Buyback saham marak sejak Februari 2026, analis nilai berdampak positif jangka pendek

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah melakukan pembelian kembali atau buyback saham sejak awal Februari 2026. Langkah ini berlangsung di tengah agenda transformasi pasar saham domestik, termasuk dorongan peningkatan porsi saham beredar di publik (free float).

Emiten yang tengah melaksanakan buyback saham antara lain PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

Selain itu, terdapat pula PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), serta PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).

Bursa Asia Kompak Memerah pada Jumat (13/2) Pagi, Mengekor Pelemahan Wall Street

Kesepuluh emiten tersebut dijadwalkan menyelesaikan periode buyback pada Mei 2026 mendatang.

Anggaran Buyback Capai Triliunan Rupiah

Dari sisi nilai, BREN dan TPIA menjadi emiten dengan anggaran maksimal buyback terbesar, masing-masing mencapai Rp 2 triliun. Di posisi berikutnya, BRPT dan CDIA menyiapkan dana hingga Rp 1 triliun.

Selanjutnya, CUAN mengalokasikan Rp 750 miliar, IMPC Rp 500 miliar, dan TOWR sebesar Rp 300 miliar.

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai aksi buyback tersebut cenderung direspons positif oleh pasar dalam jangka pendek. Menurutnya, langkah ini mencerminkan kepercayaan diri manajemen terhadap fundamental perseroan sekaligus berpotensi menopang harga saham.

Analis fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand juga melihat buyback umumnya berdampak positif terhadap pergerakan saham dalam waktu dekat.

“Sebab, aksi itu memberi sinyal valuasi saham bisa lebih murah dan meningkatkan earning per share (EPS) secara teknikal, meskipun tidak mengubah kinerja operasional inti,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (11/2).

Menilik Dampak Perilisan Shareholders Concentration List ke Pasar Saham

Sorotan terhadap Free Float Minimum 15%

Di sisi lain, aksi buyback turut menjadi sorotan karena berpotensi mengurangi jumlah saham free float yang beredar di publik. Hal ini relevan dengan kebijakan BEI yang tengah mendorong peningkatan free float minimal hingga 15% sebagai bagian dari transformasi pasar.

Dari data yang ada, TOWR memiliki free float sekitar 32,82% dan BUKA sebesar 43,66%, sehingga relatif aman. Namun, sejumlah emiten lain masih berada di bawah ambang batas 15%, seperti PBSA (8,36%), CDIA (9,97%), CBDK (10%), TPIA (10,67%), dan BREN (12,30%).

Sukarno menilai risiko benturan dengan ketentuan free float minimum relatif terbatas.

“Ini mengingat ada masa transisi dan opsi pelepasan kembali saham treasury saat kondisi membaik,” ujarnya.

Sementara itu, Abida menegaskan aksi buyback tidak bertentangan dengan regulasi yang berlaku.

“Sebab, aksi itu tetap dibatasi oleh aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa agar kepemilikan publik tidak turun di bawah ambang batas,” ungkapnya.

Prospek Sektor Infrastruktur dan Energi 2026

Ke depan, emiten sektor infrastruktur dan energi dinilai lebih prospektif pada 2026. Emiten seperti TOWR, BREN, CUAN, dan BRPT dianggap memiliki fundamental relatif kuat berkat dukungan arus kas stabil dan prospek pertumbuhan jangka menengah.

Menilik Prospek Buyback Saham Emiten di Tengah Upaya Perbaikan Bursa

“Sementara emiten berbasis siklikal atau teknologi, seperti BUKA, lebih sensitif terhadap sentimen makro dan kinerja operasional,” kata Abida.

Sukarno menambahkan, TOWR dan IMPC tergolong paling defensif dengan visibilitas laba yang lebih stabil. Adapun kinerja BRPT, TPIA, BREN, dan CUAN cenderung lebih siklikal serta sensitif terhadap fluktuasi harga energi atau komoditas dan dinamika sentimen global. Di sisi lain, BUKA masih bertumpu pada upaya perbaikan profitabilitas.

Emiten dengan free float rendah seperti PBSA, CDIA, dan CBDK juga dinilai memiliki risiko volatilitas dan likuiditas lebih tinggi.

“Sentimen positif yang memengaruhi kinerja mereka mencakup penurunan suku bunga dan stabilisasi rupiah. Sementara, sentimen negatif berasal dari pelemahan rupiah dan perlambatan ekonomi,” paparnya.