Imbas konflik AS-Iran, IHSG dan rupiah ditutup melemah

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (6/3/2026) sore ditutup melemah seiring dengan sikap risk-off (menghindari aset berisiko) investor akibat masih berlangsungnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.

IHSG ditutup melemah 124,85 poin atau 1,62 persen ke posisi 7.585,68. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 11,77 poin atau 1,49 persen ke posisi 776,04.

“Investor cenderung risk-off dan defensif. Investor menghindari instrumen berisiko tinggi dengan melikuidasi saham big caps dan merotasi ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS,” ujar Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi di Jakarta, Jumat.

Wafi menjelaskan, sikap risk-off investor disebabkan oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah serta tingginya yield US Treasury akibat ekspektasi suku bunga The Fed yang tertahan tinggi.

Dari mancanegara, pelaku pasar menantikan berbagai data ekonomi, di antaranya rilis data inflasi (CPI) dan tenaga kerja (NFP) AS yang akan dijadikan acuan untuk melihat arah kebijakan The Fed, serta kejelasan resolusi atau eskalasi konflik Timur Tengah. Dari dalam negeri, ia menjelaskan pemangkasan outlook kredit Indonesia menjadi negatif oleh Fitch Ratings memicu depresiasi nilai tukar rupiah dan capital outflow (dana asing keluar) yang masif.

Sementara itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data cadangan devisa, respons kebijakan Bank Indonesia (potensi kenaikan BI Rate) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, serta tanda-tanda meredanya tekanan net sell (aksi jual) asing.

Dibuka melemah, IHSG bertahan di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih berada di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah, yaitu sektor industri turun paling dalam sebesar 3,67 persen, diikuti sektor barang konsumen nonprimer dan sektor energi yang masing-masing turun sebesar 3,54 persen dan 2,80 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu SKBM, ALKA, TPIA, ICON, dan EURO. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni KOTA, RODA, LAND, ENRG, dan ENZO.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.946.837 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 34,18 miliar lembar saham senilai Rp 17,77 triliun. Sebanyak 168 saham naik, 555 saham menurun, dan 94 saham tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 342,69 poin atau 0,62 persen ke 55.620,80, indeks Shanghai menguat 15,62 poin atau 0,38 persen ke 4.124,18, indeks Hang Seng menguat 435,94 poin atau 1,72 persen ke 25.757,28, dan indeks Strait Times menguat 1,68 poin atau 0,03 persen ke 4.848,25.

Rupiah Sentuh Rp 16/923 per Dolar AS Karyawan menunjukkan uang dollar dan rupiah di money changer. – (Republika/Prayogi)

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat, juga bergerak melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp 16.923 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp 16.905 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan kurs rupiah dipengaruhi sikap wait and see pelaku pasar terhadap data tenaga kerja Amerika Serikat (AS). “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melanjutkan pelemahan di kisaran Rp 16.880-Rp 16.930, dipengaruhi oleh sikap wait and see terhadap data tenaga kerja AS,” ucapnya.

Data tenaga kerja non farm payroll (NFP) diperkirakan bertambah 59 ribu, lebih rendah dari sebelumnya yang sebesar 130 ribu. Sentimen lainnya berasal dari potensi perang terbuka yang masih berlanjut dengan Iran.

Risiko perang disebut akan berdampak pada kenaikan harga minyak yang selanjutnya mempersempit ruang fiskal pemerintah. Pasalnya, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS dapat meningkatkan subsidi hingga Rp 10 triliun.

“Dari domestik, penurunan outlook rating oleh Fitch menambah kekhawatiran pelaku pasar. Namun, minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah meningkat, terutama yang bertenor pendek sampai menengah, sehingga menahan pelemahan rupiah lebih dalam lagi,” ungkap Rully.