
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Saham lapis dua dan tiga yang terafiliasi konglomerasi mencatat reli spektakuler sepanjang 2025, dengan kenaikan harga mencapai ratusan hingga ribuan persen. Saham afiliasi Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA), misalnya, melesat hingga 2.680%, sementara saham afiliasi Haji Isam, PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN), naik 2.205%.
Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan ruang penguatan lanjutan saham konglomerasi di 2026 masih ada, namun dengan risiko yang jauh lebih besar dibanding 2025.
“Setelah kenaikan ratusan hingga ribuan persen, saham-saham ini sangat rawan aksi profit taking, terutama jika tidak diikuti percepatan kinerja fundamental,” kata Reydi kepada Bisnis, Senin (5/1/2026).
: Lonjakan Harta Raja Batu Bara Low Tuck Kwong di Jajaran Top Winners Konglomerat Dunia
Reydi mengatakan pada perdagangan 2026 pergerakan saham konglomerasi akan jauh lebih selektif, alias tidak akan serempak seperti sepanjang 2025. Di tengah situasi ini, menurutnya saham yang hanya naik karena sentimen sesaat akan berpotensi mengalami koreksi tajam.
Bagi persepsi investor, menurutnya sentimen konglomerasi memang masih bertahan di awal 2026, tetapi bukan lagi sekadar nama besar, melainkan realisasi aksi korporasi, perbaikan arus kas dan neraca, serta bukti optimalisasi aset.
: : Setelah Saham Konglomerat Melejit 2025, Ini Arah Rotasi Sektor 2026
“Sentimen terkuat di awal 2026 menurut saya adalah ekspektasi restrukturisasi lanjutan, konsolidasi bisnis, bukan lagi euforia narasi. Saham yang tidak menunjukkan progres nyata berisiko cepat ditinggal pasar,” tandasnya.
Sebelumnya, laporan Stockbit Sekuritas yang terbit 30 Desember 2025 menyatakan bahwa perdagangan periode 2025 menjadi momentum bagi saham-saham konglomerasi melanjutkan tren positif periode 2023 dan 2024. Bahkan, di tahun lalu akselerasi saham konglomerasi lebih tersebar ke konglomerasi lainnya, sehingga mampu menopang kenaikan IHSG 22,13% year to date (YtD) ketika saham big four banks mengalami tekanan.
: : Deretan Konglomerat Penerima Cuan Dividen Interim Alamtri (ADRO) US$250 Juta
“Di antara berbagai konglomerasi, terdapat 3 konglomerasi baru yang mencuat pada tahun ini dengan kenaikan harga saham secara keseluruhan yang paling signifikan, yakni Happy Hapsoro, Bakrie, dan Haji Isam,” tulis laporan tersebut.
Adapun, saham-saham afiliasi Happy Hapsoro seperti PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) secara year to date (sepanjang 2025) tumbuh 2.680%, lalu saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk. (PADI) naik 1.130%, saham PT Red Planet Indonesia Tbk. (PSKT) naik 868,8%, PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) naik 756,5%, saham PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) naik 712,8%, saham PT Pakuan Tbk. (UANG) naik 512,2%, PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) naik 512,2%, dan saham PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) naik 124,3%.
Sementara untuk saham afiliasi Grup Bakrie, yaitu PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) secara year to date naik 780%, PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA) naik 700%, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) naik 595,7%, PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE) naik 583,3%, dan saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) naik 550%.
Kemudian, untuk saham afiliasi Haji Isam yang melejit tinggi tahun ini yaitu PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) yang secara year to date tumbuh 2.205,4%, PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR) naik 941,9% YtD, saham PT Dana Brata Luhur Tbk. (TEBE) naik 317,6% dan saham PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST) tumbuh 100,3%.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.