
Ussindonesia.co.id JAKARTA — PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) diproyeksikan bakal segera mengakhiri fase transisi yang menantang dan memasuki periode akselerasi kinerja pada tahun buku 2026.
Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, AMMN diproyeksikan memasuki fase pemulihan kinerja produksi pada 2026 seiring dengan normalisasi operasional pasca-transisi ke Fase 8 di Tambang Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Titik balik kinerja AMMN diperkirakan terjadi setelah melewati periode transisi pada 2025. Tahun lalu, hasil produksi yang belum optimal memberikan tekanan signifikan terhadap pos pendapatan maupun laba bersih perseroan.
: Amman Mineral (AMMN) Cetak Laba Bersih Rp4,2 Triliun di 2025
Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas melaporkan kinerja AMMN pada 2025 masih berada dalam tekanan. Pendapatan perseroan pada 2025 diestimasi mencapai US$1.144,78 juta, atau turun 57% secara tahunan.
Phintraco menyebutkan bahwa penurunan tersebut merupakan konsekuensi dari rendahnya volume produksi pada tahap awal Fase 8 atau tahap eksplorasi anyar yang dimulai setelah selesainya Fase 7 pada akhir 2024.
Meski demikian, terdapat sinyal positif berupa peningkatan kinerja secara bertahap sejak kuartal I/2025 hingga kuartal III/2025. Tren ini mengindikasikan aktivitas produksi dan pengapalan AMMN mulai kembali ke level yang lebih konsisten jika dibandingkan dengan awal tahun lalu.
Memasuki 2026, AMMN dinilai berpeluang mencatatkan pemulihan yang lebih solid. Tambang Batu Hijau diproyeksikan memasuki fase produksi normal setelah melewati masa transisi. Kondisi ini diharapkan mendongkrak penjualan dan menekan biaya per unit melalui penyerapan biaya tetap yang lebih efisien.
“Tahun fiskal 2026 berpotensi menjadi titik balik bagi AMMN,” tulis Phintraco dalam riset yang dipublikasikan pada pertengahan Februari 2026.
Senada dengan proyeksi pemulihan tersebut, Research Analyst Henan Sekuritas Dennis Tay menyebut AMMN telah menunjukkan transformasi signifikan dalam skala dan efisiensi operasional sejak mengambil alih kontrol penuh pada 2016.
Dennis mencatat, volume bijih yang ditambang melonjak dari sekitar 52 juta ton menjadi 322 juta ton pada 2024. Di saat yang sama, perseroan berhasil menekan biaya penambangan unit dari US$3,65 per ton menjadi US$2,24 per ton.
“Peningkatan produktivitas aset dan manajemen kontraktor yang optimal telah memperkuat basis biaya AMMN menjadi lebih kompetitif dan tangguh,” ujar Dennis dalam laporan risetnya yang dipublikasikan
Memasuki tahun fiskal 2026, Dennis menilai AMMN akan memanen hasil dari integrasi vertikal pasca-rampungnya pembangunan smelter pada 2025.
: Kilap Prospek Fundamental Amman Mineral (AMMN) yang Harga Sahamnya Tertekan
Fasilitas pemurnian itu memiliki kapasitas tahunan sebesar 220.000 ton katoda tembaga dan 830.000 ton asam sulfat, serta pemurnian logam berharga (PMR) yang mampu menghasilkan 579.000 oz emas dan 1,8 juta oz perak.
Meskipun saat ini masih dalam fase ramp-up, operasional smelter AMMN diprediksi akan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2026. Hal ini diyakini akan memperkuat visibilitas pendapatan dan normalisasi margin perseroan.
Dengan kombinasi utilisasi smelter yang lebih tinggi, perbaikan kadar bijih, dan kenaikan volume produksi, Dennis memprediksi AMMN akan memasuki fase akselerasi laba. Pendapatan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 23% pada 2024-2028, sementara EBITDA diperkirakan melesat dengan CAGR 39%.
AMMAN MINERAL INTERNASIONAL TBK – TradingView
Margin EBITDA juga diramal akan melompat, dari sekitar 50% pada 2026 menjadi 63% pada 2028. Kondisi ini didukung prospek harga tembaga global yang kuat seiring tingginya permintaan untuk kebutuhan elektrifikasi, kendaraan listrik, infrastruktur digital, hingga kecerdasan buatan (AI).
Henan Sekuritas menyematkan rekomendasi beli untuk saham AMMN dengan target harga Rp9.550 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan yang cukup lebar dari level harga saat ini.
Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham AMMN saat ini bertengger di level Rp4.950 per saham hingga perdagangan Jumat (13/3). Adapun banderol tersebut mencerminkan penurunan sebesar 22,96% sepanjang tahun berjalan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.