
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak konsolidatif pekan depan karena dipicu pelemahan nilai tukar rupiah dan perlambatan momentum teknikal di area jenuh beli atau overbought.
Pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (9/1/2026), indeks komposit membukukan kenaikan sebesar 0,13% menuju level 8.936,75.
Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan, mengatakan bahwa meski ditutup di zona hijau, performa indeks cukup kontras dengan nilai tukar rupiah yang kembali melemah ke level Rp16.819 per dolar AS di pasar spot.
: Lo Kheng Hong Borong Lagi Saham ABMM 2026
“Penguatan IHSG terjadi di tengah tekanan rupiah yang dipicu ekonomi AS yang masih kuat, sementara indikator ekonomi domestik cenderung melemah,” ujar Valdy dalam laporan risetnya, dikutip Minggu (11/1/2026).
Secara teknikal, ada sinyal waspada pada indikator Stochastic RSI yang telah membentuk pola death cross di area overbought. Meski histogram MACD masih bertahan di zona positif, momentum penguatan dinilai mulai kehilangan tenaga.
: : Lo Kheng Hong Langsung Belanja Jutaan Lembar Saham GJTL 2026
“Diperkirakan IHSG akan cenderung berkonsolidasi pada kisaran 8.860-9.000 pada pekan depan, selama tidak ditutup di atas level 9.000,” tambah Valdy.
Untuk periode sepekan ke depan, Phintraco memperkirakan area support indeks berada pada level 8.800 dengan pivot di 8.900 dan resistance kuat di 9.000.
: : Kuda-Kuda Investor Raksasa di Saham GOTO Awal 2026
Kondisi pasar modal Indonesia juga tidak terlepas dari sentimen kawasan Asia yang bergerak variatif di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Valdy mencatat bahwa inflasi di China merangkak naik ke level 0,8% secara tahunan (year on year/YoY) pada Desember 2025. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Februari 2023, menandakan kenaikan harga pangan di Negeri Tirai Bambu mulai menjadi motor penggerak inflasi.
“Data ini juga menunjukkan kenaikan inflasi selama tiga bulan berturut-turut yang didorong oleh kenaikan harga makanan, setelah sebelumnya cenderung mengalami deflasi,” ungkapnya.
Dari dalam negeri, data ekonomi menunjukkan dinamika beragam. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 melemah ke 123,5 dari 124 pada bulan sebelumnya akibat penurunan sebagian besar enam sub-indeks utama.
Namun, sektor riil menunjukkan ketahanan berkat kinerja penjualan sepeda motor yang naik 14,5% YoY menjadi 461.925 unit pada Desember 2025.
Sepanjang 2025, total penjualan sepeda motor mencapai 6,4 juta unit atau tumbuh 1,3% YoY. Realisasi ini mencapai kisaran bawah target Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang di rentang 6,4 juta hingga 6,7 juta unit.
Meskipun mencapai target, Valdy memberikan catatan bahwa pertumbuhan tahun 2025 secara persentase masih lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2024 yang mencapai 1,5% YoY.
Menyikapi potensi konsolidasi pasar, Phintraco merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati pekan depan, antara lain saham PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk. (CENT), PT Samator Indo Gas Tbk. (AGII), PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL), PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI), PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), dan PT Semen Baturaja Tbk. (SMBR).
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.