IHSG anjlok 4,15 persen, investor asing ramai-ramai angkat kaki

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tertekan pada pembukaan perdagangan Senin (8/6). Berdasarkan data RTI pukul 9.00 WIB, IHSG dibuka di level 5.421,581 atau merosot 3,1 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. IHSG kemudian sempat merosot 4,15 persen ke 5.362.

Data transaksi awal menunjukkan volume perdagangan mencapai 1,23 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 896,9 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 103,86 ribu kali.

Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai pelemahan pasar saham saat ini dipicu oleh perpindahan dana investor global ke aset-aset di negara maju, terutama AS, setelah rilis data ketenagakerjaan yang menunjukkan kondisi ekonomi Negeri Paman Sam masih kuat.

“Kelihatannya investor global banyak yang memindahkan dana investasinya ke develop market seperti Amerika yang kelihatannya sedang menarik gara-gara fundamental ekonomi mereka justru lagi kuat-kuatnya,” jelas Gunarto kepada kumparan, Senin (8/6).

Menurut Gunarto, pelaku pasar tengah mengantisipasi rilis data inflasi AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

“Terus juga ditambah lagi ada kemungkinan kalau inflasi besok datanya bagus, hari Rabu (10/6) ya inflasinya, inflasi Amerika ya, ada kemungkinan the Fed naikin bunga,” katanya.

Kondisi itu membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski demikian, dia memperkirakan pemerintah dan BI akan mengambil langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Di tengah tekanan pasar, Gunarto menilai beberapa sektor masih memiliki prospek menarik, terutama sektor yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah dan tingginya permintaan ekspor. Seperti energi, pertanian, pangan, dan manufaktur.

“Kalau untuk sektor-sektornya ya sektor energi ini masih menarik ya kondisi sekarang. Terus sektor pertanian, pangan, CPO ini masih menarik karena orientasi ekspor kelihatannya masih menarik ya,” tutur Gunarto.

Sementara pengamat pasar modal, Desmond Wira, mengatakan koreksi yang terjadi di pasar saham RI merupakan bagian dari pelemahan yang juga terjadi di pasar saham global.

“Pasar saham dunia sedang koreksi karena saham teknologi anjlok dan potensi Fed menaikkan suku bunga semakin besar setelah rilis data pekerjaan AS dan inflasi yang cenderung kuat. IHSG ikut terkoreksi mengikuti pergerakan saham dunia,” ujar Desmond.

Katanya, tekanan terhadap IHSG semakin besar karena investor asing masih terus melakukan aksi jual bersih dalam jumlah signifikan.

“Sementara di dalam negeri investor asing masih melakukan penjualan bersih dalam jumlah masif. Tidak banyak sentimen positif di pasar,” sebut ia.

Desmond memproyeksi pergerakan pasar saham domestik masih bakal dibayangi sentimen negatif dalam waktu dekat.

Ia juga menilai koreksi yang terjadi saat ini bersifat menyeluruh sehingga belum ada sektor tertentu yang benar-benar aman dari tekanan pasar.