
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gangguan produksi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) Qatar akibat konflik geopolitik di Timur Tengah mengguncang pasar energi global dan mendorong lonjakan harga gas.
Di tengah ancaman kekurangan pasokan gas di Asia, batubara berpotensi kembali menjadi penyangga utama seiring dibutuhkan substansi energi LNG.
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengungkap keunggulan utama batubara terletak pada harga yang lebih ekonomis di saat harga LNG sedang melonjak.
Menurut Wahyu, Indonesia sebagai eksportir batubara termal terbesar di Indonesia berada di posisi sangat strategis tetapi juga menantang.
Harga Minyak Dunia Melonjak, Pertamina Belum Berencana Naikkan Harga BBM
“Kenaikan harga batubara ke level US$ 130 – US$ 140 per ton akan meningkatkan devisa negara dan keuntungan emiten tambang nasional,” kata Wahyu kepada Kontan pada Rabu (4/3/2026).
Di sisi lain, sejak awal 2026 Pemerintah Indonesia telah berencana memangkas kuota produksi nasional menjadi sekitar 600 juta ton. Padahal pada tahun 2025 kuota produksi nasional sekitar 790 juta ton. Pemangkasan tersebut bertujuan untuk menjaga harga dan cadangan batubara di masa depan.
Wahyu menilai jika permintaan dunia meledak, Indonesia harus berhati-hati menyeimbangkan antara mengejar keuntungan ekspor dan memenuhi Domestic Market Obligation (DMO) agar listrik di dalam negeri tidak terganggu oleh lonjakan biaya bahan bakar.
Wahyu optimis jika penangguhan produksi LNG Qatar berlangsung lama (lebih dari sebulan) maka akan terjadi “kebangkitan sementara” batubara secara global.
“Indonesia akan menjadi pemain kunci yang diperebutkan oleh India, China, dan Taiwan untuk mengamankan pasokan energi mereka,” pungkasnya.