
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Pasar saham sejak awal tahun digempur beragam sentimen negatif. Dari pengumuman MSCI yang disusul lembaga penyedia rating global lainnya, hingga sekarang saat pasar ditekan oleh sentimen geopolitik Amerika Serikat (AS)-Iran. Hasilnya, IHSG secara year to date (YtD) turun 15,14% per penutupan Senin (9/3).
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Farras Farhan berharap akan ada katalis positif dari hasil MSCI. Seperti diketahui, pihak Indonesia telah menyampaikan proposal berisi perbaikan tata kelola pasar modal kepada MSCI yang hingga saat ini hasilnya belum diumumkan. Indonesia punya waktu sampai Mei 2026 agar tidak diturunkan ke frontier market.
“Katalis pada saat ini terutama equity market, itu memang tertuju kepada hasil keputusan MSCI di bulan April atau di bulan Mei 2026. Apabila ada kejelasan dari MSCI sendiri, maka itu dapat menjadi katalis positif bagi equity market kita,” kata Farras dalam Webinar Media Day March 2026, Selasa (10/3/2026).
: Pasar Saham Negara Berkembang Tertekan, MSCI Emerging Markets Turun Lebih dari 10%
Mirae Asset Sekuritas menilai peluang Indonesia turun kasta ke frontier market sangat kecil. Namun pasar lebih berekspektasi adanya down weight atau penurunan bobot saham Indonesia di MSCI.
Di tengah pasar yang menantikan kabar MSCI tersebut, Farras menilai kebijakan pemerintah yang menaikkan batas maksimum alokasi investasi di saham oleh perusahaan asuransi dan dana pensiun memang cukup menjadi sentimen positif bagi pasar.
: : OJK Beberkan 4 Poin Perkembangan Diskusi dengan MSCI
“Meskipun demikian, memang yang pada saat ini dibutuhkan katalis bagi market kita adalah investability issue. Karena kalau bicara fundamental, saat ini perusahaan-perusahaan tahun ini akan ada pertumbuhan dibanding tahun kemarin,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Head of Research & Chief Economist, Rully Arya Wisnubroto berharap sentimen global akibat konflik AS-Iran yang saat ini menekan IHSG tidak berlangsung karena pasar Indonesia sedang fokus pada reformasi pasar modal.
: : Jual Asing Kian Deras, IHSG Terpukul MSCI hingga Perang AS-Iran
Sejak awal 2026 ini, sejumlah lembaga pemeringkat telah memberikan ‘kartu kunging’ kepada Indonesia. Dimulai dari MSCI, Moodys Ratings, FTSE Russell, Goldman Sachs, Fitch Ratings, sampai S&P Global Ratings. Rully mengatakan bahwa lembaga tersebut bisa menjadi cerminan persepsi investor asing ke pasar domestik.
Rully menjelaskan walaupun setiap lembaga pemeringkat punya indikator yang berbeda-beda, seperti MSCI yang hanya di pasar modal atau Fitch Ratings yang menyoroti peringkat kredit, namun bila peringkat Indonesia diturunkan imbas negatifnya bisa ke pasar modal.
“Karena kalau ratingnya diturunkan ini tentu saja akan sangat negatif, baik terhadap ekonomi atau juga terhadap market-nya. Karena konsekuensi dari penurunan rating ini adalah risk free rate kita itu otomatis akan mengalami kenaikan, dan yield kita juga akan mengalami kenaikan,” jelas Rully.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.