
Emiten perbankan pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) akan membagikan dividen final sebesar Rp 209 per saham kepada para pemegang sahamnya. Keputusan ini disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar pada Jumat (10/4).
Secara keseluruhan, perseroan menetapkan total dividen tunai untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 52,1 triliun atau setara Rp 346,00 per saham. Jumlah tersebut termasuk dividen interim sebesar Rp 137 per saham atau senilai Rp 20,6 triliun yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026. Dengan demikian, setelah dikurangi dengan dividen interim, maka sisa dividen final yang akan dibagikan kepada investor mencapai Rp 209 per saham.
Bila merujuk kepemilikan sahamnya, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara menjadi pihak yang paling cuan dari dividen BBRI. Merujuk data kepemilikan yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia, per 9 April 2026 Danantara melalui PT Danantara Asset Manajemen menggenggam 79,8 miliar saham BBRI atau setara 52,66%. Dengan jumlah tersebut Danantara akan memperoleh sekitar Rp 16,6 triliun.
Sementara itu Indonesia Investment Authority yang menggenggam 5,4 miliar saham atau setara 3,6% akan mendapat sekitar Rp 1,1 triliun. Sedangkan DJS Ketenagakerjaan Program Jaminan Hari Tua yang memiliki 1,6 miliar saham akan memperoleh Rp 341 miliar.
Direktur Utama BBRI Hery Gunardi mengatakan, pembagian dividen final ini merupakan bentuk komitmen perseroan dalam memberikan imbal hasil optimal kepada pemegang saham. Hal tersebut didukung oleh kinerja keuangan yang solid serta pengelolaan risiko yang terjaga.
“Pembagian dividen ini didasarkan pada kinerja Perseroan yang tetap positif, yang ditopang oleh penguatan pada segmen UMKM sebagai core business BRI, serta akselerasi transformasi digital yang terus memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan efisiensi operasional,” ujar Hery dalam keterangan resmi dikutip Jumat (10/4).
Lebih lanjut, pembagian dividen ini mengacu pada laba tahun berjalan konsolidasian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025, yakni sebesar Rp 56,65 triliun.
Hery menyatakan, kebijakan dividen tersebut tidak hanya mencerminkan kinerja perseroan yang solid, tetapi juga menunjukkan fundamental bisnis BRI yang kuat dan berkelanjutan.
“Sebagai bagian dari Danantara, pembagian dividen ini juga merupakan bentuk kontribusi nyata BRI dalam mendukung pembangunan nasional, sejalan dengan peran Perseroan dalam memperkuat pembiayaan UMKM dan mendorong transformasi ekonomi berbasis inklusi keuangan,” ujarnya.
Sementara itu, apabila menilik riwayat pembagian dividen BBRI beberapa waktu ke belakang, perseroan memang termasuk sebagai emiten yang rajin mengguyur pemegang sahamnya dengan dividen.
Pada tahun buku 2024, BBRI membagikan dividen tunai senilai Rp 51,73 triliun atau Rp 343,40 per saham. Dividen tersebut terdiri dari dividen interim Rp 135 per saham atau setara Rp 20,33 triliun, yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2025, serta dividen final Rp 208,40 per saham atau sekitar Rp 31,40 triliun.
Setahun sebelumnya, BBRI juga membagikan dividen tunai Rp 319 per saham, yang terdiri dari dividen interim Rp 84 per saham dan dividen final Rp 235 per saham.
Laba Bersih BBRI Turun
Di sisi lain, meski rasio pembayaran dividen BBRI naik dari 86% pada tahun buku 2024 menjadi 92% pada tahun buku 2025, kinerja keuangan BBRI tidak lebih moncer dari tahun sebelumnya.
BRI mencatatkan laba bersih tahun berjalan secara konsolidasian sebesar Rp 57,13 triliun sepanjang 2025 turun 5,26% dibandingkan dengan laba bersih perseroan tahun 2024 sebesar Rp 60,30 triliun.
Penurunan terjadi seiring biaya pencadangan atau impairment yang membengkak 20,8% menjadi Rp 46,09 triliun. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan di media massa, penyaluran kredit BRI secara konsolidasian mencapai Rp 1.521 triliun, tumbuh 12,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan bunga naik 4,27% dari Rp 199,26 triliun pada 2024 menjadi Rp 207,78 triliun pada 2025, demikian pula dengan beban bunga dari Rp 56,6 triliun menjadi Rp 57,24 triliun. Pendapatan bunga bersih pun tercatat naik 5,5% menjadi Rp 150,5 triliun.
Margin bunga bersih atau net interest margin BRI pun turun dari 6,75% menjadi 6,54%. Sedangkan di sisi kualitas kredit, NPL gross BRI tercatat sebesar 3,29%, meningkat dari 2,94%, sedangkan NPL net berada di level 0,96% dari sebelumnya 0,75%.
Sementara itu, dana pihak ketiga BRI tercatat sebesar Rp 1.466 triliun dan komposisi CASA mencapai 70,61%. Di sisi lain, fungsi intermediasi BBRI tercatat meningkat dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 91,96%, dibandingkan tahun sebelumnya di level 89,39%.