
Ussindonesia.co.id JAKARTA — Indeks Bisnis-27 bergerak ke zona merah pada awal perdagangan hari ini, Jumat (23/1/2026), dibebani oleh penurunan harga saham ADRO, BBCA, hingga ASII.
Mengutip data dari IDX Mobile, indeks kerja sama BEI dengan Harian Bisnis Indonesia ini dibuka menghijau ke posisi 565. Namun, Indeks Bisnis-27 bergerak ke zona merah dengan penurunan 4,01 poin atau 0,71% ke posisi 559 hingga pukul 09.30 WIB.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan, menjadi penekan utama pelemahan indeks.
Saham konstituen yang bergerak melemah adalah saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) juga turun 0,85% ke level Rp2.330, saham PT Astra International Tbk. (ASII) turun 0,74% ke level Rp6.725, dan saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) melemah 0,65% ke level Rp7.600 per saham.
Berikutnya ada saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) jeblok 4% ke level Rp2.640, saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) melemah 2,03% ke level Rp1.205, dan saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) turun 1,97% ke level Rp1.490 per saham.
Sebaliknya sejumlah saham konstituen yang bergerak menguat adalah PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) naik 1,66% ke level RP4.290, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) naik 0,77% keposisi Rp6.575, dan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) naik tipis 0,37% ke level Rp6.775 per saham.
: Rupiah Dibuka Perkasa Sentuh Rp16.896 per Dolar AS, Sentimen Global Tekan Greenback
Di sisi lain, IHSG dibuka menguat 0,09% ke posisi 9.000,64. Dari ratusan konstituen, sebanyak 268 saham menguat, 223 melemah, dan 467 saham stagnan. Namun, IHSG bergerak ke zona merah.
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan IHSG melemah 2 hari beruntun dan ditutup di level 8.992,2, pertama kalinya kembali di bawah 9.000 sejak pertengahan pekan lalu.
Tekanan jual investor asing masih berlanjut dengan net foreign outflow 2 hari mencapai sekitar Rp3,2 triliun atau sekitar US$190 juta. Asing terutama melepas saham perbankan besar, seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan BBRI. Saham BBCA tercatat membukukan outflow terbesar Rp2,6 triliun.
“Sentimen pasar masih didominasi kekhawatiran terhadap isu independensi Bank Indonesia yang dinilai dapat menambah ketidakpastian dan meningkatkan premi risiko aset Indonesia,” tulisnya.
Dalam kondisi ini, Rully melihat sektor komoditas—seperti batu bara, nikel, dan emas—serta emiten berorientasi ekspor berpotensi menjadi penopang kinerja IHSGke depan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.