Indeks Bisnis-27 dibuka menguat, didongkrak saham ADMR, ADRO, ASII

Ussindonesia.co.id JAKARTA — Laju Indeks Bisnis-27 dibuka ke zona hijau pada awal perdagangan hari ini, Kamis (22/1/2026), didorong oleh apresiasi harga saham ADMR, ADRO, hingga ASII.

Mengutip data dari IDX Mobile, pada pembukaan perdagangan, Indeks kerja sama BEI dengan Harian Bisnis Indonesia ini naik 0,79% ke level 564,88.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan, menjadi penopang utama penguatan indeks.

: Treasure Global Investment Jual Saham BUMI Lewat Transaksi Jumbo Rp6,91 Triliun

Saham konstituen yang bergerak menguat adalah PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) naik 6,5% ke level Rp2.130, saham PT Alamtri Resources Tbk. (ADRO) juga menguat 1,77% ke level Rp2.300, saham PT Astra International Tbk. (ASII) naik 3,79% ke level Rp6.850. 

Berikutnya ada saham PT Barito Pacifif Tbk. (BRPT) juga turut naik sebesar 3,5% ke level Rp2.960, saham PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) naik 2,78% ke level Rp3.700, saham PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) menguat sebesar 1,21% ke level Rp2.510.

: : Arah Saham BBCA saat Jadi Sasaran Jual Investor Asing

Sebaliknya sejumlah saham konstituen yang bergerak melemah adalah PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) turun 2,81% ke level Rp4.150, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 0,65% ke level Rp7.650.

Berikutnya saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) turun 0,39% ke level Rp6.425, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) turun 1,02% ke level Rp2.900.

: : IHSG Meluncur di Zona Hijau Dipompa Saham Big Caps BRPT hingga TLKM

Di sisi lain, IHSG dibuka menguat 0,12% ke posisi 9.021,32 hari ini. Sebanyak 355 saham menguat, 154 melemah, dan 449 saham stagnan.

Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan bahwa tekanan IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik, terutama pelemahan rupiah serta meningkatnya risiko capital outflow akibat wacana tarif baru dari Presiden AS Donald Trump. 

“Dari sisi domestik, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75%, tetapi belum cukup menahan tekanan jual,” tulisnya dalam riset, Kamis (22/1/2026). 

Secara teknikal, IHSG diestimasi masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan support di 8.948 dan resistance di 9.035. Selama sentimen global dan pergerakan rupiah belum menunjukkan perbaikan signifikan, tekanan diperkirakan masih berlanjut. 

“Sektor komoditas, khususnya emas, tetap menarik dicermati seiring harga yang kembali mencetak all-time high di kisaran US$4.800 per troy ounces didorong meningkatnya permintaan aset safe haven.” 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.