
Ussindonesia.co.id Saham Amazon.com, Inc. mengalami tekanan tajam di pasar saham global setelah perusahaan mengumumkan lonjakan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk mempercepat ekspansi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan infrastruktur digital. Keputusan ini langsung mengubah sentimen pasar terhadap prospek laba jangka pendek Amazon.
Penurunan harga saham mencerminkan kegelisahan investor bahwa lonjakan belanja modal pada 2026 berpotensi menekan margin keuntungan dalam jangka pendek, bahkan ketika permintaan terhadap layanan AWS terus meningkat. Fokus pasar bergeser dari pertumbuhan pendapatan ke risiko arus kas dan profitabilitas.
Amazon menyatakan akan mengalokasikan sekitar USD 200 miliar (setara sekitar Rp 3.360 triliun, dengan kurs Rp 16.800 per USD) pada 2026 untuk pusat data, pemrosesan AI, perangkat keras (chips), robotik, serta teknologi satelit orbit rendah. Angka ini jauh melampaui ekspektasi analis Wall Street yang sebelumnya memperkirakan belanja sekitar USD 146 miliar.
Dilansir dari The Independent, Selasa (10/2/2026), pengumuman tersebut memicu aksi jual tajam: saham Amazon sempat anjlok lebih dari 9 persen saat perdagangan dibuka, menyeret indeks teknologi dan memperlihatkan betapa sensitifnya pasar terhadap sinyal belanja besar dari raksasa teknologi.
Departemen Perang AS Integrasikan ChatGPT ke GenAI.mil: Penguatan AI Militer di Bawah Pemerintahan Trump
CEO Amazon, Andy Jassy, berusaha menenangkan pasar dalam panggilan pendapatan perusahaan. “Kami melihat permintaan yang sangat kuat; pelanggan benar-benar menginginkan AWS untuk beban kerja inti dan AI,” ujarnya, menegaskan bahwa ekspansi ini didorong oleh kebutuhan riil pelanggan, bukan sekadar ambisi korporasi.
Namun, analis MoffettNathanson menilai langkah Amazon tetap berisiko. Mereka menyatakan bahwa meskipun arah peningkatan belanja tidak mengejutkan, “tingkat belanja ini secara material jauh lebih besar dari yang diperkirakan konsensus pasar,” sehingga mempersempit ruang kesalahan dalam eksekusi strategi.
Kritik juga datang dari analis Bank of America yang memperingatkan potensi tekanan terhadap free cash flow. Menurut mereka, “investasi ini penting, tetapi investor akan tetap fokus pada kapan hasil tersebut mulai terlihat dalam laba,” menandai ketidakpastian waktu pengembalian modal.
Di sisi lain, Amazon melaporkan kinerja operasional yang solid pada kuartal keempat 2025 dengan pendapatan USD 213,4 miliar (± Rp 3.586 triliun) dan pertumbuhan AWS sebesar 24 persen, tercepat dalam 13 kuartal. Meski kuat, capaian ini belum cukup meredam kekhawatiran pasar terhadap lonjakan belanja 2026.
Langkah Amazon juga mencerminkan tren lebih luas di sektor Big Tech: Google (Alphabet) dan Meta Platforms tengah memperbesar belanja AI dan infrastruktur cloud. Perlombaan investasi ini memperlihatkan pergeseran industri teknologi menuju model yang lebih padat modal, berpotensi mengubah struktur keuntungan sektor tersebut di tahun-tahun mendatang.
Pertarungan Amazon dan Perplexity Memanas dalam Perebutan Dominasi Agen AI dan Masa Depan Belanja Otomatis