
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT XL Axiata Tbk (EXCL) mulai menggeser strategi bisnisnya dengan fokus pada peningkatan kualitas pelanggan dan ekspansi layanan 5G guna mendorong pertumbuhan kinerja jangka menengah.
EXCL mencatat pendapatan sebesar Rp 42,44 triliun pada 2025. Namun, perseroan masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 4,4 triliun.
Analis OCBC Sekuritas, Gani, menilai perseroan secara aktif melakukan penyaringan pelanggan dengan mengurangi pengguna bernilai rendah. Jumlah pelanggan EXCL turun dari 79,6 juta pada kuartal III-2025 menjadi 73 juta pada kuartal IV-2025.
IHSG Berpotensi Menguat, Intip Saham Pilihan Kiwoom Sekuritas Rabu (15/4)
Menurut Gani langkah tersebut merupakan strategi yang disengaja untuk memperbaiki kualitas pendapatan. “Manajemen menargetkan perbaikan kualitas pendapatan dengan fokus pada pelanggan yang memiliki daya beli lebih tinggi,” tulis Gani pada risetnya, Senin (6/4/2026).
Strategi ini mulai menunjukkan hasil dengan kenaikan average revenue per user (ARPU) dari Rp 38.900 menjadi Rp 44.800 dalam periode yang sama.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai langkah tersebut tepat karena dapat memberikan gambaran kinerja yang lebih mencerminkan kondisi riil perusahaan.
“Penghapusan subscriber dengan churn tinggi berpotensi menjadi bias untuk penentuan keputusan bisnis ke depan” kata Harry kepada Kontan, Selasa (14/4/2026).
Di sisi lain, Gani menilai EXCL juga agresif memperluas jaringan 5G sebagai pendorong pertumbuhan jangka menengah. Hingga akhir 2025, layanan 5G telah tersedia di 33 kota dengan kecepatan hingga 250 Mbps.
Dengan penetrasi perangkat 5G yang masih sekitar 20% di wilayah cakupan, ruang pertumbuhan dinilai masih terbuka lebar.
Selain itu, semakin terjangkaunya harga ponsel 5G di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta diperkirakan akan mempercepat adopsi.
Strategi ini menunjukkan arah yang cukup jelas bahwa EXCL tidak lagi sekadar mengejar jumlah pelanggan, tetapi mulai beralih ke kualitas dan monetisasi.
Ke depan, Gani memperkirakan pendapatan EXCL akan meningkat menjadi Rp 46,4 triliun pada 2026 dan Rp 49,5 triliun pada 2027.
IHSG Masih Berpeluang Menguat Terbatas Pada Rabu (15/4/2026), Cermati Pendorongnya
Sementara itu, kerugian diproyeksikan menyusut menjadi Rp 2,1 triliun pada 2026 sebelum berbalik mencetak laba sebesar Rp 3 triliun pada 2027.
Harry menambahkan, kinerja EXCL pada kuartal II-2026 berpotensi membaik secara tahunan, meskipun secara kuartalan masih tertekan faktor musiman periode hari raya.
Menurut Harry, saat ini posisi EXCL masih berada di peringkat ketiga industri telekomunikasi nasional setelah Telkom Indonesia (TLKM) dan Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT). Oleh karena itu, EXCL dinilai perlu memperkuat sinergi operasional dan strategi untuk kembali mencetak laba secara berkelanjutan
Harry merekomendasikan buy EXCL dengan target harga Rp 4.000 per saham. Sedangkan Gani memberi rekomendasi buy dengan target harga Rp 3.300 per saham.