Adaro Andalan (AADI) mau buyback saham, siap guyur Rp5 triliun

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) menyiapkan dana hingga Rp5 triliun untuk aksi pembelian kembali saham, meski rencana buyback pada 2025 belum dijalankan hingga awal 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Kamis (16/4/2026), rencana tersebut kembali diajukan perseroan untuk memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 22 Mei 2026. Jika disetujui, pelaksanaan buyback dapat dimulai sehari setelahnya dan berlangsung hingga 12 bulan ke depan.

Langkah ini muncul di tengah belum terealisasinya program pembelian kembali saham periode 2025 yang saat itu sebesar Rp4 triliun. Perseroan mencatat tidak ada pelaksanaan buyback sejak 23 Mei 2025 hingga 31 Maret 2026, meskipun telah mengantongi restu pemegang saham sebelumnya.

: Adaro Andalan (AADI) Bakal Lepas 720 Juta Saham di Tambang Kestrel Australia

Manajemen menyebutkan, aksi korporasi ini bertujuan menjaga likuiditas perdagangan saham sekaligus mendorong harga saham agar mencerminkan nilai fundamental perseroan. Selain itu, buyback diharapkan meningkatkan kepercayaan investor dan memberikan tingkat pengembalian yang optimal bagi pemegang saham.

Perseroan memastikan pelaksanaan buyback tidak akan mengganggu kondisi keuangan. Dana yang digunakan seluruhnya berasal dari kas internal, dengan dukungan saldo laba dan arus kas yang dinilai memadai.

: : Ancang-Ancang Adaro (AADI) Menuju 2060 RI Bebas Energi Fosil Batu Bara

Secara proforma, aksi ini diperkirakan akan meningkatkan laba per saham. Dengan asumsi penggunaan dana maksimal Rp5 triliun, laba per saham dasar naik dari 0,09762 menjadi 0,10401, meski total aset dan ekuitas akan tergerus masing-masing sekitar US$292 juta.

Perseroan juga menegaskan jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melampaui 10% dari modal ditempatkan dan tidak mengurangi kekayaan bersih di bawah batas minimum yang dipersyaratkan regulasi.

: : Adaro Andalan (AADI) Ungkap Strategi Hadapi Pelemahan Harga Batu Bara

Dalam pelaksanaannya, buyback akan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia di pasar reguler dengan menunjuk satu perusahaan efek. Harga pembelian ditetapkan tidak lebih tinggi dari harga transaksi sebelumnya, sesuai ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, Selasa (14/4/2026), AADI berencana menjual 720,38 juta saham di Kestrel Coal Group Pty Ltd.

Nilai dari rencana transaksi ini yaitu sebesar US$1,85 miliar untuk upfront cash consideration atau pembayaran tunai awal, dan maksimum US$550 juta untuk contingent cash consideration atau pembayaran tambahan. 

Sekretaris Perusahaan AADI Ray Aryaputra menjelaskan berdasarkan  sale and purchase agreement (SPA), Adaro Capital Limited (ACL) akan menjual seluruh saham Kestrel milik ACL sejumlah 720,38 juta saham (720.385.220) biasa yang telah disetor penuh dalam modal Kestrel atau setara dengan 47,99% dan waran milik ACL.

“Penyelesaian rencana transaksi akan dilaksanakan setelah dipenuhinya seluruh persyaratan pendahuluan sebagaimana disepakati oleh para pihak dalam SPA,” tulis Ray, Selasa (14/4/2026).

Adapun total nilai rencana transaksi terdiri atas upfront cash consideration sebesar US$1,85 miliar yang akan dibayarkan pada saat penyelesaian transaksi dan tunduk pada penyesuaian berdasarkan syarat dan ketentuan dalam SPA. 

Lalu contingent cash consideration sebesar maksimum total hingga US$550 juta, yang akan dibayarkan tahunan selama periode lima tahun sejak tanggal penyelesaian transaksi.

Pembayaran ini memiliki ketentuan untuk setiap tahun, pembayaran hanya dilakukan apabila rata-rata harga harian yang dipublikasikan untuk indeks Platts Premium Low Vol Hard Cooking Coal FOB Australia (PLVHA00) dalam tahun penilaian melebihi batasan tertentu. 

Ray menuturkan nilai rencana transaksi yang akan diperoleh ACL akan dihitung berdasarkan proporsi kepemilikan ACL di Kestrel.

“Tujuan rencana transaksi adalah untuk mendukung pelaksanaan strategi bisnis dan investasi perseroan,” kata Ray. 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.