
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai telah memasuki area valuasi murah secara historis usai menghadapi tekanan beruntun dari sentimen global dan rebalancingindeks MSCI.
Indonesia’s Head of Research DBS Group, William Simadiputra, menyatakan bahwa kinerja keuangan emiten pada kuartal II/2026 kini diproyeksikan menjadi katalis utama untuk memicu pembalikan arah indeks.
Menurutnya, rendahnya valuasi pasar saat ini mencerminkan kekhawatiran investor yang mungkin terlalu berlebihan terhadap dampak konflik Iran dan tekanan makro. Di samping itu, dia menilai bahwa potensi kejutan positif justru terbuka lebar jika emiten mampu menunjukkan resiliensi.
: MSCI Hapus Sejumlah Saham RI, BEI: Ketidakpastian Pasar Berkurang
“Jika kinerja perusahaan di kuartal II/2026 ternyata lebih baik atau mampu menavigasi tekanan makro, hal itu akan mematahkan kekhawatiran investor dan memberikan katalis positif bagi IHSG,” ujar William, Rabu (13/5/2026).
William optimistis perusahaan-perusahaan di Bursa Efek Indonesia mampu menavigasi volatilitas makro setidaknya hingga pertengahan tahun ini.
: : OJK Bicara Potensi Pasar Modal RI Turun ke Frontier Market Selepas Rebalancing MSCI
Optimisme tersebut setidaknya didorong oleh dua faktor teknis operasional. Pertama, jumlah hari kerja pada kuartal II/2026 yang lebih panjang dinilai memberikan ruang bagi emiten untuk menggenjot produktivitas.
Kedua, kata William, sejumlah korporasi telah berhasil mengamankan stok bahan baku atau raw materials dengan harga yang relatif lebih rendah dibandingkan lonjakan harga komoditas global saat ini. Hal ini diprediksi bakal menjaga margin laba bersih emiten tetap solid di tengah fluktuasi pasar.
: : MSCI Picu Tekanan Pasar, OJK Sebut Saham RI Tetap Atraktif
Sebagai gambaran, dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, mayoritas emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 masih membukukan pertumbuhan laba positif pada kuartal I/2026 di tengah tekanan global.
Kondisi tersebut setidaknya menunjukkan bahwa fundamental sejumlah emiten big caps domestik relatif tetap resilien, ditopang efisiensi operasional, stabilnya permintaan domestik, hingga momentum harga komoditas.
Sejumlah emiten bahkan mencatatkan lonjakan laba signifikan. PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), misalnya, meraih pertumbuhan laba 669,9% secara tahunan (year on year/YoY), sementara PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 450,9% YoY dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) tumbuh 282,3% YoY.
Sektor perbankan juga menunjukkan daya tahan yang kuat. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatat pertumbuhan laba bersih 13,3% YoY, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) tumbuh 16,6% YoY.
Sementara itu, emiten berbasis komoditas seperti PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) tetap mencatatkan kinerja solid di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.