Pilah-pilih instrumen investasi pada 2026: saham, emas, atau kripto?

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Memasuki 2026, investor dihadapkan pada sejumlah pilihan instrumen investasi. Mana yang kemudian diproyeksikan akan mendulang cuan pada 2026, mulai dari saham, emas, obligasi, hingga aset kripto?

Berkaca pada 2025, kinerja pasar keuangan menghadirkan sinyal yang beragam. Di pasar saham, indeks harga saham gabungan (IHSG) berkinerja moncer dengan pertumbuhan 22,13% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).

Tahun ini, pasar saham pun diselimuti harapan kinerja kinclong yang berulang. Salah satu optimisme ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa dalam pembukaan perdagangan perdana Bursa Efek Indonesia (BEI) 2026, yang menargetkan IHSG mencapai 10.000 pada tahun ini.

: Intip 5 Cara Sukses Berinvestasi untuk Pemula Ala Warren Buffett

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) juga menguat 12,10% ytd pada 2025 ke level 440,19. Di obligasi ritel, mengacu data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, realisasi dari penerbitan surat berharga negara (SBN) ritel sepanjang 2025 mencapai Rp153 triliun.

Realisasi itu meningkat dibandingkan realisasi 2024 senilai Rp148 triliun. Tahun ini, pemerintah pun berencana kembali menerbitkan sejumlah obligasi ritelnya.

: : Tips Investasi Emas 2026, Saat Harga Tinggi

Sementara, emas tampil sebagai salah satu aset dengan performa terbaik pada 2025, dengan mencatatkan kenaikan hingga 63%. Lonjakan harga emas kembali menegaskan perannya sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. 

Di sisi lain, pasar kripto mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan sepanjang 2025. Harga Bitcoin dan aset kripto utama lainnya bergerak di zona merah pada 2025.

: : Dari BlackRock hingga Google, Deretan Korporasi Jumbo Investasi di EBT

Perencana keuangan Andi Nugroho menilai pada 2026 saham terlihat cukup prospektif bila menilik pada pertumbuhan IHSG yang mencapai 22,13% secara ytd per 2025. Hal tersebut merupakan cerminan dari stabilitas pertumbuhan ekonomi dalam negeri Indonesia yang stabil positif.

Emas juga diperkirakan masih akan terus melanjutkan tren positif seiring dengan masih berlanjutnya kondisi yang stabil secara ekonomi dan geopolitik global. Bila kondisi yang masih belum menentu ini terus berlanjut, para investor tentu akan tetap mengamankan asetnya pada instrumen safe haven seperti emas.

Sektor obligasi dapat menjadi pilihan menarik karena risikonya yang cenderung rendah dan imbal hasil yang terjamin. Hal ini juga diuntungkan dengan kemungkinan makin menurunnya tingkat suku bunga.

Kripto diperkirakan berpotensi untuk bisa memberikan cuan di 2026 apabila kondisi-kondisi yang mendukungnya terutama di AS dapat berjalan sesuai harapan, seperti penurunan suku bunga bank, pengetatan likuiditas, faktor geopolitik, dan lainnya.

“Menilik dari kinerja IHSG yang semakin positif di tahun 2025, investor bisa mulai lebih agresif secara terukur di tahun 2026, namun dengan tetap mendiversifikasikan asetnya ke instrumen investasi yang lebih rendah risikonya,” kata Andi kepada Bisnis pada Jumat (2/1/2026).

Bila ingin lebih banyak masuk ke instrumen yang berisiko tinggi, maka bisa memilih saham-saham yang yang lebih minim terpengaruh oleh perang tarif dan perlambatan ekonomi global. Saham-saham yang dimaksud seperti sektor kebutuhan pokok, perawatan kesehatan, dan utilitas. Kemudian, hindari atau kurangi berinvestasi pada sektor-sektor seperti manufaktur berat dan komoditas. 

“Untuk berinvestasi juga sebaiknya berorientasi pada jangka menengah panjang minimal satu tahun. Namun, bila ingin untuk jangka pendek sebaiknya selalu memperhatikan dan mewaspadai kondisi perekonomian secara global sehingga bila terjadi crash dapat segera keluar dan mengamankan asetnya,” ujar Andi.

Selain itu, sebelum berinvestasi harus dipahami dan disadari profil kemampuan pengambilan risiko, baik agresif, moderat, atau konservatif. 

“Dengan memahami profil risiko kita, maka sebaiknya kita berinvestasi pada instrumen yang sesuai dengan profil kita sehingga tidak sekedar mengejar cuan namun akan lebih nyaman juga,” ujar Andi.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto juga mengatakan pada 2026, dalam berinvestasi lakukan aset alokasi sesuai profil risiko saja.

“Lakukan juga diversifikasi, investasi sesuai profil risiko. Untuk yang trading ada disiplin profit taking dan cutloss,” kata Rudiyanto kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu. 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.