
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Emiten pelayaran penunjang industri minyak dan gas (migas), PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), bersiap melakukan aksi korporasi melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Rencana rights issue tersebut telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPSTLB) yang digelar pada Senin (9/3).
Direktur Utama PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk, Eka Taniputra, menyampaikan bahwa dalam aksi korporasi tersebut perseroan akan menerbitkan sebanyak 2.112.420.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham.
Bakal Rights Issue 2,11 Miliar Saham, Begini Prospek Saham Ekalya (ELPI)
“Harga pelaksanaan rights issue akan ditentukan setelah perseroan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan,” ujar Eka.
Dalam skema rights issue ini, pemegang saham pendiri tidak akan mengambil bagian atas haknya. Hak tersebut akan dialihkan kepada GMT Kapital Asia dan/atau pihak lain yang berminat.
Perseroan juga memastikan bahwa porsi kepemilikan publik tetap dipertahankan sebesar 15%. Apabila seluruh saham yang ditawarkan tidak terserap pasar, perusahaan telah menyiapkan pembeli siaga (standby buyer).
Dana yang diperoleh dari aksi korporasi ini rencananya akan digunakan untuk mendukung likuiditas umum, belanja modal (capital expenditure/capex), serta modal kerja perseroan.
Anggarkan Capex Rp1,5 Triliun untuk Ekspansi
Sejalan dengan strategi ekspansi, ELPI mengalokasikan belanja modal sekitar Rp1,5 triliun pada tahun 2026. Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp1 triliun akan digunakan untuk diversifikasi bisnis di sektor Engineering, Procurement, Construction and Installation (EPCI) serta subsea.
Pelayaran Nasional (ELPI) Siap Right Issue 2,11 Miliar Saham, Ini Tujuannya
Sementara itu, sekitar Rp500 miliar lainnya akan dialokasikan untuk pengadaan lima unit kapal Offshore Support Vessel (OSV) guna memperkuat armada operasional perusahaan.
Eka menjelaskan bahwa kedua rencana diversifikasi tersebut saat ini masih berada dalam tahap penjajakan dan finalisasi. Perseroan berharap langkah ekspansi ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan kinerja perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Dividen ELPI Terus Meningkat
Selain menyetujui rencana rights issue, rapat pemegang saham juga menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp126 miliar atau setara Rp17 per saham kepada pemegang saham.
Nilai dividen tersebut mencerminkan sekitar 59,07% dari laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Pembagian dividen ELPI tercatat mengalami tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, perseroan membagikan dividen sebesar Rp46,69 miliar. Kemudian pada 2024, nilainya meningkat menjadi Rp100,06 miliar atau setara Rp13,50 per saham.
Kantongi Kontrak FLNG Rp2,39 Triliun
Di sisi operasional, ELPI juga berhasil mengamankan kontrak proyek Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) senilai sekitar Rp2,39 triliun dengan durasi kerja sama mencapai 18 tahun.
ELPI Chart by TradingView
Kontrak tersebut dijalankan melalui kerja sama antara PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk dan PT Layar Nusantara Gas yang merupakan entitas anak dari Genting Oil and Gas.
Proyek tersebut akan melibatkan enam kapal baru dan diperkirakan dapat memberikan tambahan pendapatan sekitar Rp150 miliar hingga Rp160 miliar per tahun bagi ELPI.
Seiring dengan ekspansi armada dan proyek baru tersebut, perseroan menargetkan pendapatan pada 2026 dapat mencapai sekitar Rp1,1 triliun hingga Rp1,3 triliun. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi pendapatan pada 2025 yang berada di kisaran Rp1 triliun hingga Rp1,01 triliun.
“Jadi ini bisa terjadi apabila memang rencana penambahan kapal itu bisa kita selesaikan atau kami eksekusi on time. Dan kami cukup confident bahwa target Rp1,1 triliun sampai Rp1,3 triliun ini bisa kami capai di tahun 2026,” ujar Eka.