Saham Perbankan BBCA, BRIS, BBYB Kompak Anjlok Efek Panic Selling Sentimen MSCI

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Saham-saham perbankan kompak melemah tajam pada perdagangan Rabu (28/1/2026) seiring meningkatnya aksi panic selling investor menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perlakuan sementara terhadap pasar modal Indonesia. Hal ini menyebabkan IHSG ambles 7,79% ke level 8.280 pada perdagangan hari ini hingga pukul 11.00 WIB.

Tekanan jual paling terasa pada saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), misalnya, ditutup melemah 4,67% ke level Rp7.150 hingga pukul 11.00 WIB hampir meninggalkan level Rp7.000 per saham. Akibatnya secara year to date (ytd) saham BCA anjlok 11,76%. 

Nasib serupa juga dialami PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI). yang mengalami kontraksi 3,95% atau 190 poin ke Rp4.620 per saham. Saham Bank Mandiri secara year to date (YtD) merosot 9,61%. 

Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) terperosok 2% atau 90 poin ke Rp4.410 per saham, sedangkan secara YtD saham BNI masih mengalami penguatan 0,92%. 

Lalu saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) tergelincir 4,45% atau 180 poin ke Rp3.650 per saham akibat sentimen MSCI. Adapun saham BRI melemah 0,27% YtD. 

Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) pun terkena imbas sentimen panic selling dengan pelemahan mencapai 3,61% atau 45 poin ke level Rp1.200 per saham. Saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) turun 3,59% atau 80 poin ke Rp2.140 per saham.

Di jajaran bank swasta, saham PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) juga ikut terkoreksi 1,65% atau 30 poin ke Rp1.785 per saham pada peerdagangan hari ini hingga pukul 11.00 WIB. Selanjutnya, sahan PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) turun 8,41% atau 36 poin ke Rp390 per saham. 

Pelemahan serupa juga terjadi pada saham bank besar lainnya, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global MSCI.

Aksi jual tersebut dipicu oleh keputusan MSCI yang mengumumkan pembekuan sejumlah perubahan dalam indeks review, termasuk indeks review Februari 2026. 

Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menghentikan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta membekukan perpindahan emiten antar-segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Kebijakan ini dinilai pasar sebagai sinyal negatif terhadap prospek aliran dana asing ke pasar saham domestik, khususnya ke saham-saham berkapitalisasi besar seperti perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung indeks. MSCI menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menekan index turnover dan risiko investabilitas, sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar Indonesia untuk memperbaiki transparansi, terutama terkait struktur kepemilikan saham dan perhitungan free float.

Sentimen negatif kian menguat setelah MSCI menegaskan bahwa apabila perbaikan transparansi yang diperlukan tidak tercapai hingga Mei 2026, lembaga indeks global tersebut akan menilai ulang status aksesibilitas pasar Indonesia. Evaluasi tersebut berpotensi berujung pada penurunan bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes, bahkan membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier.

Sebelumnya, MSCI juga mencatat adanya kekhawatiran investor global terhadap rendahnya transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu proses pembentukan harga wajar di pasar.

Merespons kondisi tersebut, MSCI menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar Indonesia dan berinteraksi dengan otoritas terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), sebelum menentukan langkah lanjutan.

Tanggapan BEI 

Sekretaris Bursa Efek Indonesia Kautsar Primadi Nurahmad menyatakan bahwa otoritas pasar modal yang meliputi OJK, IDX, dan KSEI akan terus melakukan diskusi intensif dengan pihak MSCI setelah pengumuman tersebut.  

Selain itu, otoritas Bursa juga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan transparansi data emiten guna memenuhi standar global. 

“Kami telah meningkatkan keterbukaan dengan menyampaikan pengumuman data free float di situs web BEI. Namun, jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan,” ucap Kautsar, Rabu (28/1/2026).

Langkah penangguhan oleh MSCI ini menjadi kemunduran terbaru bagi pasar saham Indonesia setelah penyusun indeks tersebut mengidentifikasi adanya masalah mendasar terkait kelayakan investasi. 

“[Masih ada] masalah mendasar terkait kelayakan investasi,” tulis MSCI dalam keterangannya, dikutip Bloomberg pada Rabu (28/1/2026). MSCI juga menyebut masih ada kekhawatiran terhadap upaya terkoordinasi untuk mendistorsi harga untuk saham-saham asal Indonesia.  

Jika Indonesia gagal menunjukkan kemajuan transparansi hingga Mei mendatang, MSCI akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar yang berisiko menurunkan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index. 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.