Analis ungkap nasib laju IHSG saat BI tahan suku bunga

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan pada level 4,75% dinilai tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap laju pasar saham Tanah Air.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia, menilai keputusan bank sentral RI itu untuk menahan suku bunga, tidak memberikan shock terhadap pasar saham. Namun, tidak juga mendorong katalis yang kuat bagi laju IHSG. Liza menilai, keputusan BI hanya memberikan dampak netral—positif terhadap pasar saham dalam negeri.

”Surplus perdagangan dan proyeksi NPI yang tetap sehat menurunkan risiko eksternal sehingga downside IHSG relatif terbatas. Namun, tanpa penurunan suku bunga, akselerasi rally lebih bergantung pada pertumbuhan laba dan arus dana asing,” tegas Liza dalam risetnya, Kamis (19/2/2026).

: BI Tahan Suku Bunga 4,75%, IHSG Intip Peluang Pemulihan

Meskipun begitu, BI masih membuka peluang penurunan suku bunga ke depan. Liza menilai, hal ini penting lantaran dapat menjadi bantalan kebijakan BI jika tekanan terhadap pasar global telah mereda.

Dengan kata lain, Liza menilai kebijakan BI untuk menahan suku bunga dan membuka peluang pemangkasan ke depan, bukan menjadi katalis instan bagi pasar. Namun, hal ini mampu memperkuat fondasi kepercayaan investor terhadap pasar modal Tanah Air.

: : BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75%, Ke Mana Arah IHSG Selanjutnya?

Ihwal peluang kembali menguatnya IHSG ke level 9.000, Liza menilai hal itu cukup terbuka ke depan. Terlebih, inflasi dinilai tetap terkendali, serta surplus perdagangan dan NPI tetap terjaga stabil.

”Momentum musiman Ramadhan—Lebaran, serta belanja pemerintah awal tahun dan potensi pelonggaran likuiditas global jika The Fed mulai quantitative easing [mampu mendorong IHSG ke level 9.000],” kata Liza.

: : IHSG Ditutup Lesu saat BI Tahan Suku Bunga, BBCA-BMRI Cs Kompak Merah

Meskipun begitu, peluang kembali menguatnya IHSG ke level 9.000, tidak bebas risiko. Sikap hawkish The Fed yang berpotensi menahan penurunan suku bunga global, berpotensi memperberat aksi masuknya dana asing ke emerging market. Belum lagi, pasar Tanah Air tengah dilanda isu reformasi pasar dan persepsi risk premium.

”Penahanan suku bunga BI bukan katalis rally, tetapi memperkuat fondasi stabilitas. Kunci menuju 9.000 ada pada kombinasi foreign flow, earnings, dan perbaikan sentimen global,” tegas Liza.

Di tengah kondisi ini, Liza merekomendasikan sejumlah sektor saham yang sebaiknya diperhatikan oleh investor. Terhadap sektor berbasis ekspor dan komoditas misalnya, Liza menilai kedua sektor ini cenderung positif lantaran didorong oleh surplus perdagangan dan ketahanan eksternal.

Begitu juga pada sektor infrastruktur dan telekomunikasi yang memiliki reccuring income dan sensitivitas lebih rendah terhadap suku bunga jangka pendek. Selain itu, sektor perbankan dinilai akan relatif stabil. Namun, tanpa penurunan suku bunga yang agresif, ekspansi kredit dinilai akan cenderung gradual.

”Energi dan hilirisasi memiliki narasi struktural dan visibilitas arus kas. Sementara konsumsi cenderung selektif, didorong momentum Ramadhan—Lebaran dan realisasi APBN awal tahun,” kata Liza.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.