Rupiah anjlok ke Rp 17.928 per dolar AS, dipicu kenaikan harga minyak mentah

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah. Mengutip Bloomberg Rabu (3/6/2026) pukul 11.00 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,50% ke Rp 17.928 per dolar AS. 

Sebelumnya, pada Selasa (2/6/2026) rupiah melemah 0,19% secara harian ke Rp 17.839 per dolar AS. 

“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya harga minyak mentah dunia WTI di US$ 94,58 per barel, brent crude oil juga mengalami penguatan di US$ 96,72 per barel, dan indeks dolar tadi pagi terjadi gap up,” ujar Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu (3/6/2026). 

IHSG Anjlok Rabu (3/6), Efek Pelemahan Rupiah dan Penyusutan Surplus Neraca Dagang

Ibrahim melihat menguatnya harga minyak mentah seiring dengan terjadinya stagnasi perundingan antara AS dan Iran. Iran mengatakan bahwa apa yang dilakukan AS sangat licik karena melakukan sosialisasi tentang kesepahaman tentang perundingan, namun AS terus melakukan penyerangan terhadap wilayah – wilayah di Iran. Merespons hal itu, Iran juga berbalik melakukan penyerangan. 

Ibrahim bilang, permasalahan utama perundingan terkait masalah pengayaan uranium. AS ingin agar uranium dimusnahkan dan Iran tidak mau. Iran juga siap melakukan konfrontasi dengan Israel karena sampai saat ini Israel terus melakukan penyerangan terhadap Lebanon. 

“Sehingga ini membuat ketegangan tersendiri antara Iran dengan Israel,” kata Ibrahim. 

Ibrahim melanjutkan, dengan tingginya harga minyak, biaya transportasi dan logistik mahal, dan membuat inflasi cukup tinggi. Hal ini berdampak pada kemungkinan bank sentral AS mempertahankan suku bunga atau bahkan bisa menaikkan suku bunga. 

Indikasi tersebut muncul setelah salah satu pejabat The Fed Beth Hammack mengatakan bahwa bank sentral mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak mereda. Artinya ini yang mengindikasikan bahwa Kevin Warsh kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali dalam tahun 2026. 

Telkom (TLKM) Tuntaskan Divestasi AdMedika, Ini Tujuannya

“Sehingga bank sentral AS kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga dan bisa menaikkan suku bunga dalam tahun ini satu kali,” terang Ibrahim.  

Kemudian, dari internal, Ibrahim mengatakan, kenaikan harga minyak mentah membuat permintaan dolar AS cukup tinggi, terutama untuk impor minyak yang besar. Kebutuhan dolar untuk dividen, pembayaran utang jatuh tempo juga berdampak ke pelemahan rupiah.  

Ibrahim memperkirakan rupiah pada hari ini ditutup melemah di kisaran Rp 17.840 – Rp 17.900 per dolar AS.