
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Mayoritas saham perbankan terpantau berada di zona merah pada perdagangan sesi I hari ini, Selasa (27/1/2026).
Hingga pukul 11.59 WIB, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melemah 80 poin atau 1,63% menuju level Rp4.830 per saham. Secara tahun berjalan, saham bank dengan logo pita emas itu turun signifikan 270 poin atau 5,29% (year to date/YtD).
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) turut melemah sebesar 60 poin atau 1,56% menuju posisi Rp3.790 per saham setelah sebelumnya dibuka pada posisi Rp3.850 per saham.
: Harta Kekayaan Thomas Djiwandono Deputi Gubernur BI Tercatat Capai Rp74,5 Miliar
Pelemahan juga terjadi pada saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI). Pada perdagangan sesi I, saham BBNI anjlok 30 poin atau 0,66% menuju level Rp4.500 per saham. Sepanjang sesi berjalan, saham BBNI sempat menyentuh harga tertinggi di posisi Rp4.540 per saham
Saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) juga melemah 30 poin atau 1,33%, menuju level Rp2.220 per saham, setelah sebelumnya dibuka pada posisi Rp2.250 per saham.
: : Thomas Djiwandono Jamin Independensi BI, Klaim Ikuti Seleksi Sesuai UU
Sementara itu, saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) terpantau menguat 5 poin atau 0,41% ke posisi Rp1.235 per saham, setelah sebelumnya dibuka pada posisi Rp1.240 per saham. Sepanjang sesi berjalan, saham BBTN sempat menyentuh harga tertinggi sebesar Rp1.250 per saham.
Dari kelompok bank swasta, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) anjlok 125 poin atau 1,63% menuju posisi Rp7.525 per saham. Sepanjang sesi berjalan, saham BBCA sempat menyentuh harga tertinggi Rp7.625 per saham dan harga terendah Rp7.500 per saham.
: : Sah! Paripurna DPR Restui Thomas Djiwandono Deputi Gubernur BI
Saham PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) turut mengalami pelemahan pada perdagangan sesi I. Tercatat, saham BNGA melemah 35 poin atau 1,89% menuju posisi Rp1.815 per saham, setelah sebelumnya dibuka di harga Rp1.865 per saham.
Saham PT Bank Permata Tbk. (BNLI) juga mendarat di zona merah, turun 60 poin atau 1,22% menuju level Rp4.850 per saham. Selama sesi berjalan, saham BNLI sempat menyentuh harga tertinggi Rp4.900 per saham dan terendah Rp4.800 per saham.
Lalu dari kelompok bank digital, saham PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) juga merosot 10 poin atau 0,70% menuju posisi Rp1.410 per saham, setelah sebelumnya dibuka pada level Rp1.420 per saham.
Penurunan juga terjadi pada saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO) sebesar 5 poin atau 0,27% menuju level Rp1.865 per saham. Sepanjang sesi berjalan, saham ARTO sempat menyentuh harga tertinggi sebesar Rp1.875 per saham.
Tidak Murni Efek Penetapan
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai, pelemahan saham bank pada perdagangan sesi I hari ini tidak dapat disebut murni karena isu penetapan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI. Dia mengatakan, pelemahan saham bank pada sesi I lebih karena kombinasi sentimen dan aksi jual jangka pendek.
“Isu seperti ini memang bisa membuat pasar lebih ‘wait and see’ karena investor sensitif terhadap persepsi arah kebijakan dan independensi, sehingga big banks yang likuid biasanya lebih cepat terkena tekanan,” jelas Ekky kepada Bisnis, Selasa (27/1/2026).
Namun pada saat yang sama, Ekky mengungkapkan faktor lain yang juga menekan pergerakan saham bank hari ini. Dia menyebut, taking profit, tekanan rupiah, dan kondisi global yang cenderung risk-off membuat asing mengurangi posisi di bank besar.
Sementara itu, saham BBTN yang mengalami penguatan kemungkinan karena katalis spesifik emiten, seperti ekspektasi pemulihan properti dan aksi korporasi. “Jadi pergerakannya bisa berbeda dari Himbara lain pada hari yang sama,” ujarnya.
Ekky menambahkan, BBTN juga bukan emiten yang sangat terekspos oleh dana asing, berbeda dari saham bank lainnya yang memang komposisi asingnya dan berdampak besar ketika asing melakukan penjualan.
Senada, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut bahwa pelemahan saham bank Himbara hari ini tidak dipengaruhi oleh dinamika Bank Indonesia (BI).
“Belum terdapat sentimen negatif dari dinamika BI terhadap pelemahan bank Himbara,” ungkap Nafan kepada Bisnis, Selasa (27/1/2026).