Harga minyak melonjak 5%, pasar cemas gencatan senjata AS-Iran runtuh

Ussindonesia.co.id  NEW YORK. Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada awal pekan ini, dipicu kekhawatiran pasar atas potensi runtuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Ketegangan meningkat setelah aksi penyitaan kapal kargo Iran oleh AS serta tersendatnya lalu lintas pengiriman di Selat Hormuz.

Dalam perdagangan Senin (20/4/2026) waktu New York, minyak mentah Brent naik 5,62% ke level US$ 95,46 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 6,01% menjadi US$ 88,89 per barel. 

Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak sempat anjlok sekitar 9% pada Jumat lalu, menyusul pernyataan Iran yang membuka akses Selat Hormuz bagi kapal komersial selama masa gencatan senjata.

Harga Minyak Naik, Pasar Ragukan Perundingan Damai AS-Iran Bisa Akhiri Konflik

Namun, situasi di lapangan belum sepenuhnya pulih. Data menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, masih nyaris terhenti. 

Dalam 12 jam terakhir, hanya tiga kapal yang tercatat melintas, jauh di bawah kondisi normal.

Ketegangan semakin meningkat setelah AS menyita kapal kargo Iran yang diduga mencoba menembus blokade. Iran pun mengancam akan melakukan pembalasan, memicu kekhawatiran pasar akan pecahnya kembali konflik terbuka.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran telah sepakat untuk tidak lagi menutup Selat Hormuz. Meski begitu, ia belum memastikan apakah gencatan senjata akan diperpanjang. 

Harga Minyak Melompat 6% karena Gencatan Senjata AS-Iran Masih Rapuh

“Mungkin tidak,” ujarnya singkat, sembari menegaskan bahwa blokade tetap diberlakukan.

Analis pasar dari Tradu, Nikos Tzabouras, menilai kondisi saat ini mencerminkan ketidakpastian tinggi. 

Ia menegaskan bahwa kombinasi tenggat gencatan senjata dan belum jelasnya hasil negosiasi berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Bahkan jika konflik mereda, pemulihan pasokan dinilai tidak akan terjadi secara instan.

Senada, analis Price Futures Group, Phil Flynn, melihat volatilitas harga masih akan berlanjut. Meski demikian, ia mencatat pasar mulai beradaptasi dengan kondisi harga tinggi. 

“Pasar mulai menyesuaikan diri. Harga tinggi mulai mengoreksi dirinya sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Iran disebut tengah mempertimbangkan untuk menghadiri pembicaraan damai di Pakistan, meski belum ada keputusan final. Harapan dialog ini menjadi salah satu faktor yang masih menahan lonjakan harga lebih lanjut.

Harga Minyak Melonjak, Pasar Saham Goyah Saat Gencatan Senjata Iran Terancam

Di luar konflik Timur Tengah, dinamika pasokan global juga turut memengaruhi pasar. China dilaporkan tetap menyalurkan ekspor bahan bakar olahan meski memperpanjang pembatasan hingga April. 

Sejumlah negara seperti Malaysia dan Australia masih menerima pasokan tersebut, membantu menjaga keseimbangan pasar energi global di tengah ketidakpastian geopolitik.