IHSG potensi rebound, investor bisa tambah koleksi saham harga diskon

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan telah menyentuh level bottom yang menjadi titik awal rebound. Sejak indeks komposit menyentuh puncak tertingginya di level 9.135 pada Januari 2026, IHSG sepanjang 3 bulan terakhir terus tertekan.

Pada penutupan pasar Senin (30/1) IHSG melemah 0,08% ke 7.091, dan sempat menyentuh level terendah intraday di 6.945,50. Posisi IHSG membaik dibandingkan dengan level 7.022 pada penutupan Senin (16/3), yang disebut sebagai level bottom IHSG sebelum pasar rebound. Perbedaan level peak ke bottom tersebut mencerminkan koreksi 23,1%.

Stockbit Sekuritas menjelaskan, berdasarkan data Bloomberg yang dirangkum sejak 2000 menunjukkan bahwa penurunan dari peak ke bottom (drawdown) sebesar 23% tersebut berada di kisaran yang sama dengan peristiwa Taper Tantrum 2013 ketika IHSG tergelincir 24% dari puncak tertingginya, atau peristiwa China Scare 2015 (-25%) serta selloff Liberation Day 2025 (-25%).

: IHSG Terbakar Awal Pekan Sempat Tinggalkan Level 7.000-an Tersengat Harga Minyak

“Jika pola yang sama terjadi, hal ini mengindikasikan bahwa IHSG sudah berada atau mendekati area bottom. Penurunan lanjutan yang signifikan lebih dari 24–25% secara historis hanya terjadi pada episode Dot–com Bust awal 2000 (-52%), Global Financial Crisis 2008 (-61%), dan pandemi COVID-19 2020 (-38%), di mana ketiganya merupakan krisis yang berskala jauh lebih besar,” tulis laporan tersebut, dikutip Senin (30/3/2026).

Sejumlah peristiwa tersebut memerlukan waktu recovery yang beragam. Pemulihan IHSG yang terjadi paling lama terjadi ketika peristiwa Dot-com Bust, yakni 3,2 tahun, serta pemulihan paling cepat ketika momentum liberation day ketika IHSG memerlukan waktu recovery 4 bulan.

: : IHSG Ditutup Melemah, Saham BBCA, CUAN, hingga MDKA Ambrol

Sementara di kondisi pelemahan IHSG saat ini yang didorong rangkaian peristiwa pembekuan sementara MSCI hingga konflik AS-Iran, IHSG sejak menyentuh level bottom baru menguat dalam dua kali perdagangan, 17 dan 25 Maret, menandakan recovery pasar masih berlangsung.

Stockbit Sekuritas mencatat pada pekan lalu level IHSG sempat menyentuh valuasi terendahnya sejak pandemi Covid-19 pada 2020 dan selloff Liberation Day 2025. Meski valuasi IHSG sudah murah secara historis, sekuritas menekankan penting bagi investor yang sudah memiliki portofolio untuk mengevaluasi saham yang dimiliki.

: : Periode “Drawndown” IHSG dari Peristiwa Dot-com Bust 2000 hingga Perang AS-Iran 2026

“Apakah alasan membelinya masih valid dan apakah fundamentalnya berpotensi terdampak signifikan oleh kondisi saat ini, terutama dari sisi dampak kenaikan harga minyak terhadap laba bersih emiten. Sementara itu, bagi investor jangka panjang, koreksi pasar secara historis dapat menjadi kesempatan untuk mendapatkan saham berkualitas pada harga yang lebih murah,” tulis sekuritas.

Sekuritas merangkup tiga hal utama yang perlu dicermati investor pada situasi saat ini. Pertama, durasi penutupan Selat Hormuz dan arah pergerakan harga minyak dunia. Kedua, inisiatif pemerintah untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB. Ketiga, eksekusi reformasi pasar modal Indonesia sebelum deadline yang ditetapkan MSCI pada Mei 2026.

Sejumlah sekuritas melaporkan adanya potensi penguatan IHSG dalam jangka pendek. MNC Sekuritas melaporkan pada perdagangan Selasa (31/3), IHSG diprediksi bergerak di level support 7.022 dan 6.917, serta level resistance di 7.302 dan 7.434.

Secara teknikal, koreksi IHSG 0,08% pada perdagangan Senin (30/3) disertai dengan munculnya volume pembelian dan pergerakannya telah menembus area support terdekatnya. Posisi IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (v) dari wave [c] dari wave A pada label hitam sehingga IHSG masih rawan terkoreksi ke area 6.745-6.887. Di sisi lain, best case IHSG sudah menyelesaikan wave A pada label biru, sehingga ada peluang penguatan ke 7.450-7.779.

Pada perdagangan Selasa (31/3) MNC Sekuritas merekomendasikan AGII dengan target harga Rp3.600 dan Rp3.780, saham ESSA dengan target harga Rp805 dan Rp830, PTBA dengan target harga Rp3.220 dan Rp3.300, dan TLKM dengan target harga Rp3.170 dan Rp3.300.

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.