OJK rembuk dengan bos BI, LPS dan menkeu, beberkan kondisi bisnis bank hingga pasar saham

Ussindonesia.co.id JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kinerja sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah dinamika pasar global, dengan aktivitas pasar modal dan intermediasi perbankan yang masih menunjukkan pertumbuhan positif pada awal 2026 dalam pertemuan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II/2026

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan kinerja intermediasi perbankan terpantau solid. Kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh 9,49% secara tahunan menjadi Rp8.659 triliun, terutama ditopang kredit investasi yang tumbuh 20,85%.

Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,1% dan NPL net 0,8%, serta loan at risk (LAR) di level 8,9%. Dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh 13,55% menjadi Rp10.230 triliun.

Ketahanan perbankan juga dinilai kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,09% serta likuiditas yang memadai, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) sebesar 84,64%.

Di sektor nonperbankan, aset industri asuransi mencapai Rp1.195,75 triliun atau tumbuh 4,38% secara tahunan, dengan tingkat permodalan (risk-based capital/RBC) jauh di atas ambang batas. Aset dana pensiun juga tumbuh 10,49% menjadi Rp1.684,89 triliun.

Pada industri pembiayaan, piutang pembiayaan tercatat Rp514,09 triliun atau tumbuh 0,61% secara tahunan dengan risiko yang tetap terkendali. Sementara itu, pembiayaan pinjaman daring (pindar) tumbuh 26,25% menjadi Rp101,03 triliun dengan tingkat kredit macet 4,52%.

Di sisi lain, OJK mencatat perkembangan pesat pada ekosistem aset kripto dengan jumlah investor mencapai 21,37 juta dan nilai transaksi sebesar Rp22,24 triliun hingga Maret 2026.

pasar modal domestik bergerak dinamis sepanjang triwulan I/2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) per 31 Maret 2026 berada di level 7.048,22 atau terkoreksi 18,49% secara year-to-date, namun masih tumbuh 8,26% secara tahunan.

Dia juga menjelaskan, memasuki Mei 2026, IHSG mulai menunjukkan tren penguatan dan per 5 Mei 2026 ditutup di level 7.057,11 atau naik 1,44% secara month-to-date.

“Penghimpunan dana di pasar modal tetap kuat. Hingga 5 Mei 2026 telah mencapai Rp59,35 triliun, didominasi penerbitan efek bersifat utang,” ujar Friderica dalam konferensi pers KSSK, Kamis (7/5/2026). 

Di sisi investor, jumlah single investor identification (SID) terus meningkat menjadi 24,7 juta per triwulan I/2026 dan telah mencapai sekitar 26 juta investor pada awal Mei, mencerminkan tingginya partisipasi investor ritel domestik.

Sementara itu, untuk merespons dinamika global dan domestik, OJK menyiapkan sejumlah kebijakan strategis, antara lain melanjutkan reformasi pasar modal, mempercepat pembiayaan program perumahan dan UMKM, serta memperkuat ekosistem bullion nasional melalui roadmap 2026–2031.

OJK juga menerbitkan ketentuan terkait reksa dana berbasis emas (ETF emas) guna memperdalam pasar keuangan domestik.