
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan terbaru seiring rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid di kuartal I 2026. Berdasarkan data RTI Business pada Selasa (5/5) pukul 11.38 WIB, IHSG naik 69,948 poin atau 1,00 persen ke level 7.041,902.
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 7.065,005 dan terendah di 6.921,609, dengan nilai transaksi mencapai Rp 8,450 triliun dan volume 23,376 miliar saham. Sebanyak 350 saham menguat, 283 melemah, dan 179 stagnan.
Penguatan ini terjadi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I 2026.
Meski secara kuartalan mengalami kontraksi 0,77 persen (qtq), capaian tahunan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen menjadi katalis penting bagi pasar saham Indonesia.
“Hasil yang sesuai menjadi katalis positif untuk memperkuat indeks di tengah tekanan global, apalagi ketegangan antara AS dengan Iran kembali meningkat,” jelas Nafan kepada kumparan, Selasa (5/5).

Nafan menyarankan investor untuk lebih selektif dengan memperhatikan rotasi sektor, dengan lebih spesifik ke IDX Energy, IDX Basic, IDX Consumers, dan IDX Financials.
“Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid, fokus pada saham bervaluasi murah, fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen resiko dengan disiplin,” kata Nafan.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, melihat penguatan IHSG sejalan dengan ketahanan ekonomi domestik.
“Pertumbuhan ekonomi ternyata kuartal pertama agresif, ya. Kita lihat ini sejalan dengan IHSG juga yang menguat dan kemarin pun juga saya lihat investor asing sudah masuk ke pasar saham kita,” jelas Gunarto.
Menurutnya, beberapa sektor berpotensi menjadi unggulan di tengah kondisi saat ini. Seperti emiten sektor energi, retail, sektor consumption goods, pertanian, dan transportasi.
“Terus kalau dari perkembangan ini, ya, kita lihat nih sektor-sektor yang terkait dengan energi, sektor yang terkait dengan energi, sektor yang terkait dengan nikel, ya, ataupun juga hilirisasi ini kelihatannya menarik. Selain itu, sektor berbasis konsumsi juga dinilai prospektif,” tutur Gunarto.