
Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Elnusa Tbk (ELSA) sukses mencetak kinerja keuangan positif sepanjang 2025. Emiten jasa migas ini pun memiliki modal berharga untuk meneruskan tren positif tersebut pada 2026.
Sebagaimana diketahui, pendapatan ELSA tumbuh 8,29% year on year (yoy) menjadi Rp 14,50 triliun pada 2025. Sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya, ELSA meraih pendapatan sebesar Rp 13,39 triliun.
Mayoritas pendapatan ELSA pada 2025 disumbangkan oleh segmen penjualan barang dan jasa distribusi dan logistik energi yakni sebesar Rp 8,95 triliun.
Setelah itu diikuti pendapatan dari segmen jasa hulu migas terintegrasi sebesar Rp 4,15 triliun dan jasa penunjang migas sebesar Rp 1,89 triliun. Total pendapatan tersebut kemudian dikurangi eliminasi sebanyak Rp 494,72 miliar.
Elnusa (ELSA) Kantongi Pendapatan Rp 14,50 Triliun pada 2025
Pada akhir 2025 ELSA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 718,41 miliar atau naik 0,66% yoy dibandingkan laba bersih perusahaan pada 2024 yakni Rp 713,67 miliar.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, ELSA berpeluang kembali meraih kinerja pendapatan dan laba bersih yang lebih tinggi pada 2026.
Hal ini didorong oleh kenaikan harga minyak dunia yang memicu peningkatan aktivitas eksplorasi dan produksi yang secara langsung meningkatkan permintaan jasa hulu dan penunjang migas ELSA, terutama dari kontrak Grup Pertamina.
Wafi juga menyebut, dampak gangguan pasokan minyak global cenderung minim bagi segmen distribusi ELSA. Sebab, volume distribusi BBM di dalam negeri masih cukup stabil. “Risiko utamanya ada pada potensi peningkatan kebutuhan capital expenditure (capex) akibat inflasi harga energi,” ujar dia, Kamis (5/3).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyampaikan, ELSA diuntungkan oleh dominasi Pertamina dalam penyaluran energi migas di Indonesia.
ELSA Chart by TradingView
Sebagai bagian dari rantai layanan energi Pertamina, ELSA sering dilibatkan dalam kegiatan eksplorasi, produksi, dan distribusi migas perusahaan pelat merah tersebut.
Peluang bagi ELSA untuk meningkatkan kontribusinya dalam aktivitas jasa migas sangat terbuka seiring tren kenaikan harga minyak dunia akhir-akhir ini. “Kenaikan harga minyak biasanya mendorong perusahaan migas meningkatkan aktivitas produksi,” kata dia, Kamis (5/3/2026).
Untuk ke depannya, ELSA perlu mengoptimalkan utilisasi aset guna meningkatkan efisiensi operasional. ELSA juga perlu melakukan digitalisasi logistik energi untuk meningkatkan pengawasan dan pencegahan penyalahgunaan BBM.
Wafi menambahkan, ELSA juga dapat meningkatkan alokasi capex untuk peremajaan peralatan pada tahun ini.
Dari situ, Wafi merekomendasikan beli saham ELSA dengan target harga di level Rp 1.000 per saham.