Nilai tukar rupiah berbalik menguat, pengamat: BI kirim sinyal positif ke pasar

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan dalam dua hari perdagangan terakhir didorong oleh kombinasi faktor global dan domestik yang saling memperkuat. 

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan dari sisi eksternal dorongan akibat pelemahan dolar AS menambah otot rupiah.

Sementara di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengirimkan sinyal kuat bahwa stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas utama, didukung oleh pemanfaatan cadangan devisa melalui operasi stabilisasi di pasar valas.

: Jadwal dan Peran Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia 2026

Menurutnya pasar membaca kehadiran BI di pasar valas sebagai pesan ganda. Pertama, bank sentral dinilai tetap aktif meredam gejolak berlebihan pada nilai tukar. Kedua, BI dianggap siap menyediakan likuiditas dolar ketika permintaan meningkat, sehingga pelaku pasar tidak perlu berebut valas secara bersamaan. 

“Namun demikian, efek stabilisasi ini akan jauh lebih kuat apabila didukung arus masuk modal asing dan keyakinan bahwa arah kebijakan dijalankan secara konsisten, bukan sekadar upaya menahan kurs sementara,” ujarnya, Senin (26/1/2026).

: : Jadwal Rapat FOMC The Fed 2026, Acuan Pasar Keuangan dan Arah Dolar AS

U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH – TradingView

Sentimen lainnya, kata dia, juga dipengaruhi oleh proses uji kelayakan calon deputi gubernur BI. Bagi pasar, proses ini menjadi indikator penting kesinambungan kebijakan sekaligus ukuran seberapa kuat independensi bank sentral dijaga. 

Terlebih, lanjutnya, BI sebelumnya mengakui bahwa pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor global, tetapi juga kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian kebijakan, termasuk isu fiskal dan perubahan di jajaran pimpinan bank sentral.

: : Perhitungan Pesangon PHK 2026 dan Hak-Hak Pekerja

Oleh karena itu, ketika uji kelayakan berjalan rapi dan para calon menegaskan komitmen pada mandat BI serta independensi kebijakan, premi ketidakpastian cenderung menurun dan rupiah menjadi lebih stabil. 

Selain itu, dalam pemaparannya, Deputi Gubernur BI yang baru terpilih Thomas Djiwandono menekankan bahwa sinergi fiskal moneter tidak menggerus independensi BI, serta memberikan klarifikasi terkait dengan pelepasan keterikatan politik guna menghindari tafsir negatif di pasar. 

Sikap ini dinilai oleh Josua relevan bagi pasar obligasi dan saham, karena stabilitas rupiah dapat menekan kebutuhan kenaikan imbal hasil, menurunkan biaya pendanaan, dan pada akhirnya membantu menarik kembali minat investor asing ke aset domestik.

Dalam jangka pendek, menurutnya rupiah masih berpeluang mendapat dukungan apabila dolar AS melanjutkan tren pelemahan dan arus modal asing masuk. Kondisi itu akan tercermin dari pembelian bersih investor global di pasar obligasi dan saham dalam beberapa hari terakhir. 

Namun, risiko penahan penguatan juga masih membayangi. 

Pasar terus mencermati isu fiskal, termasuk wacana pelonggaran batas defisit 3%, serta ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi kembali mendorong permintaan aset aman dan menekan mata uang negara berkembang.

Selain itu, kemampuan Indonesia menarik arus modal masuk masih dibatasi oleh selisih suku bunga yang relatif ketat, meningkatnya persepsi risiko domestik, serta tekanan musiman. 

Kebutuhan impor menjelang hari besar keagamaan dan fase repatriasi dividen beberapa bulan setelahnya berpotensi meningkatkan permintaan valas. 

Dengan kondisi tersebut, arah rupiah dinilai cenderung stabil hingga menguat tipis tetapi dengan potensi pergerakan bolak-balik yang cepat apabila sentimen global atau isu fiskal memanas.