
Ussindonesia.co.id JAKARTA — Kinerja indeks MSCI Indonesia yang berisi 10 saham konstituen dalam setahun terakhir mencatatkan kinerja negatif. Performa ini kontras dengan kinerja indeks MSCI Emerging Markets dan indeks MSCI ACWI IMI (All Country World Investable Market Index).
Berdasarkan data MSCI per 30 Maret 2026, kinerja indeks MSCI Indonesia tercatat turun 12,07% dalam setahun terakhir. Sementara itu, indeks MSCI Emerging Markets sudah melesat 30,30% dan indeks MSCI ACWI IMI naik 21,16%.
Namun sejak awal tahun, ketiga indeks tersebut kompak berada di zona merah. Indeks MSCI Indonesia paling boncos dengan penurunan 12,07%, sedangkan indeks MSCI Emerging Markets hanya melemah 0,10% dan indeks MSCI ACWI IMI melemah 2,65%.
: Menakar Potensi Outflow Asing Pasca Pengumuman MSCI
Adapun, MSCI Indonesia Index (USD) berisi 17 konstituen saham yang didesain untuk mengukur performa saham berkapitalisasi besar dan menengah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Adapun, MSCI Indonesia Index (USD) ini mencakup 85% dari total semesta saham di Indonesia.
Dilihat dari kinerja historisnya, indeks MSCI Indonesia mencetak performa gemilang pada 2017 dengan kenaikan 24,79% dan paling rendah pada 2013 dengan penurunan 23,10%.
Saat ini, setidaknya ada 10 saham big caps yang masuk ke dalam indeks MSCI Indonesia, termasuk di antaranya saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) hingga PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO).
Daftar 10 saham konstituen utam indeks MSCI Indonesia: Nama Emiten Kode Saham Bobot Indeks PT Bank Central Asia Tbk. BBCA 22,89% PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. BBRI 14,53% PT Bank Mandiri Tbk. BMRI 11,27% PT Telkom Indonesia Tbk. TLKM 9,70% PT Astra International Tbk. ASII 8,09% PT Amman Mineral Intl. Tbk. AMMN 4,57% PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. DSSA 4,23% PT Bank Negara Indonesia Tbk. BBNI 3,59% PT United Tractors Tbk. UNTR 2,96% PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. GOTO 2,91%
Sumber: MSCI
Dalam perkembangan terbaru, penyedia indeks global MSCI Inc. masih membekukan rebalancing untuk saham di dalam indeks MSCI Indonesia. Penyedia indeks global ini menyatakan tengah mengkaji dampak reformasi transparansi pasar modal Indonesia terhadap penentuan free float dan aksesibilitas investasi.
Evaluasi ini menyusul sejumlah kebijakan baru yang diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia.
MSCI menyoroti sejumlah langkah reformasi yang mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan peningkatan batas minimum free float menjadi 15%.
“Seiring dengan proses evaluasi tersebut, MSCI memastikan akan mempertahankan perlakuan sementara terhadap saham-saham Indonesia pada peninjauan indeks Mei 2026,” tulis MSCI dalam pengumumannya, Selasa (21/4/2026).
Kebijakan itu meliputi pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan jumlah saham (Number of Shares/NOS), serta tidak melakukan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
: MSCI Tahan Rebalancing Saham RI, Saham Grup Prajogo Pangestu Bergerak Variatif
Selain itu, MSCI juga tidak akan melakukan kenaikan kelas kapitalisasi, termasuk dari Small Cap ke Standard Index. Di sisi lain, saham yang dikategorikan memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi dalam kerangka HSC akan dikeluarkan dari indeks.
MSCI menyatakan dapat memanfaatkan data keterbukaan pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float apabila diperlukan. Namun, lembaga tersebut belum akan sepenuhnya memasukkan data baru ke dalam metodologi penilaian hingga proses kajian rampung dan masukan dari pelaku pasar dihimpun.
Ke depan, MSCI akan terus berdialog dengan regulator dan pelaku pasar domestik guna menilai konsistensi serta efektivitas sumber data baru tersebut. Hasil evaluasi lanjutan dijadwalkan akan disampaikan dalam Market Accessibility Review pada Juni 2026.
Langkah ini menjadi perhatian pelaku pasar, mengingat keputusan MSCI berpotensi memengaruhi arus dana asing dan persepsi investor global terhadap pasar saham Indonesia.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.