
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (USD) cenderung menguat.
Melansir Trading Economics pada Rabu (1/4/2026) pukul 16.20 WIB, South Korean Won (KRW) menguat 0,02% dalam sehari menjadi 1.506 per USD, Chinese Yuan (CNY) menguat 0,16% secara harian menjadi 6,87 per USD, Japanese Yen (JPY) menguat 0,04% dalam sehari menjadi 158,65 per USD. Kemudian, Indonesian Rupiah (IDR) juga menguat 0,34% menjadi 16.976 per USD.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan pergerakan dolar AS terhadap mata uang Asia saat ini mencerminkan tarik-menarik antara sentimen global dan fundamental domestik.
Ditanya Lonjakan Saham Rp 200 Jadi Rp 8.000 dalam Tiga Bulan, Begini Respons OJK
Menurutnya, narasi de-eskalasi konflik Timur Tengah sempat memberi sentimen positif bagi sebagian mata uang. Namun, pasar tetap mencermati kondisi fundamental masing-masing negara.
“Tekanan pada negara-negara dengan inflasi tinggi dan risiko fiskal seperti Indonesia dengan lonjakan CPI 4,76% menunjukkan bahwa pasar mulai melakukan diferensiasi berdasarkan ketahanan ekonomi fundamental masing-masing negara,” ujar Sutopo kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai divergensi mata uang Asia perbedaan fundamental makro dan arah kebijakan moneter di masing-masing negara.
Ia mencontohkan, Yen Jepang masih tertekan akibat selisih suku bunga (yield) antara US Treasury dan JGB (Japanese Government Bond) yang tetap lebar, meskipun ada upaya intervensi verbal dari BoJ (Bank of Japan).
“Namun, belakangan USD/JPY makin overbought dan cenderung koreksi sehingga yen berpeluang kuat. Sentimen ini dipicu kecemasan inflasi yang membuat BOJ untuk waspada pengetatan moneter,” kata Wahyu.
Sementara itu, yuan China cenderung stabil didukung surplus neraca perdagangan serta kebijakan People’s Bank of China (PBoC) yang aktif menjaga volatilitas di bawah level 6,90.
Untuk won Korea Selatan, pergerakannya dipengaruhi oleh kondisi fundamental domestik terutama sektor teknologi serta tekanan dari pelemahan pasar saham.
Wahyu juga menilai nilai tukar rupiah Indonesia yang sempat menyentuh Rp 17.041 pada Selasa (31/3) mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal atau risiko geopolitik domestik.
Prospek SBN 2026: Inflow ke SBN Belum Deras, Yield Turun Bertahap