
Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) mengumumkan hasil keuangan dan operasional konsolidasi untuk kuartal pertama yang berakhir pada 31 Maret 2026. Kinerja kuartal I-2026 mencerminkan berlanjutnya pemulihan DOID dari tantangan operasional yang dihadapi pada kuartal I-2025.
Dari capaian kinerja keuangan, pendapatan DOID tercatat sebesar US$ 318 juta atau turun 10% year on year (YoY) pada kuartal I-2026. Hal ini sejalan dengan portofolio aktif yang lebih kecil.
Harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan DOID naik 3% YoY, didukung oleh porsi kontrak rise-and-fall yang lebih tinggi serta kenaikan tarif berjenjang yang terkait dengan harga batu bara.
EBITDA DOID meningkat 98% YoY menjadi US$ 28 juta dari US$ 14 juta pada kuartal I-2025 dengan margin EBITDA meningkat menjadi 11% dibandingkan 5% pada kuartal I-2025.
Tak Terdampak Rencana Ekspor SDA 1 Pintu,Vale(INCO) Pantau Terus Kebijakan Pemerintah
DOID mencatat rugi bersih sebesar US$ 24 juta pada kuartal I-2026, atau lebih rendah dibandingkan dengan rugi bersih sebesar US$ 70 juta pada kuartal I-2025.
Penurunan rugi bersih sebesar 66% YoY ini mencerminkan pemulihan EBITDA serta tiga faktor non-operasional yang mendukung, antara lain keuntungan sebesar US$ 12 juta dari optimisasi portofolio ACG yang masih berjalan melalui penjualan aset lahan, penurunan kerugian investasi dari 29Metals sebesar US$ 12 juta, serta tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia sebesar US$ 4 juta yang dicatat pada kuartal I-2025.
Belanja modal DOID tercatat sebesar US$ 20 juta pada kuartal I-2026 yang dialokasikan untuk menjaga keandalan armada dan keberlanjutan operasional. Arus kas bebas (free cash flow) DOID berbalik positif menjadi US$ 2 juta pada kuartal I-2026, dibandingkan dengan negatif US$ 19 juta pada kuartal I-2025.
Perbaikan ini terutama didorong oleh penerimaan sebesar US$ 17 juta dari penjualan lahan dalam kerangka optimisasi portofolio ACG, serta didukung oleh pemulihan EBITDA dan belanja modal yang jauh lebih rendah.
Secara umum, hasil kinerja DOID cukup terjaga pada kuartal yang secara musiman merupakan periode dengan curah hujan tertinggi dan paling menantang sepanjang tahun. Kinerja tersebut didukung oleh perbaikan struktural pada produktivitas, biaya unit, dan disiplin operasional.
Selama kuartal I-2026, DOID telah menyelesaikan pembentukan tim ahli (subject-matter expert) yang tersentralisasi di fungsi-fungsi utama sebagai penggerak utama peningkatan kinerja.
Perbaikan operasional pada kuartal I-2026 melanjutkan tren yang telah dibangun sepanjang 2025. Di operasional Indonesia, jam non-produktif (non-productive hours) DOID turun 14% seiring dengan penanganan atas kondisi licin akibat hujan serta hambatan pada area disposal, jalan angkut, dan kondisi geologi.
Laba Timah (TINS) Kuartal I-2026 Lewati Proyeksi, Target Saham Dikerek
Produktivitas bank cubic meter (BCM) per jam DOID meningkat 1% YoY atau sejalan dengan penurunan cycle time sebesar 1% YoY, yang didukung oleh kondisi jalan angkut yang lebih baik dan berkurangnya waktu antre.
Biaya unit (unit cost) per BCM DOID turun 1% YoY, menunjukkan disiplin biaya yang tetap terjaga. Biaya tenaga kerja per BCM turun 4% YoY, didukung oleh disiplin shift yang berkelanjutan dan penempatan operator yang lebih efisien dengan rasio operator terhadap peralatan turun 3% YoY.
Biaya bahan bakar per BCM yang dihasilkan DOID naik 3% YoY. Hal ini sepenuhnya disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar, sementara konsumsi per BCM tetap stabil, mencerminkan efisiensi armada yang konsisten.
Biaya perbaikan dan pemeliharaan per BCM DOID naik 13% YoY, seiring langkah terencana untuk percepatan aktivitas pemeliharaan guna memaksimalkan kesiapan peralatan menghadapi periode operasional yang lebih kering pada kuartal kedua dan ketiga.
Melihat perkembangan setelah kuartal I-2026, pemulihan operasional DOID berlanjut hingga April dan tercermin dalam peningkatan volume, didukung oleh eksekusi yang lebih solid dan kondisi cuaca yang mulai membaik.
Volume bulanan pengupasan lapisan tanah penutup gabungan DOID di Indonesia dan Australia meningkat dari 26,4 juta bank cubic meter (MBCM) pada Februari menjadi 30,4 MBCM pada Maret dan 34,3 MBCM pada April 2026.
Sementara itu, produksi batu bara DOID mencapai 5,9 juta ton pada April, masing-masing meningkat sekitar 16% dan 22% di atas rata-rata bulanan kuartal I-2026.
DOID Chart by TradingView
Di sisi lain, secara tahunan volume overburden removal DOID turun 12% YoY menjadi 89 juta bank cubic meter (MBCM), sementara produksi batu bara turun 20% YoY menjadi 15 juta ton pada kuartal I-2026.
Penurunan volume tersebut terutama mencerminkan berakhirnya kontrak di site Binungan di Indonesia dan site Burton di Australia, serta ramp-down di dua site Indonesia pada 2025. Site yang beroperasi normal tetap stabil.
Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA International Group, menyatakan hasil pada kuartal I-2026 menunjukkan bahwa pemulihan yang DOID bangun sepanjang 2025 terus berlanjut di kuartal yang secara musiman penuh tantangan.
Dia menyebut, EBITDA DOID meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan meskipun pendapatan lebih rendah berkat upaya disiplin biaya yang lebih kuat dan peningkatan produktivitas.
“Disiplin operasional dan perbaikan EBITDA tetap terjaga melewati puncak musim hujan pada Februari, memberikan kami landasan yang lebih kuat sepanjang tahun ini,” ujar dia dalam keterbukaan informasi, Jumat (29/5/2026).
DOID juga telah menyelesaikan transisi menuju tim subject-matter expert terpusat yang membawa keahlian fungsional yang lebih mendalam ke setiap operasi. Fondasi telah terbentuk dan fokus DOID pada masa depan adalah eksekusi yang solid seiring memasuki kuartal operasional yang lebih kering.