
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Pertumbuhan kredit perbankan mentok di kisaran 7% kendati pemerintah telah menggelontorkan ratusan triliun dana mengendap di Bank Indonesia (BI) ke Himbara. Akibatnya, jumlah kredit mennganggur atau undisbursed loan di perbankan terus mengalami kenaikan.
Bank Indonesia (BI) cenderung melihat lesunya permintataan kredit karena rendahnya permintaan (demand). Pengusaha masih wait and see kendati otoritas moneter telah secara agresif menurunkan beberapa kali suku bunga acuan alias BI Rate.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa tingginya fasilitas kredit yang belum ditarik atau undisbursed loan mencerminkan lemahnya permintaan kredit dari dunia usaha.
: Ironi Jurus Likuiditas Purbaya: Gagal Kerek Kredit Bank, Ditarik Lagi Buat Tambal APBN
Purbaya justru menuding perilaku perbankan yang lebih nyaman memarkir dana di tempat lain karena kepastian keuntungan seperti membeli instrumen surat berharga ketimbang menyalurkan pinjaman. Artinya, penyaluran kredit seret bukan karena sepi debitur namun karena sikap cari aman bank.
Purbaya menegaskan bahwa permintaan kredit di sektor riil sejatinya cukup tinggi. Hanya saja, sebelum adanya injeksi likuiditas pemerintah, perbankan cenderung menahan diri dan memilih instrumen investasi yang dianggap lebih aman dengan imbal hasil pasti.
: : Purbaya Bantah Permintaan Kredit Lemah, Tuding Bank yang ‘Cari Aman’
“Jadi, demand [permintaan] untuk kredit itu tidak ada, itu tidak benar. Lihat saja kasus saya yang pertama, dia cari kredit, lho, cari pinjaman dari bank, banknya enggak ada yang kasih pinjam. Kenapa? Karena bank bisa taruh [dana] di tempat yang lebih enak,” jelas Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Adapun, dia merujuk salah satu kasus yang ditangani Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP) pada pekan lalu. Saat itu, ada pengusaha yang mengadu masih kesulitan pembiayaan dari bank milik negara (Himbara).
: : Purbaya Bantah Kredit Nganggur hingga Rp2.509 Triliun karena Tak Ada Permintaan
Salah satu pelapor, PT Mayer Indah Indonesia menyampaikan pihaknya kesulitan mendapatkan pembiayaan termasuk dari Himbara. Padahal perusahaan bordir dan penghasil kebaya itu telah berdiri sejak 1973 dan mengaku mengalami kesulitan sejak pandemi Covid-19.
Oleh sebab itu, Purbaya meyakini sumbatan penyaluran kredit itu akan terbuka dengan adanya penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun ke lima bank Himbara pada medio September lalu. Likuiditas yang melimpah akan mendorong bank untuk segera menyalurkan kredit ke sektor riil.
Dia juga menyoroti bahwa rasio undisbursed loan terhadap total portofolio kredit perbankan cenderung stabil dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, indikator tersebut dinilai tidak valid jika digunakan sebagai pembenaran atas seretnya penyaluran kredit.
Berkaca pada pengalaman 2020—2021 ketika Covid-19, Purbaya menyebut penempatan uang negara terbukti mampu mengerek pertumbuhan kredit hingga double digit, meskipun angka undisbursed loan tetap ada. “Jadi, tidak betul klaim bahwa undisbursed loan tinggi itu karena ditambah uang pun tidak ada yang pinjam. Problem undisbursed loan ada, tapi ketika ekonominya tumbuh, orang akan meminjam lebih banyak,” ucapnya.
Versi Bank Indonesia
Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu (17/12/2025) menyatakan nilai itu setara dengan 23,18% dari plafon kredit yang tersedia. “Fasilitas pinjaman yang belum dicairkan [undisbursed loan] pada November 2025 masih besar, yaitu mencapai Rp2.509,4 triliun,” ujarnya.
Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, nilai undisbursed loan tersebut mengalami kenaikan Rp58,7 triliun. Per Oktober 2025, BI melaporkan kredit nganggur di bank mencapai Rp2.450,7 triliun atau setara 22,97% dari plafon kredit.
Sementara itu, kredit perbankan pada November 2025 tumbuh sebesar 7,74% YoY, naik dari 7,36% YoY pada bulan sebelumnya. Perry menjelaskan dari sisi permintaan kredit terindikasi belum kuat.
“Dipengaruhi oleh perilaku wait and see dari pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, serta penurunan suku bunga kredit yang masih lambat,” jelasnya.
Sementara dari sisi penawaran, lanjutnya, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 29,67% dan DPK yang tumbuh sebesar 12,03% YoY pada November 2025.
Perry menyebut perkembangan ini turut didorong oleh ekspansi likuiditas moneter dan pelonggaran KLM Bank Indonesia, serta ekspansi keuangan Pemerintah termasuk penempatan dana pemerintah pada beberapa bank besar.
Menurutnya, minat penyaluran kredit perbankan umumnya juga masih baik, yang tercermin pada persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat peningkatan risiko kredit pada kedua segmen tersebut. “Kondisi ini memengaruhi pertumbuhan kredit UMKM November 2025 yang terkontraksi sebesar 0,64% YoY,” sebutnya.
Adapun, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2025 berada pada batas bawah kisaran 8%-11% YoY dan akan meningkat pada 2026.