IHSG diproyeksi masih rawan terkoreksi pada Rabu (25/2), ini rekomendasi analis

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup melemah pada perdagangan Selasa (24/2/2026). IHSG terkoreksi 1,37% ke level 8.281,66, seiring meningkatnya tekanan jual di sejumlah sektor dan dominasi sentimen global yang kurang kondusif.

Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pelemahan IHSG terjadi akibat tekanan pada beberapa sektor utama, terutama energi, konsumer siklikal, dan infrastruktur. Selain itu, saham-saham konglomerasi juga turut membebani pergerakan indeks pada perdagangan terbaru.

“IHSG ditutup terkoreksi dan disertai tekanan jual yang relatif besar dibandingkan periode sebelumnya. Beberapa sektor seperti energi, konsumer siklikal, dan infrastruktur menjadi pemberat, ditambah emiten konglomerasi yang turut menekan indeks,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (24/2/2026).

IHSG Anjlok 1,37% ke 8.280 pada Selasa (24/2/2026), BUMI, EMTK, SCMA Top Losers LQ45

Dari sisi sentimen, Herditya melihat meningkatnya ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat serta kembali memanasnya geopolitik di Timur Tengah membuat investor cenderung bersikap lebih berhati-hati.

Untuk perdagangan Rabu (25/2/2026), ia memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi dengan area support di level 8.236 dan resistance di 8.328. “Sentimen global diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan pasar dalam jangka pendek,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mencatat IHSG sempat menguat hingga level 8.437 pada awal sesi sebelum akhirnya berbalik melemah dan ditutup di level 8.280,83 atau turun 1,37%. Pelemahan terbesar berasal dari sektor energi, sementara sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang masih mencatatkan penguatan.

Menurut Alrich, pelemahan IHSG juga diiringi tekanan pada nilai tukar rupiah yang ditutup melemah ke Rp16.829 per dolar AS di pasar spot. Kondisi tersebut sejalan dengan penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian kebijakan tarif serta ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang masih relatif ketat.

Secara teknikal, ia menilai momentum penguatan IHSG mulai melemah. Histogram MACD menunjukkan perlambatan dan Stochastic RSI membentuk death cross di area overbought. Selain itu, IHSG kembali ditutup di bawah level MA5 di kisaran 8.306.

IHSG Ditopang Sentimen Positif Pembatalan Tarif Trump, Ini Sektor yang Bisa Dilirik

“Dengan kondisi tersebut, koreksi IHSG berpotensi berlanjut dan menguji area support di kisaran 8.200 hingga 8.250,” jelasnya.

Dari sisi global, pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda ekonomi penting, mulai dari kebijakan suku bunga China yang kembali dipertahankan, pidato Presiden AS Donald Trump di hadapan Kongres, hingga data kepercayaan konsumen Jerman dan inflasi kawasan Euro yang diperkirakan melandai.

Untuk strategi perdagangan jangka pendek, Herditya merekomendasikan investor mencermati saham ERAA pada kisaran Rp452–Rp464, MBMA di rentang Rp970–Rp1.015, serta RAJA pada area Rp5.250–Rp5.825.

Sementara itu, Alrich merekomendasikan sejumlah saham pilihan yakni BMRI, ADHI, PTPP, BRIS, dan TLKM sebagai top picks untuk perdagangan Rabu (25/2/2026).