
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahan di awal pekan seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya sentimen global.
Nilai tukar rupiah di pasar spot masih dalam tekanan hingga akhir perdagangan hari ini. Senin (5/1/2026), rupiah ditutup di level Rp 16.740 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,09% dibanding penutupan Jumat (2/1/2026) yang berada di Rp 16.725 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, rupiah JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) Bank Indonesia (BI) juga dicatat melemah secara harian 0,13% menjadi Rp 16.748 per dolar AS.
Analis Komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah melemah terhadap dolar AS akibat DXY menguat pasca Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil alih kendali sementara atas Venezuela setelah pasukan khusus AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.740 Per Dolar AS Hari Ini (5/1), Asia Melemah
Selain itu, data perdagangan Indonesia bulan November juga dinilai masih mengecewakan dan di bawah harapan, sehingga ikut menekan rupiah.
“Sehingga, meskipun data inflasi menunjukkan kenaikan yang bisa menurunkan prospek pemangkasan suku bunga oleh BI, rupiah masih tertekan,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (5/1/2026).
Untuk pergerakan esok hari, Selasa (6/1/2026), Lukman bilang sentimen yang memengaruhi rupiah selain dari perkembangan geopolitik juga pekan ini dipadati oleh data-data ekonomi penting, terutama dari AS dengan data ISM Manufacturing malam ini, serta ISM Services dan NFP beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut sentimen lain datang dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$ 2,66 miliar pada November 2025.
Loyo, Rupiah Spot Melemah 0,19% ke Rp 16.756 per Dolar AS pada Senin (5/1) Siang
Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang bulan sebelumnya atau Oktober 2025 senilai US$ 2,39 miliar.
“Sebelumnya, konsensus ekonom memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia akan berlanjut pada November 2025 atau 67 bulan secara beruntun. Surplus diproyeksikan akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Ibrahim.
Dengan begitu, Ibrahim memprediksi rupiah pada Selasa (6/1/2026) akan bergerak di rentang Rp 16.740 – Rp 16.770 per dolar AS. Adapun Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di Rp 16.700 – Rp 16.800 per dolar AS.