Dow Jones, S&P 500, Nasdaq melemah di tengah ketidakpastian Timur Tengah

Ussindonesia.co.id  NEW YORK. Pasar saham Amerika Serikat kembali turun pada Kamis (26/3/2026) menyusul kenaikan pada hari sebelumnya. Ini karena investor masih menimbang risiko konflik di Timur Tengah dan peluang penyelesaian yang belum pasti.

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan Iran sangat ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran dan mendorong Teheran untuk bersikap serius. Sementara itu, media Iran Tasnim News Agency melaporkan Teheran telah menanggapi proposal 15 poin dari AS, meski sebelumnya Iran secara publik menyangkal adanya negosiasi.

Ketidakpastian dari kedua pihak membuat pasar bingung. Investor khawatir gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia, bisa memengaruhi pasokan minyak global dan mendorong inflasi.

Kripto Berbalik Melemah, Ini Proyeksi Harga Pekan Depan

Jack Herr, analis GuideStone, mengataka pasar masih mencoba memahami situasi sambil memantau harga minyak. Ia menambahkan, meski ada skenario buruk yang bisa memukul ekonomi, jika konflik cepat diselesaikan, kondisi pasar tetap mendukung pertumbuhan.

Sejak pembukaan perdagangan, indeks utama turun. Dow Jones kehilangan 250 poin, S&P 500 turun hampir 57 poin, dan Nasdaq Composite turun sekitar 263 poin. Penurunan paling besar terjadi pada sektor teknologi. Saham Meta Platformsdan Alphabet masing-masing turun 3,2% dan 2%, sementara produsen chip seperti Micron Technology, SanDisk, dan Western Digital anjlok antara 3 hingga 5 persen.

OECD memperingatkan eskalasi konflik ini bisa memperlambat ekonomi global dan menaikkan inflasi, terutama jika Selat Hormuz sampai ditutup. Situasi ini juga membuat bank sentral lebih berhati-hati soal kebijakan suku bunga. Sebelumnya, pasar memperkirakan Federal Reserve akan menurunkan suku bunga dua kali tahun ini, namun prediksi tersebut kini dibatalkan.

Data terbaru menunjukkan klaim tunjangan pengangguran sedikit naik, menandakan pasar tenaga kerja tetap stabil, sehingga memungkinkan Fed mempertahankan suku bunga sambil memantau dampak konflik.

Di tengah tekanan pasar, ada beberapa kabar positif. Saham Olaplex melonjak 50% setelah perusahaan Jerman Henkelmenyetujui akuisisi merek perawatan rambut ini senilai 1,4 miliar dolar AS. Sebaliknya, saham pertambangan emas turun seiring harga emas yang melemah lebih dari 1%, termasuk Sibanye Stillwater yang turun 2,2% dan Harmony Gold yang turun 1,1%.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun lebih banyak daripada yang naik, dan meski beberapa saham mencatat rekor tertinggi, banyak juga yang mencapai rekor terendah dalam perdagangan hari ini. Pasar tetap bergantung pada arah perkembangan konflik Timur Tengah untuk menentukan tren berikutnya.

Kinerja Emiten Menara Afiliasi Djarum Tumbuh Subur di 2025, Ini Rekomendasi Sahamnya