
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Performa aset kripto kembali mencuri perhatian di tengah gejolak pasar global.
Bitcoin tercatat mampu mengungguli emas hingga sekitar 20% sejak akhir Februari 2026 saat ketegangan geopolitik mulai meningkat.
Berdasarkan data pasar, harga Bitcoin saat ini berada di kisaran US$ 69.000 dan hanya terkoreksi sekitar 1,7% dalam sepekan terakhir.
Valas Asia Bergerak Terbatas, Ini Strategi Investor Hadapi Volatilitas
Sebaliknya, harga emas mengalami tekanan signifikan dengan penurunan 1,45% dalam 24 jam terakhir dan melemah sekitar 16,89% secara mingguan.
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin menilai perbedaan kinerja ini dipengaruhi oleh faktor struktural, terutama penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
“Tekanan pada emas terjadi seiring penguatan dolar dan kenaikan yield. Sementara itu, Bitcoin menunjukkan ketahanan karena karakteristiknya yang memiliki suplai terbatas,” ujar Fahmi dalam keterangan resmi, Jumat (27/3).
Selain itu, peningkatan minat investor institusional turut memperkuat kinerja Bitcoin.
Salah satu perusahaan publik, MicroStrategy, dilaporkan terus menambah kepemilikan aset kripto tersebut secara agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Dari sisi fundamental, data on-chain juga menunjukkan lebih dari 60% pasokan Bitcoin saat ini dipegang oleh investor jangka panjang.
Kondisi ini menciptakan tekanan pasokan (supply squeeze) yang berpotensi menopang harga dalam jangka panjang.
Meski demikian, Fahmi mengingatkan bahwa reli Bitcoin saat ini masih dibayangi volatilitas tinggi, terutama di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan arah kebijakan moneter bank sentral AS.
“Volatilitas jangka pendek masih tinggi, namun secara jangka panjang kombinasi akumulasi institusional dan keterbatasan suplai menjadi faktor penopang,” kata Fahmi.
Jayamas Medica Industri (OMED) Targetkan Pendapatan Rp 2,3 Triliun di 2026
Di sisi lain, tekanan terhadap emas diperkirakan masih berlanjut selama imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan kebijakan moneter global cenderung ketat.
Bagi investor di Indonesia, dinamika ini menjadi pertimbangan dalam melakukan diversifikasi portofolio, terutama di tengah tekanan inflasi dan pelemahan nilai tukar yang dipengaruhi faktor global.