
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rencana ekspansi PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dinilai akan memperkuat prospek pertumbuhan kinerja perseroan dalam jangka panjang. Meski demikian, kontribusi dari penambahan rumah sakit baru diperkirakan belum signifikan pada tahun awal operasional.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, alokasi belanja modal atau capex sebesar Rp900 miliar hingga Rp1 triliun pada 2026 menjadi langkah positif untuk menopang pertumbuhan.
“Penambahan fasilitas ini menjadi fondasi untuk pertumbuhan pendapatan jangka panjang,” ujar Wafi kepada Kontan, Selasa (14/4/2026).
BSI Ubah Jadwal RUPST, Cek Tanggal dan Agendanya
Sejalan dengan itu, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai ekspansi tersebut sebagai investasi strategis, terutama karena difokuskan pada layanan bernilai tambah tinggi seperti onkologi, radioterapi, dan teknologi bedah.
“Ini memperkuat posisi MIKA di segmen pasien swasta bermargin tinggi,” jelasnya.
MIKA diketahui tengah membangun sejumlah rumah sakit baru di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur yang ditargetkan rampung pada kuartal III–IV 2026.
Namun, kontribusi terhadap pendapatan pada tahun pertama diperkirakan masih terbatas. Wafi menyebut, tambahan pendapatan pada 2026 cenderung minimal karena rumah sakit baru baru mulai beroperasi pada paruh kedua tahun ini.
Meski begitu, lokasi rumah sakit yang berada di pasar utama dinilai dapat mempercepat pencapaian titik impas.
Abida menambahkan, kontribusi pendapatan dari rumah sakit baru diperkirakan berada di kisaran 1%-3% dalam jangka pendek, dengan potensi meningkat seiring kenaikan tingkat hunian pada 2027.
Dari sisi pendanaan, langkah MIKA yang membiayai ekspansi sepenuhnya dari kas internal dinilai menjadi nilai tambah.
Wafi menilai struktur neraca perusahaan tetap solid karena tidak terbebani bunga utang, sehingga margin laba dapat terjaga di tengah kondisi suku bunga yang masih relatif tinggi.
“Ini menunjukkan kekuatan likuiditas yang baik,” ujarnya.
Abida juga menilai kebijakan tersebut mencerminkan kualitas arus kas yang sehat. Namun, ia mengingatkan adanya potensi tekanan margin dalam jangka pendek akibat biaya pra-operasional, rekrutmen tenaga medis, serta depresiasi alat kesehatan.
“Tekanan ini bersifat sementara hingga rumah sakit baru mencapai tingkat okupansi optimal,” tambahnya.
Dengan laba bersih yang mencapai Rp1,36 triliun pada 2025, kinerja MIKA diproyeksikan tetap tumbuh pada tahun ini.
Wafi memperkirakan pertumbuhan berada pada kisaran high single digit hingga low double digit, didorong oleh peningkatan volume pasien serta penguatan layanan unggulan atau Centers of Excellence.
Senada, Abida melihat pertumbuhan akan ditopang oleh kontribusi rumah sakit baru serta penguatan segmen pasien privat yang memiliki margin lebih tinggi.
Dari sisi rekomendasi, analis kompak memberikan pandangan positif terhadap saham MIKA. Wafi merekomendasikan buy dengan target harga Rp3.200 per saham, sementara Abida juga memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp3.450 per saham.
Katalis utama saham ini berasal dari mulai beroperasinya rumah sakit baru pada paruh kedua 2026, sementara potensi tekanan margin jangka pendek dapat menjadi peluang akumulasi bagi investor.
IHSG Menguat 2,1% ke 7.660,7 di Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: BRPT, DSSA, BBTN