
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja emiten BUMN karya diperkirakan akan membaik di tahun 2026, meskipun masih tertahan oleh rencana merger dan restrukturisasi.
Sebagai gambaran, sejumlah emiten BUMN Karya mencatatkan penurunan nilai kontrak baru sepanjang tahun lalu.
PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan nilai kontrak baru Rp 18,1 triliun sepanjang tahun 2025. Nilai kontrak baru ADHI sepanjang 2025 ini turun dari raihan tahun 2024 yang sebesar Rp 20 triliun.
ADHI pun menargetkan nilai kontrak baru sebesar Rp 20 triliun – Rp 23 triliun di tahun 2026.
Prospek Emiten BUMN Karya Pasca Perubahan Status Kementerian BUMN
“Mayoritas kontribusi diharapkan berasal dari segmen Engineering & Construction sebagai core competency perseroan,” kata Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, Rozi Sparta, kepada Kontan.
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga senasib. Nilai kontrak baru WIKA sebesar Rp 17,43 triliun sepanjang tahun 2025, turun dari Rp 20,66 triliun per akhir Desember 2024.
“WIKA menargetkan perolehan kontrak baru tumbuh sekitar 10% – 15% pada tahun 2026 dibandingkan tahun 2025,” kata Sekretaris Perusahaan WIKA, Ngatemin alias Emin kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).
Pada tahun 2026, kinerja emiten BUMN karya dinilai punya momentum perbaikan. Dalam dokumen Economic Outlook Danantara yang diterima KONTAN, merger BUMN karya sebagai bagian dari restrukturisasi dinilai akan menjadi katalis bagi kinerja mereka di tahun ini.
Emiten BUMN Karya Masih Menderita, Begini Prospek Kinerjanya
“Setelah liabilitas dan pemilihan proyek membaik, emiten konstruksi pelat merah akan bisa masuk kembali ke pasar modal dengan rencana kerja yang lebih kredibel, baik itu dari sisi ekuitas hingga daur ulang aset, daripada sekadar mengandalkan dukungan ad-hoc,” sebut dokumen tersebut.
Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menilai, merger BUMN karya berpotensi memperbaiki struktur biaya dan efisiensi jangka menengah. Namun, dampaknya belum signifikan dalam jangka pendek karena proses restrukturisasi utang dan penyehatan neraca masih berjalan.
Merger juga membuat adanya risiko dilusi aset. Namun, tujuan utama merger adalah memperkuat skala bisnis dan arus kas, bukan sekadar konsolidasi laporan keuangan.
ADHI Chart by TradingView
“Peran Danantara di sini krusial sebagai pengendali arah restrukturisasi, penilaian aset, hingga keputusan akhir bentuk merger. Ini agar merger tidak sekadar kosmetik, melainkan benar-benar memperbaiki fundamental,” katanya kepada Kontan, Selasa.
Menurut David, sentimen positif untuk emiten BUMN karya di tahun 2026 datang dari pipeline kontrak baru, proyek infrastruktur strategis, serta potensi dukungan pemerintah pascarestrukturisasi.
Namun, sentimen negatif masih kuat dari tingginya utang, tekanan likuiditas, dan margin proyek yang tipis. Dibanding tahun 2025, prospek di tahun 2026 relatif lebih baik secara arah, tetapi perbaikan kinerja belum agresif.
Begini Prospek Emiten BUMN Karya yang Tengah Gencar Divestasi Aset
“Kontrak baru bisa menjadi katalis sentimen, namun belum otomatis mendorong lonjakan laba selama beban keuangan masih tinggi,” ujarnya.
Sukarno Alatas, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia mengatakan, merger dan restrukturisasi berpotensi memperbaiki fundamental, meskipun ada risiko dilusi secara akuntansi.
Kunci keberhasilan dari aksi merger ada pada eksekusi restrukturisasi utang, perbaikan tata kelola, dan efisiensi operasional.
Dalam konteks ini, peran Danantara sangat krusial sebagai penopang pendanaan dan penghubung proses penataan ulang utang, sekaligus meningkatkan kredibilitas di mata pasar.
“Tanpa dukungan Danantara, hasil merger berisiko kurang berdampak nyata,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.
Pada tahun 2026, kinerja emiten BUMN Karya berpeluang lebih baik dari tahun 2025, ditopang kelanjutan proyek strategis, potensi pemulihan belanja infrastruktur, serta raihan nilai kontrak baru.
Prospek Kinerja Emiten BUMN Karya Masih Suram
Namun, tekanan belum hilang karena beban utang, margin tipis, risiko arus kas, dan potensi dilusi lanjutan. “Kontrak baru hanya menjadi katalis jika berkualitas dan didukung skema pembayaran yang jelas,” katanya.
David melihat, saham PT PP Tbk (PTPP) dinilai paling defensif di antara emiten BUMN Karya lainnya, karena pipeline proyek dan manajemen kas relatif lebih baik, dengan target harga indikatif Rp 450 – Rp 550 per saham.
Saham ADHI dinilai masih bersifat spekulatif dengan potensi jika proyek dan restrukturisasi berjalan lancar. “Sementara WIKA dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) berisiko tinggi dan masih suspensi, sehingga pasar cenderung wait and see,” tuturnya.
Emiten BUMN Karya Dapat Katalis Proyek Baru di IKN, PT PP (PTPP) Bisa Jadi Jawara
Sukarno merekomendasikan buy untuk PTPP dan ADHI dengan target harga 12 bulan masing-masing Rp 450 – Rp 500 per saham dan Rp 300 – Rp 340 per saham.