
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Dengan ragam rancangan dan strategi investasi, investor dinilai masih memiliki peluang besar untuk mencetak imbal hasil yang mampu melampaui laju inflasi.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir inflasi tahunan tertinggi terjadi pada tahun 2023 yang mencapai 5,3%, sedang inflasi terendah pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 1,6%. Secara rata-rata, inflasi tahunan dalam 10 tahun terakhir adalah 2,9%.
Infovesta mencatat, pertumbuhan inflasi Indonesia bila diakumulasikan sepanjang 10 tahun terakhir sebesar 32%. Artinya, agar daya beli tidak tergerus, investor perlu mencetak return dari portofolio mereka minimal setara angka tersebut dalam satu dekade.
Saham Big Banks Bergerak Variatif Rabu (25/2), BBRI Pimpin Penguatan
Sebenarnya, pertumbuhan inflasi tersebut cenderung rendah secara historis, karena pertumbuhan ekonomi juga melambat.
Perencana Keuangan Oneshildt Agustina Fitria berpandangan, untuk mengejar kenaikan akumulasi tersebut, investor cukup menargetkan imbal hasil minimal sekitar 2,82% per tahun melalui strategi investasi dan reinvestasi yang konsisten. Target ini, kata dia, masih bisa dicapai melalui instrumen berisiko rendah.
“Dengan target tersebut, bisa investasi dengan produk-produk yang rendah risiko dan pajak yang lebih rendah seperti reksadana pasar uang,” ujar Agustina kepada Kontan, Rabu (25/2/2026).
Namun demikian, Agustina mengingatkan investor tetap selektif memilih produk. Salah satu indikator penting adalah memastikan dana kelolaan (AUM) produk reksadana di atas Rp 10 miliar agar memenuhi kriteria minimal regulator dan tidak rawan dilikuidasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Bagi investor yang mengutamakan kepastian hasil, deposito juga bisa menjadi pilihan, meski pajaknya relatif lebih tinggi.
Ia menghitung, agar mampu melampaui inflasi setelah pajak, bunga deposito sebelum pajak minimal sekitar 3,525% per tahun dan hasilnya perlu dinvestasikan kembali ke pokok deposito. “Jika prediksi suku bunga stabil atau cenderung turun, maka bisa pilih tenor lebih panjang, misalnya di atas satu bulan,” jelasnya.
Inflasi 10 Tahun 32%, Begini Cara Investor Cetak Imbal Hasil Lewati Inflasi
Selain itu, investor juga dapat mempertimbangkan obligasi atau sukuk dengan kupon minimal sekitar 3,13% per tahun, dengan catatan hasil kupon turut diinvestasikan kembali ke instrumen sejenis agar efek compounding berjalan optimal.
Terakhir, Agustina menekankan faktor terpenting tetap kedisiplinan investor. “Pastikan disiplin dalam berinvestasi, tidak FOMO, dan tetap pada jalur tujuan keuangan,” pungkasnya.