
Ussindonesia.co.id NEW YORK. Pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) cenderung terbatas pada perdagangan Rabu (28/1/2026), seiring respons investor yang relatif tenang setelah Bank Sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan sesuai ekspektasi pasar.
Melansir Reuters, Indeks S&P 500 ditutup melemah tipis 0,01% ke level 6.977,87. Sementara itu, Nasdaq Composite naik 0,17% ke posisi 23.857,83, dan Dow Jones Industrial Average menguat 0,03% ke level 49.015,96.
S&P 500 sempat menembus level psikologis 7.000 untuk pertama kalinya pada sesi perdagangan tersebut sebelum berbalik melemah.
Wall Street Menghijau Rabu (28/1): S&P 500 Tembus Level 7.000 untuk Pertama Kalinya
The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Dalam pernyataan resminya, bank sentral menyebut inflasi masih berada di level tinggi, meski pertumbuhan ekonomi tetap solid.
The Fed juga menilai pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, sekaligus menghapus pernyataan sebelumnya terkait meningkatnya risiko penurunan lapangan kerja.
Dari total pembuat kebijakan, delapan dari 10 pejabat The Fed sepakat mempertahankan suku bunga. Pasca pengumuman tersebut, pelaku pasar meningkatkan spekulasi bahwa pemangkasan suku bunga baru berpeluang dilakukan pada Juni, namun kecil kemungkinan terjadi lebih cepat.
Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan pihaknya masih akan bergantung pada data ekonomi dalam menentukan arah kebijakan selanjutnya.
Wall Street Dibuka Mixed Selasa (27/1), Saham Asuransi Tertekan Isu Tarif Medicare
Ia juga menyebut risiko kenaikan inflasi maupun risiko pelemahan pasar tenaga kerja saat ini sama-sama mereda, meski belum cukup kuat untuk mendorong perubahan kebijakan.
“Baik investor yang optimistis maupun pesimistis keluar dari konferensi pers dengan pandangan yang relatif sama,” ujar Michael James, equity sales trader Rosenblatt Securities.
Menurutnya, inflasi masih tergolong membandel, sementara kondisi ketenagakerjaan belum berubah signifikan untuk mendorong langkah agresif dari The Fed.
Selain menanti arah kebijakan moneter, perhatian investor mulai beralih ke musim laporan keuangan emiten teknologi besar.
Meta Platforms, Microsoft, dan Tesla dijadwalkan merilis kinerja keuangan setelah penutupan pasar, menandai dimulainya laporan keuangan kelompok “Magnificent Seven” yang selama ini menopang reli pasar berbasis kecerdasan buatan (AI).
IBM juga akan merilis laporan keuangan pada periode yang sama.
Dengan valuasi saham teknologi yang sudah tinggi, investor mencermati rencana belanja modal perusahaan-perusahaan tersebut untuk menilai apakah investasi besar di sektor AI benar-benar mampu menghasilkan imbal hasil yang sepadan.
Wall Street Ditutup Menguat Jelang Musim Laporan Keuangan dan Rapat The Fed
Sejumlah laporan keuangan sebelumnya memberi sentimen positif. Saham Texas Instruments melonjak setelah perusahaan memproyeksikan pendapatan dan laba kuartal pertama di atas perkiraan analis.
Saham AT&T juga menguat usai memproyeksikan laba tahunan melampaui ekspektasi pasar.
Namun, kinerja di sektor industri cenderung beragam. Saham Textron melemah setelah perusahaan memberikan proyeksi laba di bawah perkiraan, sementara saham Otis turun akibat pendapatan kuartal keempat yang meleset dari target pasar.
Di sektor teknologi penyimpanan data, saham Seagate Technology melonjak hingga 20% setelah memproyeksikan pendapatan dan laba kuartal ketiga yang lebih tinggi dari ekspektasi.
Saham pesaingnya, Western Digital, turut menguat mengikuti sentimen positif tersebut.