
Majelis Permusyawaratan Rakyat atau MPR meminta pemerintah menarik pasukan dari kelompok perdamaian Lebanon atau UNIFIL usai tiga anggota TNI tewas dalam serangan Israel. Pemerintah juga memberikan penghargaan pada anggota TNI yang gugur maupun terluka.
“Pimpinan MPR dengan 732 anggota majelis mengetuk dengan keras tindakan Israel yang sangat biadab terhadap putra-putra terbaik kita yang sedang menjalankan misi perdamaian,” ujar Ketua MPR Ahmad Muzani di Kantor MPR, Selasa (31/3).
Muzan mengatakan, pemerintah perlu menarik pasukan karena wilayah operasi UNIFIL saat ini tidak memberikan jaminan keselamatan bagi anggota TNI. “Hal ini sesuai dengan konstitusi yang memerintahkan untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah,” katanya.
Ia juga mengusulkan agar pemerintah memberikan penghargaan pada anggota TNI yang gugur maupun terluka. Ini karena seluruh anggota TNI tersebut tengah menjalankan misi perdamaian sesuai dengan konstitusi.
Muzani pun meminta pemerintah membantu keluarga anggota TNI yang ditinggalkan. Saat ini, sekitar 800 anggota TNI tengah bertugas di UNIFIL yang berada di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Tiga prajurit TNI gugur dalam serangan Israel, yakni Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon yang terkena proyektil misil Israel akhir pekan lalu, serta Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan yang gugur karena kendaraan konvoinya meledak setelah menginjak ranjau Israel.
Selain itu, terdapat lima anggota TNI yang mengalami luka-luka akibat agresi Israel ke Lebanon, yakni:
1. Prajurit Kepala Rico Pramudia
2. Prajurit Kepala Bayu Prakoso
3. Prajurit Kepala Arid Kurniawan
4. Prajurit Kepala Deni Rianto
5. Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana
Berdasarkan laman resmi PBB, tugas utama UNIFIL adalah menjaga agar tidak ada militer asal Israel yang memasuki kawasan selatan Lebanon. Adapun kawasan tersebut telah menjadi lokasi konflik antara tentara Israel dan kelompok bersenjata asal Lebanon Hizbullah.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Akbarshah Fikarno Laksono belum memberikan kecaman formal terhadap Israel maupun Hizbullah atas gugurnya tiga anggota TNI selama 29-31 Maret 2026. Sebab, legislator masih menunggu hasil investigasi khusus dan mendalam atas kejadian tersebut.
Dave mengatakan, dari informasi yang diterimanya, petugas yang mengevakuasi dua anggota TNI yang meninggal kerap dihujani peluru. Menurutnya, prajurit TNI selalu memiliki risiko kehilangan nyawa saat bertugas.
Namun, Dave menegaskan tugas utama anggota TNI dalam UNIFIL adalah menjaga perdamaian, bukan konflik bersenjata. Karena itu, Dave mendorong pemerintah untuk mengevaluasi pengiriman anggota TNI ke Asia Barat sebelum melakukan peremajaan pasukan pada Mei 2026.
“Kalau memang perang masih berkecamuk di Selatan Lebanon, harus ada ketegasan baik dari PBB maupun Mabes TNI,” katanya.
Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel menyampaikan proses investigasi tidak akan rampung dalam waktu dekat. Sebab, UNIFIL belum memiliki informasi jelas terkait kondisi yang menewaskan tiga anggota TNI. Walau demikian,UNIFIL menegaskan tujuan investigasi adalah menemukan kondisi-kondisi tersebut.
“Kami akan menuntut pihak yang bertanggung jawab dan memberikan protes formal berdasarkan hasil investigasi,” kata Ardiel dalam keterangan resmi, Senin (30/3).