
Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mempercepat restrukturisasi grup dengan mendorong dua anak usahanya, yakni PT Solusi Tunas Pratama Tbk (IBST) dan PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (SUPR), untuk delisting sekaligus menjadi perusahaan tertutup (go private).
SUPR telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 20 Mei 2026.
Sementara itu, IBST masih menunggu persetujuan pemegang saham dan dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 5 Juni 2026, jika tidak ada perubahan agenda.
Direktur Utama SUPR, Juliawati Gunawan Halim, menyebut langkah go private ini merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh strategi jangka panjang grup, termasuk efisiensi struktur usaha dan optimalisasi portofolio aset.
Arah Kebijakan BI Jadi Katalis, Begini Prospek Kinerja Sarana Menara Nusantara (TOWR)
“Perusahaan juga meninjau ulang struktur kepemilikan TOWR secara langsung maupun tidak langsung di sejumlah anak usaha,” ujarnya.
Ia menambahkan, keputusan tersebut juga mempertimbangkan pemenuhan kewajiban free float serta penyesuaian kepemilikan saham di pasar.
Langkah ini sejalan dengan fokus bisnis TOWR yang diarahkan pada efisiensi operasional serta penguatan lini usaha yang dinilai memiliki pertumbuhan lebih tinggi.
Sepanjang 2025, TOWR mencatat pendapatan operasional sebesar Rp 13,33 triliun, tumbuh 4,6% secara tahunan (year on year/YoY). Jumlah menara yang dikelola mencapai 36.246 unit dengan 60.540 penyewa, menghasilkan tenancy ratio 1,67 kali.
Dari sisi proyeksi, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, memperkirakan kinerja TOWR masih stabil pada 2026 dengan potensi pertumbuhan pendapatan sekitar 4,65% YoY menjadi Rp 13,95 triliun.
TOWR Chart by TradingView
Ia menilai bisnis TOWR tetap tangguh, terutama didorong oleh ekspansi segmen fiber di tengah dinamika konsolidasi industri telekomunikasi.
Sarana Menara (TOWR) Buyback Saham Siapkan Dana Rp 300 Miliar
Namun, ia juga mencatat adanya risiko tekanan operasional dari eksposur terhadap XLSmart pasca konsolidasi industri. Meski demikian, fundamental perusahaan dinilai masih solid.
“Fiber akan menjadi motor utama pertumbuhan di tengah bisnis menara yang cenderung moderat,” kata Aditya.
Ia menambahkan, monetisasi bisnis fiber diperkirakan terus meningkat dengan take-up rate mencapai sekitar 20% pada 2026, naik dari sekitar 14% pada 2025.
Pertumbuhan layanan fiber to the tower (FTTT) dan fiber to the home (FTTH) juga diproyeksikan masing-masing tumbuh 4,66% dan 10,88% tahun ini.