Harga Bitcoin sentuh US$ 69.000 di tengah ketegangan AS-Iran

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) berada di level US$ 69.000 di tengah eskalasi ketegangan geopolitik AS-Israel dengan Iran. Hal itu yang membuat harga minyak mentah WTI sempat melonjak hampir menyentuh US$ 120 per barel sebelum akhirnya turun ke kisaran US$ 85-US$ 90 setelah adanya sinyal de-eskalasi dari Presiden Trump. 

Tekanan ini juga langsung dirasakan di dalam negeri. Rupiah sempat tertekan ke level Rp 16.935 – Rp16.970 per dolar AS, mendekati rekor terlemahnya, di tengah pemangkasan outlook kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat Fitch dan Moody’s   

Di sisi lain, mengutip Coin Market Cap pukul 06.43 WIB, harga Bitcoin menguat 2,04% dalam sepekan ke level US$ 69.915. 

Cek Rekomendasi Saham dan Prospek Astra International (ASII) di Tahun 2026

Fahmi Almuttaqin, Analis Reku menilai kompleksitas dinamika ini perlu dipahami secara cermat oleh investor. Gangguan di Selat Hormuz mendorong negara-negara seperti UEA dan Kuwait memangkas produksi akibat kapasitas penyimpanan yang penuh.

Kondisi ini menciptakan tekanan operasional bagi perusahaan energi global dan volatilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya pada saham-saham produsen minyak AS seperti ExxonMobil dan Chevron. 

Di tengah kondisi saat ini, Fahmi menyoroti Bitcoin yang menunjukkan ketangguhan yang menarik untuk dicermati. Meski saat ini diperdagangkan di kisaran US$ 67.000 – US$ 69.000 atau sekitar 46% di bawah rekor tertingginya, fondasi institusional justru semakin kokoh. 

“Langkah Morgan Stanley yang menunjuk BNY Mellon sebagai kustodian aset kripto, serta investasi besar dari pemilik NYSE di bursa kripto, menandakan transisi Bitcoin dari instrumen spekulatif semata menjadi bagian dari infrastruktur keuangan global yang semakin strategis,” jelas Fahmi dalam keterangan resmi, Rabu (11/3/2026). 

Insentif EV Dipangkas, Dominasi Hybrid Berpotensi Dongkrak Kinerja Astra (ASII)

Fahmi menambahkan bahwa meski korelasi Bitcoin dengan Nasdaq saat ini masih cukup tinggi di angka 85,4%, kondisi pasar yang berada di zona Extreme Fear justru sering kali menjadi sinyal akumulasi bagi investor dengan horizon jangka panjang. 

“Ketika Fear & Greed Index menyentuh level Extreme Fear, sejarah mencatat bahwa ini adalah zona akumulasi bagi mereka yang memiliki nafas panjang, bukan waktu untuk panic selling,” terang Fahmi.