Pertumbuhan global dihantui perang Timur Tengah, IMF pangkas proyeksi ekonomi 2026

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Dana Moneter Internasional alias International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi global kembali terancam keluar dari jalurnya akibat pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari 2026.

Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026, IMF menetapkan skenario dasar pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 3,1% pada 2026 dan 3,2% pada 2027.

Proyeksi untuk 2026 tersebut dipangkas ke bawah sebesar 0,2 poin persentase dibandingkan dengan perkiraan lembaga tersebut pada pembaruan WEO Januari 2026 (3,3%).

: Amran Soroti Warisan IMF: Impor Pangan RI Melonjak, Kementan Dorong Lartas

Lembaga yang bermarkas di Washington DC itu menjelaskan perlambatan laju pertumbuhan ini tak terlepas akibat eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.

Pasalnya, tensi geopolitik tersebut telah memunculkan tekanan balik yang signifikan terhadap pasar komoditas, ekspektasi inflasi, dan kondisi keuangan global. 

: : IMF Peringatkan Negara Miskin Bakal Paling Terpukul Inflasi Imbas Konflik Iran

Padahal, jika konflik tersebut tidak meletus maka proyeksi pertumbuhan global sejatinya akan direvisi ke atas sebesar 0,1 poin persentase menjadi 3,4%.

“Inflasi umum global diperkirakan akan meningkat menjadi 4,4% pada 2026 dan menurun ke 3,7% pada 2027, yang menandai revisi ke atas untuk kedua tahun tersebut,” tulis IMF dalam ringkasan eksekutif laporannya, Selasa (14/4/2026).

: : IMF Setujui Pendanaan Rp135,9 Triliun untuk Ukraina di Tengah Kelanjutan Perang Rusia

IMF turut melakukan perhitungan untuk skenario yang lebih ekstrem, di mana terjadi kerusakan parah pada infrastruktur energi di wilayah konflik.

Dalam skenario terburuk ini, laju ekspansi ekonomi global berisiko anjlok hingga hanya berkisar di level 2% pada 2026, sementara inflasi umum akan menembus level di atas 6% pada 2027.

Dampak dari krisis geopolitik terbaru ini diyakini tidak akan merata antarkawasan. IMF menyoroti bahwa kerugian yang dialami oleh negara-negara di wilayah konflik serta perekonomian rentan seperti negara berkembang atau pengimpor komoditas akan jauh lebih terasa.

Untuk menavigasi lanskap ekonomi dan geopolitik yang berubah drastis ini, IMF mendesak otoritas pembuat kebijakan agar segera mengimplementasikan paket kebijakan yang komprehensif.

Prioritas utama yaitu menjaga stabilitas harga dan keuangan, mengamankan keberlanjutan fiskal, serta mengeksekusi reformasi struktural tanpa penundaan.

Otoritas moneter di seluruh dunia diimbau untuk tetap waspada dan siap bertindak secara tegas sesuai dengan mandat mereka.

Bank sentral harus secara ketat menjaga agar guncangan pasokan yang berkepanjangan ini tidak menggoyahkan jangkar ekspektasi inflasi pasar.

Dari sisi kebijakan fiskal, apabila pemerintah perlu turun tangan untuk melindungi kelompok rentan dari guncangan eksternal yang ekstrem, dukungan tersebut harus bersifat tepat sasaran, tepat waktu, dan sementara.

Pembiayaannya pun diwajibkan berasal dari alokasi anggaran saat ini melalui reprioritisasi belanja negara.