
Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) diperkirakan makin kuat menghadapi 2026, dengan munculnya dua faktor pendorong utama yang bisa meningkatkan kinerjanya. Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim mengatakan, SMGR menjadi top pick bagi mereka karena statusnya sebagai BUMN dan jangkauan operasionalnya yang luas di seluruh Indonesia, sehingga menjadi penerima manfaat utama dari proyek-proyek pemerintah skala besar.
Menurut Kevin, SMGR tengah menjalankan perbaikan operasional, termasuk menyederhanakan anak perusahaan dan memperbaiki neraca keuangan. Meskipun laba kuartal IV-2025 diperkirakan terdampak oleh biaya satu kali berupa impairment, langkah ini dianggap sebagai reset positif yang mendukung struktur perusahaan lebih bersih menjelang 2026 sekaligus memperkuat disiplin keuangan.
“Meski kuartal IV tahun 2025 mungkin terdampak impairment, ini merupakan langkah positif untuk memperkuat struktur dan efisiensi SMGR,” jelas Kevin dalam riset 5 Maret 2026.
Bakrie & Brothers (BNBR) Rights Issue 86,71 Miliar Saham, Dananya Untuk Bayar Utang
SMGR berencana menyederhanakan struktur dari sekitar 40 anak usaha menjadi kurang dari 20 entitas, keluar dari bisnis yang tidak aktif dan non-inti seperti PT Aroma Cipta Anugrahtama (ACA) yang bergerak di bidang tambang dan PT Aroma Sejahtera Indonesia (ASI) bergerak di bidang jasa konsultasi, serta menggabungkan unit beton dari 3 menjadi 1 dan unit distribusi dari 2 menjadi 1.
Selain itu, perusahaan ini juga membukukan profitabilitas anak usaha utama seperti SILOG (logistik) dan SII (ekspor) melalui pengendalian anggaran yang lebih ketat dan langkah efisiensi. Neraca SMGR juga diperkuat dengan penyesuaian cadangan piutang dan goodwill impairment. Sebagian besar biaya restrukturisasi akan dicatat pada kuartal IV 2025, dengan dampak lebih kecil ke 2026.
Hingga Januari 2026, SMGR mencatat pertumbuhan volume yang kuat. Ini nampak dari penjualan yang naik 14% secara tahunan didukung oleh permintaan yang solid di Sumatra dan Jawa Timur. “Momentum ini akan melandai pada Februari–Maret 2026 karena musim libur, termasuk Tahun Baru Imlek dan Idul Fitri,” ujar Kevin dalam riset.
Maybank Sekuritas Indonesia melihat risiko kenaikan volume yang signifikan pada kuartal II hingga kuartal IV tahun 2026, didorong oleh rekonstruksi pascabanjir di Sumatra dan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Data menunjukkan kerusakan rumah akibat banjir di Sumatra mencapai 301.000 unit hingga akhir Februari 2026. Pemerintah telah mengalokasikan sekitar Rp 56 triliun untuk rekonstruksi dari April 2026 hingga Desember 2028, yang bisa menjadi pendorong volume industri semen multi-tahunan.
Kevin memperkirakan kontribusi rekonstruksi terhadap volume industri semen tahun 2026 sebesar 3%–5%, dengan asumsi 5%–10% anggaran digunakan untuk pengeluaran terkait semen. Program KDMP diperkirakan menambah 2%–4% kenaikan volume melalui pembangunan sekitar 80.000 koperasi.
Kevin menyoroti risiko dari lemahnya nilai tukar rupiah, karena sekitar 50% biaya SMGR terkait dengan mata uang asing. Namun, risiko biaya energi dianggap relatif aman karena perusahaan menggunakan 100% batubara melalui mekanisme Domestic Market Obligation (DMO).
Mitra Keluarga (MIKA) Siapkan Rp 1 Triliun Buyback Saham, Target Laba per Saham Naik
Dengan dua faktor pendorong ini perbaikan internal dan peluang volume dari proyek pemerintah, SMGR dipandang memiliki posisi strategis untuk menjadi emiten unggulan di pasar modal Indonesia sepanjang 2026.
Hingga akhir 2025, SMGR diperkirakan bisa membukukan pendapatan sebesar Rp 35,23 triliun dengan laba bersih Rp 308 miliar. Sedangkan kinerja di 2026, SMGR diperkirakan bisa membukukan pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar Rp 36,99 triliun dan Rp 816 miliar.
Kevin memberi rekomendasi beli saham SMGR dengan target saham dalam 12 bulan sebesar Rp 4.500 per saham. Jumat (6/3/2026) harga saham SMGR turun 0,37% di Rp 2.660 per saham.