FINI proyeksikan investasi hilirisasi nikel bertambah US$ 20 miliar hingga tahun 2028

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Prospek investasi di sektor hilirisasi mineral diproyeksikan masih terus melaju kencang dalam beberapa tahun ke depan. 

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memperkirakan komoditas nikel masih menjadi primadona utama yang mendatangkan modal jumbo, seiring dengan adanya komitmen ekspansi dan pengembangan kapasitas fasilitas pengolahan di dalam negeri yang terus berjalan.

Ketua FINI, Arif Perdana Kusumah mengungkapkan bahwa tren positif realisasi modal di sektor hilirisasi sejatinya sudah tercermin sejak tahun lalu sejalan dengan kebijakan pemerintah. 

Prospek Emiten Migas Tetap Positif Walau Harga Minyak Dunia Terkoreksi

“Kalau kita lihat apa yang dilakukan pemerintah saat ini, tadi sempat disinggung mengenai realisasi investasi di downstream, tahun 2025 itu Indonesia telah berhasil menginvestasikan kurang lebih Rp 584 triliun. Ini kurang lebih 43% lebih besar, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya dalam rangkaian acara Indonesia Critical Minerals Conference 2026, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Arif menambahkan, dari total capaian investasi hilirisasi sepanjang tahun 2025 tersebut, sektor hulu hingga hilir nikel menjadi salah satu penyumbang modal terbesar nasional. 

“Kalau kita lihat Nikel adalah salah satu komoditas yang di mana investasinya sangat besar pada tahun 2025 itu sekitar Rp 185 triliun. Jadi kalau kita lihat dari semua program hilirisasi yang dikembangkan pada saat itu, Nikel menjadi komoditas yang paling tinggi,” terangnya.

Arif membeberkan, secara akumulatif, derasnya arus modal yang masuk ke ekosistem nikel domestik terus menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. 

“Dan untuk sektor Nikel sendiri, kalau kita lihat data dari mulai tahun 2020 hingga 2025, itu nilai investasinya sudah mencapai Rp 690 triliun atau kurang lebih US$ 44,6 billion,” bebernya.

Melihat realisasi yang kokoh tersebut, Arif menyebut, pihaknya meyakini target penambahan nilai investasi baru ke depan bukan hal yang mustahil untuk dicapai dalam kurun tiga tahun mendatang. 

“Dan karena masih ada pengembangan kapasitas ke depannya, diperkirakan kalau dari catatan kami dari FINI, kami melihat kurang lebih akan ada sekitar US$ 20 miliar investasi lagi di antara tahun 2026-2028,” tandasnya.

MPPA Sebut Kehadiran Kopdes Merah Putih Tak Langsung Ubah Persaingan Ritel