Rencana pemerintah gunakan BBM dari sampah dikritik, berbahaya bagi kesehatan

Lembaga non-pemerintah Nexus3 Foundation menilai rencana pemerintah untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) harus disertai studi kelayakan. Pasalnya, teknologi pengurai limbah ini tetap menguapkan senyawa kimia yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.

Penasehat Senior Nexus3 Foundation Yuyun Ismawati menjelaskan, teknologi pirolisis ini identik dengan pengolahan sampah plastik. Plastik terbentuk dari bahan fosil (seperti minyak dan gas), dicampur dengan ragam zat kimia. 

“Kimia yang ditambahkan macam-macam, ada PFAS, phthalates, BPA, BPS, flame retardant. Ini yang kalau dilelehkan, itu kan sebetulnya dipanaskan, kimia-kimia ini juga akan menguap,” kata Yuyun, dalam konferensi pers ‘Delusi Mengubah Sampah menjadi Energi Listrik’, pada Kamis (21/5). 

Setiap zat kimia tersebut memiliki efek untuk kesehatan. Misalnya, PFAS atau per- and polyfluoroalkyl dapat mengganggu metabolisme dan sistem kekebalan tubuh, fungsi hati, dan fungsi tiroid. Sementara, phthalates dapat mengurangi kadar testosteron dan estrogen, menghambat kerja hormon tiroid, dan ‘racun’ reproduksi.

Dampak kesehatan ini rentan menyasar pekerja hingga warga yang tinggal di sekitar fasilitas pengolahan tersebut. Yuyun juga menyinggung belum adanya baku mutu untuk pemantauan uap atau emisi dari proses pirolisis di Indonesia. Di samping itu, bahan bakar dari sampah ini juga masih memiliki pekerjaan rumah soal keandalan.

“Ini menghasilkan BBM yang sebetulnya masih ada kandungan campuran kimia adiktif tadi. Sebetulnya tidak akan efektif menjadi bahan bakar,” ujarnya. 

Pada intinya, sebelum program ini dilaksanakan, perlu ada studi kelayakan dan dilanjut Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). 

Selain pengelolaan sampah menjadi listrik, pemerintah berencana membidik produksi BBM dari sampah. Ini sesuai arahan dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang pengelolaan sampah perkotaan menjadi energi terbarukan. 

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan, BBM ini akan memanfaatkan sampah-sampah yang sudah lama tertimbun di tempat pemrosesan akhir (TPA). Sebagai pilot project, pengolahan sampah menjadi BBM akan dilakukan di enam TPA termasuk di Bandung, Bali, dan Bantargebang. 

“Kami mendorong timbunan sampah di TPA diubah menjadi BBM terbarukan melalui teknologi pirolisis,” kata Zulhas, dalam konferensi pers di kantornya, pada Selasa (19/5).

Metode pirolisis adalah pembakaran sampah plastik tanpa oksigen dengan suhu 800°C – 1.000°C untuk menghasilkan bahan bakar cair.  

Zulhas lalu menjelaskan, proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) baru menyelesaikan 22,5 persen sampah di Indonesia. Pengolahan sampah menjadi BBM adalah salah satu cara untuk menangani sisanya. 

Dalam pelaksanaannya, ada beberapa kementerian/lembaga yang terlibat, di antaranya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Badan Riset dan Inovasi Nasional sebagai pengembang teknologi.  

Kemudian, Kementerian Lingkungan Hidup yang bertanggung jawab soal kelayakan lahan, Kementerian Dalam Negeri untuk koordinasi dengan pemerintah daerah, serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk perizinan kegiatan di sektor energi. 

Badan Pengelola Investasi Danantara juga dilibatkan untuk memastikan kelayakan ekonomi proyek. Zulhas juga menyebutkan akan ada campur tangan PT Pindad dan TNI Angkatan Darat dalam proyek ini. 

 “Kok ada TNI, ada ini, ya sampah itu urusan kita semua,” ujar Zulhas.