Pasar saham Jepang melesat, Nikkei tembus rekor tertinggi usai perang mereda

Indeks saham Jepang, Nikkei 225, ditutup di level tertinggi sepanjang masa dipengaruhi rencana damai Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kenaikan ini sekaligus membalikkan keadaan pasar yang sebelumnya berdarah-darah karena perang di Iran.

Pada penutupan perdagangan di Tokyo, indeks ini naik 2,4 persen menjadi 59.518,34. Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya di 58.850,27 yang tercatat pada 27 Februari. Sementara itu, indeks Topix juga naik 1,2 persen.

Kenaikan terutama didorong oleh saham-saham sektor ekspor seperti otomotif, elektronik, dan teknologi informasi. Sebaliknya, saham sektor properti dan makanan justru mengalami penurunan.

Secara global, pasar saham juga mulai mendekati pemulihan ke level sebelum perang. Indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 bahkan sudah kembali mencetak rekor tertinggi. Hal ini terjadi karena Amerika Serikat dan Iran sedang mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata selama dua minggu untuk memberi waktu negosiasi.

Analis pasar dari Asset Management One, Tsuyoshi Shimizu, menilai kenaikan Nikkei ini menunjukkan bahwa pasar saham Jepang mulai masuk ke normal baru.

Selama negosiasi antara AS dan Iran tidak gagal, indeks Topix berpeluang ikut mencetak rekor baru ke depan.

Saat ini, Nikkei hanya sekitar 0,8 persen lagi menuju level psikologis 60.000 yang menjadi target investor. Kenaikan ini merupakan hasil dari tren positif yang sudah berlangsung selama beberapa tahun, didorong oleh reformasi tata kelola perusahaan, melemahnya yen, dan perkembangan teknologi AI.

Lonjakan ini juga melahirkan sejumlah saham chip dengan kinerja terbaik di dunia, serta menarik aliran dana besar dari investor asing dan investor aktivis.

Meski begitu, pelaku pasar tetap waspada menghadapi musim laporan keuangan di Jepang, karena prospeknya cenderung memburuk akibat harga minyak yang masih tinggi. Ketegangan di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dan gas, juga masih tinggi sejak perang dimulai.

Namun, kinerja laba perusahaan di AS yang masih kuat turut menopang pasar, menurut Takuro Hayashi dari IwaiCosmo Securities. Ia menyebut, jika sebelumnya kenaikan pasar didorong sektor teknologi, kini kenaikan mulai meluas ke berbagai sektor lainnya.