BI: Jumlah merchant QRIS di Malang tembus 946.000 pada 2025

Ussindonesia.co.id  MALANG — Jumlah merchant QRIS di wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Malang mencapai 946.000 dengan volume transaksi lebih dari 157 juta kali sepanjang 2025.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, mengatakan kinerja ini turut memberikan kontribusi terhadap pencapaian target nasional QRIS pada 2025. 

“Saya selalu mengatakan kalau di fora-fora internasional orang mengatakan digitalisasi itu milik kalangan menengah atas. Saya mengatakan tidak di Indonesia. Di Indonesia QRIS digitalisasi dimulai dari masyarakat subsistence.Kita lihat kita punya kartu prakerja, kartu belajar, yang lain-lain,” katanya pada Pengukuhan Kepala Perwakilan BI Malang, Indra Kuspriyadi, di Malang, Rabu (11/2/2026).

: Masyarakat Doyan Belanja, Transaksi QRIS Sumsel Tembus Rp3,4 Triliun pada 2025

Dia menegaskan, pemanfaatan QRIS ini akan berdampak mengurangi penggunaan uang fisik dan juga mendukung pemegangan UMKM. 

“ Tadi saya bergembira karena tadi saya berkesempatan jalan-jalan ke Kayu Tangan  dan ternyata di situ QRIS-nya banyak. Semua memakai QRIS.  Dan mereka mengatakan banyak anak-anak muda dan juga orang tua mulai terbiasa memakai QRIS,” ucapnya.

: : BI Targetkan QRIS Bisa Dipakai di China dan Korsel Sebelum April 2026

Menurutnya, semua orang saat ini sudah terbiasa menggunakan digitalisasi dan pembayaran transfer secara digital. Kemajuan juga terlihat di sisi elektronifikasi daerah. 

“Tadi saya mengatakan transaksi pemerintah daerah, hingga semester 2 tingkat elektronifikasi transaksi pemerintah daerah di wilayah Malang, Pasuruan, Probolinggo telah berada dalam tahap digital. Ini tahap yang tinggi,” ucapnya.

: : WEF 2026: Menkomdigi Ungkap Peran QRIS dan Ekosistem Ekonomi Digital Asean

Dia juga melihat, QRIS juga bisa mendukung elektronifikasi pemerintahan daerah untuk meningkatkan penerimaan asli daerah. Data menunjukkan bahwa penggunaan digitalisasi ini bisa meningkatkan PAD. 

“Kami punya program namanya KATALIS dan  sudah di-blessing oleh Pak Tito Mendagri,” ujarnya.

Ke depan, kata dia, BI akan sharing secara daring dengan seluruh Pemda di Indonesia. 

Pemda-pemda sudah sukses menggunakan digitalisasi, baik untuk retribusi, lalu pajak yang lain-lain, atau juga untuk pariwisata agar bisa saling belajar satu dengan yang lain. “Nanti di akhir tahun kita akan ada field trip,” ujarnya.

Menurutnya, BI  akan mengundang pemda untuk field trip untuk melihat di daerah mana yang sukses menggunakan digitalisasi  untuk meningkatkan penerimaan asli daerah. 

Dalam kesempatan itu, dia mengingatkan peran Bank Indonesia di daerah sebagai strategic advisor untuk membantu dan bersinergi dengan pemerintah daerah, seperti pengendalian harga pangan.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menilai peran BI sangat strategis bagi pemerintah daerah, khususnya dalam menjaga stabilitas ekonomi regional, pengendalian inflasi, serta pengembangan jangka panjang daerah. BI juga penting sebagai katalisator menguatkan ekosistem ekonomi daerah.