Outlook IHSG 2026 di tengah bayang-bayang downgrade MSCI

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir 2026 berada di persimpangan antara keyakinan fundamental domestik dan risiko eksternal, terutama terkait status Indonesia di indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Sejumlah analis menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan, meski bayang-bayang koreksi tetap terbuka apabila sentimen global dan arus dana asing memburuk.

Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawa menyampaikan bahwa pihaknya masih mempertahankan target IHSG akhir 2026 di level 9.440. Proyeksi tersebut mencerminkan keyakinan terhadap daya tahan fundamental ekonomi domestik.

“Namun kami juga mencermati potensi koreksi ke kisaran 8.900–9.175 jika flow premium pada saham-saham konglomerasi mulai menurun,” ujarnya, Minggu (8/2/2026).

Erindra menjelaskan, risiko terbesar bagi pasar saham Indonesia adalah kemungkinan penurunan status Indonesia oleh MSCI. Kendati demikian, skenario tersebut dinilai masih bersifat ekstrem dan belum menjadi asumsi utama BRI Danareksa.

MSCI masih memberikan waktu hingga Mei 2026 untuk menilai kemajuan perbaikan transparansi dan struktur pasar modal Indonesia. Apabila ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, bobot saham Indonesia di indeks pasar berkembang berpotensi dipangkas.

Dalam skenario terburuk, Indonesia bahkan berisiko turun dari kategori emerging market ke frontier market. Dampaknya dinilai signifikan karena banyak investor global memiliki mandat investasi yang hanya mengizinkan eksposur ke pasar berkembang.

Di sisi lain, optimisme tetap terjaga. Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menilai IHSG masih berada dalam tren bullish dengan target moderat di kisaran 9.000 dan peluang mencapai 9.600 pada skenario terbaik.

Menurut Ike, sejumlah katalis domestik berpotensi menopang pergerakan IHSG, mulai dari sinergi Danantara, peningkatan alokasi investasi saham oleh dana pensiun dan asuransi hingga 20% dari sebelumnya 8%, peluang pelonggaran suku bunga, hingga potensi rebound saham-saham blue chip berfundamental kuat.

Sementara itu, Head of Research Analyst RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai respons pasar terhadap data ekonomi domestik sepanjang 2025 relatif positif, dengan pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,11%.

Meski demikian, RHB Sekuritas saat ini tengah meninjau ulang proyeksi IHSG seiring dinamika terbaru. “Sebelumnya target IHSG kami di level 9.400 untuk 2026, dan saat ini sedang dalam proses review,” ujarnya.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.