
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja emiten jasa konstruksi sepanjang 2025 menunjukkan kontras tajam. Di satu sisi, pemain swasta mencatat pertumbuhan solid baik dari pendapatan maupun laba. Di sisi lain, emiten konstruksi pelat merah masih bergulat dengan tekanan kinerja dan beban keuangan.
Emiten swasta seperti PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) tampil impresif. Pendapatan TOTL melonjak 26,35% menjadi Rp 3,90 triliun pada 2025, dari Rp 3,08 triliun di tahun sebelumnya.
Kenaikan ini mendorong laba bersih naik 56,09% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 414,39 miliar.
Kinerja serupa juga dibukukan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA). Pendapatan NRCA tumbuh 7,1% YoY menjadi Rp 3,61 triliun, sementara laba bersihnya melesat 115,1% menjadi Rp 175,52 miliar.
Laba TOTL Melonjak 56% di 2025, Simak Rekomendasi Analis
Sebaliknya, mayoritas emiten konstruksi BUMN seperti PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) masih mencatatkan penurunan pendapatan dan rugi bersih sepanjang 2025.
Direktur Reliance Sekuritas Reza Priyambada menilai, perbedaan kinerja ini terutama dipicu oleh kondisi keuangan. Emiten swasta dinilai lebih leluasa berekspansi karena tidak terbebani restrukturisasi utang.
“Emiten konstruksi BUMN masih fokus memperbaiki struktur keuangan, sementara swasta bisa lebih agresif mengejar kontrak baru,” ujarnya.
Menurut Reza, prospek emiten konstruksi swasta pada 2026 masih terbuka lebar. Permintaan pembangunan pusat data, fasilitas pergudangan, hingga proyek komersial diperkirakan akan menjadi motor pertumbuhan.
Selain itu, proyek smelter dan fasilitas pengolahan mineral di luar Jawa juga memberi peluang besar, khususnya bagi kontraktor yang memiliki spesialisasi di konstruksi industri.
Laju Emiten Properti Masih Tertahan, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Namun, tantangan belum mereda. Kenaikan harga material seperti baja dan semen berpotensi menekan margin. Di saat yang sama, biaya pinjaman masih tinggi seiring suku bunga yang belum turun signifikan, sehingga membebani kebutuhan modal kerja.
Tekanan tambahan juga datang dari tuntutan penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) dan penggunaan material ramah lingkungan. Hal ini memaksa perusahaan menambah investasi, terutama untuk teknologi konstruksi baru.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat peluang perbaikan bagi emiten BUMN karya pada 2026, dengan catatan lebih selektif dalam memilih proyek dan menjaga margin tetap sehat.
Ia menambahkan, stabilnya inflasi serta keberlanjutan proyek strategis nasional dapat menjadi penopang kinerja. Namun, risiko eksternal seperti konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan biaya dana. Apalagi, suku bunga acuan Bank Indonesia masih berada di level 4,75% per Maret 2026.
Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan beban Pajak Pertambahan Nilai juga menjadi faktor yang dapat menekan biaya proyek, terutama dari sisi bahan baku.
Proyek Danantara Bakal Jadi Ancaman Bagi Emiten Poultry, Simak Rekomendasi Analis
Dengan berbagai sentimen tersebut, Nafan merekomendasikan investor untuk bersikap hati-hati.
Strategi wait and see dinilai masih relevan, baik untuk saham emiten konstruksi swasta maupun BUMN karya, sambil mencermati perkembangan fundamental dan kondisi makro ke depan.