Periode “Drawndown” IHSG dari Peristiwa Dot-com Bust 2000 hingga Perang AS-Iran 2026

Ussindonesia.co.id JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak 2000 telah melalui beberapa kali periode drawndown, alias koreksi tajam indeks komposit dari titik tertingginya (all time high) ke level bottom sebelum rebound.

Berdasarkan data Bloomberg yang dihimpun Stockbit Sekuritas, fenomena drawndown IHSG tahun ini dipicu tiga sentimen yang terjadi beruntun, dimulai dari pengumuman pembekuan sementara indeks saham Indonesia oleh MSCI di awal 2026, perang AS-Iran yang masih panas hingga sekarang, serta faktor meningkatnya risiko fiskal Indonesia yang menjadi sorotan lembaga pemeringkat global.

Hasilnya, IHSG yang menyentuh ATH di level 9.135 pada 20 Januari 2026 terpangkas 23,1% ke posisi 7.022 pada perdagangan 16 Maret 2026. Tekanan ini masih berlangsung, bahkan indeks komposit pada perdagangan Senin (30/3) bergerak di bawah level psikologis 7.000.

“Penurunan dari peak ke bottom (drawdown) sebesar 23% pada episode kali ini berada di kisaran yang sama dengan episode Taper Tantrum 2013 (-24%), China Scare 2015 (-25%), dan selloff Liberation Day 2025 (-25%). Jika pola yang sama terjadi, hal ini mengindikasikan bahwa IHSG sudah berada atau mendekati area bottom,” tulis Stockbit , dikutip Senin (30/3/2026).

: Analis Ungkap Biang Kerok IHSG Jatuh ke Bawah Level Psikologis 7.000

Secara historis, penurunan lanjutan IHSG dari puncak tertinggi lebih dari 24%-25% hanya terjadi pada peristiwa Dot–com Bust di awal 2000 (-52%), Global Financial Crisis 2008 (-61%), dan pandemi COVID-19 pada 2020 (-38%). Sekuritas melihat ketiganya merupakan krisis yang berskala jauh lebih besar dibanding apa yang terjadi di 2026 ini.

Berikut adalah peristiwa drawndown IHSG yang terjadi sejak 2000 hingga saat ini 2026: 1. Dot-com Bust 2000

Peristiwa ini menggambarkan adanya fenomena gelembung saham teknologi di akhir 1990-an yang pecah setelah pelaku pasar meninggalkan perusahaan internet karena tidak didukung fundamental yang kuat. Saat itu, banyak perusahaan dot-com belum menghasilkan laba, namun dihargai sangat tinggi oleh pasar.

Saat gelembung pecah, indeks utama Wall Street seperti NASDAQ Composite bahkan jatuh secara drastis. Investor mengalami kerugian besar, banyak perusahaan bangkrut, dan kepercayaan terhadap sektor teknologi sempat runtuh. 

Di Indonesia sendiri dampaknya terasa di periode 2000. Saat itu IHSG yang telah menyentuh ATH di level 704 lengser ke posisi 338. Data menunjukkan bahwa tren penurunan IHSG dari peak ke level bottom berlangsung selama 2,7 tahun, dan pasar membutuhkan waktu 3,2 tahun untuk pemulihan.

2. Global Financial Crisis 2008

Krisis global pada 2008 ini dipicu oleh runtuhnya pasar subprime mortgage di AS, yang kemudian menjalar ke sistem keuangan global. Kebangkrutan Lehmann Brothers pada September 2008 menjadi titik kulminasi yang memperparah kepanikan pasar.

Imbasnya pasar modal global mengalami kejatuhan ekstrem. Di Indonesia, IHSG yang saat itu sempat menyentuh ATH di 2.830 pada Januari 2008, terpangkas 60,7% dalam sembilan bulan ke posisi 1.111 di Oktober 2008. Pasar saham Indonesia kala itu membutuhkan waktu 2,2 tahun untuk pemulihan.

3. Taper Tantrum 2013

Peristiwa Taper Tantrum 2013 terjadi saat Ketua Federal Reserve saat itu, Ben Bernanke memberi sinyal akan mengurangi program stimulus atau quantitative easing pasca krisis 2008. Sinyal tersebut memicu kepanikan global karena pasar bergantung pada likuiditas murah dari AS. Investor khawatir pengetatan akan menaikkan suku bunga dan menekan valuasi aset.

Di pasar modal, terjadi aksi jual besar-besaran terutama di negara berkembang. Imbal hasil obligasi AS melonjak, sementara saham dan mata uang emerging markets, termasuk Indonesia, tertekan tajam. 

Data Bloomberg mencatat bahwa saat itu IHSG pasca menyentuh level ATH-nya di 5.215,  mengalami koreksi 23,9% ke posisi 3.968 dalam rentang 3 bulan. Pasar kemudian membutuhkan waktu 1,3 tahun untuk pemulihan.

4. China Scare 2015

Fenomena China Scare ditandai dengan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China yang memuncak pada 2015. Kondisi ini diperparah oleh devaluasi yuan oleh Bank Sentral China. Data ekonomi yang melemah memicu kekhawatiran bahwa pertumbuhan global akan ikut terdampak, mengingat China adalah salah satu motor utama ekonomi dunia.

Pasar saham global mengalami koreksi tajam, dengan volatilitas tinggi terutama di Asia. Di Indonesia, IHSG yang sempat menyentuh evel ATH 5.215 di bulan April terpangkas 25,4% ke 4.121 di bulan September. Penurunan level tertinggi indeks komposit ke level bottom terjadi selama 5 bulan dan pasar membutuhkan waktu 1,9 tahun untuk pemulihan.

5. Pandemi Covid-19 2020

Wabah virus Covid-19 pada 2020 melumpuhkan ekonomi global, dan dampaknya tak terkecuali dirasakan di pasar modal Indonesia. Saat itu IHSG yang sempat menyentuh ATH 6.325 dalam dua bulan ambles 24,5% ke level bottom-nya di 3.938. Sekuritas mencatat pasar membutuhkan waktu 0,8 tahun untuk pemulihan.

6. Liberation Day Tarrif 2025

Perjalanan pasar modal pada awal 2025 diwarnai oleh dinamika kebijakan Donald Trump yang mengumumkan tarif besar-besaran bagi negara mitra dagang AS. Kebijakan ini dijuluki Liberation Day atau Hari Pembebasan.

Kondisi tersebut menekan pasar modal Tanah Air. IHSG yang sempat berada di level ATH 7.905 pada September 2024, lengser 24,5% ke level bottom-nya di 5.968 pada April 2025. Drawndrwon IHSG kala itu berlangsung selama 7 bulan dan pasar membutuhkan waktu 4 bulan untuk pemulihan.