Trump tolak proposal Teheran, AS dan Iran terancam kembali ke medan perang

Seorang pejabat militer senior Iran menyatakan bahwa perang baru dengan Amerika Serikat (AS) kemungkinan besar bakal terjadi. Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya dengan proposal negosiasi terbaru dari Teheran.

Menurut laporan media Pemerintah Iran, draf proposal tersebut telah diserahkan kepada Pakistan selaku mediator pada Kamis (30/4) malam. Akan tetapi, perincian isi dokumen itu tidak diungkapkan ke publik.

Konflik militer antara AS dan Iran, yang juga melibatkan Israel, pecah pada akhir Februari lalu. Namun, sejak 8 April, perang tersebut berada dalam kondisi jeda setelah satu putaran perundingan damai di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.

“Pada saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan,” kata Trump kepada wartawan, akhir pekan ini.

Baca juga:

  • Donald Trump Sebut Perang dengan Iran telah Berakhir, Benarkah?
  • Pertamina Naikkan Harga Avtur Domestik dan Internasional hingga 16,2% Mei 2026
  • Utang AS Lampaui PDB untuk Pertama Kali sejak PD II, Tembus Rp 542.045 Triliun

Ia mengeklaim kebuntuan negosiasi disebabkan oleh perpecahan serius di tubuh kepemimpinan Iran. Trump juga menyampaikan dilema yang dihadapi pemerintahannya, yakni antara melanjutkan serangan besar-besaran atau mencoba mencapai kesepakatan damai. Namun ia berdalih lebih memilih opsi kedua atas dasar kemanusiaan.

Sementara itu, pejabat militer Iran Mohammad Jafar Asadi menilai konflik lanjutan hampir tak terhindarkan. Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Fars, ia menyebut Amerika Serikat tidak dapat dipercaya dalam memegang komitmen atau perjanjian.

Dari sisi hukum, Ketua Mahkamah Agung Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei menegaskan, negaranya tidak pernah menolak negosiasi. Namun, Teheran hanya menolak menerima syarat perdamaian yang dipaksakan oleh pihak lain.

Gedung Putih sampai kini juga belum mengungkapkan perincian proposal Iran. Namun, laporan media menyebut utusan AS Steve Witkoff mengajukan revisi yang kembali menempatkan program nuklir Iran sebagai fokus utama perundingan. Di antaranya yaitu, Iran diminta tidak memindahkan uranium yang telah diperkaya dari lokasi yang dibom atau melanjutkan aktivitas di sana selama proses negosiasi berlangsung.

Kabar mengenai pengajuan proposal damai dari Iran sempat menurunkan harga minyak dunia hingga hampir 5%. Namun, lonjakan harga yang terjadi tetap saja 50% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang, terutama karena penutupan Selat Hormuz yang mengganggu pasokan energi global.

Iran sejak awal konflik mempertahankan kontrol ketat atas jalur perairan strategis tersebut. Sementara AS memberlakukan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, memperburuk tekanan ekonomi kedua pihak.

Di tengah kebuntuan, seorang warga Teheran bernama Amir menggambarkan situasi saat ini ibarat terjebak di antara hidup dan mati. Ia pesimistis terhadap upaya damai dan memperkirakan serangan baru dari AS dan Israel akan terjadi.

“Semua (negosiasi) ini hanya untuk mengulur-ulur waktu,” kata Amir kepada AFP.

Meski gencatan senjata berlaku di kawasan Teluk, pertempuran masih berlangsung di Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 13 orang tewas akibat serangan Israel di wilayah selatan, termasuk di Kota Habboush.

Di sisi lain, AS mengumumkan penjualan besar senjata kepada para sekutunya di Timur Tengah, termasuk sistem rudal Patriot senilai US$ 4 miliar untuk Qatar dan sistem senjata presisi untuk Israel seharga hampir US$ 1 miliar.

Situasi politik domestik di AS sendiri juga memanas. Pemerintahan Trump menghadapi perdebatan hukum dengan Kongres terkait batas waktu persetujuan perang dengan Iran. Sementara tekanan politik meningkat akibat inflasi dan belum adanya kemenangan jelas antara Partai Demokrat dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.

Di Iran, dampak ekonomi perang semakin terasa. Inflasi dilaporkan melonjak melampaui 50%. Sementara sanksi baru AS dan gangguan ekspor minyak memperburuk kondisi. Seorang warga Iran mengaku kesulitan membayar sewa dan membeli makanan, bahkan sebagian masyarakat disebut tidak memiliki sisa penghasilan sama sekali.

AS Jual Senjata ke Qatar hingga Israel

Departemen Luar Negeri (Deplu) AS pada Jumat (1/5) waktu setempat mengungkapkan, mereka telah menyetujui penjualan senjata dengan nilai total lebih dari US$ 8,6 miliar kepada para sekutu Washington di Timur Tengah, yaitu Israel, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Pengumuman tersebut disampaikan bertepatan dengan sembilan minggu sejak dimulainya perang AS dan Israel melawan Iran, dan lebih dari tiga minggu sejak gencatan senjata antarpihak yang bermusuhan mulai berlaku.

Menurut laporan Reuters, Sabtu (2/5), pengumuman yang dirilis Deplu AS itu mencakup persetujuan penjualan militer ke Qatar berupa layanan pengisian ulang pertahanan udara dan rudal Patriot senilai US$ 4,01 miliar dan sistem senjata pembunuh presisi canggih (APKWS) senilai US$ 992,4 juta.

Kesepakatan itu juga mencakup persetujuan penjualan sistem komando pertempuran terpadu senilai US$ 2,5 miliar kepada Kuwait dan sistem senjata pembunuh presisi canggih senilai US$ 992,4 juta kepada Israel. Kemudian, Deplu AS juga menyetujui penjualan APKWS ke UEA senilai US$ 147,6 juta.

Adapun kontraktor utama dalam penjualan APKWS ke Qatar, Israel, dan UEA adalah BAE Systems. Deplu AS menambahkan, RTX dan Lockheed Martin bertindak selaku kontraktor utama dalam penjualan sistem komando pertempuran terpadu ke Kuwait dan dalam penjualan perlengkapan pertahanan udara dan rudal Patriot ke Qatar.

Northrop Grumman juga menjadi kontraktor utama dalam penjualan sejata kepada Kuwait.