
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat tertekan pada pekan terakhir Januari 2026. Sejumlah analis melihat ruang penguatan masih terbuka, meski jalannya tidak akan mulus karena indeks harus melewati sejumlah level teknikal penting serta menunggu konfirmasi katalis makro.
Head of Research Muhammad Wafi dari KISI Sekuritas menjelaskan target IHSG menuju 9.000 tersebut merupakan target ambisius, tetapi masih bisa dicapai dengan asumsi pertumbuhan earning per share 8%, serta kondisi makro yang stabil atau kondusif.
“Katalisnya ada dari sisi fiskal terutama penyerapan anggaran, momentum lebaran, dan normalisasi cost of fund,” ujar Wafi, Rabu (18/2/2026).
: IHSG Diproyeksi Menguat Hari Puasa Pertama (18/2), Rekomendasi Saham BUVA hingga PANI
Adapun, KISI Sekuritas memilih saham BBNI, BMRI, ICBP, AMRT, dan TLKM sebagai pilihan untuk saat ini.
Sementara itu, Associate Director of Research Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan peluang IHSG kembali ke level 9.000 masih terbuka.
: : IHSG Hari Ini (18/2) Ditutup Menguat 1,19%, Saham MORA, BMRI, hingga BREN Melaju
“Sejauh ini, situasi dan kondisi mulai kondusif karena MSCI dan Bursa, serta para pemangku kepentingan sedang bahu-membahu untuk menyelesaikan setiap hambatan yang ada,” kata Nico.
Menurutnya, pelaku pasar tinggal menantikan bagaimana proses perbaikan tersebut, sehingga kepercayaan mulai pulih. Nico juga menuturkan resistance kuat yang harus dilewati IHSG adalah pada level 8.350 terlebih dahulu.
: : Ini Alasan Mirae Asset Sekuritas Belum Revisi Target IHSG di Level 10.500
Lebih lanjut, Nico menjelaskan saat ini katalis bagi IHSG tidak hanya berasal dari MSCI dan pemerintah, tetapi juga harapan dari pemangkasan tingkat suku bunga Federal Reserve yang kembali merebak di pasar.
Ekspektasi ini karena inflasi Amerika Serikat kembali mengalami penurunan, sedangkan data ketenagakerjaan mulai stabil, sehingga peluang The Fed mengalami penurunan tingkat suku bunga kembali terbuka lebar.
Hal ini juga yang membuat Bloomberg menaruh prediksi bahwa Fed Rate akan dipangkas hingga 100 bps.
Selain itu, lanjutnya, pertemuan Bank Indonesia esok hari juga sangat dinantikan, apakah mungkin Bank Indonesia akan menggunakan amunisi untuk memangkas tingkat suku bunga, ataukah justru mempertahankannya.
“Hal ini tentu yang masih menjadi perhatian setidaknya hingga kuartal I/ 2026. Situasi dan kondisi dunia yang mulai stabil, juga menjadi bantalan untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar dan investor untuk mulai kembali masuk,” tutur Nico.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.