya tahan terhadap situasi dan kondisi yang penuh dengan volatilitas saat ini,” tutur Nico.

Nico melanjutkan baik pasar modal Indonesia maupun regional memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Di sisi lain, lembaga pemeringkat merupakan salah satu lembaga yang mampu menginterpretasikan perekonomian melalui rating yang dengan mudah dinilai oleh berbagai investor.

: : IHSG Masih Ada Peluang Rebound saat Konflik AS-Iran Kian Memanas

Namun, kata dia, investor tidak hanya bisa mengandalkan lembaga pemeringkat, karena banyak variabel lain yang sebetulnya bisa digunakan dalam menentukan kelayakan investasi di Indonesia, terutama di berbagai sektor yang memang Indonesia di unggulkan.

Nico melanjutkan saat ini IHSG dan berbagai indeks saham lainnya juga sedang mengalami tekanan yang sama. Titik terendah IHSG menurutnya sudah disentuh pada perdagangan kemarin, Senin (9/3/2026) pada level 7.156. 

“Jangan sampai IHSG turun lebih dari 7.000, karena akan mendorong aksi jual lebih besar,” ucapnya.

Dia juga menjelaskan saat ini tekanan jual IHSG masih cukup besar, dengan volatilitas yang masih tinggi. Dengan demikian, kehati-hatian merupakan saat yang penting untuk saat ini.

Selama perang masih berlangsung dan tidak jelas kapan berakhirnya, Nico menilai IHSG masih berpotensi untuk mengalami penurunan. 

Dia menyarankan investor untuk memilih saham dengan fundamental kuat dan punya potensi valuasi di masa yang akan datang, sehingga penurunan harga membuatnya menjadi semakin menarik.

Sebagai informasi, IHSG menjadi indeks dengan penurunan terdalam sejak awal tahun, baik di regional maupun secara global. IHSG turun 15,14% sejak awal tahun hingga perdagangan Senin (9/6/2026). Sementara itu, indeks dengan kinerja terbaik di regional adalah SET Index Thailand yang menguat 9,79% sejak awal tahun. 

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.