
Ussindonesia.co.id MALANG — Prakiraan penjualan eceran di Malang, Jawa Timur, pada Januari 2026 terkontraksi sebesar -4,66% (month-to-month/mtm), lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang tumbuh di level 8,21% (mtm).
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Dedy Prasetyo mengatakan berdasarkan Survei Penjualan Eceran (SPE) ada 3 kelompok komoditas dengan prakiraan penurunan omzet penjualan terdalam secara bulanan yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Kelompok tersebut terkontraksi di level -13,74% (mtm), menurun jika dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang tumbuh di level 17,37% (mtm), kelompok barang budaya dan rekreasi terkontraksi sebesar -10,78% (mtm), dan peralatan dan komunikasi di toko diprakirakan terkontraksi -8,92% (mtm),” ujarnya, Kamis (29/1/2026).
: Optimisme Konsumen di Malang Tetap Terjaga pada Januari 2026
Penurunan kelompok makanan, minuman dan tembakau disumbang oleh subsektor bahan makanan yang terkontraksi sebesar -15,85% (mtm).
Hal tersebut dipengaruhi oleh penurunan permintaan konsumen terhadap ragam bahan-bahan kue kering setelah berakhirnya momen Hari Besar Keagamaan Natal dan Tahun Baru.
: : Pendapatan Premi Asuransi di Jatim Tembus Rp12,312 Triliun
Selanjutnya, kelompok barang budaya dan rekreasi terkontraksi sebesar -10,78% (mtm), menurun dibandingkan periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 14,19% (mtm).
Penurunan ini terutama disumbang oleh subsektor penjualan kertas, karton, dan cetakan yang mengalami kontraksi sebesar -20,43% (mtm). Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tertahannya konsumsi masyarakat pasca momentum Hari Besar Keagamaan Natal dan Tahun Baru.
: : Realisasi Belanja Negara Area KPPN Malang Capai 96,54%
Hal ini sejalan dengan berakhirnya kebutuhan kemasan kertas dan karton untuk keperluan hampers dan bingkisan yang bersifat musiman yang pada periode sebelumnya mengalami peningkatan permintaan.
Kelompok peralatan dan komunikasi di tingkat toko diperkirakan mengalami kontraksi sebesar -8,92% (mtm), menurun jika dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,41% (mtm).
Menurutnya, penurunan kinerja kelompok ini terutama disumbang oleh subsektor perlengkapan telekomunikasi yang terkontraksi sebesar -10,26% (mtm).
“Responden Survei Penjualan Eceran (SPE) mengonfirmasi bahwa berakhirnya program promosi dan diskon memberikan dampak pada penurunan omzet penjualan. Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Pusat dan Daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Malang,” ucapnya.
Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Joko Budi Santoso menilai kontraksi ekonomi yang terjadi pada awal tahun sebagai dampak dari peningkatan pengeluaran masyarakat yang besar pada Desember untuk liburan sekolah maupun perayaan Nataru.
Selain itu, kata dia, pada awal Januari masyarakat juga menambah pengeluaran untuk pendidikan seiring dengan mulai masuk anak-anak sekolah, sehingga konsumsi sedikit ditahan dan juga untuk memperkuat amunisi pada bulan Ramadan dan Lebaran.