
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada pekan depan akan lebih ditentukan oleh stabilisasi rupiah dan potensi pembalikan arus investor asing.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia menjelaskan Rupiah sempat melemah hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah di kisaran Rp16.985 per dolar AS, memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap meningkatnya risiko domestik.
Pelemahan rupiah tersebut turut diiringi meningkatnya persepsi risiko, khususnya terkait kredibilitas kebijakan ekonomi nasional. Isu seputar disiplin fiskal serta independensi bank sentral dinilai investor telah mendorong kenaikan risk premium aset Indonesia, yang pada akhirnya menekan pasar saham dan obligasi.
: IHSG Tertekan Aksi Profit Taking
“Arah IHSG ke depan akan lebih ditentukan oleh stabilisasi Rupiah dan potensi pembalikan foreign flow, bukan semata oleh narasi pertumbuhan ekonomi yang pada dasarnya masih terjaga, tetapi tertahan oleh kenaikan risk premium,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).
Sejauh ini, Liza menyebut kebijakan Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada level 4,75%, dinilai mampu meredam kepanikan pasar, meski belum cukup kuat untuk mengembalikan sentimen risk-on selama arus dana asing masih keluar dari pasar domestik.
: : IHSG Ditutup Turun 0,46% ke Level 8.951, Saham AMMN hingga BRPT Membebani
Tekanan dari sisi aliran dana pada pekan ini cukup terasa. Bank Indonesia mencatat arus keluar portofolio asing mencapai sekitar US$1,6 miliar hingga 19 Januari 2026.
Dia juga menyebut dalam dua hingga tiga hari terakhir, arus keluar investor asing di pasar saham terlihat semakin deras.
: : IHSG Sentuh ATH, Reksa Dana Saham Dinilai Masih Punya Peluang Tumbuh 2026
“Kondisi ini menjadi salah satu pemicu rontoknya IHSG, yang sebelumnya juga dinilai sudah berada di area jenuh beli setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.174,” imbuhnya.
Meski pasar tengah bergejolak, fondasi makroekonomi Indonesia dinilai masih relatif solid. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7%, sementara untuk 2025 diperkirakan sebesar 4,7–5,5%.
Memasuki pekan depan, lanjutnya, perhatian pelaku pasar global akan tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Januari 2026.
Hasil rapat tersebut, lanjutnya, akan menjadi penentu utama arah risk appetite pasar global, khususnya bagi negara berkembang, serta memengaruhi pergerakan imbal hasil dolar AS yang berdampak langsung pada rupiah dan IHSG.
Selain FOMC, investor juga akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat berbasis Personal Consumption Expenditure (PCE) yang menjadi indikator inflasi favorit The Fed, data aktivitas ekonomi seperti PMI, serta perkembangan earnings season global yang berpotensi menggeser sentimen pasar saham regional.
Dari kawasan Asia, perhatian tertuju pada Jepang, terutama dinamika suku bunga dan pergerakan obligasi pemerintah Jepang (JGB) serta yen.
Sementara di dalam negeri, sentimen pasar tidak hanya bergantung pada rilis data ekonomi, tetapi juga pada konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah dan otoritas moneter.
Komitmen terhadap disiplin fiskal, independensi Bank Indonesia, serta langkah-langkah konkret stabilisasi rupiah melalui instrumen moneter dan intervensi pasar dinilai akan menjadi kunci dalam menentukan arah risk premium Indonesia dalam jangka pendek.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.