Proyeksi BI rate di RDG Februari 2026, ekonom yakin Bank Indonesia tahan suku bunga 4,75%

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Mayoritas ekonom meyakini bahwa Bank Indonesia akan tetap menahan suku bunga kebijakan alias BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026.

Rapat para Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) berlangsung dua hari, dan pengumuman hasil RDG Februari 2026 akan disampaikan hari ini, Kamis (19/2/2026).

Suku bunga BI Rate tidak berubah sejak September 2025 alias masih berada di level 4,75%. Kini, terdapat kemungkinan BI Rate tetap ada di level yang sama, berdasarkan proyeksi mayoritas ekonom.

: Ramalan Pejabat The Fed: Lonjakan Produktivitas AI Dorong Kenaikan Suku Bunga

Berdasarkan proyeksi para ekonom yang dihimpun oleh Bloomberg, konsensus menunjukkan bahwa Bank Indonesia akan menahan BI Rate 4,75% pada Februari 2026. Sebanyak 22 dari 23 ekonom meyakini suku bunga acuan akan tetap 4,75%, hanya satu yang memproyeksikan BI Rate turun.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memperkirakan BI akan tetap mempertahankan suku bunga di level 4,75% pada RDG Februari 2026 sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya risiko pasar keuangan.

Josua menyoroti sejumlah tekanan yang saat ini membayangi pasar domestik, mulai dari peringatan MSCI mengenai isu free float hingga revisi lembaga pemeringkat Moody’s terhadap prospek utang negara Indonesia, dari stabil menjadi negatif.

“Kondisi ini berpotensi menyebabkan kenaikan premi risiko dan volatilitas aliran modal yang cenderung meningkat,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).

Dalam konteks tersebut, Josua menilai BI akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan menjaga kepercayaan investor ketimbang melakukan pelonggaran moneter dalam jangka pendek.

“Sehingga ruang untuk pemotongan suku bunga kebijakan tetap terbatas, setidaknya hingga tekanan eksternal mereda dan sentimen pasar membaik,” ujar Josua.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual juga meyakini bahwa bank sentral belum akan melakukan pelonggaran moneter pada bulan ini. Menurutnya, keputusan untuk menahan BI Rate didorong oleh masih terjadinya net outflow atau aliran modal asing keluar pada instrumen aset keuangan Tanah Air.

“Inflasi juga sedikit naik pada Januari. Kuartal I/2026 ini, BI dan The Fed perkiraan saya masih akan menahan [suku bunga],” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).

Meski demikian, David melihat adanya peluang penurunan suku bunga ke depannya. Kemungkinan risiko dari dampak perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan turunnya harga aset dinilai bisa mendorong pemangkasan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat fenomena kontradiktif pada indeks harga konsumen (IHK) Januari 2026. Terjadi deflasi secara bulanan, tetapi terdapat inflasi yang tinggi secara tahunan.

BPS melaporkan bahwa secara bulanan terjadi deflasi sebesar 0,15% (month to month/MtM) pada Januari 2026. Sementara itu, inflasi tahunan pada Januari 2026 menembus level 3,55% (year on year/YoY).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa tingginya angka inflasi tahunan tersebut utamanya disebabkan oleh low base effect alias efek basis rendah.

Dia mengingatkan bahwa pada Januari dan Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik. Kebijakan tersebut menekan IHK pada periode itu sehingga level harga berada di bawah tren normalnya.

“Ketika dilakukan perhitungan inflasi year on year, maka basis pembandingnya [Januari 2025] relatif rendah akibat adanya diskon listrik. Ini yang mendorong inflasi tahunan tampak tinggi pada Januari 2026,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/2/2026).

Di sisi lain, Ateng mengungkapkan bahwa deflasi bulanan sebesar 0,15% pada Januari 2026 dipicu oleh penurunan harga pada kelompok pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kelompok ini mencatatkan deflasi sebesar 1,03% dan memberikan andil deflasi paling besar, yakni 0,30%.

Suku Bunga The Fed saat Ekonomi Global Ketat

Dalam proyeksi yang dirilis pada Desember, pejabat The Fed memperkirakan hanya akan ada satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026 berdasarkan estimasi median. Kendati demikian, pelaku pasar masih mengantisipasi dua kali penurunan suku bunga tahun ini.

The Fed telah memangkas suku bunga sebesar 1,75% dalam satu setengah tahun terakhir, setelah menaikkan suku bunga lebih dari 5% sepanjang 2022 dan 2023.

Saat ini, suku bunga The Fed berada pada kisaran 3,5%—3,75%. Sejumlah pejabat menilai level tersebut mendekati tingkat netral bagi perekonomian, sehingga menjadi alasan untuk memperlambat atau menghentikan pelonggaran kebijakan moneter.

Sejumlah pejabat, termasuk mereka yang berada di lingkar dekat Ketua The Fed Jerome Powell, menilai level suku bunga saat ini yang berada di kisaran 3,5% hingga 3,75% setelah tiga kali pemangkasan beruntun sudah memadai untuk menopang pasar tenaga kerja tanpa mengorbankan target penurunan inflasi.

“Level suku bunga sekarang pada dasarnya sudah berada di kisaran netral,” ujar ekonom senior AS di Vanguard Group, Josh Hirt, seperti dilansir Bloomberg.

Dia merujuk pada titik ketika kebijakan moneter tidak lagi menahan maupun mendorong pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat The Fed cenderung bersikap lebih berhati-hati dan mengurangi urgensi pemangkasan lanjutan dalam waktu dekat.