
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA – Harga buyback emas Antam telah mengalami kenaikan 13,30% untuk periode berjalan 2026.
Berdasarkan data Logam Mulia Rabu (15/4/2026), harga buyback emas Antam naik Rp35.000 ke Rp2.674.000. Kenaikan itu memangkas jarak dengan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp2.989.000 pada 29 Januari 2026.
Sejalan dengan kenaikan itu, harga buyback emas Antam tercatat telah menguat 13,30% year-to-date (ytd) 2026. Harga tersebut merupakan acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) berdasarkan ukuran 1 gram.
: Harga Emas Antam Lanjut Menguat Hari Ini (15/4), Ukuran 1 Gram Kini Dibanderol Rp2,89 Juta
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
Sebagaimana diketahui, pergerakan harga buyback emas Antam sejalan dengan mahar logam mulia di pasar global.
Diberitakan Bisnis sebelumnya, harga emas di pasar spot terpantau menguat 0,07% atau 3,2 poin ke level US$4.843,1 per troy ounce pada pukul 09.20 WIB, setara Rp2,66 juta.
Pada perdagangan sebelumnya, harga emas mencatat penguatan terbesar sepanjang April di tengah penilaian ulang pasar atas arah konfrontasi Iran–Amerika Serikat di Selat Hormuz dan ditutup mendekati level tertinggi intraday di US$4.870. Capaian ini menandai penutupan tertinggi dalam hampir 30 hari, sekaligus menghapus pelemahan sesi sebelumnya dan menegaskan kembali momentum bullish emas.
Technical Market Analyst Kitco Metals Gary Wagner mengatakan penguatan tersebut menonjol tidak hanya dari sisi besaran, tetapi juga karakter pergerakannya, yakni penguatan yang stabil dan berbasis keyakinan, bukan lonjakan volatil.
”Pola ini mengindikasikan partisipasi investor institusional serta pergeseran sentimen pasar yang lebih fundamental, melampaui sekadar aksi short covering,” jelasnya seperti dikutip Kitco.
Gary mengatakan pemicu utama reli adalah menguatnya konsensus bahwa langkah pemerintahan Trump mengerahkan Angkatan Laut AS sebagai instrumen tekanan ekonomi di Selat Hormuz, alih-alih melancarkan serangan militer langsung terhadap Iran, merupakan pendekatan yang lebih strategis dan berpotensi mempercepat resolusi.
Dengan membatasi akses bagi kapal tanker yang membayar Iran untuk melintasi selat, Washington secara efektif menargetkan basis ekonomi kemampuan militer Teheran, bukan perangkat kerasnya.
Rasionalitas kebijakan ini terletak pada struktur ekonomi Iran. Sekitar 85% pendapatan pemerintah berasal dari ekspor minyak, dan hampir 90% produksi atau sekitar 2,6 juta barel per hari dialirkan melalui jalur yang kini berada di bawah kendali Angkatan Laut AS.
Dalam konteks ini, blokade tersebut mengubah Selat Hormuz dari aset strategis utama menjadi liabilitas strategis bagi Iran. Tanpa aliran devisa dari ekspor minyak, kapasitas Iran untuk mempertahankan operasi militer jangka panjang, mengisi ulang artileri, serta memperbarui persenjataan akan sangat tertekan.
Pasar tampaknya menyimpulkan bahwa tekanan finansial yang mencekik lebih efektif mendorong Iran kembali ke meja perundingan dibandingkan serangan udara, yang secara historis justru memperkuat konsolidasi domestik. Pergeseran dari opsi militer ofensif ke tekanan ekonomi ditafsirkan sebagai sinyal deeskalasi, meskipun tensi di kawasan tetap tinggi.
Gary melanjutkan, secara teknikal, pergerakan harga emas terlihat konstruktif. Penutupan emas di atas US$4.870 menempatkan level US$4.900 sebagai level resisten terdekat, dengan target lanjutan di US$5.000 jika momentum terjaga.
”Penguatan berkelanjutan di atas US$5.000 akan menjadi tonggak psikologis krusial dan berpotensi memicu arus beli berbasis momentum,” ungkapnya.