
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Aksi pembelian kembali saham (buyback) ramai dilakukan emiten di tengah tekanan pasar saham. Langkah ini kerap diposisikan sebagai “senjata” untuk menahan laju penurunan harga saham, namun efektivitasnya dalam mendorong pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menjadi tanda tanya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat sebesar 4,42% atau 308,18 poin ke level 7.279,21 pada perdagangan Rabu (8/4/2026). Penguatan itu berlanjut pada Kamis (9/4/2026) sebesar 0,39% atau 28,38 poin ke level 7.307,59. Meski demikian, secara year to date, IHSG masih terkoreksi cukup dalam hingga 15,49%.
Tekanan pasar masih dibayangi ketidakpastian global, terutama terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap gencatan senjata AS-Iran yang berpotensi rapuh, di tengah masih berlanjutnya serangan Israel ke Lebanon, turut memengaruhi sentimen investor. Di sisi lain, harga minyak mentah kembali menguat ke kisaran US$97–US$98 per barel setelah sempat melemah ke level US$94 per barel.
: Daftar Panjang Emiten Siapkan Buyback Saham
Di tengah kondisi tersebut, aksi buyback menjadi salah satu strategi yang ditempuh emiten. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis hingga 8 April 2026, sebanyak 25 emiten telah menyampaikan rencana maupun realisasi buyback dengan nilai bervariasi, mulai dari Rp50 miliar hingga Rp2 triliun.
Salah satu emiten yang telah merampungkan buyback adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) pada 6 April 2026. Corporate Secretary INTP, Dani Handajani, mengatakan perseroan telah merealisasikan pembelian kembali sebanyak 66.249.700 saham atau setara 1,88% dari total saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Total dana yang digunakan mencapai Rp437,87 miliar dengan harga rata-rata Rp6.610 per saham.
: : Buyback Jadi Andalan Kala Pasar Goyah
Sisa dana yang sebelumnya dialokasikan untuk buyback akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional serta kebijakan distribusi kepada pemegang saham, termasuk rencana pembagian dividen.
“Perseroan tetap memperhatikan kondisi keuangan dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (9/4/2026).
: : Ini Alasan Bukit Asam (PTBA) Belum Prioritaskan Aksi Buyback Saham Saat Ini
Berbeda dengan INTP, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) masih mencermati peluang untuk melakukan buyback. Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menyatakan opsi tersebut tetap terbuka, meskipun saat ini belum menjadi prioritas.
“Pergerakan saham kami relatif stabil, jadi buyback belum direncanakan. Namun opsi ini tetap terbuka, terutama di tengah dinamika pasar dan sentimen seperti MSCI,” ujarnya.
Aksi buyback tersebut dinilai mampu menjadi peredam sementara di tengah gejolak pasar. Analis dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai langkah ini dapat menahan penurunan harga saham lebih dalam sekaligus meredam aksi jual panik (panic selling).
Menurutnya, buyback juga mencerminkan fundamental perusahaan yang solid serta valuasi saham yang masih menarik. Selain itu, aksi ini berpotensi meningkatkan rasio keuangan seperti earnings per share (EPS) dan return on investment (ROI).
Dalam kondisi saat ini, Nafan melihat sejumlah saham unggulan berada pada level undervalued, sehingga layak untuk dikoleksi secara bertahap. Ia pun memberikan sejumlah rekomendasi saham dengan strategi accumulative buy dan add.
Sejumlah saham yang masuk dalam rekomendasi accumulative buy yakni PT Astra International Tbk. (ASII) dengan target harga Rp7.900, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dengan target harga Rp5.175, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dengan target harga Rp4.520, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp7.900.
Sementara itu, saham lainnya seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) masuk dalam rekomendasi add dengan target harga Rp2.900 dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) untuk add dengan target harga Rp6.000.
Meski demikian, Nafan mengingatkan bahwa efektivitas buyback tetap bergantung pada sejumlah faktor, seperti likuiditas pasar, minat investor, serta prospek fundamental emiten. Ia menekankan agar aksi buyback tidak semata-mata dilakukan untuk mendongkrak harga saham dalam jangka pendek atau sekadar window dressing.
“Jangan sampai buyback justru mengorbankan ekspansi bisnis atau belanja modal yang penting untuk pertumbuhan jangka panjang,” jelasnya.
Senada, Equity Research Analyst dari OCBC Sekuritas, Gani, menyebut aksi buyback dapat membantu meredam penurunan harga saham, terutama saat pasar berada dalam tekanan. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kualitas fundamental masing-masing perusahaan serta eksekusi program buyback itu sendiri.
Ia juga menyoroti sejumlah saham berkapitalisasi besar yang dinilai memiliki daya tahan kuat dan berpotensi diuntungkan dari aksi buyback, di antaranya yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).
“Eksekusi buyback dan fundamental perusahaan menjadi catatan penting dalam efektivitas aksi tersebut,” katanya.
Sementara itu, Head of Investment Specialist dari Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah Budiman, menekankan bahwa buyback akan menjadi langkah yang menarik apabila dilakukan dengan menggunakan kelebihan kas (excess cash) tanpa mengganggu rencana ekspansi perusahaan.
Menurutnya, aksi buyback idealnya dilakukan saat harga saham tidak mencerminkan kinerja fundamental perusahaan atau berada di level undervalued. Dalam kondisi tersebut, buyback tidak hanya menopang harga saham, tetapi juga meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek emiten.
“Selama menggunakan excess cash dan tidak mengganggu ekspansi, serta valuasi saham masih di bawah nilai wajarnya, buyback bisa menjadi strategi yang menarik,” pungkasnya.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.