
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Saham-saham emiten rokok seperti PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) mengepul sejak awla tahun ini seiring prospek rebound industri rokok nasional.
Adapun, proyeksi cerah industri rokok tahun ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menahan kenaikan tarif cukai tembakau (CHT) dan pemberantasan produk rokok ilegal. Terbaru, pemerintah membuka opsi untuk penambahan golongan baru tarif CHT.
Proyeksi tersebut pun diapresiasi pasar, terlihat dengan kenaikan harga saham GGRM dan HMSP sejak awal tahun. Di lantai bursa pada perdagangan intraday Rabu (14/1/2026) pukul 15.49 WIB, harga GGRM tumbuh 9,29% year to date (YtD) ke Rp15.300 sementara HMSP tumbuh 6,21% YtD ke Rp770.
: Strategi Jaga Kepul Emiten Rokok GGRM & HMSP Cs Sambut Stagnasi Tarif CHT
Melansir Bloomberg Terminal, sebanyak 3 dari 12 (25%) analis merekomendasikan buy GGRM dengan target harga Rp17.164 dalam 12 bulan ke depan, mencerminkan potensial return 11,1% dari harga terakhir di Rp15.450.
Mayoritas analis (6 analis) merekomendasikan hold, salah satunya yang terbaru adalah analis CGS International Jason Chandra yang menyematkan target harga Rp14.100 saham GGRM.
Sementara bagi HMSP, sebanyak 10 dari 12 analis (83,3%) memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp1.070, 56 dalam 12 bulan ke depan, mencerminkan potensial return 39% dari harga Rp770.
Dalam riset teratas yang dipublikasikan, CGS International menyematkan rating add dengan target harga Rp1.000. Sedangkan, MNC Sekuritas memberi rating hold dengan target harga Rp850, serta ada Trimegah Sekuritas yang memberi rating buy dengan target harga Rp1.100.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita mengatakan bahwa secara umum 2026 memang berpotensi menjadi tahun stabilisasi bagi emiten rokok setelah tiga tahun dihantam kenaikan CHT yang agresif dan tekanan margin yang juga semakin menipis.
Menurutnya, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan CHT dan harga jual eceran (HJE) tahun ini akan menciptakan ruang napas dari sisi profitabilitas emiten tembakau. Artinya, arus kas operasional emiten diperkirakan akan cenderung membaik karena tekanan biaya turun, serta ruang penyesuaian harga akan menjadi lebih fleksibel.
“Jadi momentum positif ini sejatinya bisa menjadi pemulihan terukur. Karena basis biaya 2024–2025 masih tinggi, terutama dari kenaikan tarif berlapis dan shifting konsumen ke segmen harga lebih rendah. Pertumbuhan volume industri yang sempat mengalami kontraksi diperkirakan mulai datar sampai mildly positive,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (14/1/2026).
H.M. Sampoerna Tbk. – TradingView
Ihwal kebijakan pemerintah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini mengungkap wacana penambahan sayu golongan baru dalam ketentuan tarif CHT.
Layer tersebut dibuat untuk menampung produk rokok ilegal agar menjadi legal dan membayar pajak kepada pemerintah. Ronny menilai, jika kebijakan itu dirancang dengan struktur tarif yang benar, maka akan dapat menciptakan pressure valve untuk menampung produk yang saat ini secara harga mendorong konsumen ke rokok ilegal.
Ronny membuat penegasan, inti masalahnya bukan sekadar tarif tinggi, tetapi jarak tarif antar-kelompok yang terlalu lebar sehingga mendorong terjadinya arbitrase ilegal.
“Penambahan layer baru bisa efektif hanya jika memenuhi dua syarat. Pertama, gap tarif antar-golongan dipersempit, sehingga insentif untuk memalsukan pita cukai menurun. Kedua, pengawasan diperkuat secara digital, bukan hanya memperbanyak golongan tarif di atas kertas,” tegasnya.
Dia mencatat, beberapa tahun terakhir ini rokok ilegal meningkat bukan hanya karena tarif tinggi, tetapi karena enforcement yang asimetris di mana supply chain rokok ilegal jauh lebih cepat beradaptasi daripada mekanisme pengawasan. Jika tata kelola distribusi pita cukai digital, tracking produksi, dan sanksi diperketat, barulah layer tambahan ini menjadi instrumen mitigasi yang efektif.
Gudang Garam Tbk. – TradingView
Khususnya bagi perusahaan terbuka seperti GGRM dan HMSP, Ronny menilai kebijakan penambahan layer baru dapat menurunkan tingkat cannibalization dari rokok ilegal, sehingga menjaga stabilitas volume para pemain legal. Dengan volume yang lebih terjaga dan tarif stagnan, profitabilitas kembali punya ruang untuk tumbuh.
“Harga saham yang naik di awal 2026 merupakan refleksi dari ekspektasi pemulihan, bukan karena fundamental yang sudah pulih sepenuhnya. Secara agregat, outlook 2026 lebih baik daripada 2025, tetapi tetap ada batasanya. Potensi recovery ada, tetapi nampaknya tidak akan terlalu bombastis,” pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.