
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok sekitar 3% di awal perdagangan hari ini menyusul dinamika pengunduran diri jajaran pimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhir pekan lalu.
Analis menilai tekanan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian tata kelola dan arah kebijakan pasar modal ke depan.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai pelemahan IHSG lebih merupakan respons panik investor terhadap kekosongan kepemimpinan di otoritas pasar.
“Pasar melihat pengunduran diri massal ini sebagai validasi risiko tata kelola dan ketidakpastian yang belum selesai. Ini lebih ke shock terhadap risiko sistemik dibanding faktor fundamental emiten,” ujar Wafi kepada Kontan, Senin (2/2/2026).
Sarana Menara (TOWR) Buyback Saham Siapkan Dana Rp 300 Miliar
Ia menambahkan reaksi tersebut juga mencerminkan keraguan investor terhadap stabilitas regulasi selama masa transisi.
“Ketidakpastian aturan dan konsistensi kebijakan menjadi kekhawatiran utama. Selama belum ada kepastian arah kebijakan baru, pasar cenderung defensif,” jelasnya.
Dari sisi kebijakan, OJK menyiapkan percepatan kenaikan free float saham sebagai salah satu langkah stabilisasi pasar. Namun, menurut Wafi, kebijakan ini berisiko kurang efektif jika dilakukan secara mendadak.
“Kalau dipercepat tanpa transisi, justru bisa memicu supply shock dan menambah tekanan harga saham dalam jangka pendek,” katanya.
Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai tekanan IHSG juga diperparah oleh sentimen global serta risiko teknis dari peringatan MSCI.
“Penurunan tajam ini dipicu kombinasi risiko sistemik domestik dan ancaman penurunan status Indonesia ke Frontier Market. Outflow asing dalam sepekan mencapai sekitar Rp15,88 triliun,” ujar David.
Selain MSCI, tekanan datang dari faktor eksternal seperti sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat serta pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat berada di kisaran Rp16.785 per dolar AS.
Meski begitu, David menilai fundamental makro Indonesia masih relatif solid.
Kocok Ulang BUMN20 Bisa Buat Kinerja Emiten Lebih Prospektif
“Secara ekonomi, proyeksi pertumbuhan PDB 2026 di kisaran 5,1% dan inflasi sekitar 2,5% masih terjaga. Jadi tekanan pasar lebih bersifat sentimen dan teknikal,” jelasnya.
Terkait kebijakan free float, David menilai langkah tersebut penting untuk jangka panjang meski tidak instan meredam volatilitas.
“Kebijakan ini krusial untuk menjawab isu likuiditas dan transparansi yang disoroti MSCI. Tapi efek stabilisasinya butuh waktu dan tidak langsung terasa,” katanya.
Ke depan, sejumlah risiko masih membayangi pergerakan IHSG, mulai dari potensi penurunan status MSCI, tekanan rupiah, hingga kebijakan suku bunga global yang berpotensi bertahan tinggi lebih lama.
Dalam kondisi pasar yang masih bergejolak, analis menyarankan investor bersikap lebih defensif.
“Strategi yang lebih aman saat ini adalah memperbesar porsi kas, melakukan market timing, serta rotasi ke saham-saham blue chip yang likuid dan valuasinya masih wajar,” ujar Wafi.
Senada, David merekomendasikan fokus ke sektor defensif seperti konsumsi dan unggas yang dinilai relatif tahan terhadap volatilitas pasar.
“Saham konsumsi seperti ICBP, MYOR, CMRY serta sektor poultry seperti CPIN dan JPFA masih menarik karena didukung permintaan domestik dan program pemerintah,” tutupnya.