
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Kendati kinerja tak seapik tahun-tahun sebelumnya, perbankan masih bakal loyal membagikan dividen untuk tahun buku 2025 ini.
Salah satu yang tetap loyal adalah Bank Negara Indonesia (BNI). Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan, pihaknya memproyeksikan rasio pembayaran dividen alias dividend payout ratio (DPR) untuk tahun buku 2025 di level 65%.
Itu artinya, bank tak mengubah rasio dari tahun buku sebelumnya. Padahal, kondisi profitabilitas bank pada tahun 2025 lalu berbeda dengan tahun sebelumnya.
Saham BMRI, BBCA, BBNI di Zona Merah, BBRI dan BBTN Menguat Ini Analisanya!
Sepanjang 2024, BNI masih berhasil menumbuhkan laba bersih sebesar 2,7% secara tahunan menjadi Rp 21,64 triliun. Sementara pada 2025, laba bersih BNI justru mencatatkan koreksi hingga 6,6% yoy menjadi Rp 20,04 triliun.
Dari jumlah itu, artinya dividen yang dibagikan BNI untuk tahun buku 2025 diperkirakan bakal mencapai kisaran Rp 13 triliun. Namun begitu, Hussein bilang keputusan final mengenai dividen ini masih bergantung pada persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) nanti.
Yang pasti, kata Hussein, rasio dividen di level 65% didukung oleh permodalan yang solid. Itu tercermin dari posisi rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BNI untuk Tier 1 di posisi 19,4%, lebih tinggi daripada posisi minimum regulator di 12%.
“Secara internal, kami menjaga CAR Tier 1 di kisaran 17% untuk mendukung ekspansi bisnis secara prudent,” sebut Hussein dalam pertemuan analis belum lama ini.
Bank Mandiri juga berupaya menjaga kecukupan modalnya untuk memastikan kemampuan berbagi dividen. Pada 2025, posisi CAR Bank Mandiri secara bank only ada di 19,4%. Direktur Finansial dan Strategi Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut, dalam strategi jangka panjangnya, CAR bank diupayakan dijaga di kisaran 19% – 20%.
“Struktur permodalan juga akan kami jaga tetap produktif, tujuannya adalah agar ROE tetap terjaga dan memberi ruang bagi pertumbuhan berkelanjutan serta mampu memberikan dividen dan value creation jangka panjang,” tutur Novita dalam paparan kinerja pekan lalu.
Untuk tahun buku 2024 lalu, DPR Bank Mandiri ada di posisi 78%. Saat itu, laba bersih Bank Mandiri tumbuh 1,31% yoy menjadi Rp 55,78 triliun.
OJK Proyeksi Piutang Pembiayaan Multifinance Tumbuh 6%-8%, Ini Kata Clipan Finance
Sementara pada 2025, pertumbuhan laba bersih Bank Mandiri cenderung melambat yakni 0,93% yoy menjadi Rp 56,3 triliun. Kendati begitu, Novita bilang pembagian dividen interim senilai Rp 9,3 triliun yang telah rampung dibayarkan pada Januari 2026 lalu mencerminkan kekuatan kinerja, likuiditas yang baik, serta permodalan yang memadai di Bank Mandiri.
Agak berbeda, Bank Tabungan Negara (BTN) nampaknya bakal meningkatkan DPR untuk tahun buku 2025. Tujuannya, untuk memaksimalkan imbal hasil bagi pemegang saham agar modal dapat terpakai secara efisien.
Asal tahu saja, untuk dividen tahun buku 2024, level DPR BTN ada di 25%. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyebut, potensi peningkatan DPR di atas level itu nantinya menjadi bagian dari strategi bank memperkuat rasio return of earning (ROE).
“Kami mau jaga agar ROE bisa di atas 12%, atau kalau bisa sampai 14%. Mungkin dari sisi kapitalnya, kami akan kasih DPR sedikit lebih banyak, jadi antara 25% – 30%,” jelas Nixon dalam paparan kinerja awal pekan ini.
Tahun ini, BTN berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 3,5 triliun, tumbuh 16,4% yoy. Dengan asumsi DPR di kisaran 25% – 30%, maka total dividen yang mungkin dibagikan bank mencapai Rp 875 miliar–Rp 1,05 triliun.
Menariknya, wacana peningkatan DPR ini diambil BTN ketika rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) bank masih turun terbatas, dari posisi 3,2% pada 2024 menjadi 3,1% pada 2025.
Kendati begitu, Ekonom Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefianto menilai penetapan DPR perbankan tak bakal mengganggu bisnis, meski laba tertekan dan NPL meningkat. Lagipula, secara umum DPR bank memang cenderung stabil.
Perubahan DPR biasanya terjadi hanya jika ada kebutuhan untuk tumbuh secara generik melalui ekspansi, yang mana jarang terjadi pada bank besar sebagai bisnis yang sudah matang, atau ketika ada perubahan permanen dalam prospek bisnis.
“Misalnya kalau ada aturan baru atau kompetitor yang kuat,” jelas Doddy kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).
BPJS Ketenagakerjaan Akan Tambah Porsi Investasi di Saham
Saat ini, ia melihat penurunan kinerja yang terjadi di perbankan merupakan siklus ekonomi. Kendati begitu, kata Doddy, pemerintah dan pelaku usaha nampak optimistis pemulihan dapat terwujud tahun ini. Maka, tak salah kalau investor, termasuk Danantara, mengharapkan DPR tetap di level tinggi dari bank.