
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks sektor transportasi masih berada dalam tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Namun di balik pelemahan tersebut, analis melihat peluang rebound yang cukup menarik, terutama menjelang momentum mudik lebaran hingga Lebaran yang biasanya mendorong lonjakan mobilitas masyarakat.
Hasil survei Kementerian Perhubungan memperkirakan pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 diperkirakan sekitar 143,91 juta orang atau 50,60% penduduk Indonesia. Dari sisi moda transportasi, mobil pribadi diprediksi masih menjadi pilihan utama dengan 76,24 juta pemudik, disusul sepeda motor dan bus.
Berdasarkan data IDX Mobile hingga pukul 10.00 WIB, Senin (16/3/2026), indeks transportasi atau IDX Trans terpantau berada di zona merah pada level 1.760,6, turun 52,78 poin atau sekitar 3%.
: IHSG Dibuka Tinggalkan Level 7.000: Saham BREN, DSSA hingga MDKA Berguguran
Secara year to date (YtD), indeks ini juga masih mencatatkan pelemahan 13,16%. Membandingkan dengan kinerja tahunan sektor ini sempat menunjukkan kinerja impresif dengan kenaikan hingga 49,55% secara tahunan.
Adapun saham emiten tranportasi darat PT Eka Sari Lorena Transport Tbk. (LRNA) tercatat mengalami penguatan signifikan sebesar 44 basis point atau 22,92% ke level Rp236 pada Senin (16/3/2026). Selama sepekan, saham LRNA telah meningkat sebanyak 25,53%. Melanjutkan tren penguatan selama satu tahun yang mencapai 50,32%.
: : IHSG Waspada Bearish: Saham PSAB, INDY hingga BUKA Jadi Jagoan Analis
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai secara fundamental, momentum Ramadan hingga Lebaran umumnya menjadi katalis positif bagi sektor transportasi. Periode ini biasanya diwarnai peningkatan signifikan mobilitas masyarakat, baik untuk perjalanan mudik maupun aktivitas logistik dan distribusi barang.
Namun, lanjutnya pelemahan yang terjadi tersebut tidak lepas dari kondisi pasar global yang kurang kondusif, terutama akibat meningkatnya tensi geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memicu aksi jual di pasar saham.
: : Trump Serang Pusat Ekspor Iran: Saham AS Rontok, Harga Minyak Melejit
Sebelumnya, indeks transportasi sempat mencatatkan penguatan signifikan hingga 24 Februari 2026. Namun setelah itu, arah pergerakan berbalik seiring meningkatnya volatilitas pasar.
Meski demikian, analis melihat peluang rebound masih cukup besar. Investor disarankan mencermati kapan tekanan jual mulai mereda karena banyak saham transportasi yang saat ini diperdagangkan dengan valuasi relatif murah.
“Jika melihat kondisi saat ini, peluang rebound cukup tinggi karena masih banyak saham yang diperdagangkan pada level price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) yang relatif rendah,” ujarnya, Senin (16/3/2026).
Beberapa saham yang dinilai menarik untuk strategi akumulasi beli atau buy on weakness antara lain yakni PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) dengan target harga Rp1.200, PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) dengan target harga Rp410, dan PT Blue Bird Tbk. (BIRD) dengan target harga Rp1.800
Ketiga saham tersebut dinilai masih tergolong murah karena diperdagangkan di bawah PBV 1 kali dan PER di bawah 15 kali, yang mencerminkan valuasi relatif atraktif dibandingkan potensi pertumbuhan bisnisnya.
Sementara itu, Senior technical analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji juga menilai indeks transportasi berpotensi menjadi leading sector yang mendapat manfaat langsung dari dinamika musim mudik. Pergerakan masyarakat yang meningkat biasanya diikuti dengan lonjakan arus kendaraan di berbagai jalur transportasi, baik darat, laut, maupun udara.
“Indeks transportasi berpotensi menjadi sektor unggulan karena mendapatkan manfaat dari dinamika momentum mudik. Peningkatan arus kendaraan dan trafik perjalanan biasanya menjadi katalis bagi kinerja emiten di sektor ini,” ujarnya,
Selain itu, permintaan logistik juga diprediksi meningkat seiring dengan tingginya aktivitas belanja masyarakat, terutama melalui platform e-commerce. Emiten yang memiliki eksposur kuat pada bisnis transportasi darat dan logistik dinilai berpotensi mendapatkan manfaat paling besar dari peningkatan permintaan tersebut.
Dia menilai peluang di sektor ini tetap harus disikapi secara selektif dengan mempertimbangkan prinsip demand dan supply di pasar.
Rekomendasinya adalah pada saham PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) dengan target harga Rp1.540 per lembar saham.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.