Indeks Bisnis-27 masukkan 8 saham baru, siap melaju lebih kencang!

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Performa Indeks Bisnis-27 diperkirakan melaju lebih kencang setelah melakukan rebalancing untuk periode 4 Mei 2026–30 Oktober 2026 dengan masuknya 8 saham konstituen baru.

Masuknya delapan emiten baru tersebut ke dalam Indeks Bisnis-27 dinilai membawa angin segar bagi kualitas indeks sekaligus peluang bagi investor.

Tercatat delapan emiten yang baru masuk ke dalam Indeks Bisnis-27, yaitu PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG), PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA), PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS). 

: Indeks Bisnis-27 Ditutup Melemah, Saham JPFA, UNTR, hingga ASII Tumbang

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah Budiman, menilai setiap rebalancing akan mendorong pergerakan dana masuk atau inflow dan keluar atau outflow pada saham-saham terkait.

“Dampak rebalancing Indeks Bisnis-27 menciptakan rotasi yang bisa dimanfaatkan investor,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

: : Rebalancing Indeks Bisnis-27, 8 Emiten Masuk Konstituen Baru, Ada AKRA hingga DEWA

Sejumlah saham yang dinilainya menarik dari hasil rebalancing kali ini adalah PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG). Emiten perkebunan tersebut disebut berpotensi mendapat katalis positif dari dinamika geopolitik global yang berdampak pada peningkatan permintaan energi alternatif.

Menurutnya, implementasi program biodiesel B50 menjadi faktor kunci yang mendorong kenaikan permintaan, sehingga membuka peluang pertumbuhan kinerja bagi perusahaan berbasis kelapa sawit tersebut.

: : Indeks Bisnis-27 Menghijau di Awal Pekan, Ditopang Saham BRPT, INCO, BUMI

Selain TAPG, lanjutya, saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) juga masuk menarik dicermati perusahaan jasa pertambangan ini tengah melakukan ekspansi agresif yang berpotensi memperbaiki margin keuntungan ke depan.

Tak hanya itu, prospek anak usahanya di sektor komoditas emas yakni Gayo Mineral Resources turut menjadi daya tarik tersendiri. Dengan tren harga emas yang masih kuat, valuasi anak usaha tersebut dinilai berpotensi meningkat dan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja grup secara keseluruhan.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto menilai masuknya emiten baru dalam daftar kocok ulang indeks Bisnis-27 tidak hanya mencerminkan seleksi yang semakin ketat, tetapi juga memperkuat daya tarik indeks sebagai acuan investasi.

“Pada dasarnya dari daftar emiten baru tersebut, kami mencermati kinerja fundamental yang relatif solid dan aktivitas perdagangan yang memadai,” jelasnya.

Menurutnya kehadiran konstituen baru dalam indeks Bisnis-27 berpotensi memperkuat profil pertumbuhan laba agregat serta memberi tambahan diversifikasi sektor bagi investor yang menggunakan indeks ini sebagai acuan.

“Kami menilai saham BRMS dan DEWA yang masih memiliki story menarik daan dari sektor komoditas ,” ujarnya.

Dalam daftar terbaru, konstituen Indeks Bisnis-27 didominasi oleh emiten dari sektor energi, sektor barang baku, sektor barang konsumen primer, dan sektor keuangan. Sektor-sektor tersebut dinilai potensial di tengah gejolak pasar saham yang dipengaruhi oleh sentimen geopolitik perang di Timur Tengah, ketidakpastian ekonomi global, risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi, serta reformasi pasar modal Indonesia dan implementasi kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Sektor-sektor yang memiliki prospek jangka panjang adalah telekomunikasi dan jasa kesehatan. sementara sektor-sektor resillient yaitu sektor yangrelatif tidak sensitif akibat fluktuasi ekonomi, yakni makanan danminuman, utilities (listrik, air dan gas),dan pemerintahan.

Sektor-sektor lainnya yang berfluktuasi mengikuti perkembangan ekonomi global dan nasional yakni komoditas, sektor berorientasi pasar ekspor, dan sektor yang berorientasi pasar domestik.

Chief Economist Bank Mandiri & Anggota Indeks Bisnis-27 Andry Asmoro  menilai secara sektoral kinerja sektor ritel, properti, konstruksi, dan transportasi diproyeksikan menguat, yang ditopang oleh pulihnyakonsumsi, insentif pemerintah, dan meningkatnya mobilitas.

Permintaan otomotif mungkin akan tetap relatifstagnan akibat lemahnya daya beli kelas menengah. Pada komoditas, harga batu bara diperkirakan tetapbergejolak di tengah risiko geopolitik, sementara ekspor CPO mungkin menghadapi tekanan daristagnasi produksi dan melemahnya permintaan global.

Sebaliknya sejumlah risiko yang perlu diawspadai adalah risiko akibat kelanjutan perang tarif antara ASdengan China dan negara-negara di duniatermasuk Indonesia, yang dapat berdampak padapelemahan ekonomi global, penurunan ekspordan harga komoditas seperti, CPO, batu bara,nikel dan minyak. Situasi Geopolitik yang semakin tidak menentu yang dapat meningkatkan tekanan biaya energi dan logistik serta risiko akibat transmisi kebijakan moneter yang lambat.

Anggota Komite Indeks Bisnis 27 Maria Y. Benyamin mengatakan pendekatan seleksi konstituen kini semakin diperketat dengan menitikberatkan pada kualitas fundamental dan tata kelola perusahaan.

Maria menjelaskan Indeks Bisnis 2027 memiliki pembeda utama dibandingkan indeks lainnya di pasar. Indeks ini tidak sekadar mengandalkan kapitalisasi pasar, komite juga menilai konsistensi kinerja serta kualitas manajemen perusahaan secara menyeluruh.

“Integritas konstituen menjadi prinsip utama kami. Setiap emiten yang masuk dalam indeks ini harus memenuhi standar ketat, mulai dari kesehatan finansial hingga tata kelola perusahaan yang baik,” katanya.

Berdasarkan DataIndonesia, setelah rebalancing dan menyesuaikan dengan kebijakan terbaru BEI, Indeks Bisnis-27 memiliki tingkat median rasio free float sebesar 40,22%. DEWA dan BMRS masing-masing memiliki rasio terbesar sebesar 70,23% dan 54,59%.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.