Dana asing keluar dari bank besar, saham energi BUMI, DEWA cs justru bersinar

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Aksi jual bersih investor asing yang menekan saham bank berkapitalisasi besar justru diiringi lonjakan saham energi seperti BUMI dan DEWA, mengindikasikan rotasi dana sektoral di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

IHSG ditutup melemah 0,64% ke level 8.212,27 pada Jumat (13/2/2026), memperpanjang pelemahan secara year to date (YTD) menjadi minus 5,03%. Tekanan indeks terutama berasal dari saham perbankan besar dan emiten berkapitalisasi jumbo lainnya pada akhir pekan lalu.

Di tengah pelemahan indeks komposit, saham energi justru menunjukkan performa kontras. Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) melesat 8,15% dan menjadi salah satu top leaders penopang indeks, sekaligus mencatat volume transaksi terbesar mencapai 11,31 miliar saham atau sekitar 24,56% dari total volume perdagangan bursa pekan lalu.

: Pasar Modal Masuk Fase Konsolidasi, Dana Asing Diproyeksi Kembali pada Semester II

Penguatan juga terjadi pada PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) yang naik 9,64%, sementara saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) melonjak 9,73%. Ketiganya masuk daftar saham dengan kontribusi positif terbesar terhadap pergerakan IHSG.

Secara sektoral, indeks energi ditutup di zona hijau dengan kenaikan 1,32%, berbanding terbalik dengan sektor keuangan yang turun 0,68% dan menjadi pemberat utama IHSG.

: : Asing Masih Net Sell, BBCA hingga BUMI Paling Banyak Dijual

Tekanan sektor finansial terlihat dari pelemahan saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang turun 1,71% dan menjadi salah satu top laggards indeks. Sentimen negatif juga merembet ke saham bank besar lain seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang bergerak terbatas.

Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp24,33 triliun dengan frekuensi 2,78 juta kali. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp2,02 triliun.

: : IHSG Berpeluang Menguat ke 8.300, Sentimen The Fed dan Perjanjian Dagang RI-AS Jadi Katalis

Secara akumulatif sepanjang 2026, investor global telah mencatatkan jual bersih Rp16,48 triliun, memperkuat indikasi perpindahan dana dari saham big caps ke sektor yang lebih volatil namun berpotensi memberikan return jangka pendek.

Outlook IHSG Masih Konsolidatif

Di tengah dinamika rotasi sektor tersebut, IHSG diperkirakan bergerak terkonsolidasi usai libur Imlek 2026. Pergerakan pasar sepekan ke depan diproyeksikan dipengaruhi sentimen rilis laporan keuangan tahun buku 2025 serta data makro ekonomi domestik.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah menjelaskan dalam sepekan terakhir IHSG menguat 3,49% yang menjadi sinyal awal pemulihan setelah sebelumnya terdampak isu penyesuaian indeks Morgan Stanley Capital International, meskipun tekanan eksternal masih membayangi.

“Pasar domestik diproyeksikan bergerak penuh dinamika, dengan fokus utama pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI) pada 19 Februari, yang menjadi sentimen kunci penggerak pasar,” kata Hari, Selasa (17/2/2026).

Ia menjelaskan ekspektasi stabilisasi suku bunga acuan, sekaligus sinyal arah kebijakan moneter ke depan, akan sangat memengaruhi profil risiko aset lokal. Pada saat yang sama, data pertumbuhan kredit perbankan yang menunjukkan ekspansi sehat mencerminkan perbaikan permintaan di sektor riil.

Kondisi tersebut dinilai menjadi katalis positif bagi sentimen pasar, terutama bagi saham sektor keuangan yang memiliki bobot besar terhadap indeks.

Selain itu, progres reformasi di Bursa Efek Indonesia terkait peningkatan transparansi dan tata kelola pasar memberi harapan jangka menengah bagi daya tarik pasar modal nasional, khususnya untuk kembali menarik partisipasi investor asing.

Memasuki fase akhir Februari, investor disarankan mencermati rilis data inflasi domestik, pembaruan neraca perdagangan, serta performa korporasi melalui laporan keuangan kuartal IV/2025.

“Sentimen korporasi dari laporan keuangan emiten kuartal IV/2025 dapat memberikan arahan lanjutan terhadap arah IHSG ke depan,” ujar Hari.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.