Prospek saham ANTM, INCO hingga NCKL kala harga nikel menanjak

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Kenaikan harga nikel belakangan ini dinilai lebih memiliki dasar yang lebih struktural setelah pasar global keluar dari fase kelebihan pasokan yang terjadi dalam 2 tahun terakhir. 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama menyampaikan bahwa normalisasi pasokan menjadi faktor utama yang menopang pergerakan harga nikel saat ini.

Dia menjelaskan bahwa pada 2023–2024, pasar nikel global berada dalam kondisi oversupply yang tinggi. Kondisi tersebut dipicu oleh melemahnya permintaan dari sektor baja tahan karat serta kendaraan listrik secara global.

“Sifat yang struktural ini lebih dipengaruhi oleh adanya normalisasi pasokan setelah sebelumnya mengalami fase oversupply yang sangat tinggi,” ungkap Nafan saat dihubungi Bisnis, Rabu (7/1/2026). 

Di sisi lain, pasar juga sempat tertekan oleh ekspansi kapasitas produksi yang masif di Indonesia, baik melalui penerapan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) maupun Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). 

Namun demikian, memasuki 2026, arah kebijakan mulai berubah melalui isu pengetatan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

: Sphere Pemasok SpaceX Akuisisi 10% Saham Smelter Nikel di IMIP

Nafan menilai bahwa sebagai produsen nikel terbesar di dunia, setiap langkah Indonesia dalam membatasi atau mengurangi peningkatan kapasitas produksi nikel akan berdampak langsung pada harga dunia. 

Sementara itu, implementasi kebijakan RKAB yang lebih ketat pada tahun ini juga diperkirakan menjadi katalis utama kenaikan harga karena menciptakan keterbatasan suplai di tengah permintaan yang tetap ada.

Kenaikan harga nikel dunia memberikan dampak positif langsung bagi emiten berbasis nikel karena berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata (ASP).

Kendati fundamental mendukung, Nafan memandang bahwa kenaikan harga saham emiten nikel seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), hingga PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) sebagian besar sudah tecermin dalam harga pasar saat ini atau priced-in.

Menurutnya, pelaku pasar perlu mencermati indikator teknikal, mengingat lonjakan tajam dalam waktu singkat berisiko membawa saham-saham nikel ke area jenuh beli atau overbought.

“Jika sudah overbought, tentunya wajar saja akan terjadi rawan koreksi karena terjadi lonjakan harga yang cukup tajam dalam waktu singkat,” tambah Nafan. 

Oleh karena itu, strategi investasi yang disarankan adalah tetap mencermati realisasi kebijakan RKAB di lapangan. Pasalnya, efektivitas pengurangan produksi ini masih memerlukan pembuktian implementasi untuk memastikan keberlanjutan tren kenaikan harga nikel di masa depan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.