
Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan menutup dua pasar saham utamanya selama dua hari pekan ini, menyusul serangan balasan Iran terhadap serangan udara AS dan Israel.
Mengutip Bloomberg pada Senin (2/3), Otoritas Pasar Modal UEA menyatakan Bursa Efek Abu Dhabi (Abu Dhabi Securities Exchange/ADX) dan Dubai Financial Market (DFM) akan ditutup pada tanggal 2 dan 3 Maret.
“Bursa Efek Abu Dhabi dan Pasar Keuangan Dubai akan tutup pada tanggal 2 dan 3 Maret,” kata Otoritas Pasar Modal UEA dalam pernyataan yang dikirim melalui email.
“Otoritas akan terus memantau perkembangan di wilayah tersebut dan menilai situasi secara berkelanjutan, serta mengambil langkah-langkah lebih lanjut jika diperlukan,” tambahnya.
Sejak Sabtu pagi (28/2), Dubai dan Abu Dhabi dilaporkan menghadapi ratusan serangan rudal dan drone dari Iran. Serangan itu merupakan respons Teheran atas gempuran militer AS dan Israel. Sebagian besar serangan berhasil dicegat, dengan laporan korban dan kerusakan yang relatif terbatas di sejumlah wilayah kedua kota.
Meski demikian, situasi tersebut memicu kepanikan di kalangan warga serta menimbulkan ancaman serius terhadap perekonomian UEA yang selama ini dikenal sebagai pusat keuangan, logistik, dan pariwisata yang stabil di kawasan Teluk.
Analis Bloomberg Intelligence, Edmond Christou dan Salome Skhirtladze, memperingatkan dampak konflik dapat menjalar ke sektor properti dan perbankan.
“Serangan AS-Israel terhadap Iran mengancam guncangan permintaan penjualan properti di UEA, berisiko menyerap 350.000 unit pasokan baru, serta 120 juta pengunjung ke Dubai Mall dan pariwisata ke sektor ritel dan perhotelan,” tulisnya.
Kapitalisasi pasar gabungan bursa saham UEA mencapai USD 1,1 triliun, menjadikannya terbesar ke-19 di dunia. Pasar saham UEA juga memiliki bobot 1,4 persen dalam indeks pasar negara berkembang milik MSCI Inc.
Penutupan pasar saham di UEA tergolong jarang terjadi. Di luar hari libur resmi, bursa biasanya hanya ditutup saat masa berkabung nasional, seperti ketika Presiden Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan wafat pada Mei 2022.
Namun secara global, penutupan bursa di tengah ketidakpastian bukanlah hal baru. Turki sempat menghentikan perdagangan selama sepekan setelah gempa bumi pada 2023 dan justru melonjak saat dibuka kembali. Rusia menutup pasar sahamnya sekitar satu bulan pada 2022 setelah invasi ke Ukraina.
Sementara itu, Bursa Efek Athena di Yunani ditutup selama lima pekan pada 2015 saat krisis utang dan anjlok ketika perdagangan kembali dibuka.
Di kawasan Teluk lainnya, Otoritas Pasar Modal Kuwait menyatakan bursa saham negara itu akan kembali beroperasi pada 2 Maret setelah sebelumnya menghentikan perdagangan pada Minggu.