Perang di Timur Tengah membuat harga minyak dan gas meroket. Timbul kekhawatiran global akan menipisnya pasokan bahan baku energi. Menteri Energi Qatar memperingatkan konsekuensi serius.
Harga minyak terus melonjak akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan situasi yang semakin memanas di Timur Tengah. Harga satu barel (159 liter) minyak mentah jenis Brent dari Laut Utara Jerman naik 29 persen pada Senin dini hari menjadi 120 dolar AS (Rp 2 juta). Pada Senin pagi harga sempat menurun ke 107 dolar (Rp 1,8 juta) namun harga ini tetap 15 persen lebih tinggi dibandingkan perdagangan terakhir di hari Jumat.
Kenaikan minyak jenis WTI dari Amerika Serikat sedikit lebih tinggi. Harga minyak WTI melonjak hingga 21 persen pada Senin dini hari menjadi 120 dolar (Rp 2 juta) dan terakhir tercatat sekitar 113 dolar(Rp 1,9 juta), sekitar seperempat lebih tinggi dibandingkan harga pada Jumat malam.
Dengan acuan kedua harga tersebut, harga minyak melonjak hampir 50 persen sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran 28 Februari lalu.
Harga Minyak di Indonesia Masih Stabil
Berdasarkan informasi yang dirilis Kantor berita Antara, harga minyak dalam negeri Indonesia terpantau stabil dari awal Maret 2026. Kenaikan harga minyak mentah dunia, tidak nampak secara langsung pada kenaikan harga minyak dalam negeri di Indonesia. Hal ini terkait dengan dengan formula harga yang ditentukan pemerintah dengan lewat indikator ICP (Indonesian Crude Price), nilai tukar dolar AS, dan subsidi BBM pemerintah.
Dalam wawancara pada Reuters Senin (9/3), Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa berencana menyerap dampak kenaikan harga minyak dengan menggunakan anggaran negara dan dengan meningkatkan alokasi untuk membiayai subsidi bahan bakar.
Indonesia telah menganggarkan 381,3 triliun rupiah untuk subsidi energi dan untuk mengganti rugi perusahaan energi negara Pertamina dan perusahaan utilitas PLN atas upaya menjaga harga bahan bakar dan tarif listrik tetap terjangkau. Anggaran tersebut didasarkan pada asumsi harga minyak mentah Indonesia rata-rata $70 per barel dan nilai tukar rupiah rata-rata 16.500 per dolar pada tahun 2026.
“Bahkan jika harga minyak global naik, kami akan menyerap (krisis) dengan anggaran dan akan sebisa mungkin mengendalikan dampaknya,” kata Menteri Purbaya.
Dalam wawancara pada Reuters, Purbaya turut menambahkan jika harga minyak mentah mencapai $90-$92 per barel tahun ini, defisit anggaran berpotensi meluas hingga sekitar 3,6% dari PDB, di atas batas defisit negara yakni sebesar 3% dari PDB.
Dalam skenario tersebut, ia menambahkan pemerintah akan memangkas pengeluaran untuk memastikan kepatuhan terhadap batas defisit.
Bursa saham Asia anjlok
Pasar saham di Asia Timur anjlok akibat lonjakan harga minyak. Di Tokyo, indeks Nikkei yang mencakup 225 saham unggulan Jepang turun lebih dari lima persen saat penutupannya.
Kerugian besar juga terjadi di bursa saham Korea Selatan. Di Seoul, harga saham turun hampir enam persen. Di Indonesia IHSG mencatat penurunan sekitar 3.27% saat penutupan, dengan hampir seluruh sektor saham melemah – sektor transportasi dan logistik amblas menyusut 5.22%. Indeks utama Jerman, DAX, juga memulai awal minggu ini dengan penurunan tajam angka perdagangan.
Asia sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah. “Jepang dan Korea adalah mesin industri raksasa yang digerakkan oleh minyak impor. Jika harga minyak mentah melonjak, dampaknya langsung terasa pada perusahaan,” jelas analis Stephen Innes dari SPI Asset Management.
Media Jepang melaporkan bahwa Tokyo sedang mempertimbangkan untuk melepaskan cadangan minyak strategisnya.
Penutupan Selat Hormuz berdampak pada penurunan produksi
Selat Hormuz tidak dapat dilalui dalam jangka waktu yang panjang jadi inti pergolakan di pasar minyak. Sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan Iran terhadap Israel dan negara-negara Teluk, hampir tidak ada kapal yang dapat melintasi selat yang berada di antara Teluk Persia dan Teluk Oman tersebut.
Sebelum perang, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia diangkut setiap hari melalui jalur strategis ini. Jalur ini juga penting untuk transportasi gas alam cair, misalnya dari Qatar. Banyak investor khawatir situasi di Timur Tengah akan terus memburuk, mengganggu dan menurunkan produksi minyak di kawasan.
Konsekuensi serius terhadap pasokan energi
Akhir pekan lalu, Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi dalam wawancara dengan surat kabar “Financial Times” memperingatkan konsekuensi serius dari perang di Timur Tengah terhadap pasokan bahan baku energi dari kawasan tersebut. Ia mengatakan ada kemungkinan semua negara produsen di Teluk Persia harus menghentikan produksinya dalam beberapa minggu. Jika hal itu terjadi, menurutnya harga minyak bisa naik hingga 150 dolar AS.
Qatar adalah salah satu produsen gas alam cair terbesar di dunia yang mengisi seperlima kebutuhan gas alam cair global. Perang yang meletus di akhir Februari lalu membuat negara Arab tersebut menghentikan ekspor gas alam cairnya selama beberapa hari.
Iran serang kilang minyak di Bahrain
Setelah serangan Iran terbaru terhadap sebuah kilang minyak di Bahrain, perusahaan minyak dan gas milik negara Bapco Energies menyatakan kondisi “force majeure” terkait pengiriman energinya. Pernyataan ini secara hukum membebaskan pihak dalam kontrak dari kewajiban pengiriman.
Dalam serangan tersebut, kompleks kilang minyak besar Bahrain, Maameer, terdampak dan mengalami kerusakan. Fasilitas tersebut turut diserang Iran beberapa hari sebelumnya. Bahrain merupakan produsen minyak terkecil di antara negara-negara Teluk, namun merupakan bagian dari aliansi produsen minyak OPEC+.
Harga gas naik 30 persen
Harga gas alam Eropa pun mengalami lonjakan akibat perang di Timur Tengah. Di bursa Amsterdam, TTF yang menjadi acuan pasar gas Eropa menunjukkan lonjakan hingga 30 persen, dan sempat mencapai 69,70 euro (Rp 1.3 juta) per megawatt hour (MWh). Setelah itu, harga turun menjadi 61,80 euro(Rp 1.2 juta). Harga tersebut berkisar 16 persen lebih tinggi daripada harga pada hari Jumat (6/3).
Dengan harga terbaru ini, harga gas alam Eropa telah meningkat signifikan dan merupakan lonjakan tertinggi sejak dimulainya perang agresi Rusia terhadap Ukraina lebih, empat tahun silam.
Pertemuan krisis negara G7
Para menteri keuangan negara-negara industri Barat (G7) berencana membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak di bawah koordinasi Badan Energi Internasional (IEA) pada awal minggu ini. Hal ini disampaikan oleh sumber pemerintah di Prancis. Sebelumnya surat kabar “Financial Times” juga melaporkannya. Menurut laporan tersebut, tiga negara G7 termasuk Amerika Serikat sudah menyatakan dukungan terhadap rencana itu.
Trump: tingginya harga energi hanyalah pengorbanan kecil
Menurut Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kenaikan harga minyak hanyalah pengorbanan kecil yang diperlukan mengingat ancaman program nuklir Iran. “Harga minyak sekarang ini, yang akan kembali turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran dihilangkan. Ini adalah harga yang sangat kecil untuk keamanan dan perdamaian Amerika Serikat serta dunia,” tulisnya di platformnya Truth Social. “Hanya orang bodoh yang melihatnya berbeda!” kata Presiden AS tersebut.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid
ind:content_author: Susanne Eickenfonder (dpa, afp, rtr, ap)