
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. PT Bundamedik Tbk (BMHS) menyiapkan belanja modal (capex) sebesar Rp 217 miliar pada 2026 dengan fokus utama memperkuat aset yang sudah ada.
Alih-alih ekspansi agresif, strategi ini diarahkan pada peningkatan kapasitas tempat tidur dan penguatan layanan unggulan guna mendorong pertumbuhan yang lebih terukur.
Langkah ini mencerminkan pergeseran strategi BMHS ke arah optimalisasi jaringan rumah sakit eksisting. Pendekatan tersebut dinilai lebih cepat menghasilkan tambahan pendapatan sekaligus menjaga tingkat pengembalian investasi (IRR) tetap terukur.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai strategi ini cukup tepat di tengah kondisi industri yang masih menuntut efisiensi.
Layanan Medis Kompleks Bisa Dongkrak Kinerja, Cek Rekomendasi Saham Bundamedik (BMHS)
“Fokus ke optimalisasi aset existing, bukan ekspansi agresif yang berisiko. Ini biasanya lebih cepat menghasilkan tambahan pendapatan,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Dari sisi operasional, penambahan kapasitas tempat tidur diyakini akan langsung berdampak pada peningkatan jumlah pasien. Namun, kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan menjaga tingkat hunian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR).
Jika BOR mampu dipertahankan di atas 70%, peningkatan kapasitas akan berbanding lurus dengan pertumbuhan pendapatan. Sebaliknya, tanpa permintaan yang cukup, tambahan kapasitas justru berisiko menekan kinerja.
BMHS Chart by TradingView
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Alexander Axell Sebastian, menekankan pentingnya keseimbangan antara suplai dan permintaan. “Penambahan kapasitas tanpa kenaikan permintaan yang nyata justru akan membebani arus kas,” ujarnya.
Selain optimalisasi internal, BMHS juga membuka peluang ekspansi jangka panjang melalui kerja sama dengan PT Sinar Medika Langgeng untuk mengembangkan rumah sakit modern di kawasan KEK ETKI Banten.
Proyek ini dinilai berpotensi memperluas pasar ke kawasan industri sekaligus menggarap segmen medical tourism.
Pasar Saham Domestik Masih Dibayangi Negatif, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
Meski demikian, proyek tersebut masih berada pada tahap awal sehingga kontribusi terhadap pendapatan belum akan terasa dalam waktu dekat. “Kontribusi kemungkinan baru terlihat pada 2028 hingga 2029,” kata Alexander.
Dari sisi profitabilitas, prospek perbaikan margin dinilai tetap terbuka, meski berlangsung secara bertahap. Digitalisasi operasional disebut dapat menjadi salah satu pendorong efisiensi dan membantu pemulihan margin EBITDA.
Namun, tekanan biaya masih menjadi tantangan utama. Kenaikan beban tenaga medis serta depresiasi alat kesehatan diperkirakan masih membebani kinerja dalam jangka pendek.
Pada 2025, laba bruto BMHS hanya tumbuh sekitar 5%, sementara laba bersih tercatat Rp12,4 miliar akibat lonjakan beban operasional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan margin tidak bisa instan. Dibutuhkan konsistensi pengendalian biaya dalam beberapa kuartal ke depan agar perbaikan kinerja bisa lebih berkelanjutan.
Dari sisi rekomendasi, analis melihat saham BMHS masih menarik dengan pendekatan selektif. Wafi memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp260 per saham.
Sentimen MSCI, IHSG Anjlok 7,35%, Net Sell Rp 6,1 T, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
Sementara Alexander menyarankan trading buy di kisaran Rp 199–Rp 204 per saham, dengan catatan investor perlu mencermati konsistensi pertumbuhan pendapatan dan pemulihan laba.
Secara keseluruhan, strategi BMHS yang mengedepankan optimalisasi aset dinilai mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi dan efisiensi.
Namun, keberhasilan langkah ini tetap bergantung pada eksekusi di lapangan serta kekuatan permintaan layanan kesehatan ke depan.