
Bank Indonesia (BI) melakukan soft launching Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) sebagai wadah pengembangan talenta dan startup sektor keuangan digital. Program ini akan menjaring 800 tim dari seluruh Indonesia untuk dibina melalui tahapan pelatihan, sandboxing, hingga capstone project selama sekitar enam bulan.
Dalam peluncuran dan pelaksanaan program ini, BI berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta pelaku dan asosiasi industri. Program PIDI merupakan bagian dari implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030, khususnya pilar inovasi, sekaligus kontribusi BI dalam mendukung agenda transformasi ekonomi digital nasional menuju Indonesia Emas 2045.Peluncuran PIDI juga menjadi bagian dari strategi lanjutan transformasi sistem pembayaran nasional yang sebelumnya melahirkan berbagai inisiatif seperti QRIS dan BI-FAST. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, setiap pencapaian besar berawal dari mimpi yang diterjemahkan menjadi visi, lalu diwujudkan dalam aksi dan kolaborasi.
“Semua legacy akan berasal dari mimpi. So, never stop dreaming,” ujar Perry di Kantor Pusat BI, Senin (23/2).
Ia menyebut pola ini telah menjadi fondasi kebijakan sistem pembayaran sejak 2019. “That’s from dream to vision to action to reality,” katanya.

Melalui PIDI, BI membuka tiga klaster inovasi, yakni layanan keuangan dan sistem pembayaran digital (termasuk cybersecurity dan anti-money laundering), penguatan inklusi ekonomi digital seperti UMKM dan pesantren, serta pengembangan ekspor jasa digital berbasis teknologi dan AI.
Dari 800 tim yang lolos seleksi awal, seluruhnya akan mengikuti pelatihan dasar dan memperoleh sertifikat. Selanjutnya, 480 tim masuk tahap sandboxing untuk menguji model bisnis selama dua bulan dengan pendampingan mentor dan peluang bertemu investor. Dari tahap itu akan dipilih 80 tim terbaik untuk capstone project, dan sekitar 10 tim ditargetkan siap menjadi bisnis digital yang berjalan. Inisasi PIDI yang mengusung tema “Berinovasi untuk Masa Depan, Memberdayakan Talenta Digital” sekaligus secara resmi membuka pendaftaran Digdaya x Hackathon 2026 yang akan berlangsung selama periode 23 Februari hingga 27 Maret 2026.
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Dicky Kartikoyono, memaparkan kerangka pengembangan PIDI dengan pendekatan “Why, What, and How”.

Pada aspek why, Dicky menyoroti pesatnya pertumbuhan transaksi digital nasional yang perlu diimbangi penguatan ekosistem dan talenta. “Komitmen keuangan digital kita luar biasa,” kata dia.
Ia menjelaskan, transaksi QRIS tumbuh signifikan setiap tahun, mayoritas perbankan telah memiliki mobile banking, dan nilai transaksi BI-FAST terus meningkat. Namun pada saat bersamaan, Indonesia menghadapi tantangan perlindungan ekosistem digital dan perluasan inklusi keuangan hingga area pedesaan.
Pada aspek what, Dicky menegaskan bahwa PIDI menjadi platform untuk melahirkan inovasi konkret di sektor sistem pembayaran dan keuangan digital, sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat, sekolah, hingga pelaku UMKM. Program ini dirancang untuk mencetak talenta yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menyusun proposal bisnis yang layak dan berkelanjutan.
Sementara pada aspek how, ia menjelaskan tahapan implementasi yang terstruktur mulai dari pelatihan dasar, pendampingan mentor, sandboxing model bisnis, hingga proses kurasi bersama investor. Melalui skema ini, BI ingin memastikan inovasi yang lahir benar-benar aplikatif dan memiliki peluang komersialisasi.