Tekanan indeks dolar berlanjut, yen hingga won berpeluang menguat di kuartal I-2026

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek hingga kuartal I 2026. 

Tekanan terhadap dolar AS kian kuat seiring sikap kehati-hatian The Federal Reserve (The Fed) serta meningkatnya ketidakpastian politik dan institusional di Negeri Paman Sam.

Melansir Bloomberg pada Rabu (28/1/2026) pukul 16.50 WIB, indeks dolar AS ada pada level 96,14, turun 0,09% dari sehari sebelumnya.

Research and Development ICDX Taufan Dimas Hareva menilai keputusan The Fed yang diprediksi kembali menahan suku bunga acuan, disertai sinyal bahwa pelonggaran kebijakan moneter masih berpeluang berlanjut pada 2026, menjadi faktor utama yang menekan pergerakan DXY. 

Aksi Massal Jual Dolar Bikin Rupiah Perkasa, Begini Proyeksi Besok (29/1)

“Pelemahan DXY masih berpotensi berlanjut hingga kuartal I 2026, selama belum ada katalis kuat yang mampu memulihkan kepercayaan pasar terhadap dolar AS,” ujar Taufan kepada Kontan, Rabu (28/1/2026).

Selain faktor moneter, tekanan terhadap dolar AS juga datang dari meningkatnya ketidakpastian politik dan institusional di AS. 

Independensi The Fed, spekulasi pergantian pimpinan bank sentral AS, potensi government shutdown, hingga eskalasi tensi geopolitik global turut memicu fenomena Sell America di pasar keuangan global.

“Kombinasi ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dan meningkatnya governance risk membuat investor global mulai mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar AS,” jelasnya.

BEI: Pelemahan IHSG Tidak Menjadi Isu Bagi Investor Ritel

Sejalan dengan itu, pelemahan dolar AS tersebut memberikan ruang bagi penguatan sejumlah mata uang Asia. 

Tercatat, yen Jepang (JPY), yuan China (CNY), dolar Singapura (SGD), dan won Korea Selatan (KRW) mulai menunjukkan tren penguatan terhadap dolar AS.

JPY dicatat menguat terhadap dolar AS 3,51% secara mingguan ke 152,7. SGD menguat 1,85% ke 1,26 per dolar AS. Sementara itu, KRW menguat 2,48% ke 1.427,97 per dolar AS, ada pun CNY juga ditutup menguat 0,24% ke 6,94 per dolar AS.

Menurut Taufan, momentum penguatan valas Asia masih berpotensi berlanjut ke depan, meskipun tetap dibayangi volatilitas yang cukup tinggi. 

Yen Jepang berpeluang menguat lebih lanjut seiring perannya sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Sementara itu, yuan dan won mendapat dukungan dari stabilisasi ekonomi kawasan Asia serta membaiknya sentimen perdagangan.

“Namun keberlanjutan penguatan ini tetap sangat bergantung pada stabilitas pasar global dan arah kebijakan bank sentral masing-masing negara,” tambahnya.

Di tengah kondisi tersebut, Taufan menilai yen Jepang menjadi salah satu mata uang Asia yang paling menarik dicermati investor. Selain didukung pergeseran sentimen global ke aset aman, yen juga berpotensi menguat seiring langkah normalisasi kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) secara bertahap.

Selain yen, won Korea Selatan dinilai menarik jika pemulihan sektor teknologi global berlanjut dan arus modal asing kembali masuk ke kawasan Asia. 

Adapun yuan China relatif stabil dan cocok bagi investor jangka menengah, terutama jika otoritas China konsisten menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pemulihan ekonomi domestik.

Untuk kuartal I 2026, Taufan memproyeksikan JPY akan bergerak di rentang 140-147 per dolar AS. 

CNY diperkirakan relatif stabil di 7,05-7,25 per dolar AS. sementara KRW berpotensi bergerak di rentang 1.300-1.360 per dolar AS.