
Ussindonesia.co.id , BATAM — Ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir diniliai tidak akan berdampak langsung terhadap iklim investasi di Kota Batam. Pelaku usaha berpandangan aktivitas industri dan realisasi investasi di kawasan tersebut tetap berjalan normal karena didominasi investasi langsung jangka panjang.
Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Batam Adhy Prasetyo Wibowo mengatakan fluktuasi pasar saham lebih berkaitan dengan aktivitas portofolio dan tidak berpengaruh langsung pada sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung ekonomi Batam.
“Sampai saat ini belum ada dampaknya ke industri manufaktur. Kegiatan produksi masih berjalan normal, karena yang terpengaruh langsung biasanya investasi di pasar saham, bukan industri,” kata Adhy belum lama ini.
: IHSG Sepekan Ambles 6,94%, Kapitalisasi Pasar Menguap Rp1.198 Triliun
Ia menjelaskan, struktur industri Batam didominasi manufaktur elektronik serta sektor-sektor berbasis produksi nyata. Oleh karena itu, gejolak IHSG tidak serta-merta menekan operasional industri maupun penyerapan tenaga kerja.
Namun demikian, Adhy mengingatkan bahwa apabila ketidakpastian ekonomi berlangsung dalam jangka panjang, dampak lanjutan tetap perlu diwaspadai, terutama terkait kepercayaan investor.
: : Bank Sumsel Babel Siapkan Pagu Rp1,2 Triliun untuk Program Pinjaman Daerah
“Kalau ini berlangsung lama, tentu bisa memengaruhi persepsi terhadap Indonesia. Rencana ekspansi dan investor baru bisa bersikap wait and see. Tetapi untuk sekarang kondisinya masih aman,” ujarnya.
Terkait prospek industri ke depan, Adhy menyebut sektor manufaktur masih menjadi penggerak utama sepanjang 2025 , ditopang investasi di pusat data serta manufaktur pendukung industri minyak dan gas. Sementara untuk 2026, arah investasi masih menunggu kepastian kebijakan.
: : Ratusan Kontainer Limbah B3 Menumpuk di Pelabuhan Batu Ampar Batam
“Kendalanya masih klasik, birokrasi yang panjang, kepastian berusaha, serta daya saing Batam dibanding kawasan lain seperti Johor dan Vietnam, termasuk faktor biaya energi seperti harga gas,” katanya.
Pandangan senada disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam Rafki Rasyid. Ia menegaskan tidak ada hubungan langsung antara pelemahan IHSG dengan investasi yang masuk ke Batam.
“Investasi di Bursa Efek itu portofolio investment, sedangkan yang masuk ke Batam adalah foreign direct investment atau FDI. Faktor yang memengaruhi keduanya sangat berbeda,” ujar Rafki.
Menurutnya, investasi portofolio sangat dipengaruhi faktor psikologis dan persepsi investor, sementara FDI lebih ditentukan faktor struktural seperti iklim usaha, infrastruktur, dan kepastian regulasi.
Ia menambahkan sektor-sektor industri di Batam relatif tidak terpengaruh oleh naik-turunnya IHSG. Pertumbuhan ekonomi dan investasi di Batam masih terjaga seiring dengan perbaikan iklim investasi.
“Tidak ada tekanan ekonomi langsung ke Batam akibat melemahnya IHSG. Pelemahan ini sifatnya sementara dan sudah sering terjadi,” kata Rafki.
Ia pun mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar tidak panik menyikapi pergerakan pasar saham.
“Kalau kepercayaan investor kembali, IHSG juga akan membaik. Jadi tidak perlu khawatir berlebihan, karena investasi dan industri di Batam tetap aman,” ujarnya.