IHSG & mayoritas pasar Asia tertekan, investor tunggu data inflasi AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di zona merah pada perdagangan Kamis (9/4) pagi, seiring aksi ambil untung setelah reli tajam sehari sebelumnya serta sikap pelaku pasar yang cenderung menunggu data inflasi Amerika Serikat (AS).

Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat turun 64,45 poin atau 0,89 persen ke level 7.214,76. Sementara indeks LQ45 ikut melemah 9,717 poin atau 1,32 persen ke posisi 723,906.

Berdasarkan data RTI Business pukul 11.14 WIB, IHSG bergerak fluktuatif dan sempat menyentuh level terendah 7.191,586 sebelum berbalik menguat ke area 7.284,672 atau naik tipis 0,08 persen. Level tertinggi intraday tercatat di 7.288,084.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menilai pelemahan IHSG pada pagi ini masih tergolong wajar setelah indeks melonjak cukup tinggi pada perdagangan hari sebelumnya yang mencapai 4 persen.

“Sehingga rasanya kalau minus 0,45% pagi ini masih terasa oke secara toleransi penurunan. Batas koreksi yang harus diwaspadai adalah 7.160 ya untuk menjaga asa penguatan lebih lanjut menuju 7.300,” kata Nico kepada kumparan, Kamis (9/4).

Menurut Nico, arah pasar selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang dirilis malam nanti.

“Apabila data ekonomi Amerika positif, maka kami melihat potensi IHSG untuk mengalami penguatan lanjutan terbuka lebar,” kata dia.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pasar saat ini tengah mencermati data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Februari 2026.

“Perilisan data-data US PCE per Februari 2026 pada malam nanti di mana konsensus mengestimasikan bahwa inflasi perlahan menurun, namun tetap tinggi, sehingga tentunya inflasi masih dalam kategori sticky. Hal ini akan mempengaruhi sikap the Fed untuk tetap hawkish sehingga rawan terkena aksi profit taking dari pelaku pasar,” jelas Nafan.

Nafan menilai, sentimen eksternal lain yang membebani pasar berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah termasuk perang Iran-AS dengan Israel.

“Kemudian, muncul laporan bahwa Israel terus menggencarkan serangan ke Lebanon dengan alasan serangan tersebut tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa stabilitas di Kawasan Timur Tengah masih sangat rapuh,” ucap Nafan.

Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga dinilai masih menjadi faktor yang membayangi pasar saham domestik. Dalam kondisi pasar seperti saat ini, Nafan menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham.

“Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid, fokus pada saham bervaluasi murah, fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen resiko dengan disiplin,” ungkap Nafan.