Goldman Sachs turunkan peringkat saham RI usai IHSG anjlok

Bank investasi asal Amerika Serikat (AS), Goldman Sachs Group Inc., menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Alasannya karena kekhawatiran Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait aspek kelayakan investasi (investability) yang berpotensi memicu arus keluar dana lebih dari USD 13 miliar.

Sementara itu, para strategis UBS AG menurunkan rekomendasi saham domestik menjadi netral.

“Kami memperkirakan tekanan jual pasif akan berlanjut dan memandang perkembangan ini sebagai faktor penghambat yang akan membebani kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam sebuah laporan, dikutip dari Bloomberg, Kamis (29/1).

Para analis mencatat dalam skenario ekstrem, apabila Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar berkembang menjadi pasar frontier, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI berpotensi melepas saham hingga USD 7,8 miliar. Selain itu, arus keluar dana senilai USD 5,6 miliar juga dapat terjadi apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi free float dan status pasar Indonesia.

Goldman Sachs menilai, mengingat manajer dana aktif di kawasan saat ini berada pada posisi overweight terhadap pasar Indonesia, tekanan dari potensi penurunan status tersebut, yang dikombinasikan dengan meningkatnya tekanan pasar dan potensi penurunan likuiditas, kemungkinan akan mendorong investor jangka panjang (long-only investors) untuk menyeimbangkan kembali portofolionya. Kondisi ini juga berpotensi memicu arus spekulatif dari hedge fund.

Pandangan hati-hati tersebut muncul setelah MSCI menyatakan akan segera menangguhkan sejumlah perubahan indeks, termasuk penambahan saham baru, hingga regulator menuntaskan kekhawatiran terkait kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada perusahaan tercatat.

Isu free float, yakni jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan di pasar Indonesia. Investor menilai banyak perusahaan terbesar di Tanah Air memiliki likuiditas rendah dan dikendalikan oleh segelintir individu kaya. MSCI menyebut keputusannya didasarkan pada ‘masalah fundamental kelayakan investasi’, serta kekhawatiran investor terhadap upaya terkoordinasi untuk mendistorsi harga saham.

Meski begitu, analis Citigroup Inc. menilai pembekuan indeks oleh MSCI bisa bersifat sementara dan justru melihatnya sebagai ‘peluang beli’ pada saham-saham perbankan berkualitas, sektor telekomunikasi, serta emiten berbasis komoditas.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 10 persen pada Kamis (28/1), memperpanjang tren pelemahan ke hari kedua berturut-turut.

“Kami menilai tekanan terhadap pasar secara keseluruhan kemungkinan akan bertahan hingga terdapat kejelasan terkait regulasi dan hasil peninjauan ulang dari MSCI,” tulis analis UBS, termasuk Sunil Tirumalai.

Selain kekhawatiran dari MSCI, UBS juga menyoroti meningkatnya risiko regulasi setelah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa 28 perusahaan yang izin usahanya dicabut berpotensi dikelola oleh Danantara.

Pemerintah Indonesia sempat menyatakan akan mencabut izin sejumlah perusahaan sumber daya alam, termasuk salah satu penambang emas terbesar di Indonesia, atas dugaan penyalahgunaan kawasan hutan. Pemerintah juga telah mengambil alih sebagian tambang nikel dan batu bara yang bernilai tinggi, serta perkebunan kelapa sawit yang kemudian dikonsolidasikan di bawah kendali negara.