Pergerakan IHSG dipengaruhi data PDB nasional, berikut catatan analis

Ussindonesia.co.id  JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan penguatannya dalam dua hari terakhir yang bertepatan dengan pengaruh rilis data pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada penutupan perdagangan Rabu (6/5), IHSG menguat 0,50% ke level 7.092,47.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, penguatan IHSG dalam dua hari terakhir dipengaruhi realisasi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% year on year (yoy) atau di atas ekspektasi pasar di kisaran 5,3%.

Data tersebut menjadi katalis positif bagi pasar karena menunjukkan aktivitas ekonomi domestik yang masih solid di tengah tekanan global. 

IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas, Ini Level Support dan Resistance Kamis (7/5)

“Respons positif paling terlihat pada sektor perbankan dan konglomerasi yang mengalami penguatan signifikan pada perdagangan terakhir,” ujar dia, Rabu (6/5/2026). 

Di sisi lain, secara teknikal IHSG juga sedang berada di area support penting 6.800–7.000, yang sebelumnya beberapa kali menjadi area technical rebound. Alhasil, penguatan kali ini merupakan kombinasi antara sentimen fundamental domestik yang positif dan faktor teknikal.

Terkait data pertumbuhan ekonomi nasional, Reza menilai bahwa secara historis kuartal pertama sebenarnya cenderung menjadi periode yang relatif lebih lemah dibandingkan kuartal keempat akibat efek high base, sementara belanja pemerintah biasanya belum maksimal pada awal tahun. 

Namun, tahun ini berbeda, mengingat momentum konsumsi dari perayaan Imlek dan Idulfitri turut mendorong aktivitas ekonomi, sehingga pertumbuhan menjadi lebih tinggi dari ekspektasi pasar.

Meski demikian, pasar masih mencermati faktor lain di luar pertumbuhan ekonomi. Pada perdagangan terakhir, IHSG masih mencatatkan net foreign sell sekitar Rp 317 miliar di pasar reguler. 

Salah satu faktor utama yang memicu capital outflow adalah pelemahan rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.350–17.400 per dolar AS. 

“Selain itu, pasar juga menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia pada Jumat mendatang karena akan menjadi indikator penting terhadap stabilitas nilai tukar rupiah ke depan,” ungkap Reza.

Asing Net Sell Rp 518 Miliar Saat IHSG Menguat, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing

Dengan kata lain, meski data pertumbuhan ekonomi menunjukkan fundamental domestik cukup baik, saat ini pasar masih bergerak dengan sentimen campuran antara kekuatan ekonomi domestik dan tekanan eksternal, khususnya nilai tukar dan arus modal asing.

Lantas, Reza memandang data pertumbuhan ekonomi yang berada di atas ekspektasi pasar akan memberikan sentimen positif jangka pendek bagi IHSG.

Namun, keberlanjutan penguatan pasar tetap akan sangat bergantung pada indikator lain, terutama stabilitas rupiah dan arah aliran dana asing.

“Selama tekanan terhadap rupiah masih berlangsung, investor asing cenderung lebih berhati-hati untuk kembali masuk secara agresif ke pasar saham Indonesia,” tutur dia. 

Di sisi lain, prospek pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 juga masih dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk tensi konflik geopolitik, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta pergerakan harga komoditas dunia.

Menurut Reza, jika tekanan eksternal mulai mereda, khususnya dari sisi nilai tukar dan aliran dana asing, maka IHSG diprediksi berpotensi kembali menuju area 7.300–7.500 pada akhir semester I-2026.

IHSG Melonjak 0,66% ke 7.103,9 Hari Ini (6/5), Top Gainers LQ45: DEWA, UNVR, HRTA

Sebaliknya, apabila tekanan global masih berlanjut dan rupiah terus mengalami depresiasi, maka IHSG berpotensi kembali menguji area support di kisaran 6.800 hingga 6.500. 

Reza menambahkan, saham-saham di sektor komoditas masih cukup prospektif bagi investor, terutama minyak bumi dan batubara seiring tingginya harga kedua komoditas tersebut di tengah ketidakpastian geopolitik.

Kondisi ini berpotensi menopang kinerja emiten-emiten berbasis energi dan komoditas pada masa depan.