
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pasar obligasi global dan domestik masih dibayangi ketidakpastian seiring meningkatnya risiko geopolitik.
Kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari konflik Iran mulai menggeser fokus investor dari risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, dalam risetnya 1 April 2026 mengatakan tekanan terhadap yield US Treasury masih berlanjut. Penurunan ini didorong oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global.
Di dalam negeri pada Selasa (31/3), pada segmen Fixed Rate (FR), pergerakan yield bervariasi di tenor benchmark: FR0109 naik 2,7 bps ke 6,592%, sementara FR0108 turun 2,6 bps ke 6,806%, FR0106 turun 2,4 bps ke 6,934%, dan FR0107 naik tipis 0,4 bps ke 6,881%.
“Hal ini menunjukkan pasar masih bergerak dalam rentang terbatas (range-bound) dengan minat beli yang selektif,” ujar Harry dalam riset yang diterima Kontan, Rabu (1/4/2026).
Sentimen Geopolitik Berpotensi Dorong Kenaikan Yield Obligasi Korporasi
Di segmen SBSN, yield juga bergerak campuran. PBS030 turun tajam 20,1 bps ke 5,532%, PBS040 naik 8,0 bps ke 6,181%, PBS034 turun 7,7 bps ke 6,534%, dan PBS038 turun 2,9 bps ke 6,743%, mencerminkan permintaan yang tidak merata di berbagai tenor.
Lali nilai tukar rupiah juga kembali melemah ke Rp 17.041 per dolar AS pada penutupan Selasa (31/3/2026) dari hari sebelumnya Rp 17.002 per dolar AS.
Pun dicatat kondisi likuiditas membaik dari sisi nilai, namun melemah dari sisi aktivitas.
Volume transaksi SUN meningkat 59,45% menjadi Rp 53,83 triliun (dari sebelumnya Rp 33,76 triliun), sementara frekuensi transaksi turun 22,35% menjadi 3.665 kali dari 4.720 kali.
“Hal ini mengindikasikan dominasi transaksi bernilai besar oleh investor institusi,” bubuhnya.
Lebih lanjut Yield US Treasury tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,32% pada Selasa, mencatat penurunan dua hari berturut-turut, seiring respons pasar terhadap pernyataan dovish dari Jerome Powell.
Ia menyatakan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang di Amerika Serikat tetap terjaga meskipun ketidakpastian meningkat akibat situasi di Timur Tengah.
Selain itu, kebijakan saat ini dinilai masih memberi ruang bagi bank sentral untuk mengevaluasi dampak ekonomi dari konflik Iran. Powell juga menegaskan bahwa bank sentral umumnya mengabaikan tekanan inflasi yang bersifat sementara akibat gangguan pasokan.
Dibayangi Sentimen Geopolitik, Begini Prospek Pasar Obligasi
Investor kini menanti rilis data ekonomi berikutnya, termasuk indeks kepercayaan konsumen Maret dan laporan pembukaan lapangan kerja (JOLTS) Februari sebagai petunjuk arah pasar selanjutnya.
Outlook
Riset Samuel Sekuritas memberikan gambaran, pergerakan campuran pada yield FR dan SBSN menunjukkan pasar masih berada dalam fase konsolidasi, dengan permintaan selektif yang mendorong kinerja pada beberapa seri.
Pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi membatasi penurunan yield lebih lanjut, sehingga menjaga sentimen investor tetap berhati-hati meskipun yield global relatif stabil.
Peningkatan nilai transaksi mencerminkan adanya aliran dana institusi, namun frekuensi yang lebih rendah menunjukkan partisipasi pasar yang belum merata.
“Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan masih bergerak dalam rentang terbatas, dengan fokus pada obligasi benchmark FR yang likuid serta peluang imbal hasil tinggi secara selektif,” lanjut Harry.
Berdasarkan grafik Relative Rotation Graph (RRG), obligasi tenor panjang (di atas 10 tahun) semakin bergerak ke kuadran lagging, yang menunjukkan kinerja relatif lebih lemah dibandingkan benchmark tenor 10 tahun (GIDN10YR).
Sebaliknya, sebagian besar obligasi tenor pendek hingga menengah (2–7 tahun) berada di kuadran leading, mencerminkan kinerja relatif yang lebih kuat.
Namun, beberapa tenor mulai bergerak menuju zona weakening, yang menandakan momentum mulai melambat.
Secara keseluruhan, terlihat adanya rotasi dari obligasi tenor panjang ke tenor pendek dan menengah, yang saat ini masih mencatatkan kinerja relatif lebih baik meskipun mulai ada tanda pelemahan momentum.
Mempertimbangkan dinamika saat ini, Samuel Sekuritas pun memberikan rekomendasi investor untuk mencermasi obligasi berikut.
INDOGB: FR99, FR91, FR78, FR64, FR47
INDOIS: PBS30, PBS23, PBS18
Yield Naik Terbatas, Return Obligasi Tetap Positif, Ini Pendorongnya