
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Rupiah masih saja melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pekan ini. Tekanan terhadap mata uang Garuda dinilai masih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang belum kondusif.
Asal tahu saja, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (27/5) melemah. Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,03% secara harian ke Rp 17.801 per dolar AS.
Sebelumnya pada Selasa (26/5) rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,30% secara harian di level Rp 17.796 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi domestik serta ketidakpastian geopolitik global.
Golden Eagle Energy (SMMT) Beberkan Dampak Kebijakan Baru Tata Kelola Ekspor SDA
Menurut Ibrahim, pasar saat ini masih mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait program nuklir. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran dan mengklaim Iran akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya.
Meski demikian, Iran disebut masih membantah rencana pelepasan uranium tersebut, walaupun terbuka untuk melanjutkan negosiasi terkait aktivitas nuklirnya.
“Harga minyak turun tajam pada hari Senin setelah laporan-laporan ini, meskipun kurangnya kejelasan di lapangan membatasi penurunan harga minyak mentah,” ujar Ibrahim, Selasa (26/5/2026).
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai pelemahan rupiah mulai memunculkan krisis kepercayaan yang berpotensi berdampak pada kondisi ekonomi nasional.
Menurut dia, depresiasi rupiah meningkatkan biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor maupun pasar ekspor. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, namun konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga BBM industri nonsubsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan,” katanya.
Ibrahim menambahkan, lonjakan PHK mulai terlihat dalam satu bulan terakhir. Sejumlah perusahaan disebut telah melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional akibat tekanan biaya produksi.
Ia memperkirakan potensi PHK di sektor formal industri dapat mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan. Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja terdampak PHK mencapai 15.425 orang sepanjang Januari hingga April 2026.
Untuk perdagangan akhir pekan, Ibrahim menilai pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan negosiasi geopolitik global, pergerakan harga minyak mentah, serta arah kebijakan moneter AS. Adapun rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan rentang Rp 17.750 – Rp 18.000 pada Jumat (29/5/2026)
Indeks Dolar Rebound ke 99,50, Pelemahan Rupiah Terus Berlanjut