
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Maraknya aksi pergantian pemegang saham pengendali (PSP) dalam beberapa waktu terakhir mencerminkan tren baru di pasar modal, yakni meningkatnya aksi backdoor listing sebagai jalan pintas di tengah lesunya aktivitas initial public offering (IPO).
Fenomena ini muncul seiring dengan merosotnya jumlah emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam dua tahun terakhir. Setelah mencetak rekor dengan 79 IPO pada 2023, jumlah tersebut turun signifikan menjadi 41 perusahaan pada 2024 dan kembali menyusut menjadi hanya 26 perusahaan sepanjang 2025.
Memasuki kuartal II/2026, aktivitas IPO bahkan masih sangat terbatas dengan baru satu perusahaan yang mencatatkan saham perdana.
: Pause IPO dan Musim Berburu âCangkangâ di Lantai Bursa
Dalam kondisi tersebut, sejumlah pelaku usaha mulai beralih ke jalur alternatif melalui akuisisi emiten yang telah tercatat di bursa. Salah satu contohnya adalah PT Prime Agri Resources Tbk. (SGRO) yang mengalami pergantian pengendali dari Twinwood Family Holdings kepada AGPA Pte. Ltd., anak usaha POSCO International.
Transaksi tersebut dilakukan pada harga Rp7.903 per saham dengan total nilai mencapai Rp9,44 triliun. Aksi ini sekaligus mempertegas tren masuknya investor strategis melalui mekanisme non-IPO.
: : Investor Selektif di Tengah Gejolak, IPO Diproyeksi Bergeliat Semester II/2026
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto menilai meningkatnya pergantian pengendali dan praktik backdoor listing tidak terlepas dari kondisi pasar yang belum sepenuhnya kondusif bagi IPO.
“Ketika kondisi pasar belum sepenuhnya kondusif, sebagian perusahaan cenderung mencari jalur yang lebih cepat dan fleksibel untuk masuk ke Bursa,” kata David, Jumat (10/4/2026).
: : Semarak PSP Baru Kala IPO Lesu
Menurutnya, backdoor listing menawarkan sejumlah keunggulan, seperti proses yang relatif lebih cepat, tidak sekompleks IPO dari sisi keterbukaan dan persyaratan, serta memberikan fleksibilitas bagi pemilik baru dalam melakukan restrukturisasi.
Namun demikian, David mengingatkan bahwa jalur ini juga memiliki konsekuensi tersendiri. Biaya yang timbul secara implisit bisa lebih tinggi, dan umumnya hanya menarik bagi perusahaan dengan skala aset yang cukup besar.
Dia juga menyoroti bahwa emiten dengan harga saham di bawah Rp50 dan berada di papan pemantauan khusus kerap menjadi target aksi akuisisi tersebut.
“Emiten seperti ini pada dasarnya menjadi kendaraan untuk masuk ke pasar,” tuturnya.
Senada, pengamat pasar modal Reydi Octa menyebut melemahnya pasar IPO dalam dua tahun terakhir turut membuka ruang bagi meningkatnya aksi backdoor listing.
“Ketika pasar primer lebih selektif dan valuasi sulit diserap, pemilik bisnis cenderung mencari jalur lebih cepat lewat akuisisi emiten yang sudah listing,” ujar Reydi, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, jalur backdoor dinilai lebih efisien dari sisi waktu dan fleksibel bagi pelaku usaha yang ingin segera masuk ke pasar modal.
Menariknya, lanjut Reydi, sebagian besar aksi tersebut menyasar saham-saham di papan pemantauan khusus dengan harga rendah, sehingga berpotensi terus berlanjut selama minat IPO belum pulih.
“Namun bagi investor, ini bukan sekadar peluang, melainkan area yang penuh jebakan karena sering kali yang diperdagangkan adalah narasi, bukan kinerja riil,” kata dia.
Sampoerna Agro Tbk. – TradingView
Selektif Memilih Emiten IPO
Di sisi lain, dari perspektif penjamin emisi efek, selektivitas dalam membawa perusahaan melantai di bursa juga semakin meningkat. Direktur Investment Banking Semesta Indovest Sekuritas Kerry Rusli mengatakan pihaknya kini lebih berhati-hati dalam memilih calon emiten.
Menurutnya, perusahaan sekuritas kini tidak lagi mendorong semua perusahaan untuk IPO tanpa mempertimbangkan kualitas fundamental.
“Jadi memang tidak lagi ya bursa itu dipenuhi dengan perusahaan-perusahaan yang secara fundamental tidak baik di Bursa,” ujar Kerry, Jumat (10/4/2026).
Dia menambahkan, perusahaan yang dinilai belum layak melantai di bursa akan disarankan untuk terlebih dahulu memperkuat bisnisnya di luar pasar modal.
“Jadi pesan kami terhadap teman-teman di sekuritas lain untuk menjaga dan membawa perusahaan-perusahaan yang memang bisa memberikan manfaat dan bagus ke Bursa, agar investor ritel antusias juga,” tuturnya.
Sementara itu, Presiden Direktur OCBC Sekuritas Betty Goenawan mengungkapkan bahwa saat ini masih terdapat sejumlah calon emiten yang tengah diproses. Namun, banyak di antaranya memilih menunda IPO dan mengambil sikap wait and see.
“Daya serap investor ritel juga saat ini masih wait and see,” ujar Betty ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.