Pilah-pilih saham migas dan komoditas di pusaran konflik Timur Tengah, ada RAJA hingga PTBA

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Saham dari sektor migas dan komoditas diperkirakan mendapat topangan dari kenaikan harga minyak mentah imbas eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Adapun, Amerika Serikat (AS) melanjutkan serangan yang menyasar ladang minyak Iran selaku produsen 3,3 juta barel minyak per hari (bph). Kapasitas produksi di Iran merupakan yang terbesar keempat di dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). 

Tak hanya itu, Iran juga merupakan pemegang otoritas Selat Hormuz yaitu jalur strategis distribusi energi global, yang jika ditutup akan mengganggu pasokan global dan membuat harga komoditas seperti batu bara melambung.

Imbas serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu, saham-saham emiten migas dan batu bara kompak melambung di perdagangan awal pekan ini.

: Efek Perang Iran Uji Taji Pasar dan Investasi Negara Berkembang

Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan bahwa kenaikan harga saham pada emiten migas dan batu bara tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga masing-masing energi, minyak, dan batu bara. 

“Penguatan harga saham emiten energi berpotensi lanjut jika harga energi seperti minyak dan batu bara tetap kokoh ke depan. Berdasarkan penjelasan di atas, kami melihat harga energi memiliki peluang yang cukup kecil untuk terjadi koreksi dalam waktu yang sangat dekat ke depan,” kata Harry kepada Bisnis, dikutip Rabu (4/3/2026).

Dia mencatat, harga minyak dunia mengalami pemulihan signifikan akibat tensi geopolitik antara Iran, AS, dan Israel yang semakin tegang, sementara harga batu bara menguat karena harapan terhadap permintaan global yang tangguh melebihi transisi yang sedang berlangsung menuju sumber energi yang lebih bersih. 

Di sisi lain, China sebagai produsen dan konsumen batu bara terbesar di dunia, terus menambah kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar batu bara baru saat Beijing memprioritaskan keamanan energi dan keandalan jaringan listrik.

Di antara emiten yang berpeluang diuntungkan itu, Samuel Sekuritas Indonesia melihat PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) dapat memaksimalkan katalis positif ini dengan cukup optimal menimbang inisiatif ekspansi mereka yang sangat kuat pada blok Gebang, Kangean, dan Bentu. Meski demikian, kenaikan harga minyak dunia cukup terbatas dalam mempengaruhi kinerja emiten karena kontribusi bisnis didominasi oleh gas.

Untuk rekomendasi dari Samuel Sekuritas Indonesia, Harry menyematkan target harga ENRG di Rp2.300. Saham lain yang dia rekomendasikan adalah PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) dengan target harga Rp7.000.

Sementara berdasarkan target harga konsensus, Harry mengatakan bahwa saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) direkomendasikan dengan target harga Rp2.000, sedangkan di sektor batu bara ada PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) dengan target harga Rp2.800.

Pada penutupan pasar Rabu (4/3/2026), MEDC melemah 4,21% ke Rp1.820, sementara saham RAJA bahkan terpangkas 11,74% ke Rp4.060. Kemudian, saham PTBA berakhir turun 2,05% ke Rp2.860. Sementara ENRG ditutup naik tipis 0,47% ke Rp2.140.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.