
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat di tengah memanasnya tensi geopolitik global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg pukul 12.03 WIB, rupiah di pasar spot melemah 76 poin atau 0,43% ke level Rp 17.877 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang mendorong investor mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS.
Makin Loyo, Rupiah Spot Melemah 0,42% ke Rp 17.876 per Dolar AS, Kamis (28/5) Siang
“Tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari faktor eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (28/5).
Dari eksternal, pasar mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi global, terutama di jalur perdagangan minyak Selat Hormuz.
Menurut Ibrahim, risiko terganggunya pasokan energi global telah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar tekanan terhadap negara importir minyak, termasuk Indonesia.
Selain itu, konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlanjut turut meningkatkan ketidakpastian pasar global dan memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Di sisi lain, ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama juga menjadi sentimen negatif bagi mata uang emerging market.
Ibrahim mengatakan, tingginya harga energi berpotensi meningkatkan inflasi global sehingga mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Kondisi tersebut membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara dari domestik, pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen, serta kewajiban utang jatuh tempo.
Ia juga menilai pelaku pasar masih mencermati kondisi fiskal domestik dan efektivitas sejumlah program pemerintah yang dinilai dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Ibrahim, tekanan eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan membuat ruang stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia (BI) menjadi semakin terbatas meski bank sentral terus melakukan intervensi di pasar valas.
“Bank Indonesia sudah melakukan intervensi semaksimal mungkin, tetapi tekanan pasar memang masih cukup besar,” ujarnya.
Ia memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah hingga mendekati level Rp 17.900 per dolar AS dalam perdagangan selanjutnya.
Konflik AS-Iran Buntu, Selat Hormuz Jadi Kunci Nasib Harga Minyak