BBCA, BMRI, dan TPIA Cs Buyback Saham, Investor Asing yang Masih Wait and See

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Investor asing terpantau masih wait and see melihat kondisi pasar saham Indonesia. Melihat data pasar, mereka secara selektif masuk pada saham-saham yang emitennya melakukan aksi buyback seperti BMRI, BBRI, BBCA dan TPIA.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty menilai aksi korporasi buyback saham merupakan sinyal kepercayaan manajemen terhadap valuasi dan prospek fundamental perusahaan, terutama ketika dilakukan di tengah tekanan pasar.

“Bagi investor asing yang bersifat selektif dan berbasis fundamental, buyback memberi bantalan psikologis sekaligus teknikal karena mengurangi free float dan potensi tekanan jual, sehingga volatilitas menjadi lebih terjaga,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (6/2/2026).

: OJK: Emiten Tetap Wajib Free Float 15% Meski Ramai Buyback

Selain itu, menurutnya buyback dapat meningkatkan efisiensi penggunaan kas dan berpotensi mendongkrak metrik per saham seperti earning per share (EPS) dan return on equity (ROE) yang relevan bagi investor institusional global. 

Kombinasi sinyal komitmen manajemen dan perbaikan kualitas return ini membuat saham-saham berkapitalisasi besar yang melakukan buyback, seperti perbankan dan emiten blue chip, relatif lebih menarik sebagai titik masuk saat kepercayaan pasar mulai pulih.

: : Tahan Penurunan Harga, Emiten “Pasang Badan” Jaga Saham Lewat Buyback

“Untuk rekomendasi, bisa mencermati BBCA dengan target harga Rp9.500,” tandasnya.

Menilik kinerja pasar saham sepekan ini, net sell asing masih ada sebesar Rp11,01 triliun secara year to date (YtD) per Jumat (6/2). Pada perdagangan Kamis (5/2), ketika ada net sell asing Rp469,81 miliar, BMRI, BBRI, BBCA dan TPIA masuk daftar saham dengan net buy asing terbesar.

: : Punya Dana Rp280,9 Miliar, Bukalapak (BUKA) Lanjutkan Buyback

Berikutnya, pada perdagangan Jumat (6/2) hari ini, terdapat net buy asing sebesar Rp944,31 miliar. Namun, hanya BMRI yang masih bertahan di daftar saham net buy asing terbesar, dengan nilai Rp679,60 miliar di pasar reguler.

Sebaliknya, BBRI dan BBCA justru menjadi penghuni daftar saham top net sell asing, dengan nilai masing-masing Rp213,55 miliar dan Rp109,14 miliar.

Menyoroti net sell yang masih dicatat pasar, Arinda berharap upaya perbaikan tata kelola pasar modal yang kini sedang digencarkan pemerintah bisa kembali menarik kepercayaan investor global.

Pasalnya, upaya ini membantu menurunkan persepsi risiko pasar domestik di tengah ketidakpastian global. Namun, dalam jangka sangat pendek atau setidaknya pada pekan depan, potensi berakhirnya tren net sell asing masih sangat bergantung pada sentimen eksternal, seperti arah pasar global dan ekspektasi kebijakan moneter negara maju. 

“Artinya, perbaikan struktural dari regulator lebih bersifat menopang dan mempercepat pembalikan arus ketika sentimen global membaik, alih-alih langsung menghentikan net sell dalam waktu singkat,” tandasnya.

Terpisah, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menjelaskan bahwa aksi korporasi seperti buyback membuat support likuiditas yang membatasi risiko penurunan harga di tengah pemulihan pasar.

“Buat asing, ini jadi validasi kalau valuasi sudah murah dan manajemen siap menyerap tekanan jual,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Wafi melihat perbaikan regulasi yang dilakukan otoritas bursa saat ini bisa membangun kepercayaan investor dalam jangka panjang. Namun, pengaruh faktor eksternal tetap besar sehingga tren net sell di pasar saham Indonesia akan sulit berbalik di jangka pendek.

Flow asing sekarang lebih karena faktor makro global, jadi volatilitas masih akan tinggi. Untuk rekomendasi, fokus ke saham berkapitalisasi besar yang buyback dan fundamental kuat seperti BBRI, BMRI, BBCA, ASII dan TLKM,” pungkasnya.

Setali tiga uang, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai investor pasar modal akan mengapresiasi setinggi-tingginya langkah emiten yang melakukan buyback. Pasalnya, aksi korporasi tersebut dinilai penting sekali untuk meningkatkan kepercayaan investor, dan kepercayaan investor ini didasarkan pada kondisi fundamental setiap emiten dan prospek bisnisnya ke depan.

“Tentu aksi korporasi buyback ini baik untuk bisa mengembalikan posisi harga saham ke level fundamentalnya. Apalagi harga sahamnya ini sudah under valued, sudah terdiskon, jadi wajar buyback dilakukan,” kata Nafan.

Tidak cuma itu, Nafan menilai aksi buyback yang dilakukan emiten berfundamental kuat juga bisa meningkatkan likuiditas pasar dan market cap mereka.

Dengan begitu, ketika partisipasi publik menguat, harga yang tercermin di pasar merupakan valuasi wajar yang terbentuk organik, bukan karena didorong oleh transaksi afiliasi atau keluarga konglomerasi.

Adapun, dalam perdagangan hari ini IHSG turun 2,08% ke 7.935,26. Indeks komposit tak mampu mempertahankan posisinya di level 8.000 meski sempat mencapai 8.025 dalam intraday perdagangan.

Dalam konteks penguatan indeks komposit, Nafan menilai aksi buyback emiten big caps juga punya andil cukup besar. Tinggal kuncinya adalah bagaimana regulator membuat investor global percaya pada market Indonesia.

“Yang penting regulator, SRO, harus bergerak cepat kalau memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan transparansi pasar modal. Karena untuk meningkatkan kepercayaan investor, asing butuh komitmen kuat karena net sell asing selama ini masih terjadi. Kalau sudah ada kemajuan berarti demi transparansi, tentu asing masuk,” tandas Nafan.

Untuk rekomendasi, Mirae Asset Sekuritas menyematkan BBCA dengan target harga Rp7.650, Rp8.450, dan Rp9.750. Berikutnya, BMRI dengan target harga Rp5.000, Rp5.350, dan Rp6.200. Lalu, BBRI dengan target harga Rp3.910, Rp4.030, dan Rp4.750. Terakhir, rekomendasi TPIA dengan target harga di Rp6.700, Rp7.350, dan Rp8.625.

—————

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.