Buyback saham BNI dinilai dongkrak kepercayaan publik

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA – Rencana PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. melakukan pembelian kembali (buyback) saham dinilai dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap sektor perbankan nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Langkah tersebut juga dipandang sebagai sinyal bahwa fundamental bank pelat merah itu tetap kuat meski pasar saham masih menghadapi tekanan.

Dalam keterbukaan informasi, BNI menyiapkan dana maksimal Rp905,48 miliar untuk aksi buyback saham tersebut. Dana akan berasal dari arus kas bebas berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya, dengan nilai transaksi tidak melebihi 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.

“Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 9 Maret 2026. Jika disetujui, pelaksanaan buyback diperkirakan berlangsung hingga 12 bulan setelah RUPS,” tulis Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo dalam keterbukaan informasi dikutip Ahad (8/3/2026).

Okki menjelaskan, langkah ini dipertimbangkan karena saham perbankan Indonesia mengalami tekanan sepanjang 2025. Ketidakpastian global akibat risiko geopolitik dan ancaman perang tarif menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar.

Di dalam negeri, industri perbankan juga menghadapi tantangan likuiditas dan perlambatan permintaan kredit. Hingga akhir 2025, harga saham BNI tercatat hanya naik sekitar 0,5 persen secara tahunan.

Meski demikian, BNI menyebut kinerja perseroan tetap menunjukkan ketahanan. Permodalan dinilai masih kuat, kualitas aset terjaga, dan pertumbuhan kredit tetap berlangsung di berbagai segmen bisnis.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai aksi buyback berpotensi memberikan sentimen positif bagi sektor perbankan. Menurut dia, langkah tersebut mengirim pesan kepada pasar bahwa manajemen melihat harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental perusahaan.

“Pesan ini penting karena saham bank besar sering menjadi acuan bagi investor untuk membaca kesehatan sektor keuangan. Jika pasar melihat BNI berani melakukan buyback di tengah tekanan global, itu memberi sinyal bahwa industri perbankan nasional masih kuat,” kata Syafruddin.

Ia menilai efek langsung dari buyback biasanya terlihat pada berkurangnya tekanan jual di pasar. Kepercayaan investor institusional juga berpotensi meningkat sehingga membuka peluang perbaikan valuasi saham.

Selain itu, stabilitas saham bank besar dinilai turut menopang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal ini karena sektor perbankan memiliki bobot besar dalam indeks pasar saham domestik.

“Kalau saham bank besar lebih stabil, IHSG juga mendapat penopang. Pasar akan melihat bahwa sektor perbankan Indonesia masih memiliki daya tahan,” ujarnya.

Menurut Syafruddin, langkah buyback juga dapat membantu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Bank, kata dia, pada dasarnya menjual rasa aman kepada nasabah sehingga sinyal stabilitas menjadi faktor penting.

Ia menambahkan, pengaruh terhadap persepsi publik memang tidak terjadi secara instan. Namun jika langkah tersebut didukung komunikasi yang terbuka serta kinerja keuangan yang tetap sehat, kepercayaan publik terhadap perbankan dapat semakin kuat.

“Buyback memang bukan satu-satunya faktor. Tapi jika dilakukan dari posisi fundamental yang kuat, itu bisa memperkuat keyakinan bahwa perbankan nasional masih solid di tengah gejolak pasar,” kata Syafruddin.