IHSG tembus Rp 9.000, Purbaya: Itu baru awal

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan seiring meningkatnya kepanikan pasar akibat eskalasi perang dagang global. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai tekanan tersebut terjadi sebelum adanya penundaan kebijakan global selama 90 hari dan tidak mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Purbaya menjelaskan, pada fase awal eskalasi perang dagang, tekanan tidak hanya terjadi pada IHSG, tetapi juga terhadap nilai tukar rupiah. Kepanikan pasar muncul akibat kekhawatiran berlebihan terhadap dampak kebijakan global.

“Ini IHSG dan rupiah tertekan sebelum penundaan 90 hari. Jadi, ketika diumumkan, semuanya tertekan karena semuanya panik. Mereka bilang ekonomi akan kacau balau, ternyata nggak,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KITA Edisi Januari 2026, Kamis (8/1/2026).

Ia mengatakan sentimen pasar mulai membaik setelah pelaku ekonomi melihat kebijakan global dijalankan secara bertahap. Menurut Purbaya, pendekatan tersebut lebih mengarah pada strategi negosiasi dibandingkan eskalasi krisis.

“Trump (Presiden AS) juga ternyata tidak segila yang kita duga. Dia mengundurkan pelan-pelan pelaksanaannya. Itu kelihatannya merupakan strategi Trump untuk menekan negara-negara agar melakukan negosiasi perdagangan dan lain-lain yang lebih menguntungkan mereka,” jelasnya.

Purbaya menilai pola negosiasi tersebut lebih baik dibandingkan terjadinya krisis ekonomi ekstrem yang berdampak luas dan merusak stabilitas.

“Kalau saya pikir, lebih bagus seperti itu, negosiasi seperti itu, dibandingkan dengan kasus Venezuela,” ujar Purbaya.

Seiring meredanya kepanikan, Purbaya melihat sentimen pasar modal mulai pulih. Berdasarkan paparan APBN KITA, IHSG menunjukkan pembalikan arah setelah tekanan awal dan kembali menguat.

“Jadi, IHSG yang naik ke 9.000 itu tadi, itu baru awal. Perkiraan saya akan naik terus karena ekonomi kita akan kita kelola ke arah perbaikan terus ke depan,” ungkapnya.

Ia menegaskan optimisme terhadap IHSG ditopang oleh ketahanan ekonomi domestik di tengah gejolak global. Menurut Purbaya, momentum pembalikan arah ekonomi sudah terjadi dan akan terus diperkuat ke depan.

“Yang jelas adalah momentum pembalikan arah ekonomi sudah terjadi. Ke depan, kita akan tumbuh dengan lebih baik,” ucapnya.

IHSG pada Kamis bergerak menguat di tengah pelemahan mayoritas bursa saham kawasan Asia dan global. Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman dalam kajiannya di Jakarta, Kamis, menyebut IHSG masih berpotensi melanjutkan kenaikan hari ini.

Dari mancanegara, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebutkan otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak ke AS, yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan minyak global.

Sentimen pasar juga tertekan oleh sejumlah pernyataan Trump, yang menegaskan tidak akan mengizinkan perusahaan pertahanan membagikan dividen atau melakukan buyback sebelum menyelesaikan keluhannya terhadap industri tersebut.

Dari dalam negeri, pemerintah akan memangkas target produksi mineral dan batu bara yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Tahun 2026.

Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk mengendalikan keseimbangan supply dan demand, sehingga diharapkan dapat memulihkan harga mineral dan batu bara yang mengalami penurunan pada tahun lalu akibat kelebihan pasokan. Kebijakan ini berpotensi berdampak positif terhadap saham terkait.