Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Asia menambah risiko arus dana asing keluar dari pasar saham domestik sehingga dapat menekan laju IHSG hingga rupiah.
Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan arus dana asing keluar dari pasar saham domestik mencapai US$1 miliar hingga US$1,7 miliar seiring dengan penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Asia.
Managing Director Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan pengurangan bobot Indonesia di MSCI diperkirakan mencapai sekitar 10 basis poin, dari sebelumnya 0,9% menjadi 0,8%.
: MSCI Umumkan Indeks Saham RI, AMMN, BREN, TPIA Terdampak
“Berdasarkan perhitungan awal kami, hal ini berpotensi memicu arus keluar dana asing sebesar US$1 miliar hingga US$1,7 miliar,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Menurut Harry, efek dilusi bobot indeks tersebut tidak hanya berdampak pada saham sektor energi dan material yang mengalami eksklusi, seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA).
: : Volatilitas MSCI Jadi Ajang Buy on Dip, Asing Mulai Borong Big Caps
Dia menilai penurunan bobot Indonesia secara agregat juga mendorong rebalancing portofolio oleh investor pasif global terhadap saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk sektor perbankan.
“Pengurangan bobot negara memaksa dana pasif global untuk mengurangi posisi secara merata pada saham-saham acuan berkapitalisasi besar, khususnya perbankan,” katanya.
Harry menambahkan tekanan terhadap saham perbankan juga dipengaruhi mulai munculnya kenaikan provisi pada kuartal I/2026. Dia mencontohkan provisi PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) meningkat hampir 20% secara tahunan.
Selain itu, dia melihat potensi kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) pada segmen pembiayaan otomotif turut menjadi perhatian pasar.
Dari sisi makroekonomi, Harry mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS berpotensi mempercepat keluarnya dana asing dari pasar domestik.
“Pelemahan rupiah secara simultan akan semakin memperbesar urgensi investor asing untuk keluar dari pasar,” ujarnya.
Sebagai informasi, investor asing cenderung melakukan aksi jual bersih di pasar obligasi atau surat berharga negara (SBN) senilai Rp12,12 triliun secara year to date (YtD) ke level Rp867,81 triliun per Kamis (7/5/2026).
Imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun pun naik ke 6,74% pada Selasa (12/5/2026). Posisi itu meningkat dari 6,58% pada hari sebelumnya.
Sementara itu, rupiah melemah 0,46% atau 79,4 poin ke Rp17.500,4 per dolar AS. Level rupiah tersebut mencerminkan depresiasi 2,18% secara bulanan, atau 5,39% secara tahunan.
Di pasar saham, net sell investor asing mencapai Rp39,29 triliun per Selasa (12/5/2026). IHSG pun mencapai level 6,858.899, turun 20,68% YtD.

PENGUMUMAN MSCI
MSCI Inc. resmi mengumumkan hasil peninjauan berkala indeks saham global periode Mei 2026 yang akan efektif berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Dalam revieu tersebut, sejumlah emiten Indonesia tercatat keluar dari indeks MSCI Global Standard maupun MSCI Global Small Cap.
Untuk MSCI Indonesia Index pada MSCI Global Standard Indexes, tidak ada saham baru yang masuk. Sebaliknya, enam emiten dikeluarkan dari indeks tersebut yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN).
Selanjutnya, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT).
Sementara itu, pada MSCI Global Small Cap Indexes, hanya satu emiten Indonesia yang masuk indeks yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT).
Di sisi lain, MSCI menghapus 13 emiten dari MSCI Global Small Cap Indexes. Emiten yang keluar meliputi PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO).
Selanjutnya, PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk. (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS), serta PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG).
Perubahan komposisi indeks MSCI kerap menjadi perhatian investor karena dapat memicu peningkatan volatilitas saham, terutama pada emiten yang keluar dari indeks akibat potensi aksi jual dari fund manager global berbasis indeks.
Selain mengumumkan hasil review Mei 2026, MSCI juga merilis jadwal peninjauan indeks reguler berikutnya. Untuk MSCI August 2026 Index Review, tanggal pengumuman dijadwalkan pada 12 Agustus 2026, sedangkan perubahan indeks akan efektif berlaku pada 1 September 2026.
Berikut daftar saham RI yang Keluar-Masuk Indeks MSCI MSCI Global Standard Indexes List
- Penambahan : –
- Penghapusan : AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT
MSCI Small Cap Indexes List
- Penambahan : AMRT
- Penghapusan : ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, TAPG
MSCI Micro Cap Indexes List
- Penambahan : –
- Penghapusan : –
Dalam laporannya, MSCI Inc. mengumumkan hasil peninjauan indeks saham global periode Mei 2026 dengan sejumlah perubahan komposisi pada indeks utama, termasuk MSCI ACWI, MSCI Emerging Markets hingga MSCI Frontier Markets. Seluruh perubahan tersebut akan efektif berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026.