
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sektor konsumer siklikal mencatatkan performa positif pada awal 2026. Berdasarkan data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat (23/1/2026), indeks sektor konsumer siklikal telah menguat 15,96% secara year to date (YtD).
Kinerja tersebut menjadi yang tertinggi dan melampaui penguatan 10 sektor lainnya di pasar saham.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai lonjakan drastis sektor konsumer siklikal di awal tahun 2026 dipicu oleh rotasi sektoral masif dari sektor teknologi dan perbankan menuju sektor yang lebih sensitif terhadap ekonomi riil.
Buma Internasional Grup (DOID) Suntik Modal ke 29Metals, Begini Rekomendasi Sahamnya
Sektor teknologi yang sempat menjadi primadona pada 2025 mulai dinilai memiliki valuasi jenuh, sehingga likuiditas mengalir deras ke sektor siklikal yang memiliki fundamental solid namun sempat tertinggal pada periode sebelumnya.
“Fenomena January Effect yang diperkuat oleh optimisme terhadap pemulihan daya beli masyarakat serta normalisasi aktivitas ekonomi pasca transisi politik menjadi katalisator tambahan yang mendorong indeks,” kata Abida kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Selain itu, sentimen makroekonomi utama yang memengaruhi sektor ini meliputi berakhirnya ketidakpastian politik di Amerika Serikat pasca government shutdown yang memicu kembalinya minat investor global terhadap aset pasar negara berkembang.
Di dalam negeri, kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 4,75% memberikan kepastian moneter di tengah inflasi yang terkendali pada level 2,92%.
Aksi Buyback Ramai pada Januari 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Kemudian, dukungan fiskal pemerintah melalui belanja negara senilai Rp3.842,7 triliun, termasuk alokasi masif Rp 335 triliun untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pendorong vital bagi konsumsi domestik dan daya beli masyarakat.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan kenaikan sektor ini dikarenakan adanya aksi korporasi emiten yang dilakukan seperti PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dan PT MD Pictures Tbk (FILM) yang melakukan right issue.
“Kedua saham tersebut juga memiliki bobot yang cukup tinggi terhadap sektor indeks konsumer siklikal,” terang Azis kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Kendati begitu, Azis cenderung melihat pergerakan yang moderat dan rawan koreksi mengingat aksi korporasi sudah di lakukan dan kenaikan saham sudah sangat signifikan. Tetapi untuk trading jangka pendek investor bisa memanfaatkan momentum teknikal.
Adapun Abida berpendapat, saham-saham pendorong utama kenaikan indeks ini meliputi PT Astra International Tbk (ASII), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang diuntungkan oleh program protein gratis, serta emiten ritel gaya hidup seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES).
IHSG Berpeluang Rebound pada Senin (26/1/2026), Cek Rekomendasi Saham Pilihannya
Potensi penguatan indeks konsumer siklikal hingga akhir tahun 2026 diproyeksikan sangat positif dengan target IHSG yang diperkirakan mampu menembus level 10.000 dalam skenario optimistis.
Secara sektoral, laba tahunan di industri konsumsi diskresioner diprediksi akan terus berakselerasi dengan pertumbuhan rata-rata mencapai 24% selama lima tahun ke depan, didorong oleh peningkatan pendapatan per kapita dan pergeseran pola belanja masyarakat ke arah ekonomi berbasis pengalaman.
Rekomendasi Saham
Azis merekomendasikan trading buy saham BUVA dengan target Rp 2.000-Rp 2.300 dan support Rp 1.766-Rp 1.725 per saham.
Asing Net Sell Rp 3,05 Triliun, Cek Saham yang Banyak Dijual Asing dalam Sepekan
Abida menyarankan strategi buy on weakness saham ASII di target harga Rp 7.450, lalu buy JPFA, MAPI, ACES dan AMRT dengan target harga masing-masing di level Rp 3.100, Rp 1.400, Rp 550 dan Rp 2.020-Rp 2.090 per saham.