Ketegangan AS–Venezuela picu penguatan dolar, rupiah berisiko melemah

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Memanasnya ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Venezuela akhir-akhir ini dinilai dapat memicu penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY).

Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi melihat, ketegangan geopolitik seperti penangkapan Presiden Venezuela oleh AS biasanya mendorong penguatan dolar AS karena investor global mencari aset safe haven.

“Jika situasi memburuk atau terjadi eskalasi, DXY berpotensi menguat ke kisaran 105–107 dalam jangka pendek,” kata Reza kepada Kontan, Minggu (4/1/2026).

Namun, penguatan ini juga akan dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) dan data ekonomi AS ke depan.

Ketegangan AS-Venezuela Jadi Sentimen Pergerakan DXY, Seberapa Dalam Dampaknya?

Pengamat komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono, menilai secara umum ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela mendorong munculnya sentimen safe haven.

Dalam kondisi ketidakpastian global, investor cenderung mengalihkan asetnya ke mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

“DXY bisa menguji level 98 hingga 100 dalam jangka pendek jika eskalasi di Amerika Selatan terus berlanjut,” ujar Wahyu kepada Kontan, Minggu (4/1/2026).

Namun, penguatan dolar tersebut dapat tertahan jika pelaku pasar menilai langkah Presiden Donald Trump sebagai upaya stabilisasi yang cepat. Kondisi tersebut justru dapat menekan premi risiko dalam jangka panjang.

“Ketegangan geopolitik biasanya membuat dolar perkasa karena statusnya sebagai aset paling aman,” tambah Wahyu.

Indonesia Perlu Waspada

Wahyu menekankan bahwa Indonesia perlu mewaspadai dampak tidak langsung dari ketegangan geopolitik AS–Venezuela, terutama melalui jalur keuangan dan komoditas.

Salah satu risiko utama adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Penguatan DXY akibat sentimen safe haven berpotensi menambah tekanan pada rupiah. Jika dolar AS menguat menuju level 100 atau lebih, nilai tukar rupiah berisiko kembali melemah ke kisaran di atas Rp 16.800 per dolar AS.

DXY Tergelincir di Bawah Level Psikologis, Rupiah Tertekan Faktor Domestik

Selain itu, potensi lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketidakpastian global juga dapat berdampak pada beban subsidi energi.

“Jika harga minyak naik signifikan, subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi meningkat,” terang Wahyu.

Namun, dengan harga minyak saat ini masih berada di bawah asumsi makro, yakni sekitar US$ 60 per barel, risiko tersebut dinilai masih relatif terkendali.

Dari sisi non-ekonomi, perhatian pemerintah juga tertuju pada aspek perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di Venezuela.

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan bahwa WNI di negara tersebut saat ini dalam kondisi aman, meski tetap diminta meningkatkan kewaspadaan seiring diberlakukannya status darurat nasional.

Adapun dampak langsung terhadap hubungan dagang Indonesia dinilai sangat terbatas. Nilai ekspor dan impor Indonesia dengan Venezuela tergolong kecil, yakni kurang dari 1% dari total perdagangan luar negeri Indonesia.