Garap tambang emas Gayo, prospek Darma Henwa (DEWA) makin kinclong

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Prospek kinerja PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dinilai semakin menarik seiring langkah ekspansi perseroan ke bisnis tambang emas.

Perlu diketahui, perseroan secara resmi mengalokasikan belanja modal eksplorasi diperkirakan sebesar Rp 450 miliar untuk memperkuat amunisi bisnis di luar sektor batu bara, dengan pembangunan fasilitas pengolahan ditargetkan pada 2028.

Fokus utama ekspansi ini terletak pada tambang emas Gayo yang dijadwalkan terus berjalan hingga kuartal IV-2025. Proses eksplorasi fase kedua ditargetkan selesai pada semester I-2026 dengan cakupan wilayah mencapai 30.000 meter.

Henan Putihrai Sekuritas (HPS) mencatat bahwa langkah ini akan menjadi katalis jangka panjang bagi valuasi perusahaan. 

Harga Emas Fluktuatif, Investor Cermati Inflasi Global dan Imbal Hasil Obligasi

“Ini akan diikuti oleh fase final eksplorasi dengan cakupan luas 50.000 meter, Setelah itu, manajemen menargetkan deklarasi sumber daya sesuai standar JORC (Joint Ore Reserves Committee),” ujar Research Analyst Henan Sekuritas Dennis Tay dalam riset 11 Februari 2026.

Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai ekspansi ke sektor emas ini berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja DEWA ke depan.

Menurutnya, langkah ini menandai transformasi DEWA dari sekadar kontraktor tambang (mining contractor) menjadi perusahaan dengan kapasitas operasional yang lebih luas.

“Dengan adanya proyek Gayo, ini bisa meningkatkan kapasitas dan kapabilitas DEWA di bisnis tambang emas. Artinya, perusahaan bisa naik kelas,” ujar Nafan saat dihubungi Kontan, Rabu (25/3/2026).

Ia menambahkan, prospek emas yang masih berada dalam tren naik jangka panjang (secular uptrend) turut menjadi faktor pendukung. Meski saat ini harga emas global sedang mengalami koreksi wajar, kondisi tersebut justru dinilai sebagai peluang dan titik ideal akumulasi.

Jika harga emas kembali melanjutkan tren kenaikan, Nafan melihat hal ini akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan DEWA. “Kalau harga emas naik dan pendapatan meningkat, maka laba bersih (bottom line) juga akan ikut terdongkrak,” jelasnya.

Tak hanya itu saja, Dennis juga mencatat peningkatan visibilitas pendapatan DEWA seiring perpanjangan kontrak jangka panjang dengan Arutmin.

  DEWA Chart by TradingView  

DEWA menandatangani perpanjangan kontrak berbasis life-of-mine untuk area Kintap dan Asam-asam, yang mencakup total 252 juta bcm kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) serta produksi batubara sebesar 48 juta ton.

Manajemen DEWA juga memberikan panduan operasional untuk tahun 2026, yakni volume pengupasan overburden sebesar 36,2 juta bcm dan produksi batubara sebesar 6,5 juta ton.

Perubahan skema kontrak dari sebelumnya berdurasi lima tahun menjadi sepanjang umur tambang dinilai mampu memperpanjang visibilitas pendapatan secara signifikan. 

Kata Dennis, ini juga sekaligus menunjukkan kepercayaan Arutmin terhadap DEWA sebagai mitra operasional jangka panjang.

Ada pun Analis Samuel Sekuritas Indonesia Juan Harahap dalam riset 4 Maret 2026 mencermati DEWA terus memperluas ekspansi bisnis di luar grup BUMI dengan membidik tambahan volume sekitar 100 juta bcm per tahun dalam tiga tahun ke depan.

Dicatatnya, perseroan telah mengamankan sejumlah kontrak baru, baik di sektor batu bara di Kalimantan Selatan maupun proyek non-batu bara di Sulawesi Selatan. Selain itu, DEWA juga masih menjajaki peluang kerja sama dengan sejumlah produsen batu bara besar di dalam negeri.

Seiring dengan peningkatan volume tersebut dan keberhasilan transformasi menjadi kontraktor in-house, yang kini telah mencapai sekitar 96% dari total kapasitas, kinerja operasional DEWA diproyeksikan meningkat signifikan. 

Maka total volume diperkirakan mencapai 163 juta bcm pada 2026 atau tumbuh 77,6% secara tahunan, dan kembali naik menjadi 194 juta bcm pada 2027.

Melemah Tipis Rp 16.911, Ekonom Sebut Rupiah Tunjukkan Sinyal Positif

Meski demikian, Juan bilang DEWA tetap menghadapi sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Beberapa di antaranya meliputi realisasi peningkatan volume yang berpotensi lebih lambat dari perkiraan, keterlambatan kedatangan alat berat, serta proses pengembangan sumber daya di proyek Gayo yang berisiko memakan waktu lebih panjang dari rencana. 

Dilihat dari kinerja keuangan, hingga kuartal III 2025, DEWA mencatatkan pendapatan sebesar Rp 4,65 triliun atau meningkat 2,8% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 4,52 triliun.

Tetapi laba bersih DEWA melonjak signifikan 519% yoy menjadi Rp 239,2 miliar dari periode sama tahun 2024 sebesar Rp 38,6 miliar. 

Melihat prospek yang cenderung positif ini, Samuel Sekuritas Indonesia memberikan estimasi kinerja keuangan DEWA akan tumbuh signifikan pada 2026. Pendapatan DEWA diperkirakan mencapai Rp 7,69 triliun, naik sekitar 22,6% dibandingkan estimasi 2025 yang sebesar Rp 6,27 triliun.

Sejalan dengan itu, laba bersih DEWA juga diproyeksikan melonjak menjadi Rp 870 miliar pada 2026, atau tumbuh sekitar 178% dibandingkan estimasi laba bersih 2025 sebesar Rp 313 miliar.

Dengan berbagai katalis dan faktor di atas, Juan memberikan rekomendasi untuk beli saham DEWA dengan target harga Rp 800 per saham.

Sama halnya, Nafan dan Dennis juga memberikan rekomendasi untuk buy DEWA dengan target harga masing-masing Rp 515 dan Rp 750 per saham.