
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), arah suku bunga acuan yang diperkirakan tetap stabil dinilai menjadi sentimen positif bagi sektor perbankan.
Kondisi ini membuka ruang bagi perbaikan transmisi kebijakan moneter sekaligus meredakan tekanan margin bunga, yang berpotensi mendorong pemulihan kinerja saham bank.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan stabilitas suku bunga dapat menjadi titik balik bagi profitabilitas perbankan.
“Margin berpeluang lebih stabil dalam beberapa kuartal ke depan, sehingga kinerja laba bisa kembali terjaga,” ujarnya kepada KONTAN Sabtu (18/4/2026).
Intip Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (17/4), IHSG Berpeluang Sideways
Di sisi kebijakan, BI telah mempertahankan BI rate di level 4,75% sejak awal tahun. Secara kumulatif, level ini mencerminkan pelonggaran 125 basis poin sejak Januari 2025.
Namun, transmisi ke sektor riil masih terbatas. Hingga Februari 2026, penurunan suku bunga kredit baru sekitar 40 basis poin, sementara bunga deposito tenor satu bulan turun 64 basis poin.
Kondisi tersebut sebelumnya sempat menekan margin bunga bersih (NIM) perbankan. Persaingan menghimpun dana pihak ketiga membuat biaya dana meningkat lebih cepat, sehingga membebani kinerja bank.
Meski begitu, jika suku bunga tetap ditahan, tekanan tersebut diperkirakan mulai mereda.
Dari sisi pasar saham, tekanan masih terasa. Hingga penutupan perdagangan Jumat (17/4), saham bank besar masih terkoreksi secara year to date (ytd). PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat penurunan terdalam sebesar 20,43% ke Rp 6.425.
BBCA Chart by TradingView
Intip Rekomendasi Saham Beli untuk Hari Ini (14/4), IHSG Berpotensi Kembali Reli
Disusul PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 15,1% ke Rp 3.710, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 9,41% ke Rp 4.620, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang terkoreksi 6,28% ke Rp 3.430.
Meski harga saham masih tertekan, prospek fundamental perbankan dinilai tetap solid. Pertumbuhan kredit diperkirakan berada di kisaran high single digit hingga low double digit, ditopang pemulihan permintaan dari segmen konsumsi dan korporasi.
Risiko kredit juga relatif terkendali seiring belum adanya lonjakan signifikan beban bunga debitur.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pasar sudah mengantisipasi arah suku bunga yang cenderung stabil, terutama di tengah pelemahan rupiah dan tingginya volatilitas global.
Dalam kondisi tersebut, saham bank besar masih menarik baik dari sisi fundamental maupun valuasi.
Di Tengah Tekanan Saham Perbankan, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga, Apa Efek ke Bank?
Ia mematok target harga akhir tahun untuk BBCA di Rp 9.600, BBRI Rp 4.380, BMRI Rp 5.860, dan BBNI Rp 5.000.
Sementara itu, Hendra merekomendasikan BBCA sebagai speculative buy dengan target Rp 6.800, serta melihat potensi penguatan BMRI ke Rp 4.800, BBNI ke Rp 3.900, dan BBRI ke Rp 3.600.
Secara keseluruhan, stabilitas suku bunga dinilai menjadi fondasi penting bagi pemulihan sektor perbankan, baik dari sisi kinerja maupun pergerakan saham di pasar modal.