Pasar modal 2025 moncer, investor saham tembus 20 juta

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kinerja positif pada pasar modal Indonesia di sepanjang tahun 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh sekitar 22 persen pada 2025 dengan menembus all time high (ATH) sebanyak 24 kali. Jumlah investor saham juga telah menembus 20 juta single investor identification (SID). 

“Sejalan dengan terjaganya kinerja perekonomian nasional dan sentimen positif di pasar keuangan global, pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja yang solid. IHSG ditutup pada level 8.646,94 per 31 Desember 2025, menguat 1,62 persen secara month to month (mtm) atau 22,13 persen secara year on year (yoy),” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivative, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember 2025, Jumat (9/1/2025). 

Inarno mengatakan, sepanjang tahun 2025, IHSG membukukan rekor ATH sebanyak 24 kali. Ataupun level tertinggi IHSG tercatat di angka 8.710,70 pada 8 Desember 2025 dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai level tertinggi sebesar Rp 16.000 triliun di tanggal yang sama. 

Di sisi lain, Indeks LQ45 dan juga indeks IDX80 tumbuh masing-masing sebesar 2,41 persen dan juga 10,07 persen.

Kemudian, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham bulanan pada Desember 2025 terpantau menyentuh ATH sebesar Rp 27,19 triliun, masih konsisten berada di atas Rp 20 triliun sejak 20 Agustus 2025. 

“Kenaikan likuiditas transaksi di pasar saham domestik pada semester II 2025 turut didorong oleh meningkatnya peran aktif investor retail domestik, dimana proporsi transaksi investor ritel meningkat tajam dari 38 persen di tahun 2024 menjadi 50 persen di tahun 2025,” terangnya. 

   

Adapun, angka RNTH sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar Rp 18,07 triliun. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 2024 yang sebesar Rp 12,85 triliun. 

Inarno menuturkan, sejalan dengan arah penguatan pasar, investor asing pada periode Desember 2025 membukukan net buy saham senilai Rp 12,24 triliun (mtm). “Hal ini dinilai menunjukkan keyakinan dan persepsi yang positif terhadap perekonomian dan pasar domestik. Namun, secara akumulasi di tahun 2025 investor asing masih membukukan net sell di pasar saham senilai Rp 17,34 triliun,” ujarnya. 

Ia melanjutkan, pasar obligasi juga menunjukkan tren penguatan pada Desember 2025 dengan kenaikan indeks komposit ICBI sebesar 1,08 persen (mtm). Yield SBN secara bulanan turun 4,84 bps sedangkan secara yoy turun sebesar 80,91 bps. 

Adapun, investor non-resident di pasar surat berharga negara (SBN) terpantau mencatatkan inflow, yang mana pada Desember 2025 tercatat net buy senilai Rp 6,49 triliun secara mtm, atau yoy net buy sebesar Rp 2,01 triliun. 

Kemudian, di industri pengelolaan investasi nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp 1.033,81 triliun per akhir Desember 2025. Angka itu meningkat sebesar 3,08 persen (mtm), atau meningkat sebesar 23,46 persen (yoy). 

Adapun nilai aktiva bersih (NAB) reksadana pada periode yang sama itu mencapai Rp 675,32 triliun, tumbuh 4,80 persen (mtm) atau naik sebesar 35,26 persen (yoy). Tren positif kinerja NAB tersebut disebut didukung juga oleh net subscription investor reksadana yang kuat yaitu mencapai Rp 23,91 triliun (mtm) dan secara mencapai Rp 138,69 triliun (yoy).

“Pada Desember 2025 tercatat penambahan sebanyak 694 ribu investor baru di pasar modal domestik. Dengan perkembangan tersebut secara yoy jumlah investor di pasar modal meningkat sebesar 5,49 juta, atau menjadi secara keseluruhan 20,36 juta atau tumbuh sebesar 36,95 persen,” ungkap Inarno. 

Ia menambahkan, data penghimpunan dana oleh korporasi di pasar modal menunjukkan tren yang positif. Sepanjang tahun 2025 total nilai penawaran umum mencapai Rp 274,80 triliun, berada di atas target sebesar Rp 220 triliun, termasuk di dalamnya terjadi kenaikan 20 emiten baru yang melakukan IPO senilai Rp 16,21 triliun. 

“Adapun untuk penggalangan dana pada securities crowdfunding, pada Desember 2025 terdapat 27 efek baru dengan nilai dana yang dihimpun sebesar Rp 44,18 miliar serta terdapat 12 penerbit baru,” tutupnya.