
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Tekanan besar menghantam saham PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA) sepanjang tahun berjalan 2026. Pada Rabu (1/4/2026), saham KRYA ditutup turun 10% ke level Rp 54 per saham.
Jika ditarik lebih jauh lagi, saham KRYA sudah ambles 64% secara year to date (ytd) Di tengah aksi penurunan harga saham KRYA, PT Green Power Group Tbk (LABA) dan Green City Pte Ltd terpantau aktif melepas saham KRYA.
LABA tercatat melakukan 15 kali transaksi penjualan saham. Mengacu data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Maret 2026, kepemilikan LABA di KRYA tersisa 148,78 juta saham atau setara 8,94%.
Kinerja Emiten MIND ID Beragam pada 2025, Begini Rekomendasinya dari Analis
Sementara Green City Pte Ltd juga melakukan aksi jual dengan frekuensi empat kali transaksi dan hanya satu kali pembelian. Kepemilikannya turun signifikan dari 16,30% pada akhir 2025 menjadi 9,75% atau setara 162,21 juta saham.
Di sisi lain, data KSEI menunjukkan Dharmo Budiono menjadi satu-satunya pemegang saham di atas 5% yang belum melakukan penjualan sepanjang tahun ini. Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait siapa pengendali utama perseroan saat ini.
Pasca RUPSLB pertengahan Januari 2026, terdapat perbedaan antara data kepemilikan di pasar dan administrasi hukum. Hingga 26 Februari 2026, sistem Ditjen AHU Online masih mencerminkan komposisi pemegang saham sebelumnya.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai kombinasi penurunan harga yang dalam, aksi jual terafiliasi pengendali, serta ketidaksinkronan data merupakan risiko yang tidak bisa diabaikan.
Menurut dia, kondisi ini kerap terjadi pada fase distribusi, yakni saat pemegang saham utama melepas kepemilikan secara bertahap ke pasar, yang biasanya diiringi volatilitas tinggi dan tekanan harga.
“Dalam situasi seperti ini, investor ritel sering kali rentan karena masuk saat harga terlihat murah, padahal risiko fundamental dan tata kelola justru meningkat,” jelasnya, Rabu (1/4/2026).
Hendra menyarankan pelaku pasar untuk meningkatkan kehati-hatian dan tidak hanya melihat penurunan harga sebagai peluang.
Kinerja RMK Energy (RMKE) Solid di 2025, Pertumbuhan Kuartal IV Jadi Penopang Utama
“Fokus utama investor seharusnya melindungi modal dan menunggu kejelasan struktur pengendali serta transparansi informasi sebelum mengambil keputusan investasi,” tutupnya.