
Perwakilan Iran untuk Organisasi Maritim Internasional (IMO), Ali Mousavi, menyatakan Selat Hormuz sebenarnya tetap terbuka bagi seluruh aktivitas pelayaran. Namun, hal itu tidak berlaku bagi kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan pihak yang dianggap sebagai “musuh-musuh” Iran.
Menurut Mousavi, meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz belakangan ini mesti dinilai secara utuh. Sebab, eskalasi tersebut tidak dapat dipisahkan dari aksi Israel dan Amerika Serikat (AS) yang lebih dulu melancarkan agresi militer ke Iran.
“(Serangan Israel dan AS terhadap Iran) inilah yang menjadi akar dari situasi saat ini di Selat Hormuz,” ujarnya seperti dikutip Reuters, Minggu (22/3).
Pernyataan tersebut menjadi respons langsung Teheran terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump yang berencana menyerang pembangkit listrik di Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam waktu 48 jam.
Meski Teheran mengeklaim jalur perairan strategis itu tidak ditutup total, ancaman serangan di tengah peperangan antara AS-Israel melawan Iran telah membuat sebagian besar kapal pengangkut menghindari selat sempit itu. Situasi tersebut berisiko memicu guncangan energi global karena terhambatnya distribusi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Dalam keterangannya, Ali Mousavi menegaskan, Teheran siap bekerja sama dengan IMO selaku lembaga di bawah naungan PBB untuk meningkatkan standar keselamatan maritim dan melindungi para pelaut di kawasan Teluk. Ia menjelaskan, kapal-kapal yang tidak terafiliasi dengan musuh Iran tetap diizinkan melintas, asalkan mereka melakukan koordinasi pengaturan keamanan dan keselamatan dengan otoritas di Teheran.
Langkah koordinasi itu dipandang sebagai upaya Iran untuk mempertahankan kontrol atas jalur tersebut sekaligus memberikan jaminan keamanan bagi mitra-mitra dagang yang netral.
Mousavi juga menekankan, diplomasi tetap menjadi prioritas utama bagi Pemerintah Iran dalam menyelesaikan krisis ini. Namun, ia menggarisbawahi bahwa penghentian agresi secara menyeluruh serta adanya rasa saling percaya antarpihak jauh lebih krusial untuk dicapai saat ini.
“Diplomasi tetap menjadi prioritas Iran. Namun, penghentian agresi sepenuhnya serta saling percaya dan keyakinan jauh lebih penting,” kata Mousavi.
Menurutnya, serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran adalah akar penyebab dari situasi genting yang kini melanda Selat Hormuz, sehingga stabilitas di jalur pelayaran tersebut hanya bisa kembali normal jika tekanan militer terhadap negaranya segera dihentikan.
AS-Israel Dilaporkan Serang Kapal Sipil di Selat Hormuz
Sementara itu, Juru Bicara Khatam Al-Anbiya (Pusat Komando Militer Iran), Ebrahim Zolfaghari, menuding AS dan Israel telah menyasar kapal-kapal sipil serta penumpang di kawasan Teluk Persia sebagai bentuk frustrasi atas kegagalan mereka di medan perang.
Menurut pernyataan Zolfaghari yang dikutip oleh stasiun televisi Iran, SNN, pada Sabtu (21/3), serangan terhadap aset nonmiliter itu dilakukan karena Washington dan Tel Aviv tidak mampu menghadapi kekuatan langsung dari Angkatan Bersenjata Iran. Ia pun memperingatkan bahwa Teheran siap melancarkan aksi balasan serius jika agresi yang ia sebut sebagai tindakan keji itu terus berlanjut.
Eskalasi konflik ini merupakan kelanjutan dari rangkaian serangan udara yang diluncurkan AS dan Israel ke berbagai wilayah Iran, termasuk Teheran, pada 28 Februari lalu yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil. Iran sendiri telah merespons tindakan tersebut dengan menghantam sejumlah instalasi militer Amerika di Timur Tengah serta wilayah Israel.
Menariknya, terdapat pergeseran narasi dari pihak penyerang. Jika awalnya AS dan Israel berdalih bahwa serangan pendahuluan itu bertujuan untuk melumpuhkan program nuklir Iran, belakangan mereka secara terbuka menyatakan bahwa target utamanya adalah untuk menggulingkan rezim yang saat ini berkuasa di Teheran.