Moody’s turunkan outlook RI jadi negatif, BI pede kredit perbankan tumbuh 8-12%

Bank Indonesia (BI) menilai fundamental sistem keuangan Indonesia masih sangat kuat, meskipun lembaga pemeringkat global Moody’s Investors Service (Moody’s) menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan level Baa2.

“Sejauh ini memang concern yang disampaikan Moody’s tentu beberapa, penerimaan, dan lainnya. Tentu dari sisi SSK (stabilitas sistem keuangan) sendiri kami melihat fundamental masih sangat kuat,” ujar Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis dalam Editor Briefing BI di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/2).

Alexander melanjutkan, saat ini pertumbuhan kredit perbankan masih berada pada fase di bawah pertumbuhan optimalnya. Sehingga ruang untuk pertumbuhan masih terbuka lebar.

Selama 2025, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,69 persen secara tahunan (year on year/yoy), masih berada dalam kisaran target BI sebesar 8-11 persen (yoy). Sementara pada tahun ini, bank sentral menargetkan pertumbuhan kredit mencapai 8-12 persen (yoy).

Menurut Alexander, bank sentral melakukan kerja sama dengan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan kredit. Sejumlah program pemerintah mulai dari Makan Bergizi Gratis hingga hilirisasi pangan diproyeksi ampuh mencapai target pertumbuhan kredit tahun ini.

“Kita dalami masih banyak yang bisa kita garap, kita bantu dalam perspektif ini pembiayaan tumbuh cepat lagi, hilirisasi pangan, SDA, tentu bagaimana step by step kita terus formulasikan dan sinergikan dengan kementerian/lembaga terkait. Inilah kenapa outlook 8-12 persen, semua variabel indikatornya masih bertahan di bilangan itu,” jelasnya.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia. Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,11 persen. Inflasi tetap terjaga pada 2,92 persen, berada dalam kisaran sasaran, dan stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat Bank Indonesia.

“Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah. Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran yang tetap terjaga ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry dikutip dari keterangan resmi BI, Jumat (6/2).