
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Prospek kinerja emiten Grup Lippo diproyeksikan masih dipengaruhi sentimen jangka pendek.
Saham para emiten Grup Lippo terpantau naik dalam sebulan terakhir. Saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) tercatat naik 30,95% dalam sebulan terakhir.
Kemudian, PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) naik 50,86% dalam sebulan, saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) naik 7,72%, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) naik 5,58%, dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) naik 0,66%.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi melihat, kenaikan saham Grup Lippo terutama dipicu oleh penurunan risk premium atas Meikarta setelah adanya kepastian arah pemanfaatan aset tersebut.
Pasar mulai mengeluarkan asumsi downside ekstrem karena lahan milik Lippo di Meikarta dinilai clean and clear. Hampir seluruh surat hak guna bangunan (SHGB) telah terbit, yaitu sekitar 99,9%, serta adanya rencana pembangunan sekitar 100.000 unit hunian di lahan kurang lebih 20 hektare.
IHSG Berpeluang Menguat pada Rabu (28/1), Cek Rekomendasi Sahamnya
Dengan indikasi harga konstruksi kawasan Bekasi sekitar Rp13 juta per meter persegi, nilai ekonomi proyek ini diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah secara bruto.
“Sehingga, Meikarta tidak lagi dipersepsikan sebagai liabilitas murni, melainkan aset dengan opsi monetisasi, meskipun risiko eksekusi masih ada,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).
Setelah kenaikan signifikan, khususnya di saham LPKR dan LPCK dalam sebulan terakhir, valuasi saham Lippo tidak lagi berada di zona sangat murah. Namun, secara selektif masih di bawah potensi nilai asetnya.
LPKR, misalnya, masih diperdagangkan di bawah estimasi nilai wajar berbasis aset jika asumsi risiko ekstrem dikeluarkan. Meskipun, peningkatan harga ke depan lebih terbatas dibanding fase awal re-rating.
“Investor perlu mencermati perbaikan arus kas, leverage, serta kualitas laba, karena pasar akan semakin selektif dan berbasis fundamental, bukan sekadar sentimen,” ungkapnya.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas melihat, penguatan saham LPKR, LPCK, LPPF, MLPT, dan SILO lebih banyak didorong oleh sentimen makro dan rotasi sektor, bukan semata perbaikan fundamental jangka pendek.
IHSG Naik 0,05% ke 8.980 Hari Ini (27/1) Usai Deputi Gubernur BI Baru Terpilih
Ekspektasi penurunan suku bunga dan perpanjangan insentif PPN DTP hingga tahun 2026 memperbaiki prospek sektor properti dan konsumsi, sehingga menarik minat spekulatif ke saham-saham siklikal.
Meskipun begitu, kasus Meikarta tidak sepenuhnya hilang dari radar investor. Namun, untuk jangka pendek risiko tersebut cenderung dikesampingkan pasar seiring munculnya narasi baru terkait potensi keberlanjutan proyek.
“Dengan kata lain, pasar saat ini lebih fokus pada forward-looking story dibandingkan isu historis,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).
Sukarno melihat, sebagian saham sudah merefleksikan ekspektasi positif, sehingga potensi kenaikan harga saham emiten Grup Lippo menjadi semakin selektif.
“Saham LPCK paling menarik secara risk–reward, saham LPKR masih turnaround, dan LPPF cenderung fair valued. Sementara, MLPT berada di valuasi premium dan lebih spekulatif,” katanya.
Di tahun 2026, kinerja emiten Grup Lippo diperkirakan bersifat stabil dengan pertumbuhan moderat. Imam bilang, sektor properti berperan sebagai penahan penurunan kinerja Grup Lippo, sementara kontribusi utama datang dari nonproperti.
LPKR dan LPCK diproyeksikan memasuki fase normalisasi aktivitas, bukan ekspansi agresif. Sedangkan, penopang kinerja grup berasal dari LPPF yang menghasilkan arus kas operasional stabil.
SILO juga diuntungkan tren kebutuhan layanan kesehatan, serta MLPT yang mendapat eksposur struktural dari pertumbuhan data center.
IHSG Diproyeksi Bergerak Sideways pada Rabu (28/1/2026), Ini Sentimen Penggeraknya
Sentimen positif yang memengaruhi kinerja Grup Lippo berasal dari dukungan kebijakan dan stabilisasi persepsi risiko. “Sementara sentimen negatif utama adalah risiko eksekusi proyek dan sensitivitas terhadap suku bunga,” ungkapnya.
Imam pun merekomendasikan beli untuk SILO dengan target harga Rp 2.740 per saham.
Sukarno melihat, kinerja Grup Lippo berpeluang membaik, ditopang oleh sektor properti yang terkena katalis era suku bunga rendah dan PPN DTP, serta sektor ritel dari pemulihan konsumsi.
Sektor teknologi juga memiliki pertumbuhan yang cukup baik. “Risiko utama tetap pada eksekusi proyek, margin, dan perubahan makro,” katanya.
Sukarno pun merekomendasikan trading buy untuk LPKR dengan target harga di Rp 120 – Rp 125 per saham.