
Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah tajam pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (5/6), dipimpin oleh aksi jual besar-besaran di sektor teknologi. Indeks Nasdaq yang sarat saham teknologi mencatat penurunan harian terbesar sejak April 2025.
Dilansir Reuters, tekanan di pasar muncul setelah laporan ketenagakerjaan AS pada April menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama di tengah inflasi yang masih sulit turun.
Indeks Nasdaq merosot lebih dari 4 persen, sementara indeks S&P 500 turun 2,6 persen dan indeks Dow Jones Industrial Average melemah 1,35 persen.
Tidak hanya pasar saham, aset digital juga ikut terpukul. Bitcoin sebagai aset kripto terbesar dunia mengalami penurunan tajam seiring investor beramai-ramai mengurangi kepemilikan aset berisiko.
Kondisi tersebut menunjukkan tingginya sensitivitas pasar terhadap prospek suku bunga. Meski pasar tenaga kerja yang kuat umumnya menjadi sinyal positif bagi perekonomian, kondisi itu justru mengurangi peluang The Fed memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Kepala Ekonom Macquarie Group, David Doyle, menilai laporan ketenagakerjaan terbaru bahkan bisa dikatakan “terlalu baik” di tengah inflasi yang masih tinggi. Menurutnya, data tersebut meningkatkan kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga tahun ini, sehingga memicu aksi jual di pasar saham.
Situasi itu memaksa investor yang sebelumnya berharap adanya pemangkasan suku bunga untuk mengubah strategi investasinya secara cepat.
Meski demikian, pelemahan pasar pada Jumat tidak mencerminkan kepanikan global. Investor lebih banyak melakukan rotasi portofolio dengan mengurangi eksposur pada saham teknologi yang dinilai sudah terlalu mahal (overvalued).

Sejumlah analis sebelumnya telah memperingatkan bahwa lonjakan valuasi saham teknologi, khususnya yang terkait kecerdasan buatan (AI), berpotensi mengalami koreksi seperti pecahnya gelembung dotcom pada awal 2000-an.
Sejumlah dana investasi besar tercatat menarik dana dari saham perusahaan AI dan produsen semikonduktor yang dalam beberapa tahun terakhir menikmati reli harga signifikan.
Sebaliknya, investor mengalihkan dana ke sektor yang dianggap lebih defensif seperti kesehatan, utilitas, dan barang kebutuhan pokok. Saham perusahaan seperti Kraft Heinz dan Keurig Dr Pepper mendapat aliran dana karena dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian pasar.
Aksi jual tersebut sekaligus memperlihatkan tingginya ketergantungan pasar terhadap kinerja saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Dengan dominasi beberapa perusahaan teknologi terhadap kapitalisasi pasar AS, perubahan sentimen investor dapat dengan mudah menyeret indeks saham secara keseluruhan.
Menanggapi pelemahan pasar, Presiden AS Donald Trump mengkritik reaksi negatif investor terhadap data ketenagakerjaan yang kuat. Menurutnya, pasar terlalu fokus pada isu inflasi.
“Saya berharap pasar mulai memahami bahwa ketika data ekonomi bagus, pasar seharusnya naik, bukan turun,” ujar Trump.
Sementara itu, perhatian pelaku pasar pada pekan depan diperkirakan akan tertuju pada perkembangan sektor teknologi dan kebijakan pemerintah AS. Trump disebut mengundang sejumlah petinggi perusahaan AI ke Gedung Putih untuk membahas proposal pemerintah AS mengambil kepemilikan saham publik pada perusahaan-perusahaan tersebut.
Menurut Trump, langkah itu bertujuan mengubah cara masyarakat memandang teknologi AI sekaligus memungkinkan warga AS ikut menikmati manfaat ekonomi dari perkembangan teknologi tersebut.