Akuisisi ramai dilakukan oleh sejumlah emiten, begini pandangan analis

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Akhir-akhir ini aksi korporasi berupa akuisisi perusahaan ramai dilakukan oleh beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini menjadi sinyal bahwa akuisisi menjadi salah satu strategi bagi emiten yang sedang dalam fase pertumbuhan dan membutuhkan katalis pendorong kinerja secara cepat.

Dalam berita sebelumnya, ada beberapa emiten yang aktif melakukan akuisisi dalam beberapa waktu terakhir. Contohnya adalah PT Singaraja Putra Tbk (SINI) yang berencana mengakuisisi 99,99% saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan nilai transaksi Rp 1,73 triliun. Untuk mengeksekusi rencana tersebut, SINI berencana menggelar rights issue dengan target dana Rp 3,6 triliun.

Emiten pendatang baru, yaitu PT BSA Logistics Tbk (WBSA) berencana mengakuisisi saham PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) sebanyak 191.250 lembar saham atau setara dengan 99,99% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh BIL pada PT Bermuda Nusantara Logistik (BNL). Dana yang disiapkan WBSA untuk merealisasikan akuisisi tersebut yakni sebesar Rp 215 miliar yang diperoleh dari hajatan Initial Public Offering (IPO) emiten tersebut.

Kinerja Pakuwon Jati (PWON) Masih Ditopang Aset Recurring, Simak Rekomendasi Sahamnya

Selain itu, ada PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) yang berencana akuisisi 60% saham PT Sarana Global Indonesia (SGI) dengan nilai Rp 280,4 miliar. Rencana ini memerlukan persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Awal April ini, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mengumumkan rencana akuisisi saham pada 14 perusahaan pemilik properti rumah sakit dengan nilai total mencapai sekitar Rp 9 triliun sebagai bagian dari strategi ekspansi bisnis. Rincian akuisisi dilakukan sekitar Rp 5,12 triliun untuk tahap pertama dan Rp 3,88 triliun untuk tahap kedua.

Beberapa pekan lalu, PT Astrindo Nusantara Infrastructure Tbk (BIPI) melakukan pembelian 1.000 saham PT Maharaksa Energi Hijau (MEH), salah satu entitas usaha PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), dengan nilai Rp 500 juta. Pada saat yang sama, BIPI juga membeli 20 saham entitas usaha OASA lainnya yaitu PT Indoplas Energi Hijau (IEH) atau senilai Rp 20 juta.

Tak ketinggalan, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) juga berencana melakukan akuisisi aset berupa blok hulu migas baru, baik di dalam maupun luar negeri pada tahun ini.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, ramainya akuisisi yang dilakukan sejumlah emiten memperlihatkan bahwa strategi ekspansi anorganik kerap menjadi pilihan untuk mencapai pertumbuhan cepat tanpa perlu upaya merintis bisnis dari nol. Emiten yang aktif melakukan akuisisi biasanya hendak mendiversifikasi bisnis atau memperbesar pangsa pasar.

Adanya beberapa emiten yang menggunakan dana dari IPO dan rights issue untuk akuisisi perusahaan lain juga memperlihatkan bahwa pendanaan ekuitas menjadi pilihan alternatif di tengah masih tingginya suku bunga perbankan. “Pasar modal menjadi alternatif pendanaan yang tidak membebani rasio utang,” kata dia, Senin (20/4/2026).

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima menilai, kebanyakan investor menyukai aksi korporasi seperti akuisisi perusahaan, karena akan mendongkrak volatilitas saham terkait. Beda dengan ekspansi organik yang membutuhkan waktu lama dan penuh ketidakpastian.

“Akuisisi jadi jalan pintas buat langsung dapat aset, market, bahkan recurring income,” tutur dia, Senin (20/4/2026).

Kinerja Tergolong Solid, Tapi Kenapa Saham BBCA Masih Terus Tertekan?

Di samping itu, valuasi beberapa sektor industri juga masih relatif murah usai penurunan pasar saham akhir-akhir ini, sehingga beberapa emiten melihat hal ini sebagai momentum yang tepat untuk menggelar akuisisi. Dengan kata lain, kegiatan akuisisi sebenarnya dilatarbelakangi oleh kombinasi antara kebutuhan emiten untuk mencetak pertumbuhan kinerja secara cepat dan adanya peluang harga atau momentum pada sektor tertentu.

Secara teori, akuisisi dapat langsung mengangkat kinerja emiten yang bersangkutan jika aset yang diambil alih sudah menghasilkan laba dan langsung dikonsolidasikan. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu instan.

Pasalnya, ada proses integrasi, penyesuaian operasional, bahkan penyesuaian budaya perusahaan yang membuat realisasi sinergi butuh waktu. “Jadi kalau berharap lonjakan kinerja dalam satu atau dua kuartal, itu agak optimistis,” imbuh dia.

Sedangkan menurut Wafi, emiten yang melakukan akuisisi perlu mewaspadai risiko seperti kegagalan integrasi operasional atau budaya kerja, pembayaran nilai akuisisi terlalu mahal (overpaid), dan penurunan profitabilitas jika perusahaan yang diakuisisi tidak efisien.

Dari sisi saham, Wafi menyebut harga saham emiten biasanya naik ketika rumor akuisisi berhembus atau saat pengumuman rencana awal akuisisi. Hal ini dipicu oleh ekspektasi pasar.

Namun, harga saham emiten rawan terkoreksi pasca akuisisinya terealisasi. Artinya, investor banyak yang menerapkan strategi buy on rumour dan sell on the news.

Investor sendiri perlu memperhatikan sejumlah aspek ketika mau berinvestasi di saham emiten yang aktif melakukan akuisisi. Di antaranya adalah valuasi perusahaan yang diakuisisi, risiko transaksi afiliasi atau benturan kepentingan, risiko dilusi kepemilikan saham jika pendanaan akuisisi memakai strategi penerbitan saham baru, serta kejelasan strategi manajemen emiten usai akuisisi.

Dari sekian emiten yang memiliki agenda akuisisi, Wafi merekomendasikan beli saham SILO dengan target harga Rp 2.800 per saham. Adapun saham SINI, WBSA, INET, BIPI, dan RATU disarankan wait and see.

Sementara itu, Raden menyebut investor dapat memanfaatkan momentum jangka pendek untuk masuk ke saham yang sedang dalam fase persiapan akuisisi. Contohnya dengan menerapkan strategi day trading untuk mengambil potensi keuntungan sekitar 2%-3%.